Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Pengorbanan So Ah

"Kita butuh uang!"

Kata-kata itu melayang di udara pengap, bergema aneh di telinga Han So Ah. Uang? Tiga hari? Ia melirik sekeliling rumah reyot mereka. Dinding yang lapuk, atap yang bolong di sana-sini, perabot yang seolah akan roboh hanya dengan sentuhan lembut.

Tidak ada satu pun barang berharga. Bahkan persediaan makanan mereka tinggal beberapa mangkuk nasi kering. Dari mana uang itu akan datang?

Pandangan Ji Woo menyapu ruangan, tatapannya berhenti pada lemari kayu tua di sudut. So Ah tidak salah tangkap, Ji Woo menatap lemari itu.

Raut wajah suaminya, yang kini tampak asing namun penuh gairah yang membara, memancarkan aura tekad yang melampaui keputusasaan. Tapi harapan, dalam kondisi mereka sekarang, terasa seperti racun manis.

"Tapi... Yeobo, kita tidak punya apa-apa lagi," bisik So Ah, suaranya tercekat di tenggorokan, pecah bersama air mata yang baru saja ia tahan. "Aku... aku tidak tahu lagi."

Ji Woo menghela napas panjang, menatap istrinya. Kekalutan So Ah begitu nyata, merasuki setiap inci tubuh ringkihnya. Aura penderitaan wanita itu terasa seperti pukulan batin baginya.

Itu bukan ketakutan yang datang dari omelan Kang Da Mun saja, melainkan penderitaan yang telah bertahun-tahun merayap dalam hidupnya.

"Ada jalan, So Ah," jawab Ji Woo, suaranya meyakinkan. "Hanya saja kita belum melihatnya. Percayalah padaku. Kita akan menemukan caranya."

So Ah menunduk, matanya menatap jemari tangan Ji Woo yang masih menggenggam erat tangannya. Kehangatan yang tidak terduga mengalir dari sana, berbeda dengan sentuhan Ji An yang lama.

Sentuhan itu... kokoh, seolah menjanjikan sebuah perlindungan yang tak tergoyahkan. Haruskah ia percaya pada suami yang tiba-tiba berubah ini? Suami yang sepanjang hidupnya hanya membawa kekecewaan?

"Jalan... seperti apa?" tanyanya, sangat ragu.

Ada harapan kecil yang menari-nari di balik awan keputusasaannya, tetapi dia tidak berani untuk memegang erat. Itu hanya akan menambah penderitaannya, memperpanjang derita itu jika harapan tidak muncul sama sekali.

"Jalan untuk membuat uang," Ji Woo tersenyum tipis.

Mata gelapnya bersinar cerah, seperti bintang yang membelah kegelapan malam, sebuah nyala gairah terpancar dari mata Ji Woo.

Ia melepaskan genggamannya, bergerak mendekati dinding yang ada di sisi dapur. Ia mengamati sudut ruangan yang tadinya luput dari perhatiannya. Itu bukan sembarang sudut.

"Semua masalah bisa diselesaikan jika ada uangnya," lanjutnya.

Nada bicara Ji Woo membuat Kang Da Mun tampak sebagai masalah kecil. Suara ini terlalu berbeda. Kekuatan baru ini terasa terlalu menenangkan.

"Kau... kau ingin membuat sabun lagi?" So Ah menduga-duga.

Ji An yang dulu pernah berjanji ingin menjadi seorang pengusaha sukses dengan membuat sabun, namun itu semua hanya janji belaka. Ji An hanya membuat kekacauan, bau di rumah dan di sekitarnya begitu menyengat hingga Ji An diusir oleh kepala desa karena membuat kerusuhan dan kemarahan para warga desa.

Ji Woo meliriknya. Ide itu ada dalam daftar Ji Woo, tetapi untuk sekarang... itu tidak realistis. Sabun membutuhkan bahan dan waktu. Mereka hanya punya tiga hari.

Ji Woo tahu untuk membuat sabun itu tidak sesimple yang ada dalam benaknya sekarang, akan ada hal lain yang datang dan terus datang. Itu tidak boleh.

"Tidak," Ji Woo menjawab tegas, suaranya kini melunak.

Ia tidak melihat lemari itu sekarang. Tatapan Ji Woo mengarah ke luar jendela. Sebuah pikiran cerdik mengambang di benak Ji Woo. Seolah sebuah gambaran utuh tercipta dalam sekejap mata.

Ji Woo melihat sekilas kilauan perak di tangan So Ah. Matanya tanpa sengaja menyadari. Tatapannya tertuju pada genggaman erat So Ah.

Wajah So Ah begitu pucat, tubuhnya pun kuyu, bibirnya gemetar seolah-olah ia menyimpan sesuatu dalam genggaman tangannya.

Ji Woo yang jenius dapat membaca ekspresi itu dari bahasa tubuh. Ada sesuatu yang sangat pribadi. Secepat kilat pikiran itu terlintas, sesuatu itu muncul.

Tanpa berkedip, So Ah mendekati meja reyot di tengah ruangan, tatapan matanya begitu kosong. Keberanian baru muncul, menggantikan keputusasaannya yang suram.

"Tapi, ada sesuatu yang bisa kita lakukan, Yeobo."

Dengan gerakan yang teramat pelan, seolah takut benda itu akan rapuh hanya karena disentuh, So Ah menarik keluar sehelai kain sutra usang yang membungkus sesuatu dengan hati-hati dari lipatan hanbok-nya.

Ketika kain itu dibuka, cahaya redup dari celah atap menyentuh sebuah tusuk konde yang terbuat dari perak, diukir dengan detail rumit berbentuk burung phoenix, bertengger di antara sulaman bunga peony yang elegan. Batu permata kecil berwarna biru zamrud di matanya berkilau, memancarkan pesona dingin di ruangan yang kumuh.

"Ini..." bisik So Ah, suaranya nyaris tidak terdengar, sarat akan kesedihan yang mendalam, tatapannya sendu menatap tusuk konde yang amat berharga.

"Ini satu-satunya warisan yang Kumonim berikan kepadaku. Ibu meninggal dan hanya meninggalkan satu benda ini, di mana ini selalu aku gunakan di kepala agar ibuku merasa dekat."

Ia mengangkat tusuk konde itu, kilau peraknya seolah mengolok-olok kemiskinan mereka. Tusuk konde itu memancarkan aura kerinduan yang membingungkan.

Ji Woo mengenali benda itu. Tusuk konde perak, dari kualitas ukirannya, adalah karya seorang pengrajin ulung.

Batu zamrud di dalamnya, walaupun kecil, jelas bukan permata sembarangan. Di pasar masa depan, benda ini bisa terjual ratusan juta. Di Joseon pasti sangat bernilai.

"Bawa saja ke pedagang, Yeobo," lanjut So Ah, air mata kembali menggenang di matanya, membuat kilauan tusuk konde itu berbayang.

"Aku yakin harganya pasti bisa menutupi utang kita. Mungkin sisanya bisa untuk kebutuhan lain. Aku... aku ikhlas."

Ia memaksakan sebuah senyum kecil, namun sorot matanya yang memohon pada Ji Woo menusuk hingga ke relung hatinya.

Dada Ji Woo serasa diremas kuat. Pengorbanan. Inilah harga yang harus dibayar Han So Ah atas kebejatannya, kebebasan yang terpaksa dikorbankan, kehormatan yang direnggut, dan kini kenangan terakhir akan ibunya harus rela dilepas.

Semua ini akibat ulah Han Ji An, dan sekarang semua harus ditanggung oleh dirinya yang berada dalam tubuh Ji An ini. Ia membenci kenyataan itu.

Seketika Ji Woo merasakan denyut marah, tetapi itu dengan cepat ditelan oleh kesadaran yang dingin. Mengambil warisan terakhir So Ah? Ji Woo bukan Han Ji An yang lama. Dia tidak akan membiarkan istrinya mengorbankan satu-satunya kenangan berharga yang ia punya.

"Tidak," Ji Woo berkata, suaranya tenang, namun mengandung nada penolakan yang tak bisa dibantah. Suasana hatinya kembali tegang. Ia menarik napas.

So Ah mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatapnya penuh tanda tanya. Harapan tipis yang tadi bersemi, kini layu perlahan. Kenapa? Bukankah ini satu-satunya cara?

"Kenapa tidak, Yeobo?" tanyanya, bingung. Tangannya gemetar saat memegang tusuk konde. "Ini adalah jalan satu-satunya! Tidak ada hal lain yang bisa kita jual."

"Karena," jawab Ji Woo, matanya kini menatap So Ah lurus, sebuah kekuatan yang asing terancar. Sorot matanya menghantam Ji Woo dengan begitu jelas. "Itu warisan ibumu, So Ah. Dan itu adalah hal yang sangat berarti bagimu."

So Ah menggeleng. "Apa artinya itu semua, Yeobo, jika kita kehilangan segalanya? Aku rela. Asalkan kamu tidak jadi budak, asalkan kita bebas dari semua ini. Biarlah tusuk konde ini menjadi tebusan. Yang penting kamu...."

Ia menundukkan kepala, memejamkan mata erat, mencoba menahan emosinya. Setetes air mata menetes, jatuh di atas permukaan perak tusuk konde itu, memantulkan kesedihan yang membuncah.

Ji Woo merasakan sebuah penyesalan, dari lubuk hatinya. Kenapa ia harus masuk ke dalam tubuh pecundang ini? Ia telah melakukan dosa besar pada wanita yang malang ini.

Ji Woo menarik napas dalam. Aroma anyir tanah dan apek rumah yang basah di ruangan itu terasa memuakkan, mencekik paru-parunya. Tapi kali ini, ia akan berdiri tegak. Untuk wanita ini. Demi dirinya.

"Aku bilang tidak, So Ah," kata Ji Woo, suaranya kini tegas, seperti pedang yang terhunus.

Itu bukan Ji An, suara itu. Itu Han Ji Woo yang berkata. "Aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan dirimu, apalagi hal yang amat berharga dari kenangan Kumonim. Sama seperti aku tidak akan membiarkanmu menjadi jaminan mereka."

So Ah menatapnya, bibirnya sedikit terbuka, tidak tahu harus berkata apa. Air mata masih mengalir, namun tatapannya kini bercampur dengan sesuatu yang lain, terkejut, namun sekaligus tergugah. Ini bukan Han Ji An yang selalu kabur dari tanggung jawab. Ini sesuatu yang baru. Sebuah cahaya dalam kegelapan.

Ji Woo mengambil langkah mendekat, menyingkirkan tusuk konde perak dari tangan So Ah. Matanya menyiratkan kelembutan, seolah dia tengah menenangkan seorang pasien di ruang gawat darurat yang tengah berjuang untuk hidup.

"Sudah cukup penderitaan yang harus kau alami," bisik Ji Woo, jemarinya yang hangat menyentuh punggung tangan So Ah, menyalurkan energi yang kuat.

Hawa panas menguar dari telapak tangan Ji Woo. "Karena dia," ia berhenti, menekan sebuah amarah dari lubuk hati yang paling dalam, dan So Ah dapat mendengar suara pahit itu. Ia telah melihat semua kejadian ini dan dia membenci kenyataan yang sekarang ia pegang.

"Han Ji An yang lama terlalu bodoh dan tidak punya hati untuk menghargai warisan semacam ini," tambahnya lagi, ada kebencian yang samar saat ia mengatakan itu.

"Aku... akan menjaga ini." Ji Woo kemudian membalik tusuk konde itu, dengan hati-hati ia menempatkan warisan berharga itu ke tangan So Ah dan So Ah kembali memegang tusuk konde perak itu.

Ia menggenggam erat, hatinya menghangat secara tiba-tiba. Dia ingin kembali merengkuh tusuk konde itu, kembali memegang dengan hatinya.

"Warisan itu aman di tanganmu," tegas Ji Woo. "Selama aku di sini, kamu tidak akan kehilangan apapun. Apalagi harus kehilangan apa pun lagi untuk membayar utang itu. Kita tidak akan melakukan itu."

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel