
Ringkasan
Dinda mengira ia telah menemukan pelabuhan terakhirnya pada sosok Bayu, seorang pria tampan, cerdas, dan mapan yang bekerja sebagai insinyur. Namun, setelah satu atap, janji hidup sejahtera yang ia bayangkan berubah menjadi mimpi buruk yang absurd. Bayu ternyata memiliki sifat pelit yang ekstrem. Baginya, setiap rupiah adalah aset yang harus dilindungi dari "konspirasi dunia". Hidup Dinda berubah menjadi rangkaian audit keuangan yang melelahkan. Ia dilarang menyalakan lampu, harus membagi satu telur dadar menjadi dua dengan presisi matematis, hingga mandi dengan air yang dijatah layaknya pengungsi perang. Awalnya, Dinda yang naif mencoba bersabar dan menganggap itu sebagai bentuk "hemat demi masa depan". Namun, keanehan Bayu semakin liar. Bayu mulai merasa diawasi oleh tetangga, mencurigai adanya alat sadap di dalam botol kecap, hingga takut pada frekuensi radio dari mesin cuci. Sarah, adik Dinda yang kritis, menyadari bahwa iparnya tidak hanya pelit, tetapi juga sakit. Di bawah tekanan keluarga Bayu yang menolak kenyataan (denial) dan kelakuan Bayu yang makin parah, Dinda nyaris menyerah. Melalui drama pelarian dan syarat rujuk yang berat, rahasia besar itu terungkap: Bayu mengidap Skizofrenia Paranoid. Dinda memutuskan bertahan demi rasa iba dan kemanusiaan. Ia belajar mencintai suaminya di antara tumpukan obat dan kumatnya waham sang suami. Namun, kesabaran manusia ada batasnya. Di tengah perjuangan Dinda merawat kewarasan Bayu, sebuah pengkhianatan muncul. Bayu berselingkuh dengan Rina, seorang wanita yang ia anggap sebagai "Ratu" dalam halusinasinya—dan ironisnya, ia justru royal kepada selingkuhannya itu. Inilah kisah tentang ketabahan seorang istri, perlawanan terhadap stigma gangguan jiwa, dan bagaimana karma bekerja dengan cara yang paling tak terduga. Saat Dinda memilih melepaskan dengan lapang dada, ia justru menemukan kebebasan yang selama ini dirampas. Sementara itu, sang pelakor harus menghadapi kenyataan pahit bahwa "piala" yang ia menangkan adalah sebuah bom waktu yang siap meledak. Saat hubungan Bayu dan Rina kandas, Bayu kembali membujuk Dinda untuk kembali bersama, karena sejatinya mereka hanya berpisah dan belum resmi cerai. Dengan berat hati, Dinda pun menerima bayu dengan segala janji manisnya. Hubungan itu membuatnya terjebak dalam petualangan di luar bersama Bayu, setelah diketahui bahwa paranoid yang Bayu memang sengaja didesain oleh sekelompok orang.
Audit Keuangan Harian
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Detiknya terdengar seperti palu hakim yang memutus hukuman mati bagi waktu istirahat Dinda. Ia baru saja meletakkan punggungnya yang terasa mau remuk di sofa ruang tengah yang busanya sudah mulai menipis, karena menurut Bayu, mengganti sofa adalah "pemborosan terselubung" selama kayunya belum patah.
Seharian bekerja di kantor agensi periklanan dengan deadline yang lebih kejam daripada ibu tiri Cinderella, seharusnya Dinda berhak mendapatkan kompres mata, segelas teh hangat, dan keheningan. Namun, keheningan di rumah ini adalah barang mewah yang harganya jauh lebih mahal daripada emas batangan.
Di meja makan, Bayu—suaminya yang secara fisik masih terlihat seperti aktor film romansa; ganteng, rapi dengan kemeja flanel yang dikancing sampai leher, dan berkacamata minus tiga, sedang duduk tegak sesempurna penggaris besi. Di hadapannya, "medan perang" itu terbentang: sebuah kalkulator dagang berwarna abu-abu, pulpen merah yang tintanya tampak seperti darah segar, dan setumpuk struk belanjaan yang kusut serta berbau aroma supermarket.
"Din," panggil Bayu. Suaranya datar, tanpa intonasi, mirip suara robot asisten virtual yang kehabisan baterai.
Dinda menghela napas panjang hingga paru-parunya terasa kosong. Ia menahan dorongan primitif untuk melempar bantal sofa ke arah suaminya. "Ya, Mas?"
"Sini sebentar. Ada ketidaksinkronan data yang perlu kita validasi."
Validasi katanya? Dinda membatin kecut. Dengan langkah gontai dan kaki yang terasa seberat timah, Dinda menghampiri meja makan kayu jati peninggalan mertuanya itu. Ia duduk di hadapan Bayu, mencoba mengatur napas agar tidak meledak saat itu juga. Bayu menyodorkan selembar struk belanja sayur dari supermarket waralaba tadi sore.
"Coba kamu perhatikan baris ketiga dengan saksama," kata Bayu sambil mengetuk kertas itu dengan ujung pulpen merahnya. Tok, tok, tok. Suara itu bergema di kepala Dinda.
Dinda menyipitkan mata, berusaha memfokuskan pandangan di bawah lampu ruang makan yang watt-nya sengaja dikecilkan oleh Bayu demi "efisiensi energi". "Cabai merah keriting, 200 gram. Tujuh ribu lima ratus rupiah. Kenapa, Mas? Kurang pedas?"
Bayu menatap Dinda dengan sorot mata terluka, seolah Dinda baru saja tertangkap basah membakar separuh dokumen aset negara. "Minggu lalu, di pasar tradisional dekat terminal, 200 gram itu cuma enam ribu rupiah. Ada selisih seribu lima ratus rupiah, Dinda. Kamu tahu apa artinya seribu lima ratus rupiah?"
Dinda memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. "Mas, tadi aku pulang kerja sudah hampir jam enam sore. Pasar tradisional sudah tutup, tinggal tumpukan sampah di sana. Lagian cuma seribu lima ratus perak, Mas. Parkir motor di depan kantor saja sekarang sudah dua ribu. Masak aku harus rugi waktu dan bensin hanya untuk selisih seribu lima ratus?"
"Bukan masalah nominalnya, Din! Ini masalah prinsip dan disiplin fiskal!" Bayu mulai berceramah, nada suaranya naik satu oktav, memecah kesunyian malam. "Kalau setiap hari kita kehilangan fokus dan membiarkan kebocoran seribu lima ratus rupiah, dalam setahun itu akumulasinya menjadi 547.500 rupiah! Setengah juta, Din! Setengah juta itu, kalau kita belikan saham lot Bank BRI saat harganya sedang terkoreksi, bisa menjadi aset produktif yang menghasilkan dividen untuk masa tua kita!"
Dinda menahan napas, menghitung sampai sepuluh dalam hati agar tidak berteriak. Ia sudah hafal skenario ini di luar kepala, bahkan mungkin ia bisa menulis naskah drama berjudul Kalkulator Cinta yang Haus Dividen.
Awal menikah enam bulan lalu, Dinda mengira Bayu adalah pria yang prudent dan visioner. Ia memuja ketelitian Bayu. "Suami idaman, pasti cepat kaya," pikirnya saat itu sembari membayangkan liburan ke Swiss atau Jepang dari hasil tabungan yang ketat.
Sekarang, setelah 180 hari hidup di bawah satu atap, Dinda baru sadar bahwa ada jurang yang sangat lebar antara hidup hemat dan siksaan batin yang terencana.
"Maaf, Mas. Besok aku usahakan bangun jam empat subuh, lari ke pasar sebelum mandi dan berangkat ngantor," jawab Dinda lemas, memilih mengalah daripada harus mendengar kuliah ekonomi mikro jilid dua yang bisa berlangsung hingga dini hari.
Bayu mengangguk puas, bibirnya membentuk garis lurus yang ia anggap sebagai senyuman kemenangan. Ia kembali menekuni catatannya, jemarinya menari lincah di atas tombol kalkulator. Cek-cek-cek-ting! Suara itu lebih menyakitkan daripada suara alarm pagi bagi Dinda.
Namun, kening Bayu berkerut lagi. Alisnya bertaut hingga hampir menyatu. "Tunggu dulu. Din, kemarin lusa aku baru saja membelikan sabun cuci piring yang refill 800 mili. Harganya sedang promo diskon 10 persen, jadi aku ambil dua. Tapi kenapa tadi pagi aku cek di dapur, rasanya berat botolnya sudah berkurang secara signifikan ya?"
Dinda melongo, mulutnya sedikit terbuka karena tak percaya. "Ya dipakai buat nyuci piringlah, Mas. Kan kita makan tiga kali sehari. Piring kotor nggak akan menjilat dirinya sendiri sampai bersih."
"Tapi kamu nyucinya boros! Aku sudah melakukan observasi kecil," tuduh Bayu, matanya berkilat di balik kacamata minusnya. "Busa itu tidak perlu banyak-banyak. Secara kimiawi, satu tetes sabun cair konsentrat itu cukup untuk sepuluh piring kalau kamu mengocoknya dengan rasio air yang tepat menggunakan spons yang basah. Kamu pasti menuangkannya seperti orang kesurupan, kan? Langsung cur, tanpa perasaan?"
Orang kesurupan menuang sabun cuci piring? Teori absurd dari mana lagi ini? Dinda membayangkan dirinya kerasukan roh jahat yang hobinya memboroskan sabun Mama Lemon.
"Mas ... itu sabun cair seharga belasan ribu. Bukan parfum impor dari Paris. Nggak usah dihemat sampai tingkat molekuler begitu," Dinda mencoba membela diri, menyunggingkan senyum kecut yang dipaksakan, berharap suaminya akan tertawa dan berkata bahwa ini semua hanya lelucon sebelum tidur.
Tapi Bayu tidak tertawa. Jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. Wajahnya mendadak berubah pucat. Matanya tidak lagi menatap kalkulator, melainkan bergerak liar, gelisah ke arah jendela dapur yang ditutupi gorden tipis warna krem.
"Kamu nggak ngerti, Din," bisik Bayu tiba-tiba.
Suaranya berubah parau, penuh kewaspadaan yang tidak wajar. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga Dinda bisa mencium aroma sabun batang murah dari tubuh suaminya. "Tetangga sebelah ... Bu RT itu ... aku curiga dia punya agenda tersembunyi. Dia sering mengintip kita."
Dinda mengerutkan kening, rasa kantuknya menguap diganti rasa bingung. "Bu RT? Ngapain dia mengintip kita, Mas? Beliau itu sibuk ngurusin cucunya dan jualan daster online. Kurang kerjaan banget kalau harus memata-matai kita."
"Sstt!" Bayu menempelkan telunjuk di bibir, memberi isyarat agar Dinda merendahkan suara. Matanya liar menyapu setiap sudut ruangan, seolah-olah dinding rumah mereka memiliki telinga. "Dia itu mata-mata. Aku lihat dia kemarin sore. Dia berdiri di dekat bak sampah kita, pura-pura menyapu jalan padahal matanya mencatat berapa banyak sampah plastik yang kita buang. Dia pasti mau melaporkan kita ke dinas kebersihan atau kelurahan kalau kita dianggap boros, biar pajak sampah kita dinaikkan secara sepihak. Makanya kita harus hemat, Din! Jangan sampai mereka punya bukti empiris di tempat sampah kita!"
Dinda terdiam. Hening seketika mencekat tenggorokannya.
Rasa lelah yang tadinya membuat tubuhnya pegal, mendadak berganti dengan rasa dingin yang merayap perlahan dari tulang ekor menuju tengkuk. Ini bukan pertama kalinya Bayu bicara aneh. Minggu lalu, Bayu melarang Dinda menyalakan TV selama tiga hari berturut-turut karena yakin penyiar berita wanita di salah satu stasiun swasta sedang mengirimkan kode rahasia melalui gerakan tangan, hanya untuk menyindir cara Bayu menyetrika baju yang dianggap tidak simetris.
"Mas ... kamu becanda, kan?" tanya Dinda pelan, suaranya hampir hilang. "Mana ada Bu RT punya waktu buat ngurusin busa sabun atau jumlah plastik di tempat sampah kita? Mas, itu kedengarannya... tidak masuk akal."
Bayu menatap Dinda tajam, sorot matanya yang biasanya cerdas kini tampak redup dan penuh kecurigaan yang gelap. Ia mendengus meremehkan.
"Kamu terlalu polos, Dinda. Terlalu naif. Dunia ini jahat. Semua orang sedang merancang sistem untuk mengambil uang kita. Semua orang ingin kita jatuh miskin agar mereka bisa tertawa di atas penderitaan kita."
Bayu tidak menunggu jawaban. Ia kembali menunduk, menulis deretan angka-angka di buku kas kecilnya dengan penekanan yang sangat kuat. Ujung pulpen merahnya sampai menusuk kertas hingga hampir sobek, meninggalkan noda merah yang pekat.
"Sudah, kamu tidur sana. Ini sudah lewat jam sepuluh, pemakaian listrik jam segini harganya paling mahal kalau kita tidak segera mematikan peralatan yang tidak perlu. Dan matikan lampu kamar mandi setelah digunakan, jangan lupa. Kalau kencing, siramnya sekali saja, pakai tombol kecil di tangki kloset, jangan tombol besar. Sayang airnya, kita bukan pemilik bendungan."
Dinda berdiri, kakinya terasa berat seolah ia baru saja mendaki gunung tanpa bekal. Ia berjalan menuju kamar tidur dengan bahu merosot, sesekali menoleh ke belakang untuk memandang punggung suaminya yang kaku. Ada perasaan campur aduk yang menyesakkan di dadanya. Kesal karena kepelitan suaminya yang tidak masuk akal, tapi juga ada rasa cemas yang aneh, rasa takut yang mulai berakar.
Kenapa suaminya berpikir dunia sedang berkonspirasi melawannya melalui sampah plastik dan busa sabun?
Dinda masuk ke kamar, merebahkan diri tanpa mengganti baju, dan menatap langit-langit yang remang. "Mungkin Mas Bayu cuma stres kerja," batin Dinda, mencoba memberikan pembenaran rasional demi menjaga kewarasannya sendiri. "Ya, pasti cuma stres proyek akhir tahun. Orang pelit kan memang biasanya parnoan, takut asetnya menguap."
Dinda memejamkan mata, memeluk guling erat-erat, mencoba mencari kehangatan di tengah dinginnya suasana rumah. Namun, di luar kamar, ia masih mendengar sayup-sayup suara Bayu. Suara gumaman yang tidak jelas, perdebatan sengit dengan tombol kalkulator, atau mungkin ... perdebatan dengan bayangan-bayangan di kepalanya yang tidak bisa dilihat oleh Dinda.
Malam itu, tidur Dinda tidak nyenyak. Ia bermimpi dikejar-kejar oleh botol sabun cuci piring raksasa setinggi gedung pencakar langit. Botol itu memiliki wajah Bayu dan memegang struk belanjaan sepanjang jalan tol, menagih uang seribu lima ratus rupiah dengan suara yang menggelegar seperti guntur.
Dan Dinda belum tahu, bahwa mimpi buruk itu hanyalah permulaan kecil dari neraka rumah tangga yang sesungguhnya akan segera ia jalani.
