Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Dokter Rio

Hari Selasa biasanya menjadi hari tersibuk bagi Dinda. Kantor agensi periklanan tempatnya bekerja selalu berubah menjadi medan perang ide yang riuh, penuh dengan suara mesin kopi yang menderu dan perdebatan kreatif tentang skema warna. Namun, fokus Dinda hari ini tidak tertuju pada desain poster atau strategi branding klien. Jantungnya berdegup lebih kencang tiap kali pintu kaca kantor terbuka, menghasilkan bunyi ting yang membuatnya berjengit kaget.

Ia teringat instruksi Sarah semalam melalui telepon yang dilakukan sambil bersembunyi di balik gorden kamar mandi agar suaranya teredam gemericik air: "Dokter Rio bakal datang jam sepuluh. Dia bakal pura-pura jadi calon klien yang mau bikin kampanye kesehatan mental untuk yayasan sosial. Namanya samaran, tapi mukanya kalem dan adem kok, kayak ubin masjid. Lo harus ajak dia bicara serius di tempat yang nggak bakal dipantau Mas Bayu."

Tepat pukul sepuluh lewat lima, seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan kemeja biru muda yang disetrika sangat rapi masuk. Wajahnya tenang, senyumnya tipis, dan pembawaannya sangat profesional, tipe orang yang membuat siapa pun merasa aman hanya dengan melihatnya. Ia menghampiri meja resepsionis dan meminta bertemu dengan Dinda.

"Halo, Mbak Dinda? Saya Rio, yang kemarin sempat kontak lewat Sarah terkait proyek kampanye kesehatan," ucap pria itu saat Dinda menghampirinya.

Dinda mengajak Rio ke sebuah meja di sudut kafe kantor yang agak sepi, tersembunyi di balik tanaman monstera besar yang rimbun. "Terima kasih sudah datang, Dok. Maaf kalau suasananya agak bising, kantor kami memang tidak pernah tenang," ujar Dinda sembari meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah, seolah-olah sedang menyembunyikan sesuatu yang terlarang.

Rio mengangguk, meletakkan tas kerjanya dengan perlahan. Ia tidak langsung mengeluarkan peralatan medis, melainkan hanya sebuah buku catatan kecil tanpa merek. "Nggak apa-apa, Dinda. Sarah sudah cerita banyak. Tapi, saya perlu mendengar langsung dari Anda. Apa saja perilaku suami Anda yang menurut Anda paling mengkhawatirkan akhir-akhir ini? Saya butuh detail kecil, karena dalam kasus kejiwaan, setan ada pada detailnya."

Dinda menarik napas panjang, lalu tumpahlah semuanya. Tentang audit sabun cuci piring yang dihitung per tetes, tentang larangan menyalakan lampu yang mengubah rumah mereka menjadi gua gelap, hingga kecurigaan aneh tentang "tempe yang berkedip" dan frekuensi radio di mesin cuci. Selama Dinda bercerita, Dokter Rio mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Matanya menunjukkan empati yang dalam, namun profesionalismenya tetap terjaga.

"Waham paranoid," gumam Dokter Rio pelan setelah Dinda selesai bercerita dengan suara yang hampir habis. "Dari deskripsi Anda, Bayu kemungkinan besar mengalami skizofrenia paranoid. Dia tidak hanya pelit secara ekonomi, Dinda. Bagi orang seperti Bayu, uang bukan sekadar alat tukar, melainkan benteng pertahanan terakhir. Pola pikirnya sudah dikuasai oleh sistem kepercayaan yang salah namun terasa sangat nyata baginya. Baginya, berhemat bukan soal angka di rekening, tapi soal keselamatan nyawa dari 'musuh-musuh tak kasat mata' yang dia ciptakan sendiri."

"Tapi Dok, dia masih bisa bekerja. Dia masih jenius kalau urusan angka," sanggah Dinda, seolah mencoba membela sisa-sisa kewarasan suaminya.

"Itulah tipikal skizofrenia yang berintelijensi tinggi. Mereka bisa menyembunyikan gejala itu di lingkungan profesional, tapi meledak saat berada di zona nyaman, yaitu rumah dan Anda," Rio menjelaskan dengan tenang. "Dia menganggap Anda adalah miliknya, jadi Anda harus tunduk pada 'hukum' yang dia buat untuk melindungi miliknya itu."

Dinda merasa dunianya seolah runtuh. Mendengar kata "Skizofrenia" secara langsung dari seorang ahli terasa jauh lebih berat daripada hanya menebak-nebak di forum internet. "Apa bisa sembuh, Dok? Apa Mas Bayu bisa kembali seperti saat kami pertama bertemu?"

"Bisa dikontrol dengan obat-obatan, Dinda. Tapi masalahnya adalah kepatuhan. Orang dengan kondisi seperti ini biasanya memiliki lack of insight atau rasa tidak merasa sakit. Mereka akan menganggap siapa pun yang mengajak ke dokter sebagai pengkhianat atau bagian dari konspirasi musuh. Kita harus sangat strategis."

Baru saja Dokter Rio hendak menjelaskan langkah-langkah mediasi, ponsel Dinda di atas meja bergetar hebat. Nama "Mas Bayu" muncul di layar, diiringi foto profil Bayu yang tampak tersenyum kaku.

Dinda gemetar. Getaran ponsel itu terasa seperti gempa bumi di tangannya. "Halo, Mas?"

"Dinda! Kamu di mana?!" suara Bayu terdengar tinggi, penuh dengan kecemasan yang mendesak, hampir histeris.

"Aku ... aku di kantor, Mas. Sedang ada rapat dengan calon klien baru."

"Siapa kliennya? Laki-laki atau perempuan? Kenapa koordinat GPS-mu menunjukkan kamu diam di kafe bawah selama delapan belas menit tiga puluh detik? Meeting itu di ruang rapat, Dinda, bukan di tempat yang menjual kopi dengan harga tidak logis! Kopi di sana harganya setara dengan beras tiga kilo! Kamu sedang disuap oleh mereka, ya?"

Dinda melirik Dokter Rio dengan tatapan minta tolong yang putus asa. "Ini klien penting, Mas. Mereka mau kerja sama jangka panjang. Aku nggak minum apa-apa, kok."

"Tunggu," suara Bayu mendadak merendah, menjadi bisikan yang mengerikan di telinga Dinda. "Aku mendengar suara latar belakang yang aneh di teleponmu. Ada frekuensi rendah, seperti alat penyadap statis. Apakah kamu sedang bersama orang dari 'kantor pusat'? Apakah mereka menanamkan cip di cangkir kopimu?"

"Nggak, Mas! Nggak ada cip! Sudah ya, aku harus lanjut rapat." Dinda mematikan sambungan dengan tangan yang basah oleh keringat dingin. Ia menatap Dokter Rio dengan mata yang kini benar-benar basah. "Dok, dia memantau saya sampai ke detik-detiknya. Saya merasa seperti tahanan kota."

Dokter Rio menghela napas prihatin, ia menutup buku catatannya. "Paranoianya sudah mencapai tahap pengawasan aktif. Dinda, Anda berada dalam kondisi gaslighting dan tekanan psikologis yang ekstrem. Jika dibiarkan, Bayu bisa melakukan tindakan impulsif untuk 'menyelamatkan' Anda dengan cara yang berbahaya. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit tanpa dia sadari bahwa itu adalah rumah sakit jiwa."

"Caranya?" tanya Dinda parau.

"Kita gunakan kelemahannya, yaitu sifat tidak mau ruginya. Katakan bahwa kantor menyediakan medical check-up gratis senilai lima juta rupiah yang tidak bisa diuangkan. Katakan jika dia tidak ikut, maka jatah itu akan hangus dan kita akan merugi. Dia pasti tidak akan mau melewatkan sesuatu yang berbau 'gratis'."

Pertemuan itu berakhir dengan rencana yang matang namun berisiko tinggi. Saat Dinda berjalan kembali ke mejanya, ia merasa setiap pasang mata rekan kerjanya, yang sedang asyik tertawa, terlihat sangat asing. Ia merasa seperti membawa bom waktu di dalam tasnya.

Sore harinya, saat pulang ke rumah, Dinda mendapati suasana lebih mencekam dari biasanya. Bayu tidak sedang menghitung struk. Ia berdiri tegak tepat di belakang pintu, seolah sudah menunggu di sana selama berjam-jam.

"Tadi kamu meeting di kafe, kan?" tanya Bayu tanpa ekspresi, matanya menatap Dinda dari atas ke bawah.

"Iya, Mas. Kan tadi aku sudah bilang," Dinda mencoba masuk, tapi Bayu menghalangi jalannya.

"Berdiri di sana. Jangan bergerak," perintah Bayu. "Coba buka mulutmu selebar mungkin."

"Hah? Mas, aku capek, aku mau mandi—"

"BUKA!" bentak Bayu hingga Dinda tersentak. "Aku perlu memvalidasi apakah kamu menelan zat 'patuh' dari klien itu. Kalau kamu minum kopi yang mengandung pemanis buatan berlebih, itu artinya kamu sengaja merusak ginjalmu supaya nanti kita harus keluar uang jutaan untuk cuci darah! Itu sabotase ekonomi keluarga, Dinda!"

Dinda terpaksa membuka mulutnya di bawah lampu teras yang remang-remang. Bayu mendekatkan wajahnya, hidungnya hanya berjarak beberapa senti dari bibir Dinda, mengendus napas istrinya dengan teliti seperti anjing pelacak yang mencari narkoba di bandara. Aroma kopi yang sangat tipis, karena Dinda hanya meminum satu teguk kopi Sarah kemarin. Namun, hal itu masih terdeteksi oleh indra penciuman Bayu yang tajam secara abnormal.

"Ada bau kafein," desis Bayu, matanya melotot. "Kamu bohong. Kamu mengonsumsi racun kapitalis seharga lima puluh ribu rupiah di saat aku di sini mematikan kulkas demi menghemat seribu rupiah. Kamu jahat, Dinda. Kamu bagian dari mereka yang ingin menguras tabunganku!"

Dinda hanya bisa menangis diam, air matanya jatuh mengenai tangan Bayu yang sedang memegang dagunya. Rasa absurd dan penghinaan itu menyatu menjadi satu gumpalan pahit di tenggorokannya. Malam itu, saat Dinda meringkuk di kasur tanpa sprei, ia mendengar suara logam beradu di dapur.

Srek ... srek ... srek ...

Bayu sedang mengasah gunting kuku tua dan pisau lipat kecil dengan batu asahan, sambil terus bergumam tentang "frekuensi pembersih" dan "operasi perlindungan aset". Dinda menyadari bahwa suaminya bukan lagi pria yang ia nikahi setahun lalu; dia adalah seorang asing yang terjebak dalam labirin pikirannya sendiri, dan Dinda sedang meraba dinding untuk mencari pintu keluar sebelum labirin itu runtuh menimpa mereka berdua.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel