Rayuan Gombal (Pov Herman)
"Alya, kenapa kamu jujur pada istriku sih? kenapa tidak kamu menyebut nama samaran saja? Kalau sudah seperti ini, aku yang kalang kabut, untuk mencari alasan agar Rahma tidak curiga."gerutuku.
Aku takut kalau sudah seperti ini. Sebab Rahma mulai mencurigaiku. Bukan tidak mungkin kedepannya apa pun aktivitasku di luar rumah, akan dia curigai.
Karena selama ini, aku tidak pernah berbuat yang aneh-aneh dalam berumah tangga dengan Rahma.
Jangankan aku bermain perempuan, sekedar aku jalan dengan teman di kantor untuk sebuah acara kantor saja, aku selalu ngasih tahu pada Rahma.
Ini sebenarnya yang aku takutkan, ketika aku dekat dengan perempuan di luar rumah, Rahma akan mecurigaiku. Insting Rahma kuat, jika ada hal-hal yang mencurigakan dalam diriku.
Aku masih penasaran, apakah ada obrolan lain antara Rahma dengan Alya. Sampai Rahma sangat penasaran terhadap Alya?
Sebelum masalah ini melebar luas, Aku harus menghubungi si Alya,agar informasinya lebih jelas.
Alhamdulilah, teleponku tersambung dan mudah-mudahan dia tidak sibuk, sehingga dia mau menerima panggilanku.
“Assalamualaikum Al, kamu lagi di rumah atau di tempat kost?” tanyaku pada Alya di ujung telepon.
“Waalaikumussalam Aa. Aku lagi di jalan pulang ke Bogor,” jawab Alya.
Sepertinya Alya sedang berada di dalam kereta.
“Oh, kamu jadinya pulang ke Bogor? Katanya mau pulang hari Minggu, besok?” tanyaku pada Alya.
Sebelumnya Alya memang mau pulang ke Bogor minggu depan, dan aku janji akan mengantarnya pulang.
“Enggak jadi Aa, soalnya besok Mamah mau minta diantar ke rumah saudara di Sukabumi. Oh ya, tadi itu aku mau minta Aa, anterin pulang ke Bogor sore ini. Tapi waktu aku telepon Aa Herman, katanya Aa lagi di luar rumah,” ucap Alya.
‘Waduh, jangan-jangan si Alya cerita sama Rahma tentang kedekatanku?’ batinku.
“I-iya Al, aku tadi lagi belanja perlengkapan buat mancing besok. Handphonenya Aa, tinggal di rumah. Oh ya, tadi yang menerima pangilan kamu, Rahma, ya?” tanyaku pada Alya, hanya ingin tahu saja.
“Oh, iya Aa, namanya Mbak Rahma. Dia Istrinya Aa Herman, ya?” tanya Alya.
“Iya, Al, Rahma istriku,” jawabku singkat.
“Istri Aa, sepertinya baik, dari suaranya saja bisa terlihat, kalau dia itu ramah. Kok, tidak seperti yang Aa Herman ceritakan padaku, tentang sifatnya Mbak Rahma?” tanya Alya.
‘Waduh, jangan-jangan benar dugaanku, jika mereka berdua sudah bicara panjang lebar. Buktinya si Alya sudah bisa menjelaskan kalau Istriku sifatnya seperti itu. Sebab, jika Alya tidak dan Rahma tidak ngobrol panjang lebar, tidak mungkin dia bisa mengetahui sifat asli istriku.’ gumamku.
“Iya kan, Aku bilang pada kamu, Istriku tidak selamanya cerewet, juga tidak selamanya cuek dan masa bodoh padaku. Bisa jadi saat kamu menghubunginya, mood dia sedang bagus,” jawabku.
“Hmm ... maybe. Karena aku sama Mbak Rahma waktu itu tidak bicara panjang lebar. Aku hanya menanyakan kamu, ada atau tidak.Terus Mbak Rahma memperkenalkan diri, deh. Terus Mbak Rahma pun, diakhir pembicaraan tanya namaku. Aku jawab saja jujur siapa namaku,”
“Oh, ok, kalau begitu. Aku pikir kamu ngobrol panjang lebar sama Dia. Pokoknya Alya, jangan cerita pada siapa pun dulu, bahwa kita dekat. Pokoknya siapa pun jika ada yang bertanya pada kamu, jawab saja kita teman kantor,” Aku mewanti-wanti pada Alya, agar dia menjaga rahasia ini.
“Iya, Aa, siaaap ...! Aku juga tahu kok. Tenang saja Aa, aku akan jaga rahasia kita ini, agar tidak ada orang lain yang tahu. Aku mah nurut orangnya, Aa,”
“Baiklah Al, kalau begitu. Aku pamit dulu ya, mau menyiapakan amunisi untuk besok mancing. Thanks ya, kamu sudah ngertiin aku. Salam untuk Mamahmu dari A-Herman,” ucapku sedikit lega.
“Iya, Aa, nanti aku sampaikan salamnya.” jawab Alya.
“Nanti jangan menghubungiku dulu, ya. Kalau ada perlu kamu sms saja, nanti aku yang menghubungi balik,” Aku berpesan pada Alya agar tak meneleponku jika aku di rumah.
“Ok deh,kalau begitu. Selamat weekend ya, salam buat Istrinya, dari Aku.Huft. Iya, Insyallah, tapi. Hihihi." Ledek Alya.
"Assalamu'alaikum.” ucapku.
“Waalaikumussalam” jawab Alya.
Aku pun menutup sambungan telepon. Kalau sudah jelas informasinya, aku lega rasanya.
Untung saja aku konfirmasi dulu sama si Alya dan tidak asal jawab. Coba kalau asal jawab, bisa-bisa aku akan terus berbohong pada Rahma.
‘Bismillah, semoga saat aku menjelaskan pada Rahma tentang si Alya, aku tidak salah bicara,’ gumamku.
Setelah selesai merapikan semua perlengkapan untuk besok mancing, aku mencuci kedua tanganku sebelum menemui Rahma.Sengaja aku basahain baju dan celananya, seolah aku sibuk merapikan perlengkapan mancing.
Aku kembali duduk di samping Rahma dan mencoba merayunya.
"Duh ... cantiknya, Istri siapa sih, ini. Apa lagi kalau lihat bibirnya dilipat seperti itu, hmm malah semakin terlihat sexy ...."
Aku rayu Rahma, sambil menyentuh bibirnya,dengan telunjuk dan jempol tanganku, seolah-olah ingin merapikan bibirnya yang cemberut.
Namun, Rahma tetap saja diam masa bodoh, tidak terpancing atau tergoda dengan rayuanku. Aku tak kehabisan akal, untuk terus menggoda Rahma agar dapat tersenyum lagi.
Sebagai mantan mahasiswa paling romantis, yang biasa di kejar-kejar mahasiswi saat kuliah, aku pun melanjutkan jurus yang kedua untuk merayunya.
"Oh, jadi kamu ngambek sama Aa, nih? Yakin mau ngambek terus? Kalau kamu masih manyun seperti ini, aku mau jalan sekarang aja deh, ke tempat pemancingnya," ucapku.
"Makanya Mas herman jangan bikin aku kesal, dong!" ucapnya dengan emosi.
"Iya, iya. Mas minta maaf. Bukan Aku enggak mau jawab pertanyaan kamu, Ra. Aku mau merapikan perlengkapan untuk besok dulu, supaya tidak ada yang tertinggal," jawabku berbohong.
"Iya sudah, jawab dulu pertanyaanku yang tadi. Siapa si Alya itu, kenapa Mas simpan namanya di handphone bukan namanya?” tanya Rahma, sambil mencubit paha kiriku.
"Sabar-sabar, Aku pasti akan menjelaskan pada kamu, siapa si Alya itu." jawabku, sambil kuusap-usap punggung Rahma penuh perasaan.
"Iya, buruan jawabnya dong, atau jangan-jangan itu selingkuhanya Mas Herman, ya?" wajah Rahma pun berbalik menatap wajahku.
“Yeh, Mas belum juga ceitakan sama kamu,”
“Ya, sudah aku diam, aku akan dengerin kamu ngomong.” jawab Rahma.
"Jadi begini, Alya itu adalah karyawan baru di kantorku. Dia kebetulan di tempatkan di tim aku. Sehingga dia masih sering bertanya terkait pekerjaannya," ucapku.
“Dia kan karyawan baru, terus di luar kerja juga, dia menghubungi Mas Herman? Memangnya karyawan baru berani menghubungi seniornya di luar jam kerja?” tanya Rahma, masih belum puas dengan jawabanku.
"Iya, memang aku bilang ke anak buahku, jika ada pertanyaan di luar jam kerja silahkan. Mungkin si Alya menghubungiku mau tanya tentang pekerjaan,” aku berkilah dengan jawabanku yang bohong.
“Terus?” Rahma semakin penasaran.
“Nah, Dia pernah miscall tuh ke nomor Aku, Karena enggak tahu dari siapa, Aku save namanya, "Nggak Tau" begitu ceritanya. Enggak boleh curiga dulu, ya.
"Aku kembali berbohong, dengan sedikit mengarang cerita.
"Terus, kenapa enggak dari tadi, kamu jelaskan sama aku, jika tidak ada apa-apa?" Rahma mencubit pahaku.
Wajah Rahma kembali tersenyum, setelah mendengar penjelasan dariku.
"Sebentar Mas, si Dedek kayaknya nangis, deh...” Rahma lalu berdiri, dia langsung berjalan ke arah kamar, karena si Bungsu terdengar menangis.
‘Untung saja keberuntungan masih berpihak padaku, jika tidak? mungkin endingnya tidak akan seindah ini.’ gumamku, sambil tersenyum menatap langit-langit ruangan tamu.
“Kebohongan akan ditutupi oleh kebohongan lagi. Selama masih melakukan kebohongan, maka kebohongan itu tidak akan hilang dalam dirinya.” - KangAdien-
