BAB 4
Joni merupakan seorang pemuda miskin yang terlibat dalam masalah ketika pertama kali sejak lima belas tahun yang lalu datang ke kota ini. seseorang kakek yang baik hati telah menyelamatkan Joni dari tindakan criminal dan berhasil mengarahkan ke jalan yang benar. Joni memiliki hutang budi yang sangat besar terhadap kakek itu karena telah mengajarkan dan mengarahkan Joni ke jalan yang benar.
Kakek itu mengirim Joni ke bangku kuliah dan secara pribadi mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi pria terhormat, pria dewasa dan menarik bagi lawan jenis ketika berbicara. Joni pun termasuk anak pintar, di kuliahnya tidak jarang dia sering mendapat nilai bagus dalam semua mata kuliah dan termasuk cepat di wisuda. Monica jarang memikirkan darimana sebenarnya Joni berasal dan kenapa pria itu tidak pernah membicarakan mengenai masa lalunya. Apakah kejadian dari masa lalu pria itu tidak ingin diketahui oleh orang lain? Tentu saja, semua orang memiliki masa lalu masing-masing dan hal itu tidak penting. Monica hanya sekedar penasaran. Toh dia tidak mempunyai rencana jangka panjang bersama Joni, sekalipun jika Monica menginginkannya, dan sebenarnya tidak, ia pun menyadari bahwa pernikahan adalah suatu konsep yang asing bagi kekasihnya. Monica hanya ingin fokus ke karir saja. belum sempat Monica memikirkan mengenai hubungan pernikahan. Monica belum siap dengan tanggung jawab dalam sebuah hubungan yang serius.
Ketika hujan turun di sebuah kota, disebuah rumah nampak Joni dan Monica sedang berpacaran. *maaf* hanya untuk yang berumur 21 tahun ke atas dan Ketika hubungan mereka berakhir dan ia tahu suatu hari hal itu pasti akan terjadi, ia pasti akan sangat merindukan pria itu.
Nampak Joni kembali dari kamar mandi dengan menggunakan jubah sutra hitam yang diikat longgar di pinggang “ingin minum sesuatu?” Tanya Joni
“Minuman soda milikmu terasa nikmat jika diminum sekarang” katanya
“tunggu sebentar. Aku akan segera kembali” Joni mengedipkan mata dan menyeringai
Ada sesuatu. Joni tidak pernah menawarkan minuman atau makanan . Biasanya pria itu memeluknya sebentar dan kemudian mereka berdua jatuh tertidur. Dalam beberapa kesempatan, ketika mereka menginap di apartemen Monica, wanita itu bangun keesokan paginya dan menyadari bahwa Joni telah pergi.
Jadi kenapa pria itu mengubah kebiasaan mereka malam ini? Kenapa ada acara minum dan mengobrol setelah ini?
Joni kembali sambil menyerahkan segelas minuman berwarna keemasan, kemudian duduk di sudut tempat tidur disampingnya, “Kau merindukan kebersamaan dengan Erik, iya kan?” Joni berkata sambil minum. Untuk sejenak, Monica tampak terperangah mendengar pertanyaan itu, kecuali secara tidak sengaja, mereka tidak pernah membahas tentang putranya. Tema itu terlalu menyakitkan dan biasanya selalu berusaha dihindarinya.
“iya, aku merindukan Erik. Tapi kau tahu juga itu. Pada siapa aku menangis ketika putraku mengatakan bahwa dia lebih memilih untuk tinggal bersama ayahnya?” sambil memutar –mutar gelas ditangannya. Monica menatap gelas itu, seolah ia bisa melihat masa depan dari dalamnya. Kemudian wanita itu mengadah, menyipitkan matanya dan bertanya “Ada apa sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan hubunganku dan putraku?”
Joni menenggak habis minumannya kemudian meletakkan gelas di meja samping tempat tidur dan berdiri. Dengan memunggungi Monica, pria itu berkata “Aku baru saja tahu bahwa aku mungkin memilikinya juga”
“memiliki apa?” Tanya Monica. Tapi jantungnya juga berdetak kencang dan perutnya yang terasa diremas-remas mengatakan kepadanya bahwa ia sudah tahu jawaban pertanyaannya itu. Apakah dengan sengaja pria itu menghamili seseorang wanita? Tidak mungkin. Joni tidak pernah melakukan hubungan dengan wanita tanpa pelindung.
“seorang anak”jawab Joni “seorang putra. Putra berusia empat belas tahun”
Monica menghembuskan nafas yang sejak tadi ditahannya dan perasaan lega seketika menyebar diseluruh tubuhnya. Empat belas tahun. Berarti anak itu berasal dari masa lalu Joni. Anak dari kehidupan terdahulu sebelum pria itu datang ke kota. Monica bangun dari tempat tidurnya, mengenakan jubah hitam-garis merah yang teronggok dilantai “ayolah, aku akan menyeduhkan kopi dan roti untuk kita berdua dan kemudian kita mengobrol”
Joni mengelus bagian belakang kepalanya saat dia mondar mandir di samping tempat tidur, “apa yang akan kukatakan padamu bukanlah sesuatu yang ingin kuungkap di depan umum. Aku berharap kau mau merahasiakannya”
Monica meletakkan tangannya di punggung Joni “Kau percaya padaku, kan?”
“Iya”
“kalau begitu, ayolah. Minum kopi dulu sambil makan cemilan roti, baru kita mengobrol”
Sepuluh menit kemudian, mereka pun duduk di ruang tamu. Dua cangkir kopi dengan asap yang masih mengebul dan sepiring roti bakar tergeletak diatas meja. “Jadi ceritakan kepadaku”kata Monica “kenapa kau berpikir bahwa kamu mungkin memiliki seorang putra berusia empat belas tahun?”.
Joni pun berdiri, berjalan menuju meja disudut, menarik sebuah amplop dari bawah buku jurnal dan membawanya saat kembali menemui Monica. Joni menyerahkan amplop itu kepada Monica kemudian duduk disampingnya ,sambil berkata “Silahkan” ujar Joni “lihatlah."
Monica mengeluarkan isi amplop tersebut, sebuah catatan tertulis diatas secarik kertas. Kliping surat kabar. Dan sebuah foto berukuran kecil. Monica membaca surat dan artikel tersebut dengan cepat, kemudian melihat foto tersebut. Seorang pemuda tampan berambut hitam dengan wajah yang seolah dipahat. Mata hitam yang tajam dan senyum yang mematikan sesuai dengan senyuman khas Joni.
“Wow” satu kata itu meluncur tanpa sadar dari mulut Monica seiring dengan embusan nafasnya.
“jadi menurutmu, ada kemungkinan itu adalah anakku?”
Wanit itu menoleh dari foto ke gambar hitam putih dari kliping surat kabar “Apa kau mengenalinya?Ibu pemuda ini?”
Nampak Joni menghindari tatapan langsung dari Monica. Pria itu Nampak menatap kearah jendela yang mengarah ke balkon kanar “iya aku mengenalnya atau aku pernah mengenalnya. Lima belas tahun yang lalu.”
“seberapa dekat kau mengenalnya?”
“aku dan Rosy tidak pernah menjadi kekasih, jika itu maksudmu”
Monica pun menyadari tatapan terluka di mata Joni, nyaris tidak terlihat, tetapi wanita itu bisa melihatnya. Monica sangat mengenal pria itu sehingga Monica bisa menyadari jika ada suatu hal yang besar meskipun pria itu berusaha menyembunyikannya.
Monica pun membaca nama Wanita yang ada di kliping surat itu, Rosy Anggraini namanya, mempunyai arti bagi Joni dan entah pria itu mau mengakuinya atau tidak, itu jelas sekali terlihat.
“pemuda ini mirip sekali denganmu” ujar Monica “apa mungkin dia adalah anak dari salah satu saudaramu?”
“segalanya mungkin” kata Joni sambil meluruskan kaki, “yang ingin kuketahui adalah kenapa seseorang mengirimkan aku pesan itu, sial,siapa yang mengirimkannya? Dan jika anak ini, Will adalah putraku, kenapa harus menunggu selama ini untuk mengatakan padaku? Dan jika anak itu adalah anak Rosy, maka tidak mungkin dia putraku.”
Bagaimanakah keseruan dari kelanjutan cerita ini?
Nantikan di bab selanjutnya….stay tuned
