Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Penasaranku

Beberapa saat kemudian, suara mesin motor Mas Herman terdengar sudah berada di depan garasi. Aku pun mengintipnya dari balik jendela kaca ruang tamu ke arah garasi.

Terlihat mas Herman berjalan ke arah pintu rumah sambil menenteng dua kantong plastik berwarna merah di tangan kanan dan kirinya.

“Assalamualaikum,” Mas Herman mengucapkan salam dari luar pintu rumah sambil mengetuk pintu.

Mungkin Mas Herman tidak tahu, jika aku sebenarnya sudah melihat dia datang dan menunggunya di balik pintu.

“Waalaikumussalam,” jawabku, sambil kutarik gagang pintu. Kemudian aku mencium tangan Mas Herman.

“Bawa apa itu Mas, di dalam kantong plastik?“ tanyaku pada Mas Herman sambil menunjuk kantong plastik merah.

“Oh, ini perlengkapan untuk besok mancing,” jawab Mas Herman sambil mengangkat kedua kantong plastik tersebut ke arahku.

Untuk besok mancing? Bukankah Mas Herman tadi bilang batal? Kenapa tiba-tiba dia bawa perlengkapan pancing?

“Loh, katanya kamu enggak jadi ke tempat pemancingan, Mas?” tanyaku, sambil menatap dua kantong plastik yang dipegangnya.

“Hmm, itu dia, Ra, Seperti yang Mas bilang, awalnya memang kita sepakat tidak jadi berangkat. Di tukar minggu depan, tapi ternyata tadi teman Mas ngasih kabar lagi, katanya besok tetap jadi berangkat ke pemancingan. Hanya saja lokasi pemancinganya yang berubah.” jawab Mas Herman sambil berjalan menuju ke arah belakang.

‘Apa benar dia mau pergi ke pemancingan, atau hanya alasan saja? Kenapa aku jadi curiga begini, ya?’ gumamku.

Untung saja aku belum menghubungi Ibu, andai  saja aku sudah mengabari Ibu akan main ke rumah, tentu ibu akan kecewa, jika aku tidak jadi datang.

Kadang ada rasa penasaran terhadap mas herman akhir-akhir ini. Sebab, Mas Herman sering membatalkan acara yang sudah direncanakan, dan selalu ada alasan yang dibuatnya.

Sebenarnya ingin sekali aku marah pada Mas Herman, karena hal ini. Mas Herman lebih mementingkan pergi memancing bareng temannya, dibandingkan pergi menengok orang tua.

Sudah dua bulan ini aku tidak main ke rumah Ibu, Aku rindu Ibu dan Ayah. Mereka pun rindu terhadapku dan anak-anak. Ayah dan Ibu sudah lanjut usia, tapi jika aku tawarkan untuk tinggal denganku selalu menolaknya, beigitu juga dengan tawaran adikku, sama di tolaknya. Alasannya, Ibu dan Ayah banyak kegiatan di komplek yang sudah diagendakan dengan warga lainnya yang juga sama-sama lansia.

Justru Ibuku lebih memilih mengurus anakku yang bungsu untuk tinggal bersama mereka, sekolah di sana. Bahkan kalau perlu keduanya sekolah di dekat rumah Ibu. Kata Ayahku, supaya Mas Herman dan aku bisa fokus bekerja. Nanti, setiap hari Sabtu sore atau hari libur, baru keduanya di tengokin.

Oh ya, Ayahku hanyalah seorang wiraswasta, jadi beliau lebih banyak bekerja di rumah, sampai saat ini pun masih melakukan pekerjaan tersebut.

Sementara Ibuku, beliau  merupakan seorang pensiunan guru kepala sekolah.

Tapi, walaupun sudah penisun, beliau masih mengajar di sekolah milik swasta. Kata Ibu, biar gak bete di rumah terus.

Walaupun aku tidak rutin mengunjungi Ibu, adik bungsuku yang kebetulan tinggal di Jakarta,selalu mengusahakan datang ke rumah Ibu, sekalian bawa stok makanan untuk satu Minggu ke depan. Sehingga untuk masalah makanan, beliau selalu terjamin.

Tetapi akhir-akhir ini, beliau berdua sering mengeluh sakit. Mungkin faktor usia yang sudah tidak muda lagi, sehingga beberapa anggota tubuh fungsinya sudah pun mulai mengendor. Meskipun Ayah dan Ibu rutin mengkonsumsi vitamin dan suplemen.

******

“Ra, kamu melihat handphoneku enggak?” tanya Mas Herman dari arah belakang.

“Ada itu di bawah lemari tivi, mau aku antar ke belakang, enggak?” tanyaku sambil sedikit teriak ke arah Mas Herman.

“Enggak usah, Ra. Sebentar lagi aku ke depan,” jawabnya.

Rasanya aku sudah tidak sabar ingin menanyakan soal cewek yang bernama Alya tadi.

“Oh ya, Ra, tadi waktu aku di luar, ada yang menelepon ke handponeku, enggak?” tanya Mas Herman, sambil menatap layar ponsel.

“Iya, Mas, tadi ada yang meneleponmu, awalnya miscall, karena terus berbunyi, akhirnya aku terima panggilan tersebut, takutnya orang tersebut urgent, makanya berkali-kali menghubungi. Orang tersebut menghubungi handphone Mas, dua kali dalam waktu yang berbeda,” jawabku.

“Dari teman kantorku, kan?” ucap Mas Herman, gerakan tubuhnya terlihat seperti panik. Wajahnya masih menatap layar handphone.

Aku berusaha menjawab dengan santai, seolah tidak ada yang ingin kutanyakan perihal perempuan yang menelepon Mas Herman tadi.

“Tadi sih saat kutanya dengan siapa, dan dari mana, dia hanya menjawab dengan Alya, temannya,” jawabku.

“I-i-iya, dia teman kantorku. Dia staff baruku yang masih training. Makanya dia sering menghubungiku di luar jam kerja, untuk bertanya perihal pekerjaan. Tadi kamu lama enggak, bicara sama Dia?” tanya Mas Herman, mulai penasaran.

Aku yakin, perempuan itu bukan teman kerjanya, apa lagi staff barunya yang bertanya tentang pekerjan di luar jam kerja.

“Enggak ada percakapan apapun. Aku hanya menyampaikan sama dia, kalau Mas Herman sedang keluar. Dia? Maksud Mas, dia itu Alya?” Aku berpura-pura kaget.

“Kamu tahu namanya, Ra? Berarti sempat kenalan? kalian ngobrol panjang lebar dong?” Mas herman semakin penasaran.

“Seperti yang tadi kubilang, aku hanya menjawab seperlunya saja. Aku hanya Tanya namanya saja. Sebab, di handphonemu namanya “Nggak tahu” Dia pun memperkenalkan namanya  Alya, setelah itu dia langsung menutup sambungan teleponnya.” 

Aku berusaha menjawab dengan jujur, apa yang Aku bicarakan dengan cewek itu.

“Oh, ya sudah kalau begitu, seandainya nanti ada panggilan masuk ke handphoneku, enggak usah diangkat ya, biarkan saja. Kecuali ada Aku.” ujar Mas Herman, mengingatkan agar aku tidak menerima panggilan di handphonenya, jika Mas Herman tidak ada di tempat.

Kalimat Mas Herman justru semakin membuatku curiga, kenapa dia melarangku menerima telepon yang masuk ke handphonenya saat dia tidak ada.

“Terus, yang ingin aku tanyakan padamu, Si Alya itu siapa sebenarnya, Mas?” tanyaku sedikit emosi.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Mas Herman malah bolak-balik ke arah ruang belakang, seperti orang kebingungan.

“Mas...! kamu kenapa sih enggak menjawab pertanyaanku? Malah mondar-mandir tidak karuan? Aku ini tanya sama kamu serius ini,” keluhku pada Mas Herman, bukannya duduk dulu dan menjelaskan padaku siapa cewek bernama Alya itu.

“Iya, iya. Si Alya kan, yang kamu mau tanyakan?” tanya Mas Herman sambil berjalan ke arah dapur.

Kenapa Mas Herman seperti menghindar dari pertanyaanku ya? Apakah ada yang dia sembunyikan dari Mas Herman tentang cewek itu?

“Mas, kenapa kamu nggak jawab dulu pertanyaanku, sih? Kenapa kamu malah menghindar?” tanyaku.

“Apa yang harus aku jelaskan tentang dia, Ra? bukannya tadi aku sudah jawab, kalau Alya itu teman kerjaku?”

“Aku enggak percaya dia teman kerjamu, Mas,” jawabku ketus.

“Lalu, kamu mau percaya sama siapa lagi, kalau sama aku tidak percaya?” tanya Mas Herman.

“Kenapa jawaban dia dengan jawaban kamu berbeda, Mas?”

“Sudahlah, Ra, aku enggak mau panjang lebar bahas dia. Intinya aku tidak ada hubungan apa pun dengan dia.” Mas Herman kemudian kembali pergi ke arah belakang.

Kenapa sih Mas Herman sikapnya jadi seperti ini terhadapku? Aku hanya ingin dihargai olehmu, Mas. Jika memang kamu tidak ada hubungannya dengan cewek itu,  jelaskan saja padaku baik-baik, bukan malah melongos begitu saja, peri ke belakang meninggalkanku.

“Perasaan cewek sangat peka, jika ada perubahan sikap pasangannya. cewek akan sensitif jika sudah dibohongi oleh pasanganya. Dia akan tahu jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh pasangannya.Walaupun pasangannya tidak mengatakanya secara jujur. Sebab cewek selalu menggunakan insting saat mencari kebenaran yang disembunyikan oleh pasangannya.”

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel