Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Alya?

Tidak berapa lama setelah Mas Herman keluar rumah, ada nada dering panggilan masuk di handphone-nya yang dia letakan di atas lemari televisi.

 

Tring-tring

Tring-tring

Walaupun ada panggilan masuk di handphone Mas Herman, selama ini aku tidak berani menerimanya, jika tidak diminta oleh Mas Herman. Karena handphonenya terus berbunyi, aku pun akhirnya memberanikan diri untuk menerima panggilan tersebut. Aku khawatir si penelepon ada perlu sama Mas Herman.

 

Saat aku akan mengambil handphonenya, di layar handphone terlihat Id si pemanggil namanya "Nggak Tau."

 

Awalnya aku ragu untuk menerima panggilan tersebut, tapi karena sedikit penasaran, aku langsung menekan tombol terima panggilan telepon walau tanganku gemetaran.

 

"Assalamualaikum, Aa Herman," sapa suara cewek di seberang telepon, menyapa memanggil nama Aa Herman, dengan suara lembut. 

 

‘Apa, Aa Herman? selama aku menikah dengan Mas Herman, aku tidak pernah mendengar ada yang memanggil sebutan Aa Herman, selain adik iparku. Itu pun memanggilnya 'Aa', enggak pakai Aa Herman.’ Aku menggerutu kebingungan.

 

"Waalaikumussalam, ini dengan siapa, ya?" tanyaku.

Baru saja aku menjawab salam, cewek itu langsung menutup teleponnya.

 

‘Jadi ..., siapa cewek yang memanggil nama Mas Herman dengan panggilan A-Herman tersebut?Lalu, kenapa Mas Herman menyimpan nama cewek itu dengan nama "Nggak Tau" ?’ batinku.

 

Jika memang itu temannya, kenapa tidak menggunakan namanya saja, yang di simpan di phonebook handponenya? kenapa Mas herman harus menyamarkannya dengan identitas “Nggak Tau?” malah membuatku curiga jadinya.

Jangan-jangan cewek itu teman dekatnya Mas Herman di facebook?

*****

Tring-tring

Tring-tring

Handphonenya Mas Herman, kembali berdering panggilan masuk.

 

"Hmm, jangan-jangan panggilan itu dari perempuan yang tadi?" gumamku.

Belum apa-apa, aku sudah curiga jika panggilan masuk tersebut dari cewek yang tadi.

 

Karena penasaran, aku pun kembali mengambil handphonenya Mas Herman, yang sudah kuletakan kembali di lemari televisi.

Ternyata dugaanku benar, tidak salah lagi panggilan itu dari cewek yang tadi menelepon ke handphone Mas Herman. "Nggak Tau".

Untuk kali ini aku akan coba bersikap santai dulu saat berbicara dengan cewek itu agar dia pun tidak merasa di curigai olehku. Aku berharap cewek itu mau memperkenalkan dirinya terhadapku, agar nantinya aku bisa minta klarifikasi dari Mas Herman.

"Assalamualaikum, maaf ini dengan siapa, ya?" tanyaku dengan lembut kepada cewek tersebut.

"Waallaikumussalam, maaf ini dengan siapa, ya? saya mau bicara sama Aa Herman, apakah Aa Herman ada?"

Tanya cewek itu. Dia malah balik bertanya kepadaku, dengan penuh keheranan.

 

Jangan-jangan ini teman facebooknya Mas Herman. Apa iya di dunia maya Mas Herman statusnya mengaku masih lajang?  Jikalau Mas Herman jujur dengan statusnya yang sudah memiliki istri dan anak, mungkin cewek ini tidak akan heran jika yang menerima teleponnya cewek.

Ah, sudahlah kembali lagi pada misiku, aku tidak ingin mencecar dia dengan pertanyaan yang membuat cewek itu curiga dan memutuskan sambungan teleponnya.

 

“Hallo Mbak, masih tersambung kah, teleponenya?” tanya

 

"I-iya, maaf saya pindah posisi, karena sinyalnya lemah tadi,” Aku berkilah, padahal posisiku dari tadi tidak pindah kemana-mana, hanya saja aku sedang memikirkan sesuatu tentangnya.

“Jadi ini dengan siapa? Apa benar ini nomornya A-Herman?” tanya cewek di seberang telephone.

“Saya dengan Rahma, istrinya Mas Herman. Maaf Mbak saya tanya lagi, ini dengan siapa, ya? Kebetulan Mas Herman sedang keluar rumah,"ucapku jujur menjawab pertanyaan dari cewek itu.

Aku mencoba memperkenalkan diri kepadanya, bahwa aku istrinya Mas Herman. Karena aku sudah memperkenalkan diri, aku juga meminta dia memperkenalkan namanya. Dia tidak mengenaliku, berarti dia adalah orang baru di lingkaran pertemanan Mas Herman.

"Oh iya, Mbak Rahma. Salam kenal ya Mba Rahma, saya dengan Alya,” jawab cewek itu memperkenalkan namanya.

 

“Iya, sama-sama. Oh, ya Mbak, maaf Mbak Alya teman kantornya Mas Herman, atau__?" belum selesai aku bicara cewek itu langsung memotongnya.

 

“Iya benar Mbak Rahma, saya teman kantornya Aa Herman.  Baiklah kalau begitu, nanti saya akan menghubungi kembali, jika A-Herman sudah ada di rumah. Maaf  ya,  Mbak Rahma, saya sudah mengganggu waktunya," ucapnya.

 

“Hallo, Mbak Alya, maaf Mbak sebentar jangan ditutup dulu telephonenya. Saya boleh ngobrol sebentar dengan Mbak Alya?”

Aku meminta sama cewek itu untuk tidak mematikan dulu sambungan teleponenya, agar bisa ngobrol sebentar denganku.

 

“Maaf Mbak Rahma, kebetulan saya sedang di jalan, nanti saya hubungi kembali lain waktu ya, Mbak.” jawabnya tergesa.

“Baiklah kalau begitu, nanti saya sampaikan ke Mas Herman, jika Mba Alya menelponnya, atau ada yang mau dititipkan pesan untuk Mas Herman barangkali?” tanyaku.

“Tidak ada Mbak terima kasih. Nanti saja dengan Mas Hermannya langsung. Assalamualaikum.” jawabnya.

 

“Waallaikumussalam.” jawabku.

Sebenarnya aku berharap dia akan lama berbicara denganku, sehingga aku bisa bertanya lebih jauh tentang dia.

 

Aku ragu kalau Alya ini teman kantornya Mas Herman. Masa iya teman satu kantor tidak tahu jika Mas Herman sudah punya anak istri. Apa lagi, dia tidak mau menitipkan pesannya, dan ingin langsung berbicara dengan Mas Herman.

Ini yang membuatku curiga, dua kali menghubungi tapi tidak ada pesan yang ingin disampaikan Padahal aku sudah memperkenalkan istrinya, paling tidak dia percaya pesan itu bisa sampai ke Mas Herman.

 

Kembali aku membuka akun facebookku, hanya sekedar ingin tahu aktivitas Mas Herman, termasuk teman-temanya dia. Sempat kaget sih, saat pertama melihat daftar pertemanan Mas Herman. Sebab, kebanyakan teman diakunnya Mas Herman adalah cewek.

 

Karena aku penasaran dengan cewek yang bernama Ayla, Aku pun mencoba scrool dari atas ke bawah mengecek satu persatu untuk mencari nama Alya di friend list akun Mas Herman. Namun, sayangnya aku tidak menemukan akun cewek yang bernama Alya.

 

Seandainya Mas Herman di facebook genit, mungkin dia sudah banyak postingannya. Tapi di beranda faceboknya tidak banyak postingan, foto yang di upload pun hanya beberapa saja. Itu pun hanya foto-foto dia saat training di Singapore dan Thailand.

Walau ada beberapa foto dia, saat sebelum nikah sama aku, dipostingnya oleh Mas Herman.

 

Ada sih beberapa foto selfienya  Mas Herman, saat dia sedang olahraga gym. Memang penampilannya bikin cewek yang pertama melihatnya akan takjub dan terpesona dengan keindahan otot dan dada bidangnya. Mungkin foto-foto itu yang membuat cewek-cewek baper, hingga mengirimkan permintaan pertemanan.

 

Semoga saja aktivitas Mas Herman di dunia maya baik-baik saja sesuai dengan harapanku, tidak berbuat macam-macam. Sebab tujuan awalnya membuat akun pun, Mas Herman hanya ingin menghilangkan stress.

Aku percaya sama Mas Herman, karena selama ini dia adalah suami yang bertanggung jawab, jujur dan setia. Aku tahu pasti sifat asli dia seperti apa.

 

Kalau ditanya cemburu atau tidak, tentu saja sebagai istri yang menyayangi suaminya, pasti rasa cemburu itu ada. Tetapi cemburuku masih kupendam selama tidak ada sesuatu yang membuatku terluka.

 

Apa lagi jika sudah menyangkut hubungan rumah tangga, semua istri pasti tidak ingin ada wanita lain yang masuk dalam kehidupan rumah tangganya. Terlebih rumah tangga yang dijalani selama ini baik-baik saja, tidak pernah ada masalah sedikitpun.

 

“Sebagai seorang istri, aku tidak mudah untuk mencemburui suamiku, karena aku yakin Mas Herman adalah laki-laki sejati yang tidak kan mengkhianati istrinya.”

  

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel