Kubohongi Istriku (Pov Herman)
Aku mengintip ke arah dalam kamar, untuk memastikan Rahma benar sudah tertidur.
'Yes, Rahma sudah tidur. Mumpung Dia tertidur, aku coba hubungi si Alya dulu deh, siapa tahu dia besok ada di rumah' gumamku.
Mumpung aku ada acara ke Bogor, aku ingin memanfaatkan momen ini. Kapan lagi ada acara mancing di Bogor? Ini kesempatanku menemui si Alya, karena dia pun sedang ada di Bogor.
'Yes, berarti aku ada kesempatan untuk bisa bertemu langsung dengan dia. Aku akan ajak dia ke tempat pemancingan, sehabis mancing nanti, aku mau ajak dia jalan-jalan dulu di kota' batinku.
"Assalamualaikum, Al." sapaku pada Alya di ujung telepone.
"Waalaikumussalam, Aa. Tumben telepon, bukannya tadi sudah sms, ya?" Tanya Alya.
"Terus aku enggak boleh gitu, jika seandainya menghubungi kamu lagi lewat telepon?" Aku berbalik tanya pada Alya
"Ich, Aa..., bukan begitu Aa, aku takut nanti kamu ketahuan Mbak Rahma loh, nanti dia marah sama aku."
"Enggak kok, aku lagi di taman, Istriku masih tiduran di dalam kamar bareng anak-anak. Oh ya Al, besok aku mau ke Bogor, mancing bareng beberapa anak komunitas, kamu mau ikutan enggak?" tanyaku pada Alya.
"Loh, memangnya Mbak Rahma, enggak ikut mancing bareng, Aa? kok malah nawarin sama aku, sih?" tanya Alya.
"Dia enggak mau ikut, katanya kalau nanti ikut takut anakku enggak betah lama-lama di kebon atau empang, soalnya takut banyak nyamuk di tempat itu, begitu jawabnya Istriku"ucapku sedikit berbohong pada Alya.
'Padahal untuk acara mancing kali ini, aku sama sekali belum pernah menawarkan atau mengajak Istriku untuk ikut ke Bogor. Bagaimana istriku menolak ikut mancing? Semoga saja Alya percaya.' gumamku.
"Ya sudah, nanti Aa pas jemput aku, di pinggir jalan yang mau masuk ke komplek rumahku saja, ya. Tapi, aku boleh tanya Aa, nggak? kalau nanti temen-temen Aa ada yang tanya, jawabnya bagaimana Aa?" tanya Alya.
Aku pun berpikir sejenak untuk mencari alasan, atas pertanyaan dari dia.
"Halo, Aa,, Aa Herman ...! kok enggak ada suaranya, sih? Ada istrinya, ya. Hehehe." ledek Alya, sambil tertawa kecil.
"E-enggak kok. Jadi begini, nanti kalau di tanya sama temanku di sana, bilang saja kamu istri Aa Herman, ya. Mudah-mudahan sih, enggak ada yang tanya sama kamu." kataku pada Alya.
"Oh ya sudah, jadi aman ya, kalau besok aku ikut mancing bareng Aa. Pokoknya jangan sampai nanti ada yang curiga padaku." Alya memastikan lagi.
"Iya, pokoknya kamu tenang aja, besok kamu kasih alamat dan patokanya ya, biar aku enggak nyasar kemana-mana." ucapku.
'Akhirnya aku bisa memiliki kesempatan ketemu dan jalan bareng si Alya, mudah-mudahan saja tidak ada halangan apa pun besok, di sana." gumamku,
"Aa, besok aku bawain nasi uduk langgananku, mau gak? di dekat rumahku ada tukang nasi uduk rasanya enak loh. Kalau mau, besok aku bawain buat Aa, ya?" tanya Alya.
Alya menawarkan sarapan nasi uduk padaku untuk besok sarapan, saat mancing.
'Tapi, masa iya, besok teman-temanku ada enam orang, nasi uduknya hanya satu, hehehe.' batinku.
"Al, aku pesan delapan bungkus saja, ya, nanti uangnya Aa ganti deh, soalnya sekalian Aa mau ngasih ke yang lain juga, makasih ya, Al," aku meminta Alya, agar memesan nasi uduk lebih dari enam bungkus.
"Ok, Aa. menunya Aku samakan semua yah, biar enggak ada beda-beda, yah, hehehe. Sampai jumpa besok, Aa Herman" pamit Alya.
"Iya Al, hati-hati di jalan ya. Oh ya, sudah mau berangkat ya sama Ibunya?" tanyaku.
"Iya Aa, makasih ya, ini sudah mau jalan, sudah dulu ya, assalamualaikum," ucap Alya.
"Waalaikumussalam." jawabku pelan.
'Akhirnya, aku bisa juga ketemu dan berhadapan muka dengan dia. Alya yang selama ini hanya ketemu lewat facebook. Besok aku bisa melihat wajah asliya dia. Aku berharap wajah aslinya akan lebih cantik dari foto-fotonya di facebook.' batinku.
~Semoga tidak zoonk....~
