4. Perhatian Kecil Dari Sang CEO
Langit Jakarta terlihat mendung. Hujan yang turun sejak dini hari membuat udara terasa lebih dingin daripada biasanya. Jalanan ibukota tetap ramai meskipun banyak kendaraan harus bergerak lebih lambat karena genangan air di beberapa tempat.
Cecilia berdiri di depan cermin kecil di kamar indekosnya. Wajahnya tampak sedikit pucat. Matanya juga terlihat lelah karena malam sebelumnya dia tidur hampir tengah malam.
Sejak bekerja sebagai sekretaris pribadi Lionel, jadwalnya menjadi jauh lebih padat. Dia harus beradaptasi dengan ritme kerja perusahaan besar, mempelajari kebiasaan atasannya, dan memastikan tidak melakukan kesalahan lagi.
Cecilia menyentuh dahinya.
"Sepertinya aku kurang tidur," gumamnya.
Sejak beberapa hari terakhir, tubuhnya memang terasa kurang nyaman. Kepalanya terkadang pusing dan tenggorokannya terasa sakit. Namun, Cecilia tidak ingin mengambil cuti.
Gadis itu teringat kebutuhan keluarganya di desa.
“Aku tidak boleh mudah menyerah.”
Setelah sarapan seadanya, Cecilia berangkat ke kantor.
Begitu tiba di Lionel Group, dia langsung duduk di depan komputer.
"Selamat pagi, Bu Cecilia."
"Selamat pagi."
Cecilia tersenyum kepada beberapa karyawan yang menyapanya. Dia kemudian membuka jadwal Lionel.
Pagi itu ada rapat penting dengan beberapa direktur perusahaan.
Cecilia mulai menyiapkan dokumen.
Satu per satu. Laporan keuangan. Kontrak kerja sama. Presentasi proyek. Dokumen investasi.
Namun, semakin lama, kepalanya terasa semakin berat.
Cecilia memejamkan mata sebentar.
"Jangan sekarang."
Dia membuka mata dan kembali bekerja.
Pintu ruang CEO terbuka.
Lionel keluar dengan jas hitam yang sudah terpasang rapi.
"Cecilia."
Cecilia segera berdiri.
"Ya, Pak?"
"Dokumen rapat pagi ini?"
"Sudah saya siapkan."
Gadis itu menyerahkan sebuah map kepada Lionel.
Lionel menerimanya.
"Kopi saya?"
Cecilia langsung berdiri.
"Sebentar, Pak."
Dia berjalan menuju pantry. Namun, langkahnya terasa tidak stabil. Gadis itu berpegangan pada dinding sebentar.
"Tarik napas, tenang."
Setelah menyiapkan kopi, Cecilia kembali ke meja Lionel.
"Ini kopinya, Pak."
Lionel menerima cangkir tersebut.
Namun, sebelum Cecilia sempat kembali ke mejanya, Lionel memperhatikan wajahnya.
"Kamu sakit?"
Cecilia terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Saya tidak apa-apa, Pak."
"Wajah Anda pucat."
"Mungkin karena kurang tidur."
"Sudah makan?"
Cecilia terdiam.
"Sudah."
Lionel menatapnya curiga.
"Apa yang Anda makan?"
Cecilia tersenyum.
"Roti."
"Roti saja?"
"Untuk sarapan."
Lionel menghela napas.
"Jangan bekerja terlalu keras."
"Baik, Pak."
Lionel masuk ke ruangannya.
Cecilia kembali duduk.
Dia mencoba fokus pada pekerjaannya, tapi huruf-huruf di layar mulai terlihat kabur.
Gadis itu mengedipkan mata beberapa kali.
Kemudian berdiri untuk mengambil dokumen.
Tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan.
Ruangan seperti berputar.
Cecilia berpegangan pada meja.
"Ya Tuhan ..."
Seorang karyawan yang melihatnya segera mendekat.
"Bu Cecilia, Anda kenapa?"
"Saya tidak apa-apa."
Namun, tubuh Cecilia kehilangan keseimbangan.
"Bu!"
Karyawan itu berusaha menahannya.
Suara tersebut membuat Lionel keluar dari ruangannya.
"Ada apa?"
Dia langsung melihat Cecilia yang hampir jatuh.
"Cecilia!"
Lionel berlari mendekat dan menangkap tubuhnya sebelum terjatuh ke lantai.
Cecilia bersandar pada lengan Lionel.
"Pak ..."
"Jangan bicara."
Lionel menyentuh dahi Cecilia. Panas.
"Kamu demam."
Cecilia mencoba berdiri sendiri.
"Saya masih bisa bekerja, Pak."
Lionel menatapnya tidak percaya.
"Anda hampir pingsan."
"Saya hanya sedikit pusing."
"Sedikit?"
Nada suara Lionel meninggi.
"Kalau saya terlambat keluar beberapa detik, Anda sudah jatuh."
Cecilia menundukkan kepala.
"Maaf, Pak."
Lionel menghela napas.
"Jangan minta maaf."
Dia kemudian menoleh kepada staf di dekatnya.
"Siapkan mobil."
"Baik, Pak."
Cecilia terkejut.
"Pak, saya bisa pulang sendiri."
"Tidak."
"Saya bisa naik taksi."
"Tidak."
"Saya hanya perlu istirahat."
"Dan saya perlu memastikan Anda tidak mengalami sesuatu yang lebih serius."
Cecilia menatap Lionel.
"Pak ..."
Lionel memandangnya tegas.
"Ke rumah sakit."
"Tapi pekerjaan Bapak ..."
"Pekerjaan saya bisa menunggu."
Cecilia terdiam.
Lionel kemudian membantu Cecilia berjalan menuju lift.
Beberapa karyawan yang melihat mereka mulai berbisik.
"Pak Lionel perhatian sekali."
"Jangan bicara terlalu keras."
Cecilia yang mendengar bisikan itu langsung merasa malu.
"Pak, saya bisa jalan sendiri."
"Saya tahu."
Lionel tetap berada di sampingnya.
"Tapi Anda hampir jatuh dua kali."
Cecilia tidak bisa membantah.
Sesampainya di lantai dasar, mobil Lionel sudah menunggu.
Lionel membantu Cecilia masuk ke kursi belakang.
Kemudian dia ikut masuk.
Cecilia terkejut.
"Bapak ikut?"
Lionel duduk di sebelahnya.
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena Anda sekretaris saya."
Cecilia mengernyit.
"Kalau sekretaris Bapak yang lain sakit, apakah Bapak juga akan ikut ke rumah sakit?"
Lionel terdiam.
Pertanyaan itu membuatnya sedikit salah tingkah.
"Tentu."
Jawabannya terdengar terlalu cepat.
Cecilia tersenyum.
"Begitu ya."
Lionel memalingkan wajah ke jendela. Dia sendiri tidak tahu mengapa begitu melihat Cecilia hampir pingsan, jantungnya berdetak lebih cepat.
Lionel hanya tahu satu hal. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada gadis itu.
Sesampainya di rumah sakit, Cecilia segera diperiksa dokter.
Lionel menunggu di luar ruang pemeriksaan.
Tidak lama kemudian dokter keluar.
"Dokter, bagaimana keadaannya?" tanya Lionel.
"Dia mengalami demam dan kelelahan. Sepertinya kurang istirahat serta kurang makan."
Lionel mengerutkan kening.
"Apakah serius?"
"Untuk saat ini tidak. Tapi dia membutuhkan istirahat yang cukup dan asupan makanan yang baik."
"Berapa lama harus dirawat?"
"Setidaknya beberapa jam untuk observasi. Kalau kondisinya stabil, bisa pulang."
Lionel mengangguk.
"Baik, dokter. Terima kasih."
Lionel masuk ke ruangan Cecilia.
Cecilia sedang berbaring dengan infus terpasang di tangannya.
Ketika melihat Lionel, dia langsung terkejut.
"Bapak masih di sini?"
"Ya."
"Seharusnya Bapak kembali ke kantor."
"Saya sudah meminta wakil direktur menangani rapat."
Cecilia merasa tidak enak.
"Maaf karena membuat pekerjaan Bapak terganggu."
Lionel menarik kursi dan duduk di samping tempat tidur.
"Berhenti meminta maaf."
"Tapi ..."
"Anda sakit bukan karena sengaja."
Cecilia diam.
Lionel kemudian melihat jam tangannya.
"Sudah makan siang?"
Cecilia menggeleng.
"Saya belum lapar."
Lionel langsung berdiri.
"Dokter mengatakan Anda harus makan."
"Tapi saya ..."
"Saya akan membelikan makanan."
Cecilia terkejut.
"Bapak tidak perlu repot."
"Anggap saja ini perintah CEO."
Cecilia tersenyum.
"Kalau perintah CEO, saya harus menurut."
Beberapa menit kemudian Lionel kembali membawa bubur, buah, dan air mineral. Dia meletakkan semuanya di meja kecil.
"Makanlah."
Cecilia mengambil sendok.
"Terima kasih, Pak."
Lionel duduk kembali.
Dia memperhatikan Cecilia makan perlahan.
"Kenapa Anda tidak memberitahu kalau sedang sakit?"
"Saya pikir hanya kelelahan biasa."
"Dan Anda memilih tetap bekerja?"
Cecilia mengangguk.
"Saya baru bekerja. Saya tidak ingin dianggap tidak bertanggung jawab."
Lionel terdiam.
"Kemampuan bekerja bukan berarti Anda harus mengorbankan kesehatan."
Cecilia menatapnya.
"Terima kasih atas perhatiannya."
Lionel segera mengalihkan pandangan.
"Saya hanya tidak ingin kehilangan sekretaris yang kompeten."
Cecilia tertawa.
"Jadi Bapak khawatir kehilangan sekretaris?"
"Benar."
"Karena sulit mencari pengganti?"
Lionel mengangguk.
"Kurang lebih."
Padahal dia tahu jawabannya tidak sepenuhnya benar.
Lionel tidak hanya takut kehilangan sekretaris.
Tapi juga takut kehilangan Cecilia.
Malam mulai tiba.
Cecilia sudah tertidur setelah obat diberikan.
Lionel masih berada di kursi samping tempat tidurnya.
Ponselnya beberapa kali berdering karena urusan perusahaan. Dia menjawab beberapa panggilan dengan suara pelan agar tidak membangunkan Cecilia.
"Ya, kirimkan laporan itu ke email saya."
"Rapat besok tetap berjalan."
"Pastikan semuanya sudah dipersiapkan."
Setelah panggilan berakhir, Lionel kembali memandang Cecilia.
Gadis itu tidur dengan tenang. Wajahnya masih sedikit pucat. Lionel mengambil selimut dan menariknya sedikit lebih tinggi. Dia kemudian memastikan infus Cecilia masih berjalan dengan baik.
Seorang perawat masuk untuk memeriksa kondisi pasien.
"Pak, Anda keluarganya?"
Lionel terdiam.
"Teman kerja."
Perawat tersenyum.
"Jarang ada atasan yang menunggu sampai malam seperti ini."
Lionel hanya tersenyum tipis.
"Dia karyawan penting."
Perawat mengangguk lalu keluar.
Beberapa saat kemudian Cecilia membuka mata.
"Pak Lionel?"
Lionel langsung menoleh.
"Sudah bangun?"
Cecilia melihat jam.
"Sudah malam?"
"Ya."
"Bapak masih di sini?"
"Seperti yang Anda lihat."
Cecilia menatapnya beberapa detik.
"Bapak belum pulang?"
"Belum."
"Kenapa?"
Lionel menjawab seperti biasa.
"Saya sudah bilang. Saya tidak ingin kehilangan sekretaris yang kompeten."
Cecilia tersenyum.
"Terima kasih."
Lionel berdiri.
"Besok Anda tidak perlu masuk kantor."
"Tapi pekerjaan ..."
"Saya akan atur."
"Pak ..."
"Ini bukan permintaan."
Cecilia akhirnya mengangguk.
"Baik."
Lionel mengambil jasnya.
Sebelum keluar, dia menoleh.
"Dan Cecilia."
"Ya?"
"Mulai sekarang, jangan pernah memaksakan diri kalau tubuh Anda sudah memberi tanda."
Cecilia tersenyum lembut.
"Baik, Pak."
Lionel mengangguk lalu keluar. Namun, setelah pintu tertutup, Cecilia masih memandangi pintu tersebut. Dia bisa melihat sisi lain dari pria yang selama ini dianggapnya dingin dan menyebalkan.
Di luar ruangan, Lionel berhenti sejenak. Dia menatap pintu kamar Cecilia. Entah sejak kapan, perhatian kecil terhadap sekretarisnya mulai terasa berbeda.
Lionel kemudian berjalan meninggalkan rumah sakit. Dia masih berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang dilakukannya hanya karena tanggung jawab sebagai seorang CEO.
Namun, jauh di dalam hatinya, Lionel mulai menyadari sesuatu yang tidak ingin diakuinya.
Cecilia mulai menjadi seseorang yang sangat berarti baginya.
