Teori Konspirasi Token Listrik
Jika ada penghargaan untuk istri paling tabah sedunia, Dinda yakin dirinya setidaknya masuk nominasi lima besar. Saingannya mungkin hanya istri Firaun atau istri Bang Toyib yang ditinggal tiga kali puasa tiga kali lebaran.
Sore itu, Dinda pulang dengan sisa tenaga yang nyaris nol. Jalanan macet, bos yang marah-marah karena font presentasi kurang besar, dan hujan gerimis yang membuat jemuran di rumah pasti sudah basah kuyup (kalau belum diangkat Bayu, yang mana kemungkinannya 50:50).
Sampai di depan pagar rumah tipe 36 miliknya, kening Dinda berkerut. Gelap.
Bukan sekadar gelap karena lampu belum dinyalakan, tapi gelap yang pekat. Rumah tetangga kiri-kanan sudah terang benderang dengan lampu teras yang hangat. Sementara rumah Dinda tampak seperti rumah kosong yang sudah disita bank lima tahun lalu.
"Mas Bayu belum pulang?" gumam Dinda sambil merogoh kunci di tasnya.
Tapi aneh, motor matic Bayu terparkir rapi di carport, lengkap dengan sarung penutup motornya agar catnya tidak pudar kena debu malam (SOP nomor 45: Motor wajib diselimuti jika parkir lebih dari 1 jam).
Dinda membuka pintu depan. "Assalamualaikum?"
Hening.
Dinda meraba dinding, mencari saklar lampu ruang tamu.
"JANGAN!"
Sebuah teriakan tertahan terdengar dari sudut ruangan, membuat Dinda nyaris melompat dan melempar sepatunya. Jantungnya berdegup kencang. Ia menyipitkan mata ke arah kegelapan.
Di sofa pojok, samar-samar terlihat siluet seseorang duduk bersila. Bayu. Tanpa baju, hanya memakai celana pendek kolor, duduk diam seperti patung Buddha yang sedang meditasi, tapi dengan kacamata yang memantulkan sedikit cahaya dari lampu jalan di luar.
"Masyaallah, Mas! Kamu ngapain duduk gelap-gelapan begitu? Aku kira maling!" Dinda mengelus dadanya, lalu dengan nekat menekan saklar lampu.
Klik.
Cahaya lampu LED 10 watt membanjiri ruangan. Bayu seketika menutup matanya dengan lengan, mendesis seperti vampir yang terkena sinar matahari pagi.
"Matikan, Din! Matikan!" seru Bayu panik. Ia buru-buru berdiri dan menyambar remote AC... bukan, remote TV? Bukan. Itu remote lampu smart bulb yang baru dibelinya bulan lalu. Ia meredupkan cahaya sampai tinggal remang-remang 10%.
"Mas, ini kenapa sih? Mata kamu sakit?" tanya Dinda bingung, meletakkan tas kerjanya di meja.
Bayu menghela napas panjang, wajahnya tampak lelah dan... ketakutan. Ia berjalan mendekati Dinda, lalu menunjuk ke arah kotak meteran listrik (token) yang menempel di dinding luar, terlihat dari jendela kaca.
"Kamu dengar nggak?" bisik Bayu.
Dinda menajamkan telinga. "Dengar apa? Suara jangkrik?"
"Suara putarannya," desis Bayu. Matanya melotot menatap kotak token digital itu. "Sejak jam lima sore tadi, angkanya turun cepat sekali. Padahal aku cuma nyalain kipas angin satu. Aku curiga PLN sedang melakukan uji coba aliran listrik tegangan tinggi diam-diam ke rumah kita untuk menaikkan tagihan."
Dinda melongo. "Mas, token kita itu digital. Nggak ada piringan yang berputar. Dan angkanya turun ya karena kita pakai listrik. Kulkas kan nyala 24 jam."
"Nah! Itu dia!" Bayu menjentikkan jarinya. "Kulkas! Tadi sore aku cabut colokannya."
Dinda membelalak. "Hah? Kamu cabut kulkas? Mas, di freezer ada ayam ungkep sama ikan! Kalau busuk gimana?"
Bayu tersenyum miring, senyum yang meremehkan logika Dinda. "Nggak akan busuk kalau pintunya nggak dibuka-buka, Dinda. Hawa dinginnya terperangkap di dalam. Itu hukum termodinamika. Kalau kita nyalakan terus, panas mesin di belakang kulkas itu memancing sensor satelit panas bumi. Mereka bisa tahu kita nyimpen daging, nanti harga daging di pasar dinaikin."
Dinda merasa kepalanya mulai pening. Satelit panas bumi? Harga daging? Hubungannya di mana?
Dinda berjalan cepat ke dapur dan menyalakan lampu dapur. Ia segera mencolokkan kembali kabel kulkas. Mesin kulkas berdengung halus, tanda kehidupan kembali normal.
"Mas," kata Dinda tegas, menahan emosi. "Jangan pernah cabut kulkas lagi. Kalau ayamnya busuk, kita harus beli lagi. Itu namanya boros, bukan hemat."
Bayu terdiam di ambang pintu dapur. Wajahnya pias. Ia tidak membantah soal ayam, tapi tatapannya gelisah melihat lampu dapur yang terang.
"Oke, oke. Kulkas boleh nyala," kata Bayu mengalah, tapi tangannya gemetar. "Tapi lampu... tolong, Din. Lampu utama jangan dinyalakan semua. Kita pakai prinsip Lilin Kehidupan saja."
"Lilin Kehidupan apalagi itu?"
"Kita manfaatkan cahaya lampu jalan di depan rumah," jelas Bayu dengan antusiasme yang aneh. Ia menarik tangan Dinda kembali ke ruang tengah, lalu menyibakkan gorden lebar-lebar.
Cahaya oranye dari lampu penerangan jalan umum (PJU) masuk menerobos jendela, menciptakan bayangan panjang yang menyeramkan di lantai ruang tamu.
"Lihat," kata Bayu bangga. "Gratis. Disediakan negara. Kenapa kita harus bayar listrik sendiri kalau di depan ada lampu gratis? Mata manusia itu canggih, Din. Kalau dibiasakan gelap, pupil kita akan membesar seperti kucing. Kita bisa melihat dalam gelap. Kita bisa jadi... evolusi manusia baru."
Dinda menatap suaminya. Laki-laki itu sarjana teknik, lulusan universitas ternama, bekerja di perusahaan multinasional dengan gaji dua digit. Tapi sekarang, dia berdiri dengan celana kolor, menyuruh istrinya berevolusi menjadi kucing demi menghemat token listrik lima puluh ribu.
Ada rasa sedih yang menyelinap di hati Dinda. Ia ingin marah, tapi melihat ketulusan di mata Bayu, bahwa dia benar-benar percaya apa yang dia katakan, membuat Dinda jadi bingung.
"Mas, aku mau mandi. Kamar mandi boleh dinyalain lampunya kan? Atau aku harus nunggu kilat menyambar biar ada cahaya?" sindir Dinda.
Bayu berpikir sejenak, tampak berhitung keras di kepalanya. "Boleh. Tapi maksimal 7 menit. Ingat, blower (penyedot udara) jangan dinyalain. Suaranya bising, nanti dikira kita lagi ngerjain proyek rahasia sama tetangga sebelah."
Lagi-lagi tetangga sebelah.
Dinda masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu. Ia menyalakan keran shower, membiarkan air mengalir deras untuk menyamarkan suara tangisnya yang pecah tiba-tiba.
Ini bukan sekadar pelit. Dinda memang belum pernah kuliah kedokteran, tapi instingnya mengatakan ada yang salah. Bayu bukan hanya takut miskin. Dia takut pada sesuatu yang tidak terlihat. Dia merasa diawasi, diincar, dan dicurangi oleh dunia.
Selesai mandi, yang sengaja ia lamakan menjadi 15 menit sebagai bentuk pemberontakan kecil, Dinda keluar dengan handuk melilit kepala.
Di meja makan, Bayu sudah menyiapkan makan malam.
Pemandangannya romantis, jika kau mengabaikan konteksnya. Ruangan remang-remang, hanya diterangi cahaya lampu jalan. Di piring, tersaji nasi putih dan telur dadar yang dibagi dua dengan presisi geometris yang sempurna. Setengah lingkaran untuk Dinda, setengah untuk Bayu.
"Lauknya cuma ini, Mas?" tanya Dinda, perutnya keroncongan.
"Tadi ada tukang sayur lewat, tapi matanya licik," bisik Bayu sambil menyendok nasi. "Dia nawarin tempe, tapi aku lihat tempenya kedip."
Dinda tersedak ludahnya sendiri. "Tempe... kedip?"
"Iya. Jamurnya goyang-goyang. Itu pasti tempe sisa kemarin yang dikasih bahan kimia pengawet mayat. Aku nggak mau kita keracunan, Din. Bahaya. Mending telur. Telur itu murni, cangkangnya melindungi dari sinyal jahat."
Dinda menatap piringnya. Ia lapar, lelah, dan sekarang harus memakan telur dadar "anti-sinyal jahat" dalam kegelapan.
Ia mengambil sendok, menyuap nasi hambar itu. Bayu makan dengan lahap tapi waspada, matanya sesekali melirik ke jendela, mengawasi kalau-kalau Bu RT sedang memanjat pagar untuk mencatat berapa kali mereka mengunyah.
"Mas," panggil Dinda pelan di sela kunyahan.
"Hmm?"
"Besok... kita jalan-jalan yuk? Nonton bioskop kek, atau makan di luar. Udah lama kita nggak refreshing. Siapa tahu pikiran kamu jadi tenang."
Bayu berhenti mengunyah. Ia menatap Dinda lekat-lekat dalam remang cahaya.
"Bioskop?" ulangnya. Nada suaranya ngeri. "Kamu mau kita masuk ke ruangan gelap, dikunci dari luar, dipaksa duduk diam, terus disinari cahaya proyektor yang mengandung pesan subliminal untuk menyuruh kita belanja konsumtif? Nggak, Din. Itu jebakan kapitalis."
"Terus kita ngapain, Mas? Masa di rumah terus ngitungin token?"
"Kita main ludo," jawab Bayu serius. "Aku udah bikin tabel probabilitas dadu ludo. Kita bisa simulasi matematika. Itu lebih sehat buat otak daripada nonton film."
Dinda menyerah. Malam itu, ia tidur memunggungi suaminya.
Di tengah malam, Dinda terbangun karena haus. Saat ia membuka mata, ia melihat Bayu tidak ada di sampingnya.
Dinda bangkit, berjalan mengendap-endap ke ruang tengah.
Di sana, dalam kegelapan pekat, Bayu sedang berdiri di depan jendela kaca. Ia menempelkan telinganya ke kaca, mendengarkan suara malam. Tangannya memegang senter kecil yang dimatikan, hanya untuk jaga-jaga.
"Pergi..." bisik Bayu ke arah pohon mangga di halaman tetangga yang bergoyang tertiup angin.
"Jangan catat kami ... kami orang miskin ... kami nggak punya apa-apa ... pergi ..."
Dinda merinding. Bulu kuduknya berdiri tegak. Ia ingin memanggil suaminya, tapi lidahnya kelu. Untuk pertama kalinya, Dinda menyadari bahwa ia sedang tidur satu atap dengan orang asing. Orang asing yang ia panggil suami, yang sedang berperang sendirian melawan musuh yang hanya ada di kepalanya.
Dan yang paling menakutkan bagi Dinda saat itu bukan hantunya, melainkan kenyataan bahwa ia tidak tahu harus lari ke mana.
