Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3. Kesalahan Yang Membuat Lionel Terkejut

Suasana kantor Lionel Group terasa lebih sibuk daripada biasanya. Beberapa karyawan berjalan cepat membawa dokumen, sementara suara telepon dan ketikan komputer terdengar hampir di setiap sudut lantai tiga puluh dua.

Cecilia tiba lebih awal seperti yang diperintahkan Lionel. Setelah meletakkan tas di kursinya, dia langsung memeriksa agenda sang CEO.

Hari itu Lionel memiliki beberapa pertemuan penting. Salah satunya adalah rapat mengenai proyek properti bernilai sangat besar dengan sebuah perusahaan investasi dari Singapura.

Cecilia membaca jadwal tersebut dengan teliti.

"Pukul sembilan rapat dengan direktur keuangan. Pukul sebelas rapat dengan investor. Pukul satu makan siang dengan Pak Adi dari perusahaan mitra," gumamnya.

Cecilia kemudian melihat tumpukan dokumen yang sudah diletakkan di atas mejanya. Dia mulai memilahnya berdasarkan agenda.

"Kontrak investor, laporan keuangan dan proposal proyek."

Cecilia memasukkan beberapa dokumen ke dalam map berbeda.

Namun, tanpa disadarinya, ada satu map berwarna biru tua yang seharusnya diberikan kepada Direktur Keuangan, bukan kepada Lionel.

Map tersebut berisi dokumen final mengenai kesepakatan pembelian lahan untuk proyek properti baru Lionel Group.

Cecilia tidak menyadari kesalahan itu karena label di bagian depan map hampir sama dengan dokumen lain yang harus dibawa Lionel.

Pukul delapan tiga puluh, Lionel keluar dari ruangannya.

"Dokumen untuk rapat saya sudah siap?"

Cecilia segera berdiri.

"Sudah, Pak. Semuanya ada di sini."

Cecilia menyerahkan beberapa map kepada Lionel. Pria itu menerimanya tanpa memeriksa satu per satu.

"Pastikan tidak ada yang tertinggal."

"Sudah saya periksa dua kali, Pak."

Lionel mengangguk.

"Bagus."

Hari itu Cecilia merasa cukup percaya diri. Dia telah bekerja keras sejak pagi dan yakin semuanya berjalan sesuai rencana.

Namun, sekitar satu jam kemudian, keadaan berubah. Lionel baru saja selesai melakukan rapat internal ketika dia membuka salah satu map biru yang diberikan Cecilia.

Sang ceo membaca halaman pertama.

Kemudian halaman kedua. Ekspresinya berubah.

"Ini apa?"

Lionel memeriksa halaman berikutnya.

Matanya langsung menajam. Dia menekan tombol telepon di mejanya.

"Cecilia, masuk sekarang."

Mendengar nada suara Lionel yang berbeda, Cecilia segera bangkit dari kursinya.

"Baik, Pak."

Gadis itu masuk ke ruang CEO.

"Pak, ada yang bisa saya bantu?"

Lionel mengangkat sebuah dokumen.

"Anda yang menyiapkan semua dokumen ini?"

Cecilia melihat map biru tersebut.

"Iya, Pak."

"Anda sudah memeriksanya?"

"Sudah, Pak."

Lionel meletakkan dokumen itu di meja dengan sedikit keras.

"Kalau sudah diperiksa, mengapa dokumen ini ada di meja saya?"

Cecilia terkejut.

"Dokumen itu ..."

"Ini bukan dokumen untuk saya."

Cecilia mendekat dan membaca halaman pertama. Wajahnya seketika pucat. Dia baru menyadari kesalahannya.

"Maaf, Pak."

"Maaf?"

Suara Lionel terdengar tegas.

"Anda tahu apa isi dokumen ini?"

Cecilia mengangguk pelan.

"Dokumen kesepakatan pembelian lahan proyek Jakarta Selatan."

"Dan seharusnya diberikan kepada siapa?"

Cecilia menelan ludah.

"Kepada Pak Raymond, Direktur Keuangan."

"Benar."

Lionel berdiri dari kursinya.

"Dokumen ini berkaitan dengan transaksi senilai ratusan miliar rupiah. Seharusnya dokumen seperti ini tidak berpindah tangan sembarangan."

"Saya minta maaf, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja."

"Saya tidak membutuhkan kata tidak sengaja."

Cecilia menundukkan kepala.

"Saya mengerti, Pak."

Lionel berjalan mendekati meja.

"Anda mengatakan kemarin bahwa Anda sudah memeriksa semuanya dua kali."

"Iya, Pak."

"Lalu bagaimana kesalahan seperti ini bisa terjadi?"

Cecilia terdiam. Dia bisa saja menyalahkan bagian administrasi karena map tersebut diletakkan di mejanya. Gadis itu bisa mengatakan jika label dokumennya mirip. Namun, Cecilia tahu bahwa keputusan terakhir tetap berada di tangannya.

"Saya yang salah, Pak."

Lionel menatapnya.

"Apa?"

"Saya yang salah karena tidak memeriksa tujuan dokumen tersebut sekali lagi sebelum menyerahkannya kepada Bapak."

Lionel masih menatapnya tajam.

Cecilia melanjutkan,

"Map ini memang diletakkan bersama dokumen yang harus Bapak bawa. Tapi saya seharusnya memeriksa nama penerima dan agenda dokumen tersebut. Saya tidak akan menyalahkan siapa pun."

Lionel terdiam.

Jawaban itu sedikit mengejutkannya.

Biasanya, ketika karyawan melakukan kesalahan, mereka akan mencari alasan atau menunjuk orang lain.

Namun, Cecilia justru mengakui kesalahannya.

"Anda tidak ingin menyalahkan bagian administrasi?" tanya Lionel.

"Tidak, Pak."

"Kenapa?"

"Karena saya yang membawa dokumen itu dari meja administrasi dan memasukkannya ke dalam map Bapak. Kalau saya mengatakan orang lain yang salah, itu tidak akan membuat kesalahan saya menjadi benar."

Lionel tidak langsung menjawab. Dia menatap Cecilia beberapa saat.

Kemudian kembali mengambil dokumen tersebut.

"Kesalahan ini harus diperbaiki."

"Saya akan memperbaikinya sekarang, Pak."

"Bagaimana caranya?"

Cecilia berpikir cepat.

"Saya akan segera menghubungi Pak Raymond dan memastikan dokumen ini sampai kepadanya secara langsung. Setelah itu saya akan memeriksa kembali seluruh dokumen yang sudah didistribusikan hari ini untuk memastikan tidak ada kesalahan lain."

Lionel mengangguk tipis.

"Baik."

Cecilia hendak keluar.

"Cecilia," panggilnya.

Dia berhenti.

"Ya, Pak?"

"Jangan panik."

Cecilia sedikit terkejut mendengar nada suara Lionel yang lebih tenang.

"Baik, Pak."

"Perbaiki kesalahannya."

"Baik."

Cecilia segera keluar.

Dia menghubungi Direktur Keuangan dan menjelaskan apa yang terjadi.

"Pak Raymond, saya Cecilia. Saya meminta maaf karena dokumen kesepakatan proyek tadi masuk ke dalam dokumen Pak Lionel. Seharusnya dokumen tersebut ditujukan kepada Bapak."

"Dokumennya sekarang ada di mana?"

"Di ruang Pak Lionel. Saya akan mengantarkannya sendiri."

"Baik. Terima kasih sudah memberitahu saya."

Cecilia segera membawa dokumen tersebut ke ruang Raymond.

Setelah itu, dia kembali ke mejanya dan memeriksa semua dokumen yang telah disiapkannya pagi tadi.

Satu demi satu. Cecilia memeriksa nama penerima, nomor dokumen, tanggal, tanda tangan, dan agenda rapat.

Hampir satu jam kemudian, semuanya selesai. Cecilia menghela napas lega.

Namun, dia masih merasa bersalah. Gadis itu tahu kesalahan tadi tidak seharusnya terjadi.

Menjelang siang, Lionel keluar dari ruangannya.

"Cecilia."

"Ya, Pak?"

"Masuk sebentar."

Cecilia mengikuti Lionel.

"Dokumen sudah diterima Pak Raymond?" tanya Lionel.

"Sudah, Pak."

"Dan dokumen lainnya?"

"Sudah saya periksa kembali. Tidak ada kesalahan lain."

Lionel duduk di kursinya.

"Baik."

Cecilia berdiri di depannya.

"Pak, saya ingin meminta maaf sekali lagi."

Lionel mengangkat tangan.

"Sudah tidak apa-apa."

Cecilia terdiam.

"Kesalahan sudah diperbaiki."

"Tapi saya ..."

"Yang penting adalah bagaimana Anda menangani kesalahan tersebut."

Cecilia memandang Lionel.

Pria itu biasanya selalu berbicara dengan nada dingin. Namun, kali ini ekspresinya terlihat lebih tenang.

"Anda mengakui kesalahan tanpa menyalahkan orang lain," lanjut Lionel.

"Saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, Pak."

"Tidak semua orang melakukan itu."

Cecilia tersenyum.

"Saya tidak ingin membuat masalah menjadi lebih besar."

Lionel memperhatikannya.

Untuk sesaat, dia teringat beberapa karyawan yang pernah bekerja di bawahnya. Banyak dari mereka memiliki kemampuan tinggi, tapi ketika melakukan kesalahan, mereka sibuk mencari pembenaran.

Cecilia berbeda.

Kemampuannya memang masih harus diasah, tapi kejujurannya membuat Lionel memberikan penilaian baru terhadap perempuan itu.

"Baiklah," kata Lionel.

Cecilia mengangguk.

"Kalau begitu, saya kembali bekerja."

"Tunggu."

Cecilia menoleh.

"Sudah makan siang?"

Cecilia melihat jam.

Pukul dua belas lewat lima belas.

"Belum, Pak."

"Kenapa?"

"Saya ingin menyelesaikan pemeriksaan dokumen tadi."

Lionel menghela napas.

"Pekerjaan bisa menunggu."

Cecilia terdiam.

Lionel mengambil jasnya.

"Ikut saya."

Cecilia membulatkan mata.

"Ke mana, Pak?"

"Makan siang."

"Maaf?"

"Saya bilang makan siang."

Cecilia masih berdiri di tempat.

"Apakah ada rapat makan siang, Pak?"

"Tidak."

"Pertemuan dengan klien?"

"Tidak."

"Berarti ..."

Lionel menatapnya.

"Saya mengajak Anda makan siang."

Cecilia terlihat bingung.

"Berdua, Pak?"

"Memangnya saya mengajak seluruh lantai tiga puluh dua?"

Cecilia langsung salah tingkah.

"Baik, Pak."

Mereka kemudian turun menuju restoran di dalam gedung.

Sepanjang perjalanan, Cecilia merasa canggung. Dia tidak pernah menyangka akan makan siang bersama Lionel tanpa membahas urusan dengan klien.

Mereka duduk di meja yang agak jauh dari keramaian.

Lionel membuka menu.

"Pilih."

Cecilia melihat daftar makanan.

"Yang biasa saja, Pak."

"Apa maksudnya biasa?"

"Yang harganya tidak terlalu mahal."

Lionel mengangkat alis.

"Anda selalu mempertimbangkan harga makanan?"

Cecilia tersenyum malu.

"Saya terbiasa hidup sederhana."

Lionel memperhatikan cara Cecilia memilih makanan.

Akhirnya dia berkata,

"Pesan apapun yang Anda suka."

"Benarkah?"

"Benar."

Cecilia memilih nasi ayam dan teh hangat.

Lionel memesan makanan yang lebih sederhana dari biasanya.

Setelah pelayan pergi, Lionel menyandarkan tubuhnya.

"Saya ingin membicarakan pekerjaan."

Cecilia langsung duduk lebih tegak.

"Baik, Pak."

"Menurut Anda, apa kesulitan terbesar menjadi sekretaris saya?"

Cecilia berpikir sejenak.

"Jadwal Bapak sangat padat."

Lionel mengangguk.

"Selain itu?"

"Banyak dokumen yang harus diperiksa."

"Selain itu?"

Cecilia tersenyum.

"Bapak sering memberikan instruksi secara mendadak."

Lionel menatapnya.

"Jadi saya menyebalkan?"

Cecilia langsung panik.

"Saya tidak mengatakan begitu, Pak."

"Tapi Anda memikirkannya."

Cecilia tidak bisa menahan senyum.

"Mungkin sedikit."

Lagi-lagi, Lionel benar-benar tersenyum tipis.

"Setidaknya Anda jujur."

Cecilia ikut tersenyum.

Percakapan mereka kemudian menjadi lebih santai. Lionel menjelaskan standar kerja yang diinginkannya, sementara Cecilia menyampaikan beberapa cara agar jadwalnya lebih teratur.

"Kalau saya membuat sistem pengelompokan dokumen berdasarkan warna, apakah Bapak keberatan?" tanya Cecilia.

"Jelaskan."

"Misalnya, merah untuk dokumen yang harus ditandatangani hari itu. Biru untuk kontrak yang perlu diperiksa. Hijau untuk laporan internal. Jadi risiko salah mengambil dokumen bisa dikurangi."

Lionel berpikir sebentar.

"Bagus."

Cecilia terlihat lega.

"Berarti saya boleh menerapkannya?"

"Mulai besok."

"Baik, Pak."

Lionel menatap perempuan di hadapannya. Dia mulai menyadari jika Cecilia bukan sekadar sekretaris yang bekerja keras. Gadis itu memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan, kemampuan menemukan solusi, dan kemauan untuk terus belajar.

Sementara Cecilia belum mengetahui jika makan siang sederhana tersebut menjadi titik kecil yang mengubah hubungan mereka.

Bagi Cecilia, Lionel masih seorang CEO yang dingin dan menyebalkan. Namun, hari itu dia melihat sisi lain pria tersebut.

Di balik sikap tegasnya, Lionel ternyata mampu memberikan kesempatan kepada seseorang yang mau belajar dari kesalahannya.

Dan bagi Lionel, sekretaris sederhana dari desa itu mulai menjadi seseorang yang menarik perhatiannya.

Tanpa disadari keduanya, rasa percaya mulai tumbuh perlahan.

Dan dari rasa percaya itulah, sebuah perasaan yang jauh lebih dalam kelak akan tumbuh di antara mereka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel