Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Taruhan Tiga Hari

Kang Da Mun melipat tangannya di dada yang tebal, otot bisepnya menggembung di balik kain sutra mewah. Sebuah kilat kesenangan melintas di matanya yang keruh, tatapannya menyiratkan pemikiran kejam yang kini bersarang di benaknya.

"Kamu tak ingin dia menjadi jaminan?" Kang Da Mun berkata, nada suaranya mengancam.

Ruangan itu terasa makin sesak oleh aroma kuat kemenyan dari pakaiannya, bercampur dengan bau debu dan keringat, seolah udara pun menolak untuk mengalir bebas.

"Baik. Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menggantikan dia sebagai budakku?"

Napas So Ah tertahan di kerongkongannya. Ji Woo juga merasakan sentakan kaget, meskipun ia telah bersiap untuk semacam proposal kotor.

Ini adalah sebuah lelucon kejam, namun Kang Da Mun mengatakannya dengan seringai serius di bibirnya yang tebal.

"Seorang Han Ji An yang bebas dan seenaknya sendiri tidak ada gunanya bagiku," lanjut Kang Da Mun, tatapannya beralih dari Ji Woo ke So Ah, dan kembali lagi, seolah sedang menaksir nilai tawar kedua manusia di depannya.

"Tapi seorang Han Ji An sebagai budak, mungkin saja berguna untuk membersihkan kandang babi atau menguras kotoran."

Tawanya yang kering dan mengejek bergema di ruangan yang sempit itu, merayap di antara celah-celah kayu lapuk, membuat merinding.

Ji Woo bisa merasakan kemarahan murni mengalir dingin di nadinya.

Budak.

Kata itu menamparnya lebih keras dari tangan mana pun. Bagi Ji Woo, manusia dengan martabat yang setinggi itu adalah prinsip mutlak, bahkan untuk pecundang macam Han Ji An.

So Ah menoleh pada Ji Woo, matanya membelalak, ketakutan jelas terpampang di wajahnya yang pucat. Ia menggenggam erat lengan baju Ji Woo, kukunya mencengkeram kain tipis.

"Yeobo, jangan!" bisiknya, suaranya putus asa, teredam dalam gelombang teror yang menguasainya. "Jangan pedulikan dia! Apa pun jangan terima penawarannya!"

"Kenapa?" tanya Ji Woo lembut pada So Ah, suaranya mencoba menenangkan. Namun, tatapan matanya tetap lurus ke Kang Da Mun, penuh dengan tekad membara.

Jauh di dalam Ji Woo, suara logis dokter yang mampu mengambil keputusan dalam situasi gawat darurat mulai mengambil alih, menekan emosinya yang membuncah.

"Ji An yang malas dan pengecut." Kang Da Mun kembali memancing, nadanya penuh cemooh.

Ia meludah ke lantai, gerakan kasar yang memperlihatkan kebrutalannya.

"Selalu mencari cara mudah untuk kabur dari tanggung jawab. Tidak mungkin dia sanggup membayarku. Lima puluh nyang adalah uang yang besar, Ji An."

"Jadi, maksudmu..." Ji Woo bertanya, membiarkan setiap kata menembus udara berat itu dengan sengaja. "Kalau aku, Han Ji An ini, bersedia melunasi seluruh utang, dan jika aku gagal, maka aku sendiri yang akan menjadi budakmu? Aku?"

Kang Da Mun memicingkan mata, tampaknya sedikit terkejut dengan nada serius dalam pertanyaan Ji Woo. Kebencian dan kejengkelan terhadap Han Ji An yang lama begitu membakar di mata pria bertubuh gempal itu. Ini adalah kesempatan emas untuk mempecundangi Ji An lebih parah lagi.

"Benar sekali," seringainya kembali mengembang, menunjukkan gigi-gigi kuningnya.

"Pilihan terakhir. Tapi, kamu pikir aku akan percaya kamu bisa membayar? Lima puluh nyang, aku tekankan lagi. Mana mungkin si pecundang seperti kamu dapat uang segitu banyak dalam waktu semalam?"

Tawa remehnya memenuhi ruangan. Kedua pengawalnya ikut tersenyum tipis, mengejek, seolah tak percaya ada kebodohan seperti ini di hadapan mereka.

Mereka mengenal Han Ji An, dan tawaran Kang Da Mun ini adalah hukuman mati yang lambat. Seumur hidup Han Ji An akan jadi budak tanpa punya kebebasan. Tak peduli itu mantan bangsawan rendahan.

"Lima puluh nyang..." Ji Woo bergumam, matanya menyapu seisi rumah kumuh itu, kemudian melihat ke arah halaman belakang yang dipenuhi semak belukar.

Angin berembus pelan, membawa aroma samar tanah basah dan tanaman liar dari luar.

"Kalau itu utangnya... aku akan membayarnya,"bisik Ji Woo dengan suara mantap.

So Ah tiba-tiba memekik, "Tidak! Jangan! Yeobo!"

Air mata deras membasahi pipinya yang kuyu. Ia menggelengkan kepala, tangannya mencengkeram erat.

"Kau tidak punya apa-apa! Bagaimana caranya? Kalau gagal, Tuan Kang tidak akan berbelas kasihan. Hidupmu akan..."

Kata-katanya tercekat di tenggorokan, terlalu takut untuk melanjutkan. Bayangan suaminya menjadi budak seumur hidup jauh lebih menakutkan daripada nasibnya sendiri.

Ji Woo meremas tangan So Ah lembut. Rasa hangat menyebar di kulit dingin So Ah, memberinya kekuatan yang entah mengapa kini datang dari suaminya. Tatapan lembut Ji Woo menembus kegelisahan So Ah, menenangkan jiwa yang kalut itu.

"Tenang saja, So Ah," bisik Ji Woo, suaranya kini tenang dan tegas, hanya untuk telinga So Ah.

"Aku tidak akan biarkan hal buruk terjadi. Aku berjanji."

Janji itu bukan lagi janji Ji An yang biasa dia dengar dari mulut suaminya, janji-janji kosong untuk melegakannya, namun janji Ji An yang sekarang ini seperti kokoh, seolah memiliki sebuah harapan.

Dia menoleh kembali pada Kang Da Mun, ekspresi wajahnya berubah total. Bukan lagi kekalahan, bukan lagi keputusasaan, tapi tekad baja.

Ini adalah wajah seorang dokter bedah yang bersiap menghadapi operasi paling rumit dan berisiko tinggi. Tekanan Kang Da Mun bukanlah pisau bedah di antara jarinya, melainkan taruhan terbesar yang Ji Woo pernah ambil.

Nyawa, martabat, dan kebebasan istrinya bergantung pada kemampuannya untuk beradaptasi.

"Baik," kata Ji Woo, suaranya membelah keheningan dengan tegas. Kata itu terucap, seperti guntur yang jauh namun mengancam.

"Aku terima tawaranmu."

Kang Da Mun menyeringai, matanya yang busuk berkelip.

"Lihatlah siapa yang sedang bunuh diri," ejeknya. "Si pecundang Han Ji An mau jadi budak sejati, ya?"

"Tuan Kang," potong Ji Woo, mengabaikan penghinaan itu, otaknya kini mulai bekerja mencari cara bagaimana memecahkan semua ini dalam pikiran Ji Woo.

Waktunya amat terbatas, tetapi pengetahuannya tak terbatas, Ji Woo menguatkan tekad di dalam dirinya.

"Ada syarat. Jika aku bisa membayar semua utangmu..."

"Ah, sekarang mau pasang syarat? Hebat sekali kamu," Kang Da Mun mengejeknya, bibirnya membentuk senyuman mencemooh.

Udara dalam ruangan itu semakin mencekik, seolah atmosfir negatif Kang Da Mun menguap dari tubuhnya yang besar dan gelap.

Ji Woo mengambil napas dalam-dalam, menatap Kang Da Mun tanpa keraguan sedikit pun. Pandangan ini tidak biasa, tidak seperti yang pernah Ji An lakukan.

Penuh keyakinan, tetapi aneh dan belum bisa ditangkap So Ah. Kang Da Mun yang telah mendominasi kehidupan Ji An dan So Ah begitu lama, kini merasa terprovokasi.

"Jika aku melunasi utang," ulang Ji Woo dengan suara berat, "kau harus membebaskan kami dari segala ikatan dan janji, baik yang tertulis maupun tidak, di perjanjian sialan itu. Rumah ini... akan menjadi milik kami seutuhnya."

"Ya, ya," Kang Da Mun menatapnya remeh, mengibaskan tangannya lagi dengan jijik, menganggap persyaratan Ji Woo hanyalah omong kosong dan kebohongan besar dari si pecundang Ji An.

Ia mengira Ji An terlalu tolol untuk memikirkan semua itu.

"Itu sudah pasti. Itu syarat dasar sebuah pembayaran utang, idiot."

Ji Woo merasakan darah mendidih di tengkuknya. Tetapi ia harus tetap tenang. Tidak ada ruang untuk emosi di meja operasi, dan ini adalah "operasi" terbesar yang akan Ji Woo hadapi di masa depan, demi meluluhkan segala pikiran negatif Kang Da Mun.

"Oke," Ji Woo mengangguk perlahan. Wajahnya yang tegang menjadi dingin. "Berapa lama aku punya waktu?"

Pertanyaan ini mengejutkan Kang Da Mun. Ia tidak mengira Han Ji An akan langsung melompat ke pertanyaan teknis, seolah sudah yakin akan keberhasilannya.

Sebuah kegelian terselip di hati rentenir kejam itu. Dia bisa bermain-main sebentar. Lagipula, ini akan sangat menyenangkan melihat Ji An tersiksa sebelum menjadi budaknya. Kesempatan untuk melunasi utang yang nyaris mustahil itu adalah jebakan maut.

"Waktu?" Kang Da Mun menyeringai, menggosok-gosok dagunya yang penuh dengan janggut tipis.

Ia berjalan memutar mengitari ruangan sempit itu, kakinya menginjak lantai kayu yang usang, seolah ingin melihat bagaimana reaksi Ji Woo saat menerima putusan maut itu.

"Sesuai hukum dan tradisi, seharusnya besok. Tapi, untuk pemuda berani seperti kamu... aku akan berbaik hati."

Ia berhenti di depan jendela lusuh, melihat ke arah langit yang mulai cerah, seolah menghitung dengan serius.

"Hmm... berikan waktu dua hari saja? Bagaimana? Dua hari."

So Ah tersentak di samping Ji Woo, menarik napas tajam. Dua hari? Bagaimana mungkin? Mereka nyaris tidak punya makanan di rumah, apalagi uang sebesar itu.

Kepanikan menyelimutinya sekali lagi. Mimpi buruk itu kembali menyiksa, membuat sekujur tubuhnya terasa kaku.

Namun, Ji Woo diam. Matanya tertutup sejenak, wajahnya menunjukkan perhitungan yang cepat. Dia adalah dokter bedah genius. Mengatur jadwal operasi yang rumit dalam waktu singkat adalah keahliannya.

Dua hari adalah waktu yang mustahil bagi rata-rata orang di era ini. Tapi bagi Han Ji Woo...

"Dua hari tidak cukup," kata Ji Woo tenang.

Suaranya datar, tanpa emosi, sebuah respons yang jauh di luar dugaan Kang Da Mun. Ada kilat cerdik di matanya.

Ia kembali menunjukkan sebuah wajah tanpa kepanikan, hanya sebuah ketenangan. Wajah dokter profesional yang selalu mengambil kendali penuh atas situasi apapun.

"Aku butuh tiga hari."

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel