Bab 4. Bukan Ji An tapi Ji Woo
Kang Da Mun mendengus tak percaya. Si pecundang ini bukan hanya berani mengajukan syarat, tapi juga berani menawar waktu? Harga dirinya tercabik-cabik. Ia menatap Ji Woo dengan jijik.
"Tiga hari?" Ia menertawakan ide itu. "Bagus, bagus. Seolah itu akan mengubah segalanya. Kamu pikir dengan satu hari ekstra, keajaiban akan jatuh dari langit dan menghujani kamu dengan emas?"
Ji Woo tak menggeming, bahkan saat Kang Da Mun melangkah mendekat, auranya membesar dan semakin mengancam, wajahnya kini merah padam karena amarah yang tersembunyi. Dua pengawal di belakangnya bersiaga, menunggu perintah.
"Biar aku perjelas," geram Kang Da Mun. "Ini hari ketiga. Lusa akan tiba hari pelunasan utang ini, dan bukan lusa itu jatuh temponya. Artinya..." Ia menekankan setiap kata. "...totalnya tiga hari."
Mata Kang Da Mun berkedut, mengamati wajah Ji Woo, mencoba menemukan jejak ketakutan. Ia menemukan ketenangan yang mengganggunya.
Semakin Ji Woo tenang, semakin ia marah. So Ah sendiri tak berani lagi berbisik, melihat ketegangan yang meningkat di antara suaminya dan rentenir kejam itu. Udara di ruangan terasa tebal dan dingin.
"Tiga hari. Baik," Ji Woo mengulang. Ini adalah pertaruhan yang ia putuskan harus ia menangkan.
Ia menatap lurus ke mata Kang Da Mun yang berkedip, nyala kemarahan dan ambisi kini terang-terangan terpancar di matanya. Bukan Ji An, melainkan Ji Woo lah yang mengambil alih sepenuhnya.
"Kalau dalam waktu tiga hari, Tuan Kang," kata Ji Woo dengan nada menusuk, membuat kang Da Mun mengerutkan kening, ia seolah mendapatkan pukulan keras atas apa yang baru saja ia terima,
"Aku Han Ji An akan melunasi seluruh utang. Namun, jika aku tidak bisa melunasinya, maka aku sendiri yang akan menjadi budak seumur hidupmu." Ji Woo menarik napas dan mengucapkan tantangan itu, seperti pisau tajam yang baru dihunus dari sarungnya.
Sebuah pernyataan, yang mengakhiri percakapan tanpa sisa harapan dan tidak menerima bantahan apa pun. "Bagaimana menurutmu, Tuan Kang?"
Seringai Kang Da Mun perlahan pudar. Ia tidak menyangka Han Ji An akan langsung setuju dan mengucapkan syarat-syarat yang tadi Kang Da Mun katakan.
Sesaat ia hanya menatap Ji Woo, otaknya mencoba memproses informasi itu, seolah ia baru saja dikalahkan telak, hanya dari sebuah kata yang diucapkan. Ia mendengus, seolah meludahkan kepuasan yang tercabik.
"Baiklah, Ji An!" ucap Kang Da Mun. Ada keganasan dan gairah dalam kata-katanya.
Ini bukan hanya masalah uang, tetapi soal supremasi, kehormatan, dan meruntuhkan semangat.
"Kalau kamu sudah memilih ingin bunuh diri seperti itu, aku terima!" Dia berbalik, suaranya kini membelah kesunyian rumah kecil itu.
"Dalam tiga hari," teriak Kang Da Mun, tatapannya menyapu Ji Woo dengan ancaman, membuat hati So Ah berdesir ngeri.
Mata jahat Kang Da Mun berkilat, seolah menari di atas api. "Tepat setelah matahari terbit di hari ketiga, aku akan kembali untuk menagih. Siapkan lima puluh nyang utang beserta bunga yang berlipat ganda, atau kamu akan jadi budakku selamanya." Ia menoleh ke pengawalnya.
"Ayo pergi! Tinggalkan saja sampah ini! Buat dia merenungkan betapa bodohnya dirinya!" seru Kang Da Mun.
Kang Da Mun melangkah keluar, derit langkah sepatunya yang terbuat dari kulit tebal membuat rumah reyot itu bergetar. Dia berhenti di ambang pintu, menatap Ji Woo sekali lagi, kali ini dengan ekspresi kemenangan. Aroma kain sutra yang mewah melayang sebentar, lalu menghilang saat ia pergi.
"Selamat menikmati dua hari terakhirmu sebagai orang bebas, Han Ji An," Kang Da Mun mengejeknya, suaranya dipenuhi seringai licik.
Sosok besar itu menghilang, meninggalkan So Ah terisak-isak. Rumah yang ditinggalkannya terasa sepi, kosong, seolah ditinggalkan.
"Kenapa... kenapa kamu melakukannya?" tanya So Ah, suaranya gemetar saat ambang pintu kayu berdecit kembali menutup.
Ia mendekati Ji Woo, menggenggam tangannya, wajahnya dihiasi genangan air mata. Ia takut, bingung. Tatapannya menatap lurus ke dalam Ji Woo.
"Kita... kita tidak punya apa-apa lagi. Dari mana kita akan mendapatkan uang sebesar itu? Dua hari! Kita... kita pasti akan gagal." Ia kembali tersungkur, hatinya hancur.
"Tidak," Ji Woo menjawabnya. Matanya kini fokus.
Kepalanya yang tadinya sakit dan kebingungan telah digantikan dengan tekad baja. Ini adalah tantangan terbesar baginya, ujian apakah pengetahuannya yang datang dari masa depan mampu menghadapi kerasnya realitas Joseon.
Ia menyentuh pipi So Ah yang dingin, mengusap air mata dengan ibu jarinya yang lembut. Senyum kecil yang meyakinkan kini terukir di wajah Ji Woo.
"Kita pasti bisa, So Ah. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi padaku. Aku juga tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu. Kita pasti akan melunasi utang itu."
Kata-kata itu terdengar aneh dari mulut Ji An. Biasanya, suaminya akan marah dan melarikan diri jika dalam situasi seperti ini, mencari teman judi, bukan berusaha mengambil kendali.
Tatapan penuh tekad dan kepercayaan diri itu. Ia merasakan kehangatan yang melumpuhkan dalam sentuhan itu.
Ini adalah perasaan baru yang belum pernah dia alami bersama Han Ji An. Siapa pria ini? Siapa Han Ji An yang ada di hadapannya?
Di luar, matahari telah terbit sepenuhnya, sinarnya yang kekuningan menembus celah atap. Jamak orang mengira bahwa tiga hari adalah hal yang mustahil. Tapi Ji Woo...
"Tapi..." So Ah ingin berbicara, mencari rasionalisasi dan mencari alasan di mana semua yang baru saja diucapkannya sangat jauh dari kenyataan yang dia pikir.
Ji Woo mengangkat tangannya untuk menahan, dan itu mengagetkan So Ah yang tersentak.
So Ah memandangnya tak mengerti. Ia merasa semua tidak akan sesimpel itu.
"Ji An yang lama..." Ji Woo berbisik, kata-kata yang diucapkannya bukan pada So Ah melainkan pada dirinya sendiri.
Kata-kata ini perlahan membangun tekad. Dia sekarang telah mewarisi segala beban hidup Han Ji An dan akan mengambil alih, tidak peduli dengan semua masa lalunya yang gelap.
"Aku tidak peduli dengannya. Ini... semua salahnya dan kini aku yang menanggungnya." Kata-kata ini terlontar begitu saja. Seolah diucapkan secara alamiah.
"Sekarang kita punya dua hari lagi, So Ah," Ji Woo berkata, tatapannya menyapu sekeliling rumah reyot, seolah ia bisa melihat potensi tak terbatas yang tersembunyi.
Dari sudut pandang So Ah, hanya kehancuran yang terpancar dari segala sudut. Sementara di mata Ji Woo, itu adalah tambang emas pengetahuan.
"Aku butuh bantuanmu, So Ah. Kita akan mencari cara. Akan selalu ada jalan."
So Ah hanya menatap Ji Woo dengan ketidakpercayaan. Jalan? Dari mana jalan itu datang? Mereka sudah putus asa. Setiap hari hidup dalam keputusasaan yang tidak akan berujung.
"Apa... apa yang harus aku lakukan?" So Ah akhirnya bertanya, ragu. Hati kecilnya sudah yakin, dia harus mengandalkan suaminya yang sekarang ini.
"Pertama," Ji Woo tersenyum tipis, sorot matanya tajam dan dipenuhi inspirasi yang berkobar.
Suasana hatinya berubah drastis, tidak seperti beberapa saat lalu. Dia adalah dokter bedah jenius di balik kemudi tubuh ini. Bukan hanya kemarahan yang mendorongnya, tetapi juga tanggung jawab yang besar, terhadap kehidupan yang baru ia emban ini.
Ia telah membuat keputusan ini dengan serius. Dan keputusan yang diambil, berarti akan dipertahankan sepenuhnya.
Kepanikan itu telah menghilang, digantikan oleh gairah yang ia ingat dari ruang operasi. Di sana, kegagalan berarti kematian pasien. Di sini, kegagalan berarti perbudakan. Tapi kegagalan bukan opsi. Ini akan berhasil.
"Ayo bangun," Ji Woo berkata, menarik So Ah lembut agar berdiri.
Ia menyentuh tangannya, memberikannya kekuatan dan gairah semangat, seolah mengirimkan gelombang listrik. Rasa dingin dalam tangan So Ah mulai memudar dan tergantikan oleh hangat, rasa tak berdaya itu perlahan sirna.
Tatapan mata suaminya kini mengalirkan aura karisma. Dia bukan Ji An yang pengecut, ini bukan suaminya yang pemalas. Ini seseorang yang berbeda. Suara batin So Ah menyimpulkan dengan mantap.
"Biar aku perbaiki kepalamu dulu, sebelum..." Ji Woo memegang keningnya dengan ekspresi yang aneh. Bukan kesakitan, namun sebuah pusing karena tekanan Kang Da Mun yang mengerikan.
Ji Woo berdiri tegak, pandangannya melesat keluar jendela, menatap ke arah matahari terbit yang menerangi perbukitan hijau dan sungai kecil di kejauhan. Sebuah rencana gila terbentuk di kepalanya.
"Mulai hari ini," kata Ji Woo, suaranya menggema penuh tekad. Ini adalah Han Ji Woo, sang dokter jenius, berbicara untuk pertama kalinya sebagai Han Ji An yang baru.
"Kita akan bekerja."
So Ah menatapnya, bibirnya sedikit terbuka, pikirannya kosong. Tangannya masih digenggam Ji Woo, merasakan kehangatan yang asing dan menegaskan bahwa semua ini bukan lagi hanya sebuah ucapan tanpa sebuah makna.
Mata So Ah memancarkan keraguan, dan pertanyaan-pertanyaan masih berkelebat dalam benaknya. Bekerja? Dari mana?
Darah di pembuluh darah Ji Woo kembali bersemangat. Ini adalah awal dari pertempuran baru, sebuah tantangan yang jauh lebih menarik daripada apa pun yang pernah dia alami di ruang operasi. Lima puluh nyang, dalam tiga hari.
"Jadi, kamu serius ingin menghadapi semua ini?" So Ah menelan ludah, suaranya serak.
"Iya, aku serius, So Ah," Ji Woo mengangguk mantap, tidak ada lagi ketidakjelasan. Tidak ada keraguan dalam dirinya.
"Karena," kata Ji Woo, menghentikan kalimatnya sebentar dan tersenyum, lalu matanya menatap tajam kepada So Ah. Ia menarik napas.
"Untuk menghadapi Kang Da Mun, seorang rentenir sepertinya...Kita butuh uang!"
***
