Bab 2. Jaminan yang Tak Manusiawi
Ji Woo berbalik menghadap So Ah, matanya menyapu wajah cantik yang kini penuh kebingungan dan ketakutan. Sedikit memar kebiruan di pipi sang wanita terlihat lebih jelas dalam cahaya yang menembus celah di atap.
Perutnya bergejolak. Tubuh aslinya yang bejat ini telah berani menyandera istrinya sendiri untuk utang?
"Perjanjian itu?" Ji Woo menunjuk gulungan kertas di meja. "Perjanjian macam apa yang membolehkan seorang manusia jadi jaminan?"
Kang Da Mun mendengus mengejek. "Perjanjian rentenir, begitulah. Kau sendiri yang sepakat. Kalau tak punya apa-apa lagi untuk menjamin, kenapa tidak menjual dirimu atau keluargamu?"
Nada bicaranya menunjukkan bahwa praktik seperti itu adalah hal biasa di dunia ini.
So Ah akhirnya mengangkat kepalanya, air mata mulai mengalir di pipinya.
"Tuan Kang," isaknya, "jangan bicara seperti itu. Aku... aku bukan jaminan."
Ia memandang Ji An dengan sorot terluka, seolah mengharapkan suaminya akan membantahnya.
"Yeobo, ini tidak benar kan?" tanyanya, suaranya kecil dan rapuh.
Ji Woo menatap mata So Ah, merasa perutnya diulir. Sesuatu yang dalam di lubuk jiwanya meronta. Rasa jijik dan muak.
Baginya, Han Ji An yang asli hanyalah cangkang kotor yang harus dibersihkan, tetapi kenangan, kehidupannya yang lampau... semuanya kini mau tak mau jadi miliknya.
"Dia benar. Ini tidak benar," jawab Ji Woo tegas, membuat So Ah tersentak kaget.
Tidak pernah sebelumnya Han Ji An yang dikenalnya bersuara sekuat ini, atau membantah Tuan Kang dengan keberanian sekonyol itu. So Ah pernah mendengar sumpah serapah, tetapi bukan pembelaan yang beralasan.
Jantung So Ah berdebar tidak nyaman. Dia tidak mengerti suaminya yang sekarang ini.
Kang Da Mun menyilangkan tangannya, ekspresinya geli bercampur sedikit terganggu.
"Oh, lihat, Si Pecundang tiba-tiba punya taring, ya? Kamu sudah menandatangani, Ji An. Jangan pura-pura lupa. Jaminannya adalah 'semua harta milik Han Ji An dan rumah tangganya'."
Ia menekankan dua kata terakhir. "Artinya segala sesuatu, termasuk dirimu, Han So Ah."
Sebuah kebiadaban hukum yang mengoyak akal sehat Ji Woo. Dia adalah seorang dokter, menyelamatkan nyawa, bukan mempertaruhkan kebebasan seseorang. Moralnya yang modern menjerit di dalam benaknya.
"Bagaimana bisa manusia dianggap 'harta milik'?" desisnya, langkahnya maju satu inci.
So Ah merayap sedikit mendekat ke suaminya, mencoba menarik lengan jubahnya.
"Jangan memprovokasinya, Yeobo. Jangan begitu. Kita bisa bicarakan baik-baik," bisiknya dengan cemas.
Ketakutan So Ah adalah pemandangan yang menyayat hati Ji Woo, dan membuatnya makin murka pada Kang Da Mun dan Han Ji An yang lama.
"Apa yang harus dibicarakan baik-baik, So Ah?" tukas Ji Woo, tatapannya membakar. "Dia... dia ingin memperlakukanmu seperti benda, seperti properti!"
"Lalu, kamu mau apa?" cibir Kang Da Mun, selangkah maju, bayangannya kini menaungi Ji An.
Suhu di ruangan terasa mendingin, seperti aura jahat Kang Da Mun menguasai ruangan itu. Aroma kemenyan dan debu terasa pekat, menambah sesak.
"Kamu mau melawan para rentenir hanya karena seorang istri yang mau jadi budak di tanganku? Tidak akan mengubah apa-apa."
"Kamu boleh menertawakan utangku," sahut Ji Woo, pandangannya tidak bergeming.
"Kamu boleh menertawakan rumahku yang reyot ini. Tapi, kamu tidak boleh berbicara seperti itu tentang istriku. Dia bukan benda! Dia bukan budak!"
Raungan Ji Woo itu nyaris menggelegar, suara itu terdengar aneh dan begitu berbeda, membelah kesunyian di rumah itu.
So Ah terlonjak, menatap suaminya dengan mata lebar. Tidak hanya terkejut, tapi juga... terkesima.
Belum pernah ia melihat Ji An, suaminya yang dulu pecundang dan pemalas itu, berdiri setegap dan seberani ini di hadapan Kang Da Mun. Kekaguman kecil menyelinap di antara celah ketakutannya.
Kang Da Mun mengerutkan keningnya, tatapan meremehkannya berubah menjadi sorot tak percaya, lalu menjadi kemarahan.
Jarang sekali ada yang berani membantah atau mengangkat suara kepadanya, apalagi si pemuda Han Ji An ini.
Raut wajahnya yang tadinya tenang, perlahan mengeras. Jelas, ini bukan lagi Han Ji An yang selalu tertunduk ketakutan.
"Oh, kamu sekarang mau bertindak jadi pahlawan, begitu?" Suara Kang Da Mun terdengar rendah, berbahaya, lebih dari geraman.
"Seorang suami pecundang, berlagak membela istrinya padahal dia sendiri yang menjerumuskan wanitanya. Beraninya kau meninggikan suara padaku, bocah kurang ajar? Mau main keras? Aku suka."
Pria besar itu melangkah lebih dekat. Tekanan yang dipancarkan olehnya seperti gelombang yang menyesakkan dada. Aroma tajam kain sutranya yang mahal dan bau kulitnya menguar memenuhi udara. Dia jauh lebih tinggi, jauh lebih besar, jauh lebih berkuasa.
Ji Woo bisa merasakan detak jantungnya sendiri berdegup kencang di telinganya. Insting dokter bedah-nya, yang terlatih untuk menjaga ketenangan di bawah tekanan ekstrem, kini bekerja dengan giat, meski tangannya sedikit bergetar. Dia sudah berada di titik tidak bisa mundur.
"Apa pun yang Han Ji An yang lama lakukan," kata Ji Woo, suaranya sekarang sangat terkendali, hampir dingin. Ia menggunakan nama lama diri fisiknya, mengusir sosok pecundang itu, mengambil alih pertarungan ini sepenuhnya, "itu bukan urusanku. Tapi kini aku ada di sini, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Dia menoleh pada So Ah, tangannya meraih tangan sang istri. Tangan So Ah dingin dan gemetar, tetapi Ji Woo menggenggamnya erat, mengirimkan getaran hangat yang tak terduga ke dalamnya.
Kekuatan yang seolah melumpuhkan tubuhnya perlahan sirna digantikan kehangatan tak dikenal. Tatapan mata Ji Woo yang teduh namun penuh tekad memberikan kekuatan pada So Ah. Suaminya... ada sesuatu yang berbeda. Sebuah cahaya yang belum pernah ada.
"So Ah, aku berjanji padamu," Ji Woo berbisik, agar hanya So Ah yang bisa mendengarnya, "aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Ia berpaling lagi pada Kang Da Mun.
"Sekarang mundurlah, Tuan Kang," ucap Ji Woo dengan nada yang tidak menerima penolakan, membuat alis Da Mun berkedut.
"Kamu boleh mengambil apa saja dari rumah ini, yang konon jadi jaminan itu, ambil apa pun yang Han Ji An miliki. Tapi, kau tidak akan pernah bisa membawa istriku."
Kang Da Mun terdiam. Dua anak buahnya yang berada di belakangnya saling melirik, jelas terkejut oleh penolakan yang tidak sopan dan keras itu.
Tuan Kang biasanya tidak bertemu dengan halangan semacam ini. Di desa kecil seperti ini, siapa yang berani melawannya?
Seringai perlahan menghilang dari wajah Kang Da Mun, digantikan oleh kerutan kemarahan. Ia mengibaskan tangannya ke arah So Ah dengan gerakan tajam dan mengancam.
"Penawaranmu sungguh menyedihkan. Wanita ini... jaminannya terlalu berharga untuk kau tolak."
"Ambil saja mereka!" tukas Kang Da Mun, nada bicaranya sudah berganti, dingin menusuk. Matanya menyala dengan api kebuasan.
Ia memberi isyarat kepada kedua pengawalnya, memerintahkan mereka untuk merebut So Ah.
"Tangkap dia sekarang! Paksa dia menemaniku ke kota! Biar si bodoh ini melihat konsekuensinya kalau menentangku."
Dua pengawal itu, pria berbadan besar dengan otot lengan menonjol, maju ke arah So Ah dengan langkah lebar, mata mereka terpaku pada sosok rapuh So Ah.
So Ah menjerit tertahan, tubuhnya kaku, matanya melebar dalam kepanikan. Dia mencoba menarik diri dari Ji Woo, tidak ingin menyeret suaminya ke dalam masalah.
Ketakutan So Ah akan menjadi alat yang kuat untuk rentenir itu. Bau busuk napas si pengawal sudah tercium saat mereka hanya beberapa langkah lagi.
"Jangan berani menyentuhnya!" geram Ji Woo, kemarahannya yang selama ini tertahan akhirnya meledak.
Otaknya bekerja sangat cepat, mengolah situasi dan mencari solusi. Insting melindungi wanita di sampingnya menyala lebih terang daripada ketakutan apa pun.
Dia melepaskan tangan So Ah, dan berdiri tegak, memblokir jalan kedua preman itu dengan kedua tangannya terentang, kakinya sedikit terbuka untuk keseimbangan, seperti saat akan melakukan operasi dengan posisi sempurna.
"Berani kalian sentuh dia..."
Matanya menatap mereka dengan tatapan maut, seolah di ambang pembunuhan, namun Ji Woo sama sekali tidak pernah memiliki niatan untuk berkelahi apalagi bertarung. Otaknya hanya berfungsi untuk melindungi.
Jauh di dalam Ji Woo, suara dingin dokter bedah terlatih muncul, mengukur sudut, jarak, kekuatan fisik kedua orang itu. Dia belum terbiasa dengan tubuhnya yang ringkih ini, tetapi dia akan melakukan segala cara untuk....
Tiba-tiba Kang Da Mun menghentakkan kakinya dengan kasar di lantai. Suara bantingan itu nyaris membuat jantung So Ah copot. Kang Da Mun mendecak jijik.
"Baik," desisnya, seringai licik muncul kembali di wajahnya yang gempal. Sebuah gagasan yang lebih jahat sepertinya baru saja melintas di benaknya.
"Karena kamu begitu ngotot mau melindunginya, Han Ji An, aku beri kamu pilihan terakhir."
***
