Pustaka
Bahasa Indonesia

Kebangkitan Tabib Jenius Joseon

62.0K · Ongoing
riwidy
45
Bab
22
View
9.0
Rating

Ringkasan

Seorang dokter jenius dari masa depan terlempar ke tubuh seorang pemuda pemalas di era Joseon, memaksanya menggunakan pengetahuan medis modern untuk menyelamatkan kehormatan istrinya dari rentenir kejam dan mengubah takdirnya menjadi tabib legendaris.

FantasiDokterPetualanganKehidupan MisteriusPengembara WaktuZaman KunoTravelBaik HatiIdentitas GandaDrama

Bab 1. Terlempar ke Masa Lalu

Pintu kayu tipis itu nyaris terlepas dari engselnya saat digebrak dengan kekuatan kasar. Suara dentuman yang memekakkan telinga merobek selaput kesadaran Han Ji Woo, mengirimkan getaran menyakitkan yang berpusat di belakang matanya. Dunia terasa miring, berputar dalam kabut pusing yang pekat.

"Waktumu sudah habis, Han Ji An!" Suara bariton yang menggelegar itu terdengar lagi, sarat akan cemoohan dan ketidaksabaran.

Ji Woo mengerang pelan, satu tangannya terangkat untuk memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Rasanya seperti hangover terburuk dalam hidupnya, bercampur dengan migrain parah setelah jaga 36 jam di UGD. Tapi... di UGD rasanya tidak pernah ada bau apek kayu lapuk dan tanah lembap seperti ini.

"Tolong, Tuan Kang," sebuah suara perempuan yang lembut dan bergetar menyela, terdengar begitu dekat. "Mohon berikan kami sedikit waktu lagi. Suamiku... dia sedang tidak enak badan."

Ji Woo membuka matanya perlahan. Pandangannya buram, tapi ia bisa melihat siluet seorang pria jangkung dan besar berdiri di ambang pintu, menghalangi cahaya pagi yang pucat. Di sebelahnya, seorang wanita muda berlutut di lantai kayu yang dingin, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wanita itu mengenakan pakaian yang aneh, semacam gaun berlapis yang ia yakini pernah lihat di drama sejarah TV.

"Gak enak badan katamu?" Pria besar itu, Tuan Kang, tertawa mengejek. "Aku lebih percaya kalo dia mabuk sampai pingsan lagi, seperti biasanya. Aku tidak peduli dia sekarat atau apa pun itu. Perjanjian adalah tetaplah perjanjian. Hari ini sudah jatuh temponya."

Wanita itu tersentak. "Tapi, Tuan..."

"Yeobo..." bisik wanita itu, beralih pada Ji Woo, matanya yang besar dan jernih berkaca-kaca penuh kekhawatiran. "Gimana keadaanmu?"

Yeobo? Suamiku? Alarm internal Ji Woo berbunyi nyaring, mengalahkan rasa sakit di kepalanya. Dia berusaha untuk duduk, merasakan kasarnya kain pakaian yang membungkus tubuhnya. Ini bukan piyamanya.

Ini juga bukan kamar apartemennya di Seoul. Ruangan ini kecil, dengan dinding kertas dan pilar-pilar kayu yang sudah usang. Tidak ada satu pun benda dari abad ke-21 di sini.

"Aku... kepalaku sakit," gumam Ji Woo, suaranya serak. Ini bukan suaranya. Suara ini lebih muda, sedikit lebih tinggi.

Pria bernama Kang Da Mun melangkah masuk, sepatunya yang terbuat dari kulit yang bagus berderit di atas lantai kayu yang tidak rata. Di belakangnya, dua pria berwajah sangar mengikuti seperti bayangan.

"Cukup sandiwaranya," kata Kang Da Mun, tatapannya dingin menusuk. "Aku datang untuk menagih. Lima puluh nyang. Kau punya uangnya atau tidak?"

Ji Woo menatapnya kosong. Nyang? Mata uang apa itu? Kepalanya berusaha keras memproses informasi yang tidak masuk akal. Ini pasti mimpi. Atau mungkin... ia diculik dan ini semacam set film yang rumit?

"Kami akan membayarnya, Tuan. Sungguh," isak wanita di sampingnya, yang kini Ji Woo sadari adalah istrinya. Istrinya? "Kami hanya butuh beberapa hari lagi. Tolong, kasihanilah kami."

Kang Da Mun mendengus. Dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari balik jubah sutranya yang mewah dan melemparkannya ke atas meja kayu rendah di tengah ruangan. Gulungan itu terbuka, memperlihatkan tulisan kuas yang rumit dan cap jempol berwarna merah darah.

"Beberapa hari lagi?" ulang Kang Da Mun, nadanya merendahkan. "Han So Ah, kamu sudah mengatakan itu selama tiga bulan terakhir. Kesabaranku ada batasnya. Suamimu yang pemalas ini menghabiskan semua uang pinjamannya di meja judi, bukan untuk memulai usaha seperti yang dia janjikan. Kenapa aku harus memberinya kelonggaran lagi?"

Nama-nama itu... Han Ji An... Han So Ah... Kang Da Mun... Nama-nama yang terasa asing sekaligus familiar. Ji Woo menatap wanita yang dipanggil So Ah.

Wajahnya cantik alami, meski pucat dan kuyu karena kelelahan dan ketakutan. Ada sedikit memar kebiruan di pipinya yang hampir pudar, membuat sesuatu di dalam dada Ji Woo terasa sesak.

"Itu..." Ji Woo mencoba berbicara, tenggorokannya kering. "Itu utang yang besar. Berapa bunga yang kau kenakan?"

Pertanyaan itu membuat semua orang di ruangan itu terdiam. Kang Da Mun mengangkat alisnya, terkejut. Han So Ah menatap suaminya dengan ekspresi bingung, seolah ini pertama kalinya ia mendengar Ji An berbicara dengan logika seperti itu.

"Hah! Tumben sekali otakmu yang terendam arak itu berfungsi," cibir Kang Da Mun setelah beberapa saat terdiam. "Bunganya tentu saja harus sesuai kesepakatan. Apa kau bahkan ingat menandatanganinya?"

Ji Woo mengabaikan cibirannya. Tatapannya jatuh pada mangkuk tembaga berisi air di sudut ruangan. Dengan susah payah, ia bangkit dan berjalan terhuyung-huyung ke arahnya, membutuhkan bukti. Ia berlutut di depan mangkuk itu dan menatap pantulan di permukaan air yang tenang.

Wajah yang balas menatapnya bukanlah wajah Han Ji Woo, dokter bedah jenius berusia tiga puluhan. Itu adalah wajah seorang pemuda di awal dua puluhan, dengan rambut hitam acak-acakan yang diikat seadanya. Wajah yang lumayan tampan, tetapi terlihat lemah dan kurang semangat, dengan kantung mata yang menandakan gaya hidup yang tidak sehat.

Ini... wajah Han Ji An.

Darah serasa surut dari wajahnya. Jantungnya berdebar kencang. Ini bukan mimpi. Ini bukan lelucon. Dia, Han Ji Woo, entah bagaimana telah masuk ke dalam tubuh orang lain. Di tempat dan waktu yang sama sekali berbeda. Joseon. Era yang hanya ia ketahui dari buku sejarah dan film di TV.

"Yeobo, jangan..." bisik So Ah, mencoba menarik lengan bajunya. "Jangan memprovokasi Tuan Kang."

Pikiran Ji Woo berpacu. Kekacauan, kepanikan, dan ketidakpercayaan berperang dalam benaknya. Tapi di atas segalanya, satu hal menjadi sangat jelas saat ia menatap wajah penuh permohonan istrinya—istri orang ini.

Wanita ini dalam bahaya nyata. Dan entah bagaimana, kini menjadi tanggung jawabnya. Instingnya sebagai dokter, sebagai manusia dengan moralitas modern, mengambil alih.

Dia berdiri, postur tubuhnya berubah. Punggungnya yang tadi sedikit membungkuk kini tegap. Tatapannya yang bingung menjadi tajam dan fokus.

"Tuan Kang," katanya, suaranya tenang dan tegas, mengejutkan So Ah dan bahkan Kang Da Mun sekali lagi. "Beri saya waktu. Saya akan melunasi semuanya."

Kang Da Mun tertawa terbahak-bahak, seolah baru mendengar lelucon paling lucu di dunia. "Kau? Melunasi? Dengan cara apa coba katakan? Kembali ke rumah judi dan berharap para dewa memberkatimu kali ini? Jangan membuatku tertawa, Ji An."

"Saya tidak bercanda," sahut Ji Woo. Ada aura dingin dan penuh perhitungan dalam dirinya yang belum pernah ada pada diri Han Ji An yang lama. "Saya akan membayarmu lunas."

"Omong kosong," geram Kang Da Mun, kesabarannya benar-benar habis. Dia memberi isyarat pada kedua anak buahnya. "Aku sudah selesai bicara. Sesuai perjanjian, jika kau tidak bisa membayar dengan uang...."

Dia berhenti sejenak, tatapannya menyapu seisi rumah kumuh itu dengan jijik, sebelum akhirnya mendarat pada Han So Ah dengan kilat serakah yang membuat darah Ji Woo mendidih.

"Maka aku akan mengambil jaminannya. Rumah reyot ini, sepetak tanah tak berguna di belakang... dan tentu saja," seringai keji terukir di wajah Kang Da Mun, "istrimu yang cantik ini."

Darah di pembuluh darah Ji Woo membeku sejenak, kemudian mendidih dengan kekuatan gunung berapi. Bukan cuma migrain yang menghantam, bukan cuma disorientasi era, melainkan kemarahan purba yang merenggut napasnya. Kalimat terakhir itu, diucapkan dengan seringai rakus yang tak salah lagi, menampar wajahnya dengan kebiadaban yang tak terpikirkan di abad ke-21.

"Apa... apa yang barusan kau katakan?" Suara Ji Woo, yang kini menjadi suara Han Ji An, bergetar, lebih karena upaya menahan amarah ketimbang ketakutan. Udara di ruangan kumuh itu tiba-tiba terasa mencekik, beraroma apak tanah dan keculasan.

Kang Da Mun melambaikan tangan dengan acuh, mengabaikan ketegangan yang mendadak menggantung di udara. Dua pengawalnya bergerak sedikit lebih dekat ke pintu, pandangan mereka tak berkedip, siap bertindak atas perintah majikannya.

"Aku bilang, istrimu ini bagian dari jaminan," ulang Kang Da Mun, menikmati keterkejutan Ji Woo. Matanya berkilat meremehkan.

"Kenapa, Han Ji An? Kamu pura-pura bebal sekarang? Kau yang menorehkan cap jempolmu di perjanjian itu."

***