Inginku (Pov Alya)
Siapa sih yang tidak jatuh hati, ketika melihat foto-foto tampan Dia. Pria berkumis tipis, berjenggot tipis, alisnya tebal, dan itu loh, senyum manisnya saat di foto yang membuatku terpesona. Hehehe.
Aku belum pernah membayangkan seperti apa wajah asli Aa Herman di dunia nyata, sebab di akun faceboknya Dia, semua fotonya terlihat cool dan ganteng banget deh, menurutku. Tapi yang namanya juga teknologi sudah canggih, apa pun bisa dirubah dengan komputer.
Sehingga untuk saat ini, aku tidak percaya sepenuhnya tentang keaslian wajahnya Aa Herman di akun media sosialnya.
Tapi jujur sih, memiliki teman dekat yang berwajah tampan itu, terkadang dapat mengangkat harga diri, jika sedang jalan berdua atau di foto bareng dia, hehehe.
Tetapi, jika tujuannya untuk mencari laki-laki yang akan di jadikan pendamping hidup, ketampanan dan penampilan itu bukanlah yang utama.Melainkan tingkat kedewasaan dan kemapanannya yang harus di utamakan dari seorang lelaki, itu yang aku inginkan sebenarnya.
Jika berbicara soal ketampanan, kedewasaan dan kemapanan, di dalam diri Aa Herman sepertinya sudah ada semua. Namun, sayangnya Dia sudah menjadi milik wanita lain.
Walaupun sekarang aku sudah tahu, kalau Aa Herman sudah memiliki anak dan istri, tapi bagiku itu bukanlah suatu halangan untuk bisa mendekatinya.
Masih banyak jalan untuk menggapainya, tanpa harus menyakiti pemiliknya.
Begitulah keinginanku terhadap Aa Herman, yang sudah mulai menghiasi keseharianku, walau hanya di dunia maya.
Entahlah, setan apa yang bisa membawa aku bisa sampai jatuh hati dan ada rasa cinta terhadap Aa Herman, laki-laki yang memiliki anak Istri tersebut.
Jika Aa Herman mau melakukannya, aku siap untuk menjadi madu untuk Istrinya. Karena di agama dan kepercayaanku dan Aa Herman, kalau seorang laki-laki itu boleh memiliki Istri lebih dari satu, asalkan Dia mampu untuk berbuat adil bagi keduanya.
Duh, aku terlalu jauh ngehayalnya, Hehehe.
Perkenalanku sama Aa Herman saja baru seumur jagung, bisa dikatakan rasa suka dan sayang kita hanya sepintas saja. Sebab aku dan Aa Herman sama-sama belum saling mengenal dan memahami pribadi satu sama lain secara jauh.
Perbedaan usiaku dengan Aa Herman sekitar delapan tahunan, Aa Herman lebih tua pastinya dariku, dan itu tentunya Aa Herman lebih dewasa, bisa mengayomi.
Tapi jangan salah loh, walaupun usianya lebih dari tiga puluh tahun, dilihat dari fisik dan penampilan wajahnya, tidak menampakan bahwa Aa Herman adalah pria yang usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun.
Dia memiliki wajah baby face, malah awal kenalan, aku mengiranya Dia itu masih mahasiswa, eh, ternyata dia sudah beristri dan memiliki dua anak.
Ah, sudahlah, toh aku juga belum jadi siapa-siapanya Dia, masih sekedar teman di dunia maya dan hanya untuk teman bercerita saja, tidak lebih dari itu.
Siapa tahu dia di dunia maya ceweknya banyak? aku kan, enggak tahu. Secara dia ganteng, aku tidak percaya sepenuhnya jika teman dekatnya di dunia maya yang akrab hanyalah aku
Tapi jika suatu saat nanti pada akhirnya hubunganku dengan Aa Herman bisa lebih jauh, ya siapa takut...? Namanya juga takdir, tidak ada yang tahu dan tidak bisa untuk menolaknya.
Menjadi istri pertama atau kedua bukanlah masalah untukku, yang penting statusku halal dan mendapatkan hak serta kewajiban dari suamiku nantim
Tapi sepertinya istri Aa Herman ini , tipe perempuan yang pecemburu ya, soalnya saat aku menelepon ke handponenya Aa Herman, Dia seperti curiga terhadapku seperti orang cemburu gitu lah. Tapi wajar sih, namanya juga istri, hihi.
Hmm, atau bisa juga Aa Herman sendiri yang termasuk tipe suami-suami takut Istri? Hehehe.
Tapi, masa iya sih dia tipe suami takut Istri? Saya rasa tidak! soalnya Dia saja berani bermain di dunia maya dan memiliki banyak teman wanita ,di daftar teman facebooknya, berarti Dia tidak termasuk kelompok suami-suami takut istri dong? Hahaha.
Kalau dari aku sendiri sih mudah saja sebagai pihak perempuan, jika nanti Istrinya Aa Herman mengetahui dan marah, tinggal bilang saja sama Dia, kalau ini semua Aa Herman yang memulainya lebih dulu terhadapku.
Mudah bukan? jadi aku tidak ingin ambil pusing dibuatnya. Bukan berarri aku lepas tangan, tapi memang cara itulah yang paling simple.
Hanya saja aku bukan tipe perempuan yang jahat juga, yang tiba-tiba ingin merebut suami orang, menyakiti sesama wanita, lalu pergi sambil menari dan tertawa.
Jika seandainya nanti memang terjadi sesuatu dan terhadapku, aku akan menghadapinya, sudah pasti aku akan dari kehidupan Aa Herman, mundur alon-alon, demi kebahagiaan mereka.
Lain hal jika istri Aa Herman nantinya ikhlas, mau berbagi kebahagiaan denganku, aku pun akan menerimanya dengan senang hati.
Duh ... duh, kenapa aku jadi halu seperti ini ya, hahaha. Begini, nih efek jadi jomblo terlalu lama, otaknya konslet karena sudah berkarat, sehingga membuat imajinasiku terlalu jauh untuk memikirkan Aa Herman.
Ini memang salah, sebab aku mencintai lelaki yang sudah dimiliki orang lain, tapi ini semua diluar rencanaku, semuanya berjalan aeperri air yang mengalir.
Tapi, salah jika aku berharap cinta dari lelaki yang sudah memiliki wanita lain?
Ibarat kata, aku sedang asik menonton sinetron drama rumah tangga, lalu aku ikut masuk ke dalam ceritanya dan berperan menjadi tokoh di cerita tersebut.
'Lihat saja besok saat aku bertemu langsung dengannya, apakah aku tetap akan lanjut berhubungan dengan Aa Herman, atau akan berhenti sampai di situ.' gerutuku.
'Maafkan aku ya, Mbak Rahma, jika aku sudah berani masuk ke dalam kehidupanmu. Tapi bukan berarti aku akan merebut kebahagiaanmu, Mbak Rahma, aku hanya sekedar ingin menjadi bagian dari kehidupan kalian.' gumamku sambil melamun.
