Hampir saja Aku emosi
Tidak biasanya Aku Mas Herman sudah bangun sebelum adzan subuh, padahal hari-hari biasanya untuk bangun saja, harus Aku yang membangunkannya, itu pun harus berkali-kali di teriaki.
Padahal alarmnya tidak jauh dari tempat tidur, bahkan di ujung kasur dekat bantalnya, tetap saja sampai baterai jam nya habis pun, Dia enggak bangun juga. Terpaksa Aku yang membangunkannya, dengan jurus andalan, kuusap wajahnya dengan air, atau kukecup keningnya, pasti deh Dia langsung bangun.
Pernah sih beberapa kali Dia bangun dari suara alarmnya, tapi bukannya langsung menuju Kamar mandi, terus ambil wudu, melainkan hanya sekedar untuk mematikan alarm saja, lalu Dia tidur kembali.
"Mas, tumben jam segini sudah bangun?” tanyaku pada Mas Herman, yang sedang berjalan menuju dapur.
“Hehe, bukannya Aku tiap hari bangun jam segini, Dek? Cuma kadang-kadang, kalau masih ngantuk mau enggak mau, mas tidur lagi deh, hoaaam” jawab mas Herman sambil menguap dengan ditutupi telapak tangan kanannya.
Sedangkan aku, memang terbiasa bangun sebelum adzan Subuh, sebab aku harus menyiapkan semua kebutuhan Mas Herman dan kedua Anakku.
Apa lagi dulu saat masih bekerja, jam enam pagi semuanya harus sudah kusiapkan. Mulai dari masak untuk sarapan sampai untuk makan siang Aku dan Mas Herman di kantor. Sampai menyediakan untuk makan siang anak-anak.
“Mas, nanti mau berangkat jam berapa ke tempat pemancingannya?" tanyaku sama Mas Herman.
"Mungkin berangkat habis salat subuh, Dek. Soalnya kalau jalannya siang, takut nanti Mas tidak mendapatkan posisi yang bagus di sananya. Maksudnya, kalau Mas datang lebih awal, nanti bisa cari spot yang bagus untuk duduk, posisi menentukan banyaknya ikan, hihi” sahut Mas Herman, sambil tertawa kecil.
Dari tadi aku perhatikan Dia, terus sibuk sendiri, memindah-mindahkan perlengkapan alat pancing dari dapur ke ruangan depan kemudian mengambil ulekan untuk membuat racikan pelet ikan.
“Apa tidak terlalu kepagian, berangkat jam segitu ? Mas Herman bukan mau turnamen mancing, kan?” tanyaku pada Mas Herman.
Sebab jika benar nantinya Mas Herman berangkat sehabis solat subuh, maka sudah pasti aku tidak bisa meminta Mas Herman untuk mengantarkan lebih dulu ke rumah Ibu.
“Memangnya kenapa,Dek? Apakah ada yang harus Mas lakukan untuk Adek, sebelum berangkat ke pemancingan?” Mas Herman pun bertanya balik kepadaku.
Aku berharap Mas Herman akan membatalkan keberangkatannya sehabis subuh. Tapi jika nanti jawaban Mas Herman mau mengantarkan kami ke rumah Ibu terlebih dulu, berarti aku harus menyiapkan semua perlengkapan anak-anakku.
“A-anu Mas, rencananya aku siang ini, mau main ke rumah Ibu sama anak-anak, sambil menunggu Mas Herman pulang dari pemancingan nanti, Aku tunggunya di rumah Ibu saja, daripada di rumah bete.” tuturku pada Mas Herman.
Aku pun langsung menuju meja makan untuk menyiapkan kopi panas Mas Herman dan Roti tawar selainya. Walaupun tanpa di suruh Mas Herman, rutinitasku setiap pagi jika Mas Herman sudah bangun, Aku pasti menyiapkan kopi panas lengkap dengan cemilan sarapannya.
Biasanya sih Aku buatkan pisang goreng krispi untuk cemilannya, tapi sayang, sudah beberapa hari ini pisang goreng di tukang sayur keliling tidak pernah ada. Andaikan saja selain jenis pisang tanduk Mas Herman menyukainya, tentu aku akan membeli pisang penggantinya.
“Terus kamu sudah menghubungi Ibu, kalau kamu mau datang ke rumah Ibu?”
tanya Mas Herman, sambil kemudian duduk di kursi meja makan. Dengan mengenggam semangkok yang berisikan racikan pelet untuk memancing ikan.
“Sudah Mas, tapi Aku belum menjanjikan untuk bisa kesana, Aku hanya menjawab, nanti ditanyakan dulu sama Mas Herman, ada acara atau tidaknya, jika tidak ada acara, baru kita akan datang ke rumah Ibu.” tuturku.
Sambil kudekatkan gelas kopi dan roti tawarnya ke depan posisi Mas Herman. Tapi bukan berarti Aku sedang ngerayu Dia agar mau mengantarku tempat Ibu. Seandainya nanti harus pergi juga, tanpa Mas Herman, aku pasti akan menggunakan Taxi dari rumah ke tempat Ibu.
“Baiklah kalau Mas mau antar, tapi nanti Mas drop saja ke rumah Ibu, ya, Mas enggak ikut turun juga enggak apa-apa, mau langsung jalan lagi juga. Enggak apa-apa bukan?” jawabnya.
“Iya Mas, enggak apa-apa, yang penting kita di anterin sampai ke rumah Ibu dulu, setelah itu Mas Herman berangkat lagi juga tidak apa-apa.” Jawabku sambil meneguk kopi susu.
“Iya sudah kalau begitu, kamu siapkan semua perlengkapan yang mau di bawa ke rumah Ibu. Nanti kamu tunggu saja di rumah Ibu sampai Mas pulang“ jawab Mas Herman.
Alhamdulillah ternyata mas Herman masih mendengarkan permintaanku. Hampir saja tadinya aku mau marah sama Mas Herman, jika seandainya Dia sampai tidak mau mengantarkan aku dan kedua anakku ke tempat Ibu.
“Kalau begitu, aku siapkan dulu semua perlengkapan yang akan dibawa ke rumah Ibu, nanti Mas bantu masukan ke dalam bagasi, ya. Sebentar lagi waktu adzan subuh segera tiba, Mas, setelah selesai Solat nanti, aku bangunkan Anak-anak ,sekalian Aku siapkan untuk sarapannya.” Aku pun bergegas kedalam kamar untuk mengambil pakaian kedua anakku di kamarnya.
Setelah aku dan Mas Herman melaksanakan salat Subuh berjamaah, aku langsung membangunkan kedua anakku, lalu kubawa mereka berdua ke kamar mandi untuk sekedar di bersihkan wajahnya dari sisa-sisa iler yang menempel, hahaha.
“Ayo Nak, kita siap-siap mau pergi ke rumah Nenek. Jangan pada rewel ya, bantu Bunda untuk kerjasama, supaya kita cepat berangkat.” ucapku kepada kedua anakku.
“Asyik, kita jadi main ke rumah Nenek” jawab si Abang, anakku yang paling besar, usianya saat ini mendekati usia tujuh tahun, di mana tahun depan ini, Dia mau mendaftar ke Sekolah Dasar.
Setelah semuanya rapi, mengunci kamar dan pintu rumah, serta barang yang akan dibawa oleh suamiku, kami berempat pun langsung menuju mobil yang sudah di parkir di depan rumah.
“Bismillahirahmanirohim, Bismillahi majreha wa mursaha inna rabbi lagafururrahim”
