Perkenalanku (Pov Alya)
Berawal saat aku sedang iseng melihat postingan tulisan di group facebook. Tanpa sengaja, aku sempat melihat postingan motivasi dari seseakun bernama Herman.
Karena penasaran dia sering up tulisan motivasi, aku pun kemudan mengikutinya. Hingga akhirnya aku berteman dengan akun Aa Herman.
Berawal dari situ, aku selalu ngasih komentar atas postingannya. Baik di group maupun di berandanya. Selain dia jago membuat kalimat diksi dan kata-kata motivasi, Aa Herman juga memiliki wajah dan penampilan yang membuat cewek-cewek baper dan selalu respect jika dia posting tulisan.
Aku pikir awalnya dia hanyalah seorang mahasiswa, sebab wajahnya masih terlihat muda dan penampilannya pun layaknya anak mahasiswa.
Setelah aku berteman dengannya, sering berbalas komentar dan sering ngobrol di inbox, barulah aku tahu kalau dia adalah seorang manager di salah satu perusahaan besar di Jakarta.
Wajar saja jika banyak cewek-cewek yang terpesona, selain ganteng mapan lagi.
Aku mengenal Aa Herman baru satu bulan yang lalu. Namun, keakrabannya seperti orang yang sudah kenal lama. Aa Herman sering curhat kepadaku terkait kehidupan rumah tangganya yang tak harmonis. diceritakan oleh Aa Herman padaku.
Awalnya aku hanya menanggapi biasa saja, toh itu masalah rumah tangga, aku tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Tapi lama-lama aku selalu merespon curhatan Aa Herman, dan pada akhirnya merasa nyaman dengan kehadiran Aa Herman.
Bagiku, Aa Herman adalah sosok laki-laki dewasa yang perhatian dan selalu memberikanku motivasi setiap harinya.
Sebagai perempuan, jika dirayu terus menerus dengan jurus pujian dan juga perhatian, akhirnya aku pun luluh pada Aa Herman. Sampai pada akhirnya Aku pun memberikan nomor handphone pada Aa Herman, begitupun Herman memberikan nomor handphonenya padaku.
Setelah aku sangat dekat dengan Aa Herman, akhirnya aku tahu alasannya kenapa Aa Herman belum juga mengatakan rasanya padaku. Ternyata, A-Herman sudah berisitri dengan dua orang anak balita.
Karena, awalnya aku pikir dia masih lajang atau tidak ada istrinya, tapi ternyata dia sudah memiliki dua orang anak. Dari situ, aku sempat hilang semangat, bahkan pernah saat itu aku pamit ingin mundur dari kehidupannya. Tapi, Aa Herman memintaku untuk tidak menjauh.
[Aa Herman, maaf, sepertinya aku pamit untuk menjauh. Aku kira, Aa masih sendiri. Terima kasih sudah memberi kesempatan untuk aku bisa mengenal Aa,]
Aku mengirimkan pesan singkat ke nomor ponsel Aa Herman.
[Loh, kok begitu Al? Terus kalau kamu menjauh dari aku, siapa dong yang akan menjadi teman curhat aku?]
[Aa kan, masih ada istri, bisa bercerita masalah Aa, ke istri,]
[Al, justu aku ingin cerita sama kamu, tentang keluargaku-Istriku,]
[Hmm ... loh memangnya kenapa istri Aa?]
[Ada sedikit hampa yang aku rasakan akhir-akhir ini dengan rumah tanggaku. Apa lagi istriku yang mulai sering uring-uringan enggak jelas, Al,]
[Terus, sudah di selesaikan atau di bicarakan dengan istrinya?]
[Sudah, yang ada malah dia semakin menjadi, hingga akhirnya aku sengaja pulang ke rumah selalu telat, ketika dia sudah tertidur]
[Hmm … mungkin dia lelah Aa, coba Aa rayu dia]
[Sudah Al, semua itu sudah aku lakukan, tidak perlu lagi masukan dari orang. Tapi, ya tetap seperti itu. Makanya aku mulai menyibukan diri di facebook, supaya ada hiburan. Nah, dengan aku bisa mengenalmu, seperti ada booster yang menyemangatiku lagi]
[Hmm, ok kalau begitu.]
Begitu awal mulanya, aku bisa dekat dengan Aa Herman. Dia banyak bercerita jika dirinya sedang kesepian karena istrinya bersikap dingin terhadapnya dan sering marah-marah enggak jelas di rumah.
Dari situ, aku mulai merasa iba dan ingin menjadi teman ngobrolnya bagi Aa Herman, agar Aa Herman tidak kesepian lagi. Begitu pun denganku, aku jadi memiliki teman curhat di dunia maya.
“Oh ya, nanti jangan pernah untuk menghubungi handponeku terlebih dahulu, sebelum aku yang menelepon, atau kamu kasih tahu aku lewat sms dulu, ya.” Aa Herman pernah berbicara kepadaku, dengan mengatur strategis bagaimana cara menghubungi Aa Herman.
Aku tidak pernah menelepon lebih dulu ke Aa Herman, kecuali saat jam kantor. Aku pasti selalu menyempatkan tanya kabar Aa Herman atau sekedar tanya sudah makan siang atau belum jika di hari kerja. Begitu pun sebaliknya, Aa Herman selalu melakukan hal itu padaku.
Entahlah, setan apa yang bisa membawa aku bisa sampai jatuh hati dan ada rasa cinta terhadap Aa Herman, laki-laki yang memiliki anak Istri tersebut.
Tapi, berhubung wajahnya yang aduhai membuatku sebagai cewek jomblo terpesona dibuatnya. Selain itu, Aa Herman memiliki badan sedikit atletis, itu terlihat dari lengan bagian atas Aa Herman terlihat sedikit menonjol, dan dadanya nampak bentuk bidang, dibalut kemeja dan kaos ketat, persis seperti laki-laki yang biasa ngegym.
Sementara dari sisi pekerjaan, Aa Herman sebagai seorang manager di salah satu perusahaan swasta nasional dibilangan Thamrin Jakarta Pusat sudah tentu penghasilan perbulannya tidak di ragukan lagi.
Mungkin aku termasuk salah satu cewek yang beruntung, bisa kenal dekat dengan Aa Herman. Selain aku berteman di facebook, aku dan Aa Herman pun sudah saling bertukar nomor telepon.
Jika aku atau Aa Herman tidak aktif di facebook, pasti aku atau A Herman akan berkomunikasi melalui panggilan telepon.
Karena saking seringnya berkomunikasi dan sering bercanda, aku dan Aa Herman akhirnya bertemu di sebuah restoran fastfood, dari situlah aku pun mulai merasakan ada benih cinta pada Aa Herman.
Begitupun sebaliknya, semua perhatian Aa Herman sudah bisa aku simpulkan, jika dia pun menyukaiku, walau tidak di ungkapkan padaku.
Tapi pernah aku menghubungi nomor ponselnya Aa Herman, saat aku mau memintanya untuk mengantarkan aku pulang ke Bogor, tapi yang menerima telepon bukan dia, melainkan istrinya.
Awalnya saat aku menelepon, langsung kututup saat tahu yang menerima perempuan. Tapi karena penasaran, aku menghubungi kembali, dan yang menerima masih suara perempuan.
Setelah aku mencoba tetap berbicara, dia memperkenalkan diri, namanya Rahma dan mengaku istrinya Aa Herman.
Tadinya aku tidak ingin memperkenalkan namaku. Tapi berhubung sudah terlanjur, ya sudah aku jujur deh kalau aku Alya teman kerjanya.
Saat itu sempat membuat heboh antara Aa Herman dengan istrinya tersebut, sebab istrinya sepertinya curiga terhadapku, karena dia sempat ingin berbicara lama denganku. Hingga akhirnya Aa Herman menghubungiku hanya untuk memastikan jika aku sempat komunikasi dengan istrinya atau tidak.
Aa Herman, walaupun aku memiliki rasa yang lebih kepadamu, sampai saat ini aku masih menghargai Istrimu yang masih sah. Aku tidak akan merebutmu dari hati Mbak Rahma.
Enggak tahu jika minggu depan atau bulan depan, mungkin aku akan jujur kepadamu dan Mbak Rahma, jika aku menyayangimu.
‘Kadang cinta tidak pernah memilih siapa yang merasakannya, dengan siapa dia melakukannya. Cinta akan hadir di mana dia inginkan.’ Kang Adien.
‘Cinta tak pernah menuntut sempurna, karena cinta menerima apa adanya.’
