Suamiku Lebih Memilih Mancing
“Assalamualaikum, Bu.” sapaku pada Ibu.
“Waalaikumussalam wa rahmatullah.“ jawab Ibuku di seberang sana.
“Ibu lagi apa, Ibu sehat kan?” tanyaku pada Ibu.
Aku bertanya pada Ibu terkait kesehatannya. Karena usia Ibuku saat ini sudah tidak muda lagi yaitu 62 tahun, begitupun Ayah, usia beliau sudah mendekati 70 tahun, sehingga kami khawatir dengan kondisi kesehatannya.
Dulu waktu aku tinggal bersama mereka, semua kebutuhan mereka berdua, aku dan suamiku yang menyediakannya. Begitupun dengan anak-anakku, dari mulai yang kecil hingga anak yang besar, Ayah dan Ibu lah yang mengurusnya setiap hari kecuali hari Sabtu dan Minggu, karena kerjaku libur.
Kebetulan kedua Anakku diasuh sama beliau berdua dari usia 4 bulan, sebab jatah cuti melahirkanku sudah habis, aku harus kembali lagi bekerja seperti biasa.
“Ibu baru selesai dari lapangan olah raga, bareng Ayah, Ini baru saja selesai ganti baju rumah. Ibu sama Ayah sehat, cuma terkadang lutut Ibu sakit kalau di gunakan untuk jalan jauh,” jawab Ibu, sambil sedikit mengeluh tentang penyakitnya.
“Iya, bu. Jangan melakukan aktivitas yang berat dulu ya, Bu. Kalau bisa obat dari dokternya terus dikonsumsi. Kalaupun nanti Ibu mau minum tradisional, silahkan sebagai tambahan saja.” pesanku pada Ibu.
Aku mengingatkan Ibu agar tidak melakukan aktivitas yang berat-berat terlebih dulu, agar tidak sakit kakinya.Termasuk Ayahku, dia sebenarnya yang lebih sering mengeluh sakit dibanding Ibu.
Tapi ya, namanya orang tua, penyakit yang dideritanya pun terladang, penyakit yang memang fungsi tubuhnya sudah mulai banyak yang dirasa.
“Mau main ke rumah Ibu? anak-anak bagaimana kabarnya, Ibu sama Ayah kangen juga sama cucu-cucunya. Kalau nanti Ayahmu tidak ada kegiatan ,Insya Allah besok Ibu yang main ke rumah kamu, ya” ucap Ibuku.
Ibu mungkin sudah kangen-sama kedua cucunya,yang biasanya hampir setiap week end, kami selalu datang ke rumahnya Ibu, tapi sudah dua bulanan ini, belum sempat berkunjung.
“Enggak usah bu, biar nanti kita saja yang ke rumah Ibu, Ibu Istirahat saja, jangan terlalu capek, ya.” jawabku .
‘
"Ya sudah kalau begitu, salam buat anak-anak dan Ayahnya juga. Ibu mau selonjoran dulu, sama nanti mau rebusin daun salam sama daun bidara buat Ayahmu.”
“Iya, Bu makasih ya. Nanti Rahma sampaikan salamnya, sehat terus ya, Bu. Sampai ketemu besok. Assalamualaikum” pamitku sama Ibu.
Ibuku memang sudah lama suka mengeluh nyeri pada lututnya kalau habis jalan jauh atau pun menaiki anak tangga.
Saat beliau masih aktif mengajar tidak pernah mengeluh sakit apapun, tapi semenjak dari pensiun mengajar, Ibu sering mengeluh nyeri di bagian lutut kaki kanannya.
Beberapa bulan yang lalu beliau sempat diperiksa ke Rumah Sakit, Dokter nya menyatakan jika diagnosa penyakit ibu adalah Artritis( radang sendi). Menurut dokter, Nyeri sendi adalah rasa sakit dan tidak nyaman pada sendi, yaitu jaringan yang menghubungkan dan membantu pergerakan antara dua tulang. Sendi terdapat di seluruh tubuh, termasuk bahu, pinggul, siku, lutut, jari-jari, rahang, dan leher.
Terus kata dokter tersebut, salah satu penyebab nyeri sendi yang di rasakan Ibu adalah, karena Ibu juga menderita Penyakit Asam Urat (gout dan pseudogout) yang biasanya menyebabkan nyeri pada sendi jempol atau lututnya saja.
Sedangkan keluhan pada Ayahku, saat ini hanya pada tekanan darahnya .Tensi Ayahku lumayan tinggi bisa mencapai 150/90, tapi Alhamdulillah Ayah tidak pernah mengeluh dengan penyakitnya dan beliau masih rutin mengkonsumsi obat tradisional.
Terkadang sebelum berkunjung ke rumah Ibu, kami selalu menanyakan terlebih dahulu, mau di belikan makanan atau buah-buahan apa, karena kalau kami langsung membelikannya tanpa tanya dulu apa yang di mau, gak pernah habis.
Jadi daripada mubazir makanannya atau membusuk buahnya, lebih baik kutanyakan dulu apa yang di mau beliau.
Pokoknya saat ini Aku, Adikku dan Kakakku berusaha memberikan yang terbaik untuk Beliau dan berusaha memenuhi apa yang Beliau mau, hitung-hitung membalas budi kami yang sudah di rawatnya dari kecil hingga dewasa.
Apa lagi Aku, selain Ibu mengurusku, kedua anakku pun dirawatnya.
“Sehat-sehat terus ya, Ayah dan Ibu, Aku kangen kalian berdua. Insya Allah kami akan merawatmu hingga akhir hayat kalian, Amiin....” batinku.
Tidak terasa kedua sudut mataku meneteskan air mata, ketika Aku selesai menutup percakapan degan Ibu. Aku tahu besok tidak mungkin berkunjung ke rumah Ibu bareng Mas Herman, sebab Dia sudah mempunyai kegiatan untuk besok.
Mungkin nanti Aku dan Anak-anak naik kendaraan umum. Kebetulan untuk menuju ke rumah Ibu ada beberapa alternatif transportasi.Bisa menggunakan bus umum, nanti turun di depan terminal, lalu menyambung naik angkot yang ke arah kompleks, Ibu. Selain itu bisa memilih menggunakan kereta listrik Commuter Line yang menuju arah Cilegon, turun di Stasiun Serpong, selanjutnya langsung menyambung menggunakan angkutan kota yang menuju perumahan Ibu.
Akan tetapi, karena bawa anak-anak, sementara harus berpindah-pindah kendaraan dan sudah pasti dengan barang bawaan yang kujinjing nanti tentu akan sangat repot.
Paling yang lebih simple untuk menuju ke rumah Ibu adalah memesan Taxi, naiknya dari depan rumah dan bisa langsung turun di depan perumahan Ibu.
“ Andaikan Mas Herman mau membatalkan acara besok untuk mancing di Bogor, mungkin aku dan anak-anak bisa dengan kendaraan sendiri." gumamku.
Aku harus ngomong pada Mas Herman, agar Dia bisa mengantarkan aku dan anak-anak lebih dulu ke rumah Ibu, setelah itu baru pergi ke tempat pemancingan. Lagi pula, hanya acara mancing saja, bukan pertemuan resmi apa pun.
Mudah-mudahan Mas Herman mau mengantarkanku agar aku bisa melepaskan rasa kangenku pada kedua orang tuaku. Begitupun, aku berharap Ayah dan Ibu bisa bercengkrama ebali dengan kedua cucunya.
"Hobi boleh dan silahkan saja diikuti, tapi keluarga seharusnya tetap menjadi yang utama"
