Teh Celup Abadi
Hari Minggu adalah hari yang sakral bagi umat manusia yang bekerja nine-to-five. Seharusnya, hari ini diisi dengan bangun siang, scrolling media sosial sampai jempol kram, atau minimal masak makanan enak.
Tapi di kediaman Bayu dan Dinda, hari Minggu adalah "Hari Audit Mingguan".
Dinda sedang berlutut di lantai dapur, mengelap ubin dengan kain perca. Bukan karena Dinda rajin, tapi karena Bayu melarang penggunaan alat pel modern yang katanya "boros air" dan "gampang rusak".
"Pakai tangan lebih presisi, Din," ujar Bayu yang sedang berdiri mengawasi sambil memegang stopwatch. "Tekanan tangan manusia itu bisa membunuh kuman lebih efektif daripada tongkat pel buatan pabrik yang mengandung magnet negatif."
Dinda hanya mengangguk pasrah. Ia sudah terlalu lelah untuk bertanya apa itu "magnet negatif".
Tiba-tiba, suara bel pintu berbunyi.
Ting-tong!
Bayu tersentak kaget. Matanya melotot ke arah pintu depan. "Siapa itu? Kita nggak pesen paket. Aku juga nggak ngundang siapa-siapa. Jangan-jangan debt collector salah alamat? Atau intel yang nyamar jadi tukang paket?"
Dinda buru-buru berdiri, mengelap tangannya ke daster. "Mas, tenang dulu. Mungkin tamu biasa."
Dinda mengintip dari jendela. Wajahnya langsung cerah. "Itu Sarah, Mas! Adikku!"
"Sarah?" Wajah Bayu berubah masam. Bukan karena ia membenci adik iparnya, tapi Sarah adalah tipe wanita milenial yang hedon karena suka beli kopi susu gula aren. Itulah definisi hedon menurut Bayu. Selain itu, Sarah juga kritis. Sikap Sarah merupakan musuh alami bagi penganut aliran penghematan ekstrem.
Dinda membuka pintu. Sarah berdiri di sana dengan gaya khasnya: kacamata hitam di atas kepala, tas jinjing branded (KW super), dan menenteng kantong plastik minimarket.
"Assalamualaikum, Kakakku yang cantik tapi kok makin kurus!" sapa Sarah riang, langsung cipika-cipiki.
"Waalaikumsalam. Masuk, Sar. Tumben mampir?"
"Iya nih, tadi habis COD-an tas di daerah sini, sekalian mampir. Haus banget, gila, matahari di luar kayak ada sembilan." Sarah melangkah masuk ke ruang tamu, lalu keningnya berkerut. "Kak, ini rumah kok kayak gua hantu? Gelap amat? Gordennya dibuka dong."
Belum sempat Dinda menjawab, Bayu muncul dari balik tirai dapur dengan senyum kaku yang dipaksakan.
"Halo, Sarah. Gordennya sengaja ditutup," kata Bayu datar. "Sinar UV jam segini lagi jahat-jahatnya. Bisa bikin perabot memuai dan cat dinding pudar. Sayang kalau harus ngecat ulang tahun depan."
Sarah menatap kakak iparnya dengan tatapan 'lu sehat, Bang?', tapi ia memilih tersenyum sopan. "Oh, gitu ya, Mas Bayu. Visioner banget."
Mereka duduk di sofa. Sarah meletakkan kantong plastiknya. "Nih, aku bawain martabak manis. Masih anget."
Mata Bayu berbinar sejenak melihat kotak martabak itu, tapi sedetik kemudian ia terlihat curiga. "Beli di mana?"
"Di pengkolan depan," jawab Sarah santai.
"Abangnya pakai sarung tangan plastik nggak pas nuang susunya?" tanya Bayu selidik.
Sarah melongo. "Hah? Mana gue perhatiin, Mas. Yang penting enak."
Bayu menggeleng prihatin. "Bakteri E. coli itu tidak terlihat, Sarah. Dan susu kental manis itu ... kamu tahu nggak konspirasi gula? Itu cara elit global bikin kita diabetes biar kita beli obat seumur hidup. Tapi ya sudah, makasih. Nanti saya sterilkan dulu martabaknya di microwave selama 3 menit 45 detik."
Sarah menyikut lengan Dinda, berbisik pelan, "Laki lo kenapa sih? Masih aja kaku kayak kanebo kering."
Dinda hanya tersenyum kecut. "Namanya juga orang teliti, Sar."
"Kak, minta minum dong. Haus banget sumpah."
"Bentar ya." Dinda beranjak ke dapur.
Lima menit kemudian, Dinda kembali membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat. Warnanya agak aneh. Cokelatnya sangat, sangat muda. Nyaris bening, seperti air kobokan yang baru dicelup jari sekali.
Sarah mengangkat gelas itu, menerawangnya ke arah cahaya yang minim, namun masih nampak jelas. "Kak, ini teh white tea impor apa gimana? Kok pucet banget?"
Sebelum Dinda sempat menjawab, Bayu menyela dengan bangga. "Itu teh celup melati, Sarah. Tapi itu celupan ketiga."
"Celupan ketiga?" Sarah menahan gelasnya di udara, ragu untuk meminumnya.
"Iya," jelas Bayu semangat. "Satu kantong teh celup itu, kalau dibuang sekali pakai, adalah dosa besar mubazir. Sari patinya masih ada. Hari Jumat kemarin aku pakai buat pagi, Sabtu buat Dinda, nah ini Minggu kita seduh lagi. Rasanya lebih subtle, lebih sopan di lidah, dan yang penting ... hemat."
Sarah menurunkan gelasnya perlahan. Ia menatap Dinda, meminta konfirmasi. Dinda memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan toples kue kosong di meja.
"Mas Bayu," kata Sarah pelan, mencoba menahan emosi. "Harga teh celup sekotak isi 25 biji itu cuma lima ribu perak. Lima. Ribu. Perak. Itu 200 rupiah per kantong. Mas Bayu gaji belasan juta, masa nyiksa tamu dikasih air bilasan teh?"
Suasana mendadak hening dan dingin. Dinda menahan napas. Sarah baru saja menekan tombol bahaya.
Bayu tidak marah. Ia justru tersenyum, senyum yang membuat bulu kuduk Sarah meremang. Ia membetulkan letak kacamata minusnya.
"Kamu pikir ini soal uang lima ribu, Sarah?" Bayu tertawa kecil, tawa yang terdengar hampa. "Kamu naif sekali. Teh celup itu ada pengawet di kantong kertasnya. Ada zat pemutih klorin. Semakin sering dicelup, zat kimianya luntur. Celupan ketiga adalah yang paling murni, paling aman dari racun pabrik."
Bayu mendekatkan wajahnya ke arah Sarah. "Lagipula ... kamu nggak tahu kan kalau pabrik teh itu diam-diam memasang micro-chip di benang tehnya untuk melacak DNA kita lewat air liur?"
Sarah terdiam. Mulutnya sedikit terbuka. Ia menoleh ke Dinda, matanya mengirim sinyal SOS: 'Kak, laki lo gila beneran apa gimana?'
Dinda segera memotong pembicaraan sebelum semakin ngawur. "Eh, Sar, martabaknya dimakan yuk! Keburu dingin. Mas Bayu becanda kok itu, ya kan Mas?" Dinda mencubit paha suaminya keras-keras.
Bayu meringis, tapi sadar kode istrinya. "Ah, iya. Becanda. Humor bapak-bapak. Hahaha." Tawanya karing dan tidak meyakinkan.
Sarah akhirnya meminum teh pucat itu sedikit, hanya untuk membasahi tenggorokan. Lalu meletakkan gelasnya jauh-jauh.
"Kak Din, ikut aku ke depan bentar yuk, lihat motor aku. Kayaknya ada baret, aku minta pendapat kakak," kata Sarah tiba-tiba. Itu jelas alasan yang dibuat-buat.
"Oh, iya. Bentar ya, Mas."
Dinda dan Sarah keluar rumah, menuju carport. Begitu pintu tertutup, Sarah langsung mencengkeram bahu kakaknya.
"Kak! Lo sadar nggak sih suami lo itu nggak beres?!" bisik Sarah setengah berteriak.
"Sstt! Jangan kenceng-kenceng, Sar," Dinda celingukan takut Bayu mengintip dari jendela (yang mana sangat mungkin terjadi).
"Bukan masalah pelitnya doang, Kak. Oke lah kalau pelit, banyak cowok pelit. Tapi itu tadi ngomongin micro-chip di benang teh? Konspirasi gula? Itu udah halu, Kak! Dia butuh dokter, bukan kalkulator!"
Dinda menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. "Gue juga bingung, Sar. Awalnya gue kira dia cuma stres kerjaan. Tapi makin ke sini makin aneh. Kemarin dia nyabut kulkas karena takut satelit panas bumi. Gue capek, Sar ... capek banget."
Pertahanan Dinda runtuh. Ia terisak pelan. Sarah langsung memeluk kakaknya erat.
"Tuh kan, bener dugaan gue. Lo kurus kering begini pasti karena makan ati," gerutu Sarah. "Kak, lo nggak bisa begini terus. Lo harus tegas. Kalau dia sakit, ya diobatin. Kalau dia cuma pelit, ya dilawan. Jangan nrimo aja kayak istri jaman Majapahit!"
"Gue takut, Sar. Kalau dia marah, tatapannya itu lho ... kosong tapi nakutin. Gue takut dia ngapa-ngapain gue."
Sarah melepaskan pelukan, menatap Dinda serius. "Oke, dengerin gue. Mulai sekarang gue bakal sering-sering main ke sini. Gue bakal jadi 'polisi' buat lo. Kalau dia mulai ngawur, lo telepon gue. Dan satu lagi, ini gue kasih duit 500 ribu, lo umpetin. Beli makanan enak di luar diem-diem. Jangan sampai lo mati kelaparan gara-gara makan martabak yang disterilin di microwave!"
Dinda menerima uang itu dengan tangan gemetar. "Makasih ya, Sar."
"Udah, hapus air mata lo. Kita masuk lagi. Gue mau pamit pulang, takut lama-lama di sini gue ikut gila terus percaya kalau kerupuk kaleng itu alat penyadap suara."
Mereka kembali masuk. Di ruang tamu, Bayu sedang sibuk memisahkan kacang dari martabak cokelat-kacang yang dibawa Sarah.
"Kenapa dipisahin, Mas?" tanya Sarah heran.
"Kacangnya nggak rata," gumam Bayu serius. "Potongan sebelah kiri ada 12 butir, potongan kanan cuma 8. Nggak adil. Aku lagi mendistribusikan ulang supaya setiap gigitan punya rasio kacang dan adonan yang seimbang. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat martabak."
Sarah menarik napas panjang, menepuk bahu Dinda seolah berkata 'Good luck, Sist', lalu pamit mundur teratur.
"Aku balik dulu ya, Mas Bayu. Enjoy kacangnya."
Sepeninggal Sarah, Dinda duduk di samping suaminya yang masih asyik dengan "Operasi Keadilan Martabak". Dinda menatap teh pucat di gelas Sarah yang tak tersentuh. Di dalamnya, kantong teh celup yang sudah lembek dan hancur terlihat menyedihkan.
Sama menyedihkannya dengan nasib pernikahannya yang baru seumur jagung ini.
"Mas," panggil Dinda pelan.
"Hmm?"
"Besok aku beli teh baru ya. Yang ini udah sobek kantongnya."
Bayu menoleh, menatap Dinda tajam. "Jangan. Kalau sobek dijahit saja pakai benang jahit. Masih bisa dipakai sekali lagi."
Dinda memejamkan mata. Dalam hati, ia mulai merapalkan doa agar diberi kewarasan lebih lama daripada teh celup abadi itu.
