Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Rencana Sarah

Dinda buru-buru masuk. Begitu ia melewati ambang pintu, Bayu langsung mengunci pintu dengan tiga putaran kunci dan memasang gerendel tambahan.

"Kamu ngapain ngomong sama dia?" tanya Bayu. Napasnya agak memburu.

"Cuma basa-basi, Mas. Bu RT ngajakin arisan."

"Jangan datang!" Bayu menunjuk ke arah jalanan dengan telunjuk gemetar. "Dia itu bukan mau ngajak arisan. Dia itu sedang melakukan profiling. Dia mau tahu jadwal kita keluar rumah supaya dia bisa masuk dan pasang alat penyadap di bawah ubin kita. Kamu nggak lihat tadi dia pegang daster? Bisa saja di dalam lipatan dasternya ada kamera saku!"

Dinda meletakkan tasnya di meja dengan kasar. "Mas, Bu RT itu cuma ibu-ibu biasa yang hobinya nonton sinetron. Nggak ada kamera di dasternya. Kamu kenapa sih makin hari makin parah curiganya?"

Bayu terdiam. Ia duduk di kursi kayu, kursi yang sengaja tidak diberi bantal karena Bayu bilang bantal itu "sarang debu konspirasi". Ia menunduk, memandangi jempol kakinya.

"Kamu nggak paham, Din," suara Bayu mendadak melemah, hampir seperti bisikan anak kecil. "Uang kita tinggal sedikit di bank. Kalau mereka tahu kita punya tabungan, mereka bakal naikin harga sembako khusus buat kita. Kita harus terlihat miskin, Din. Miskin itu aman. Orang miskin nggak akan diincar siapa-siapa."

"Tapi kita nggak miskin, Mas! Gaji kamu besar, gaji aku ada. Tapi kenapa aku mau beli sabun cuci muka aja harus kayak minta izin ke kementerian keuangan?" tangis Dinda pecah. Ia sudah tidak tahan.

Bayu berdiri, menghampiri Dinda. Bukannya memeluk, ia malah memeriksa kantong plastik yang dibawa Dinda. "Ini apa? Kamu beli gorengan di luar?"

"Tadi laper, Mas. Aku beli bakwan dua biji."

"Berapa harganya?"

"Lima ribu dapat tiga!" jawab Dinda bohong, padahal harganya dua ribu satunya.

Bayu langsung mengambil kalkulator kecil yang selalu ada di kantong celananya. "Lima ribu dibagi tiga... 1.666 rupiah per biji. Din, kalau kita beli terigu satu kilo harga 12 ribu dan kol satu buah 5 ribu, kita bisa bikin 40 biji bakwan. Satu bijinya cuma 425 rupiah. Kamu sudah buang-buang uang 1.241 rupiah per biji! Kamu baru saja merugikan keuangan keluarga sebesar hampir empat ribu rupiah untuk sesuatu yang bakal jadi kotoran besok pagi!"

Dinda hanya bisa menatap suaminya dengan pandangan kosong. Argumen ekonomi Bayu selalu akurat secara matematis, tapi membunuh secara psikologis.

"Mulai besok," kata Bayu sambil mencatat di buku kas kecilnya, "makan siang di kantor harus bawa bekal nasi putih dan garam saja. Garam itu mineral murni, bagus buat otak dan harganya murah. Jangan beli air mineral botol, itu pemborosan plastik dan oksigen."

Dinda tidak menjawab. Ia masuk ke kamar, merebahkan diri di kasur tanpa sprei (karena spreinya sedang dicuci dan Bayu melarang pakai sprei cadangan agar mesin cuci tidak cepat aus).

Di dalam gelap, Dinda mulai bertanya-tanya: Sampai kapan aku bisa bertahan di rumah yang lebih mirip penjara bawah tanah ini?

Ia rindu suara tawa. Ia rindu makan ayam goreng tanpa harus menghitung berapa gram minyak goreng yang terserap ke dalam daging. Namun, di atas segalanya, ia mulai merindukan Bayu-nya yang dulu, pria yang melamarnya dengan janji akan selalu melindunginya, bukan pria yang kini menganggap dunia sebagai medan perang melawan intel berdaster.

Dinda mengambil ponselnya diam-diam di bawah selimut. Ia mengetik pesan singkat untuk Sarah.

“Sar, kayaknya gue butuh bantuan lo. Mas Bayu udah nggak logis lagi soal bakwan.”

Dinda tidak tahu, bahwa di luar kamar, Bayu sedang menempelkan telinganya ke pintu kamar, mencoba mendengarkan apakah Dinda sedang mengirim sinyal rahasia ke "musuh" melalui gelombang ponselnya.

*

Senin sore, Sarah muncul di depan rumah Dinda. Kali ini, dia tidak memakai baju mencolok. Dia memakai jaket olahraga longgar dan membawa helm, seolah-olah dia baru saja selesai olahraga (padahal dia baru saja menghabiskan sepiring bakso urat di ujung jalan).

"Assalamualaikum! Mas Bayu! Kak Dinda!" seru Sarah sambil mengetuk pagar yang digembok dua itu.

Bayu muncul dari jendela, mengintip curiga. Begitu melihat Sarah, ia membukakan pintu perlahan. "Ngapain lagi, Sar? Ini jam hemat energi, lampu belum boleh nyala."

"Duh, Mas. Aku cuma mau balikin powerbank Kak Dinda. Sekalian numpang ke toilet bentar, ya? Kebelet banget nih!" Sarah memasang wajah memelas yang sangat meyakinkan.

Bayu mengizinkan Sarah masuk dengan syarat: "Gunakan air dengan bijak, satu gayung cukup untuk satu kali bilas."

Dinda yang baru keluar dari dapur menatap Sarah dengan pandangan penuh tanda tanya. Sarah mengedipkan sebelah matanya.

Saat Sarah berada di dalam rumah, dia tidak langsung ke toilet. Dia menyelinap ke dapur menemui Dinda. Dengan gerakan secepat kilat, Sarah mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil dari balik jaketnya. Aroma bawang goreng dan daging langsung menyeruak.

"Sstt! Ini bakso urat super. Makan sekarang, Kak. Mumpung dia lagi sibuk ngerantai pagar lagi," bisik Sarah.

"Sar! Kalau Mas Bayu tahu, aku bisa kena sidang paripurna semalaman!" Dinda panik, tapi air liurnya tidak bisa bohong.

"Tenang. Gue yang jaga pintu dapur. Makan cepet! Protein itu penting buat otak lo biar nggak ikutan halu kayak dia," desak Sarah.

Dinda memakan bakso itu dengan kecepatan luar biasa. Dia merasa seperti agen rahasia yang sedang memusnahkan dokumen negara. Bakso itu terasa seperti makanan surga setelah seminggu hanya makan nasi, telur, dan garam.

Tiba-tiba, langkah kaki Bayu terdengar mendekat.

"Dinda? Kenapa ada bau... gurih?" suara Bayu terdengar curiga.

Dinda nyaris tersedak. Sarah dengan cekatan menyambar pengharum ruangan sasetan yang ada di atas kulkas dan mengibaskannya.

"Itu bau parfum aku, Mas! Wangi beef barbeque gitu, lagi ngetren di kalangan anak gym," celoteh Sarah ngasal saat Bayu masuk ke dapur.

Bayu mengernyitkan hidung, wajahnya tampak waspada. "Parfum bau daging? Itu pasti cara produsen parfum supaya orang yang cium jadi laper dan beli makanan mahal. Konspirasi yang cerdik."

Bayu tidak melanjutkan kecurigaannya. Dia malah beralih ke wastafel. "Sar, tadi kamu ke toilet kan? Kamu pakai sabun cair apa sabun batang?"

"Hah? Sabun... batang, Mas," jawab Sarah jujur karena memang hanya ada sabun batang yang sudah dipotong kecil di sana.

"Bagus. Sabun cair itu mengandung polimer yang bisa melacak sidik jari melalui busa. Kamu aman," gumam Bayu sambil lalu.

Sarah menelan ludah. Ia menarik Dinda sedikit menjauh saat Bayu sedang asyik memeriksa meteran air di belakang dapur.

"Kak, ini beneran udah parah. Masa parfum bau daging dia percaya?" bisik Sarah. "Dengerin gue. Besok gue bakal kirim 'kurir' ke kantor lo. Dia temen gue, dokter residen jiwa. Namanya dokter Rio. Dia bakal nyamar jadi klien agensi lo. Lo harus bicara sama dia, konsultasi gimana caranya bawa Mas Bayu ke RS tanpa bikin dia ngerasa diserang."

Dinda ragu. "Kalau Mas Bayu tahu gue ketemu dokter jiwa, dia bakal mikir gue bagian dari 'mereka'."

"Makanya ini rahasia. Mas Bayu nggak perlu tahu. Lo harus kuat, Kak. Demi lo sendiri. Lo mau seumur hidup mandi dijatah gayung dan makan bakso sembunyi-sembunyi kayak maling ayam?"

Dinda menatap sisa bumbu bakso di plastik. Sarah benar. Kebebasannya sedang dipertaruhkan.

"Oke. Besok gue temuin dokter Rio."

Tiba-tiba, Bayu berteriak dari ruang tengah. "DINDA! SIAPA YANG PINDAHIN JARUM JAM DINDING INI DUA MILIMETER?!"

Dinda dan Sarah saling berpandangan. Bayu sedang kumat lagi. Dan kali ini, masalahnya hanyalah pergeseran jarum jam yang mungkin hanya bisa dilihat oleh mata elang.

"Tuh kan, gila!" umpat Sarah pelan. "Gue cabut dulu ya Kak sebelum gue disidang soal pemakaian air di toilet tadi."

Sarah pergi, meninggalkan Dinda yang kembali sendirian di "Benteng Paranoid" suaminya. Malam itu, Dinda mulai menyadari bahwa setiap suap makanan yang ia makan dengan sembunyi-sembunyi adalah awal dari perlawanan besarnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel