Keributan
Celina terduduk kaku di atas ranjang besar itu.
Napasnya masih kacau. Dadanya naik turun cepat, seperti habis berlari jauh tanpa arah.
Tangannya perlahan naik ke lehernya, menyentuh dua bekas yang terasa panas di kulitnya seolah terbakar.
“Gila…” bisiknya pelan.
Matanya kosong beberapa detik. Lalu tiba-tiba berubah tajam penuh emosi yang tertahan.
BUK!
“Brengsek!” Tangannya menghantam kasur keras.
Ia bangkit berdiri dengan cepat, langkahnya mondar-mandir di dalam kamar luas itu. Pikirannya berisik. Wajah Bara terus muncul, cara pria itu menatapnya seolah dia bukan manusia. Tapi sesuatu yang ingin dimiliki.
“Siapa dia mikir bisa seenaknya gitu sama gue?” geramnya.
Ia berhenti di depan cermin besar. Menatap pantulan dirinya sendiri. Rambutnya sedikit berantakan. Bibirnya masih sedikit memerah. Lehernya…Celina langsung memalingkan wajah, rahangnya mengeras.
“Menjijikkan.”
Namun anehnya bukan hanya jijik yang ia rasakan. Ada sesuatu yang mengganggu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Perasaan tidak nyaman tapi bukan takut sepenuhnya.
Itu yang membuatnya semakin kesal.
“Gue benci ini.”
Tangannya mengepal. “Dan gue lebih benci kenapa gue gak langsung bikin dia babak belur barusan.”
Celina menarik napas dalam, lalu menghembuskannya pelan. Matanya kembali fokus.
“Gak,” gumamnya. “Ini belum selesai.” Senyum tipis muncul di bibirnya. “Lo salah besar kalau pikir gue bakal jadi korban lo di sini, Bara.”
Di sisi lain mansion, suasana jauh lebih tenang. Tapi bukan berarti lebih ringan.
Bara berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Lampu kota terlihat samar dari kejauhan, memantul di kaca. Tangannya masuk ke saku celana, rahangnya sedikit menegang.
Untuk pertama kalinya sejak lama pikirannya tidak bisa diam. “Sial…” Ia mengusap wajahnya kasar.
Bayangan Celina kembali muncul. Tatapan melawan itu. Cara dia bicara tanpa takut. Cara dia tetap berdiri tegak bahkan saat ditekan.
Dan yang paling mengganggu dia tidak mundur. Bara tertawa kecil, rendah hampir seperti gumaman.
“Berani banget…” Ia berjalan pelan ke arah meja, lalu bersandar di sana. “Lo beda dari yang lain.” Kalimat itu keluar tanpa sadar.
Selama ini, perempuan-perempuan yang mendekatinya selalu sama. Tunduk. Mencari perhatian. Atau pura-pura kuat tapi akhirnya tetap jatuh.
Tapi Celina? Dia seperti api liar dan Bara tidak pernah bisa menahan diri dari sesuatu yang menantang.
Tatapannya menggelap. “Gue harusnya berhenti tadi.”
Hening.
Beberapa detik berlalu lalu senyum miring itu muncul lagi. “Sayangnya gue gak mau.”
Tangannya mengepal di atas meja. “Sekali gue mau sesuatu itu harus jadi milik gue.”
Suara itu pelan tapi penuh kepastian dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya Bara tidak lagi sekadar penasaran. Dia sudah jatuh ke sesuatu yang lebih berbahaya apalagi kalau bukan obsesi.
Di kamar utama, suasana berbeda lagi.
Inara berdiri diam di tengah ruangan, sementara Arnol baru saja keluar beberapa menit lalu. Pintu masih tertutup rapat, tapi suara bentakannya tadi seolah masih menggema di kepalanya.
“Dia lebih berharga daripada kamu.”
Kalimat itu terus terulang. Tangannya perlahan mengepal. “Selalu Celina…” bisiknya pelan.
Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi bukan karena sedih. Karena terluka dan marah.
“Aku ini siapa, Mas?” ucapnya lirih. “Pelengkap?”
Ia tertawa kecil. Pahit. Selama ini dia pikir, menikah dengan Arnol akan mengubah hidupnya. Membuatnya naik derajat. Membuatnya dihargai.
Tapi nyatanya? Dia tetap tidak dianggap dan sekarang bahkan anaknya sendiri jadi ancaman. Wajah Inara perlahan berubah. Rahangnya mengeras.
“Kalau memang begitu…” Ia menghapus sudut matanya kasar. “Jangan salahkan aku kalau aku juga gak akan diam.”
Tatapannya dingin. “Celina kamu jangan macam-macam di sini. Jangan kira aku akan diam aja kalau sampai rumah tanggaku ini hancur kau yang akan ku hajar nanti.”
Malam semakin larut. Jam menunjukkan hampir tengah malam saat Celina akhirnya berbaring lagi di kasur. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya menyisakan cahaya remang dari lampu samping.
Matanya terbuka. Menatap langit-langit.
Tidak bisa tidur pikirannya terus berputar.
Tentang Mamanya tentang rumah ini dan tentang Bara.
“Nyebelin banget…” gumamnya pelan. Ia membalikkan badan, memunggungi pintu.
“Besok gue harus cari cara keluar dari sini.” Tapi bahkan saat ia mengatakan itu ia tahu ini tidak akan semudah itu.
Pagi datang dengan cepat. Cahaya matahari masuk dari jendela besar, menerangi kamar yang terasa terlalu luas untuk satu orang.
Celina sudah bangun. Duduk di pinggir ranjang, rambutnya masih sedikit berantakan, tapi tatapannya sudah kembali seperti semula.
Ia bangkit, berjalan ke kamar mandi, lalu keluar beberapa menit kemudian dengan tampilan lebih rapi. Kaos hitam, celana jeans robek robek dan boots yang sama seperti kemarin simple tapi tegas.
“Gue gak akan berubah cuma karena rumah ini,” gumamnya.
Ia membuka pintu kamar dan langsung berhenti. Karena di koridor Bara sudah berdiri di sana. Seolah menunggu.
Celina mengernyit. “Ngapain lo di depan kamar gue?”
Bara tidak langsung jawab. Matanya menyapu Celina dari atas sampai bawah. Tenang tapi seolah mengintimidasi.
“Turun,” katanya singkat.
“Nyuruh?” balas Celina sinis.
“Ngasih tahu.”
Hening. Beberapa detik mereka hanya saling tatap. Lalu Celina mendengus. “Lo tuh nyebelin ya.”
Ia tetap melangkah keluar, sengaja menyenggol bahu Bara saat lewat.
Namun tangannya langsung ditarik cepat. Celina terkejut, tubuhnya sedikit tertahan. “Lepas dan jangan sentuh gue sembarangan. Gue bukan cewek murahan!” desisnya.
Bara mendekat sedikit. Tidak terlalu dekat. Tapi cukup untuk membuat ruang terasa sempit. “Jangan ulangin yang kemarin,” ucapnya rendah.
“Yang mana?” tantang Celina.
Tatapan Bara berubah. “Ngomong seenaknya ke gue.”
Celina tertawa kecil. “Terus lo mau apa? Gue manggil lo Yang Mulia gitu?”
Bara diam lalu senyum miringnya muncul lagi.
“Gue suka cara lo lawan gue,” katanya pelan.
Celina langsung menarik tangannya kasar. “Gue gak butuh lo suka.”
Ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi dan kali ini Bara tidak menahan. Dia hanya berdiri diam, menatap punggung Celina yang menjauh.
Matanya menggelap. “Lo bakal butuh gue setelah ini.”
Di ruang makan, suasana sudah lebih ramai.
Arnol duduk di kursi utama. Wajahnya tetap tenang seperti biasa. Inara duduk di sampingnya, terlihat anggun meski matanya masih menyimpan sesuatu.
Celina masuk tanpa permisi. Langsung duduk.
“Pagi,” ucapnya datar.
Tidak ada yang langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, Bara masuk.
Langkahnya santai. Tapi kehadirannya langsung mengubah suasana.
Ia duduk di kursinya berdekatan dengan Celina. Tanpa sengaja atau mungkin sengaja.
Celina melirik sebentar. Lalu memalingkan wajah.
“Mulai hari ini,” suara Arnol terdengar, “kamu akan sekolah di tempat baru.”
Celina mengernyit. “Hah?”
“SMA Garcia Internasional.”
Celina langsung tertawa kecil. “Serius?”
“Masalah?” tanya Arnol datar.
Celina bersandar di kursi. “Enggak sih cuma heran aja. Tiba-tiba jadi anak orang kaya.”
Inara langsung menyikutnya pelan. “Jaga omongan kamu Celina. Jangan buat malu di sini.”
Celina menatapnya dingin namun belum sempat ia balas suara Bara masuk. “Dia cocok di sana.”
Celina menoleh cepat. “Lo gak usah ikut campur deh!”
“Celina panggil dia kakak, Bara Lucifer Garcia
Sekarang Kakak kamu.” tegas Mama Inara.
Celina mendengus kesal, demi apapun ia benci dengan Bara. Bahkan sampai kapan pun ia tak akan sudi memanggil Bara dengan sebutan kakak.
Bara santai. “Gue cuma ngomong.”
Tatapan mereka bertabrakan lagi dan lagi-lagi tidak ada yang mau mundur.
Arnol memperhatikan dalam diam. Sementara Inara mulai merasa semuanya keluar dari kendali nya. Apalagi Celina ini memang keras kepala dan susah di atur.
Hari itu baru dimulai tapi satu hal sudah jelas mansion itu bukan rumah itu arena dan semua orang di dalamnya punya peran permainan masing-masing.
Celina dengan amarah dan harga dirinya. Bara dengan obsesi dan kontrolnya. Arnol dengan rahasia dan kekuasaannya.
Dan Inara dengan luka dan ambisinya. Tidak ada yang benar-benar aman. Dan ini baru permulaan.
Hari pertama di SMA Garcia Internasional dan Celina sudah jadi pusat masalah.
Semua bermula di koridor lantai dua. Tatapan sinis, bisik-bisik, dan tiga siswi yang merasa paling berkuasa di sekolah itu langsung menghadangnya.
“Anak baru ya?” salah satu dari mereka menyeringai. Rambutnya panjang, seragamnya dimodif berlebihan.
Celina berhenti menatap mereka satu per satu dengan wajah dinginnya.
“Terus?” balasnya santai.
Senyum mereka langsung hilang. “Gak sopan banget sih,” sahut yang lain. “Udah tau ini sekolah elit, masih aja gaya kampungan.”
Celina tertawa kecil. “Kampungan?” ulangnya pelan. “Lucu. Gue kira yang norak itu yang butuh validasi dari geng.”
“Lo…!” Belum sempat kalimat itu selesai.
BRAK!
Satu dorongan keras membuat salah satu dari mereka tersungkur ke lantai. “Jangan deket-deket gue kalau cuma mau nyari ribut,” ucap Celina datar.
Dua lainnya langsung maju dan dalam hitungan detik keributan pecah. Tas jatuh rambut tertarik. Suara teriakan memenuhi koridor.
“WOY BERHENTI!”
Guru datang terlambat. Karena Celina sudah berdiri tegak lagi, napas sedikit berat, sementara tiga siswi itu berantakan salah satunya bahkan menangis.
“Sial bukan gini caranya bertarung mau gue ajarin lo?” tawar Celina sambil menarik salah satu kerah sragam perempuan yang bernama Rina itu.
“BERHENTI MASUK BK SEKARANG!”
Ruang BK.
Sunyi dan penuh ketegangan. Celina duduk santai di kursi, kaki disilangkan, seolah bukan dia yang baru saja bikin keributan.
Di depannya, guru BK menghela napas panjang. “Kamu baru hari pertama, Celina…”
“Dan mereka udah mulai duluan,” potong Celina datar.
Pintu tiba-tiba terbuka dan seseorang masuk.
Langkahnya tenang aura dingin langsung memenuhi ruangan. Celina menoleh dan matanya langsung menyempit. Siapa lagi kalau bukan Bara kakak tirinya yang gila itu.
“Lanjutkan,” ucapnya singkat ke guru BK.
Lalu duduk di kursi belakang matanya tidak lepas dari Celina dan entah kenapa situasi yang tadi biasa saja tiba-tiba terasa jauh lebih berbahaya.
“Tu…tuan Bara. Mohon maaf ada apa anda datang kemari. Saya cuma mau bilang kalau dia adalah murid baru di sini. Namanya Drea Celina Alisya. Baru masuk tapi sudah buat ulah. Mungkin orangtuanya seorang wanita malam jadinya tak bisa mendidik anaknya dengan benar. Saya…..”
BRAK!
PYAR!
“AARGGHH APA YANG KAU LAKUKAN CELINA!” teriak guru BK itu keras saat meja kacanya patah dan pecahan belingnya kemana mana.
