Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 3

Monica mengambil nafas panjang, menyisir rambut cokelat dengan cepat dan memasuki kerumunan. Tempat itu sesak, dipenuhi oleh golongan elite kota, Monica menghentikan seorang pelayan yang lewat, mengangkat segelas sampanye dari baki perak dan menyesapnya, Wanita itu menyukai rasa sampanye, terutama sampanye yang mahal, setelah menyesap sekali lagi, Monica membiarkan cairan itu memanjakan mulutnya selama beberapa menit sebelum menelannya. Monica benar-benar menikmatinya.

Monica mengamati ruangan besar itu, mencari teman kencannya, sangat disayangkan mereka berdua terlalu sibuk sehingga jarang sekali bisa tampil berdua dalam acara seperti ini, Tapi ia tidak mungkin bisa mengubah sedikitpun kehidupannya kecuali mungkin. Selain fakta bahwa anaknya yang berusia tiga belas tahun, yang kini tinggal bersama ayahnya di kota yang berbeda, kehidupan Monica terbilang sempurna, Sempurna sesuai standarnya sendiri, didukung oleh wajah dan bentuk badan yang ideal.

Monica adalah agen pemasaran property dengan penjualan terbaik selama dua tahun berturut-turut. Wanita itu memiliki apartemen mewah, mobil yang bagus, teman-teman yang cerdas, penuh selera humor, dan kekasihnya merupakan salah satu orang paling kaya di kota itu.

Dimanakah Joni kini berada? Monica tidak yakin pria itu akan datang terlambat untuk acara pertemuan amal yang bisa menjadi ajang lumbung pencarian dana untuk proyek yang sedang dikerjakannya. Ia rasa pria sekaya Joni sanggup menjadi dermawan penyandang dana.

Tapi terkadang Monica berpikir apakah kemurahan hati pria itu hanya sekedar untuk menutup perasaan bersalah dengan menunjukkan sikap yang baik, tentu saja, ia tidak tahu pasti apa yang membuat Joni merasa bersalah, karena dalam kebersamaan mereka sangat jarang sekali dibahas mengenai masa lalu baik masa lalu dirinya sendiri atau masa lalu Joni. Tapi instingnya berkata bahwa pria seperti Joni tidak hidup selama tiga puluh enam tahun tanpa melakukan sebuah dosa yang tidak termaafkan.

Monica sekilas menangkap sosok Joni di kerumunan, seperti biasanya sekelompok wanita langsung mengerumuninya. Joni selalu mengeluarkan aura daya tarik yang besar. Yang harus dilakukan pria itu adalah berjalan melintasi ruangan dan setiap wanita dalam radius seratus meter akan tunduk di kakinya.

Dan seharusnya Monica sudah terbiasa dengan fakta tersebut, seharusnya Tuhan mengharamkan Joni menggunakan senyuman maut itu kepada para wanita. Senyuman itu adalah senjata yang mematikan.

Tubuh Joni setinggi seratus Sembilan puluh centimeter yang membuat pria itu mudah terlihat meskipun berada di tempat ramai, sambil berjalan mendekati Joni, Monica terlihat menghabiskan sisa sampanye digelasnya, semakin Monica mendekati Joni, semakin kuat instingnya untuk bercinta dari dalam dirinya. Sudah seminggu lebih mereka tidak menghabiskan malam berdua saja, dan Monica sudah merasa sangat ingin sekali berdua dengan Joni.

Ketika itu Monica menyusup ke samping Joni dan pria itu dengan santainya menyelipkan tangan ke seputar peinggang dan memperkenalkan kepada wanita lain yang tersenyum kaku saat berusaha menutupi kecemburuan mereka terhadap dirinya.

“Monica, kau ingat Jasmine, kan?” Joni menyunggikan senyum kepada wanita yang merupakan salah satu penyandang dana terbesar bagi proyek yang dikelola Joni.

‘senang bertemu denganmu lagi, Nyonya Jasmine, apakah suamimu datang malam ini?”

Jasmine tersenyum dan berkata “denny ada disuatu tempat di sini”

Joni pun bergeser sambil mengajak Monica untuk berkenalan dengan putrinya Nyonya Jasmine, Joni pun berkata bahwa mereka akan berencana mengunjungi peternakan minggu ini.

Monica pun sekedar berbasa-basi menjabat tangan kedua wanita itu, melihat kemiripan diantara ibu dan anak tersebut”kalian pasti akan merasa terkesan dengan peternakan itu dan dengan apa yang ada disana. Semua pemuda yang bekerja di sana adalah orang-orang yang dibuang oleh keluarga dan masyarakat” Monica sampai hafal dengan kalimat promosi itu. Wajar saja karena Monica sering sekali mendengar Joni mengatakan hal itu di banyak kesempatan.

“Kami sudah tidak sabar” jawab putri Nyonya Jasmine, berkata tetapi wajahnya tidak lepas sambil menatap Joni. “kami akan menunggumu Sabtu depan sekitar pukul sepuluh pagi” Putri Nyonya Jasmine menepuk bahu Joni “kesediaanmu memberikan tur secara pribadi akan sangat berarti bagi kami,”

Monica menghela nafas lega ketika dalam sepuluh menit kemudian, ia dan Joni berhasil melarikan diri dari wanita itu dan beranjak menuju meja makan.

“Astaga, aku sangat kelaparan”Kata monica “aku harus melewatkan makan siang hari ini gara-gara mengantarkan calon pembeli property yang ingin melihat secara langsung property yang ingin dibelinya. Aku bahkan harus ngebut untuk sampai ke acara ini tepat waktu “ Monica pun terlihat langsung mengisi piringnya dengan setumpuk makanan lezat.

“bagaimana jika kita pergi dari sini lebih awal dan pergi ketempatku?” bisik Joni ditelinga wanita itu.

“bisakah kau melakukan itu? Meninggalkan pesta meriah ini lebih awal?’

“berdasarkan perhitunganku, malam ini aku sudah berhasil mengumpulkan dana yang lebih dari orang-orang ini”

“Yah tentu saja, dilihat dari cara Nyonya Jasmine dan putrinya menatapmu tadi, aku yakin bisa mengatakan bahwa mereka mengharapkan lebih dari sekedar berkeliling dipeternakan”

“ck…ck sinis sekali kau” Joni memasukkan udang ke mulutnya

“kupikir itu salah satu hal yang kusuka dariku, kesinisanku”

“dan banyak hal yang kusuka darimu” ujar Monica kepada Joni

“kurasa itu alasan kita terus bersama, iya kan?”

“iya, hal itu dan ketidaksukaan kita berdua akan komitmen jangka panjang”

“makanlah dan setelah itu kita akan segera pergi dari sini” Joni kemudian melahap beberapa potong udang , kemudian menunduk dan berkata dengan suara pelan “Temui aku di pintu depan sepuluh menit lagi. Aku melihat seorang pebisnis datang , sementara kau makan, aku akan menemuinya untuk membicarakan bisnis”

Bisnis. Bisnis. Bisnis sepertinya Joni memang hidup untuk bisnis, jelas sekali bahwa pria tersebut miliyuner yang memiliki sentuhan bak raja midas.

Kesepakatan apa pun yang menyangkut dirinya pasti akan sukses terlaksana, selain untuk tugas amal, terutama dedikasinya untuk peternakan, satu-satunya waktu dimana pria itu menghabiskan waktu diluar bisnis adalah ketika berlibur di akhir pekan. Joni tidak pernah mengajak Monica untuk pergi berlibur ke sana, dan sejauh yang Monica tahu, tidak ada wanita yang diundang datang ke tempat itu. Mereka sudah menjadi kekasihnya setahun yang lalu, sesekali menghabiskan malam diapartemennya Joni dan sekali atau dua kali mereka akan pergi keluar selama beberapa hari bahkan Monica pun sampai tahu jenis kopi kesukaan Joni, tahu siapa teman dan siapa musuh, bahkan tahu sisi tempat tidur mana yang disukai pria itu.dan secara tersirat ia mulai mempercayai pria tersebut, tapi Monica sama sekali tidak mengetahui mengenai masa lalu Joni selain apa yang sudah banyak orang ketahui.

Joni merupakan pribadi yang tertutup, dia sama sekali tidak akan membuka diri khususnya bagi perempuan yang baru pertama kali dijumpainya.

Bagaimana kelanjutan keseruan ceritanya?

Nantikan di bab selanjutnya…stay tuned

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel