Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Protokol Penghematan Air Dan Rahasia Di Balik Ember

Setelah insiden "Teh Celup Abadi" saat kunjungan Sarah minggu lalu, Dinda mengira level kepelitan Bayu sudah mentok di langit-langit. Ternyata, Bayu selalu punya cara untuk mengejutkannya. Suaminya itu ibarat inovator, tapi di bidang yang salah.

Pagi itu, Dinda baru saja ingin menyalakan keran wastafel untuk cuci muka. Namun, tidak ada air yang keluar. Ia memutar kerannya sampai maksimal, tetap nihil.

"Mas! Air mati ya? Belum bayar tagihan atau pompanya rusak?" teriak Dinda dari kamar mandi.

Bayu muncul di ambang pintu sambil membawa sebuah gayung kecil dan sebuah stopwatch yang tergantung di lehernya.

"Nggak mati, Din. Aku tutup keran pusatnya," jawab Bayu tenang.

Dinda melongo, masih dengan sisa kantuk di matanya. "Hah? Kenapa ditutup? Aku mau mandi, Mas. Hari ini ada rapat pagi."

"Aku sudah menghitung, Din. Debit air dari keran kita itu terlalu kencang. Dalam satu detik, ada sekitar 150 mililiter air yang terbuang sia-sia cuma buat membasahi sikat gigi. Itu pemborosan sumber daya alam dan uang," Bayu menjelaskan dengan nada dosen senior.

Ia kemudian menunjuk ke arah sudut kamar mandi. Di sana ada tiga buah ember besar yang sudah terisi penuh.

"Mulai hari ini, kita pakai Protokol Ember Terukur. Untuk mandi, kamu dijatah satu ember setengah. Untuk cuci muka, cukup satu gayung. Dan untuk buang air ... nah, ini yang penting." Bayu menunjukkan sebuah botol mineral bekas berukuran 1,5 liter yang sudah dilubangi tutupnya. "Pakai ini. Tekanan airnya pas untuk pembersihan, tapi iritnya luar biasa."

Dinda menatap botol itu, lalu menatap suaminya. "Mas, kamu bercanda kan? Aku bukan lagi ospek atau ikut wajib militer, Mas. Ini rumah kita sendiri!"

"Ini demi masa depan kita, Dinda. Bayangkan kalau kita bisa hemat seratus ribu sebulan dari air, dalam sepuluh tahun kita bisa beli tanah di IKN," jawab Bayu dengan mata berbinar-binar. "Lagi pula, air yang mengalir deras itu mengundang frekuensi bawah tanah. Aku dengar suara gemericik di pipa semalam ... seolah-olah ada yang sedang membisikkan kode rahasia dari PDAM untuk menyadap pembicaraan kita di kamar mandi."

Dinda terdiam. Kata-kata "penyadap" dan "kode rahasia" mulai sering muncul. Ia ingin mendebat soal IKN, tapi rasa ngeri melihat sorot mata Bayu yang terlalu serius membuat nyalinya ciut.

"Ya sudah, terserah Mas saja," gumam Dinda, mengalah untuk kesekian kalinya.

Sepanjang hari di kantor, Dinda merasa kepalanya berat. Ia merasa seperti mata-mata di rumah sendiri. Ia bahkan takut untuk membeli kopi di kantin karena terbayang wajah Bayu yang sedang menghitung berapa lembar uang yang ia keluarkan.

Sore hari saat pulang, Dinda mendapati Bayu sedang jongkok di halaman depan. Ia sedang memotong rumput ... menggunakan gunting kertas kecil.

"Mas, kenapa nggak pakai gunting rumput yang gede itu? Kan lebih cepat?" tanya Dinda heran.

"Gunting besar itu bikin suaranya berisik, Din. Mengundang perhatian tetangga. Aku nggak mau mereka tahu kalau tanah kita subur. Nanti mereka iri, terus mereka kirim energi negatif ke rumah kita," bisik Bayu tanpa menoleh. Tangannya dengan telaten memotong helai demi helai rumput seolah sedang mengoperasi pasien.

Dinda hanya bisa menghela napas. Ia masuk ke dalam rumah dan mendapati suasana rumah semakin aneh. Bayu mulai menempelkan isolasi hitam di setiap lubang kecil, termasuk lubang kunci pintu kamar yang tidak dipakai.

"Kenapa lubang kuncinya ditutup, Mas?"

"Angin, Din. Angin itu membawa partikel mikroskopis. Aku curiga pemerintah lagi uji coba gas 'penurut' lewat udara. Kalau kita hirup terlalu banyak, kita bakal jadi robot yang hobi belanja," sahut Bayu dari luar.

Malam itu, Dinda mencoba bersabar. Ia memasak mie instan, karena Bayu bilang masak nasi terlalu lama memakan gas. Mereka makan dalam diam di bawah cahaya lampu satu-satunya yang menyala di ruang tengah.

"Mas," panggil Dinda pelan. "Kamu nggak merasa ... terlalu capek dengan semua aturan ini? Aku kangen kita yang dulu. Yang kalau Sabtu malam makan martabak tanpa harus dihitung jumlah kacangnya."

Bayu berhenti mengunyah. Ia menatap Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilasan kesedihan di matanya, tapi segera tertutup oleh kegelisahan.

"Dunia sudah berubah, Dinda. Kamu nggak lihat? Harga-harga naik, orang-orang saling intip. Aku cuma mau melindungi kamu. Aku mau kita aman. Kamu harus percaya sama aku. Aku satu-satunya orang yang tahu kebenaran di dunia ini."

Dinda melihat tangan Bayu gemetar saat memegang garpu. Untuk pertama kalinya, Dinda merasa suaminya tidak sedang mencoba menjadi pelit, tapi dia sedang ketakutan setengah mati.

Ia mencoba meraih tangan Bayu. "Aku percaya, Mas. Tapi jangan terlalu keras sama diri sendiri ya?"

Bayu mengangguk pelan, lalu tiba-tiba ia menoleh ke arah jendela yang tertutup rapat. "Sstt... kamu dengar itu?"

"Dengar apa, Mas?"

"Suara gesekan... di atap. Pasti mereka lagi masang sensor baru."

Padahal, di luar hanya ada suara kucing yang sedang lewat. Dinda memejamkan mata rapat-rapat. Kesabarannya masih ada, tapi temboknya mulai retak. Ia mulai merasa bahwa hidup dalam "hemat" versi Bayu, perlahan-lahan mulai mengikis kewarasannya sendiri.

Dinda belum berpikir untuk cerai. Belum. Ia masih menganggap ini adalah "ujian rumah tangga" yang harus ia lalui dengan bakti. Ia belum tahu, bahwa ini baru permulaan dari labirin panjang yang akan menguras air matanya.

Tinggal di kompleks perumahan kelas menengah biasanya berarti harus siap dengan basa-basi sore hari antar tetangga. Namun, sejak Bayu menerapkan kebijakan "Pintu Tertutup Rapat", rumah nomor B-12 itu mulai dianggap sebagai rumah misterius.

Sore itu, Dinda baru saja turun dari ojek online. Belum sempat ia membuka pagar, Bu RT, wanita paruh baya dengan daster batik dan aura kepo level dewa, sudah berdiri di dekat pohon mangga pembatas rumah.

"Mbak Dinda, baru pulang?" tanya Bu RT dengan senyum yang dipaksakan ramah.

"Eh, iya Bu RT. Mari, Bu," jawab Dinda sopan.

"Itu... Mbak, mau tanya. Mas Bayu sehat? Kemarin sore saya lihat Mas Bayu motong rumput pakai gunting kertas. Saya sapa, kok malah lari masuk ke dalam kayak lihat hantu? Terus pagar rumah kok dirantai gemboknya dua sekarang?"

Dinda menelan ludah. Ia memutar otak mencari alasan yang masuk akal. "Oh, itu... anu, Bu. Mas Bayu lagi diet plastik, eh maksud saya, dia lagi hobi meditasi fokus. Kalau pakai gunting besar katanya suaranya ganggu ketenangan batin. Kalau gembok itu... Mas Bayu lagi parno karena katanya banyak maling spion di berita."

Bu RT manggut-manggut, tapi matanya tidak bisa bohong kalau dia tidak percaya. "Oalah. Kirain kenapa. Tapi Mbak, jangan tertutup gitu dong. Besok ada arisan di rumah Bu Bambang, Mbak Dinda datang ya? Biar nggak kuper."

"Insyaallah ya, Bu..."

Baru saja Dinda hendak melangkah masuk, pintu depan terbuka sedikit. Bayu mengintip dari celah pintu yang hanya terbuka sepuluh sentimeter.

"Dinda! Masuk!" seru Bayu ketus.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel