5. Makan Malam Bersama Rekan Bisnis
Beberapa hari berikutnya. Cecilia telah pulih dan mulai kembali bekerja di Lionel Group.
Tepatnya malam ini, Jakarta dipenuhi cahaya lampu gedung pencakar langit. Jalanan masih ramai meskipun waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Di sebuah restoran mewah di kawasan pusat Jakarta, Lionel duduk di sebuah ruangan privat bersama beberapa orang dari perusahaan mitra.
Di hadapannya duduk seorang wanita cantik dengan gaun elegan berwarna hitam. Rambut panjangnya ditata rapi, dan sebuah kalung berlian menghiasi lehernya. Namanya Meilan.
Meilan adalah putri keluarga konglomerat yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu rekan bisnis utama Keluarga Lionel. Hubungan kedua keluarga itu sudah terjalin sejak generasi sebelumnya.
Namun, malam itu Lionel tidak datang hanya untuk membicarakan bisnis.
Dia sudah menduga akan ada pembicaraan lain yang jauh lebih tidak menyenangkan.
"Sudah lama sekali kita tidak makan malam berdua seperti ini, Lionel," ujar Meilan sambil tersenyum.
Lionel meletakkan gelasnya.
"Kita datang untuk membicarakan kerja sama proyek, Meilan."
Meilan tertawa.
"Kau selalu serius."
"Karena ini makan malam bisnis."
Meilan menopang dagunya dengan satu tangan.
"Bisnis, keluarga, hubungan pribadi. Bukankah semuanya bisa dibicarakan dalam satu meja?"
Lionel menatapnya tanpa ekspresi.
"Aku tidak mengerti maksudmu."
Meilan tersenyum semakin lebar.
"Benarkah?"
Lionel tidak menjawab.
Dia sudah tahu ke mana arah pembicaraan itu.
Beberapa hari terakhir, orang tuanya memang terus membicarakan hubungan antara dirinya dan Meilan. Mereka menganggap pernikahan keduanya akan memperkuat hubungan bisnis dua keluarga.
Bagi Tuan Adrian dan Nyonya Evelyn, kedua orang tua dari Lionel, Meilan adalah calon menantu yang sempurna. Berpendidikan, kaya, memiliki keluarga terpandang dan yang paling penting, memiliki hubungan bisnis yang kuat dengan Lionel Group.
Namun bagi Lionel, semua alasan itu tidak cukup. Dia tidak pernah menyetujui perjodohan tersebut.
"Ayahmu menghubungi ayahku kemarin," kata Meilan tiba-tiba.
Lionel menghela napas pelan.
"Untuk urusan bisnis?"
"Sebagian."
"Sebagian?"
Meilan tersenyum.
"Mereka membicarakan kita."
Tatapan Lionel langsung berubah dingin.
"Aku sudah mengatakan kepada orang tuaku bahwa aku tidak tertarik."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, kenapa kita masih membicarakannya?"
"Karena orang tua kita tidak menganggap masalah itu selesai."
Lionel bersandar pada kursinya.
"Kalau mereka ingin membicarakannya, itu urusan mereka. Bukan berarti aku menyetujuinya."
Meilan menatap Lionel cukup lama.
"Kau benar-benar tidak pernah mempertimbangkan aku?"
"Tidak dalam konteks pernikahan."
Jawaban itu terdengar begitu tegas hingga senyum Meilan perlahan menghilang.
"Kenapa?"
"Aku tidak mencintaimu."
Meilan terdiam.
Lionel mengambil dokumen yang ada di atas meja.
"Kita bisa menjadi rekan bisnis yang baik. Tapi jangan mencampurkan hubungan bisnis dengan pernikahan."
Meilan mengepalkan jarinya di bawah meja.
Dia sudah mengenal Lionel sejak lama.
Lionel selalu seperti itu.
Dingin, tegas, dan sulit ditebak..Namun Meilan yakin suatu hari nanti Lionel akan berubah.
Pintu ruangan privat tiba-tiba diketuk.
"Permisi."
Suara seorang wanita membuat Lionel menoleh. Cecilia berdiri di ambang pintu.
Gadis itu mengenakan blouse putih sederhana dan rok hitam panjang. Rambutnya diikat rapi. Di tangannya terdapat sebuah map berwarna biru.
Lionel sedikit terkejut melihatnya.
"Cecilia?"
Cecilia tersenyum canggung.
"Maaf mengganggu, Pak Lionel."
Meilan langsung memperhatikan wanita itu.
Tatapannya berpindah dari Cecilia kepada Lionel.
"Dia siapa?"
Lionel berdiri.
"Dia sekretarisku."
Cecilia berjalan mendekat.
"Tadi Bapak meminta dokumen kontrak proyek Sudirman dikirimkan malam ini. Saya baru mendapatkan tanda tangan dari bagian legal, jadi saya langsung mengantarkannya."
Lionel menerima map tersebut.
"Kamu datang sendiri?"
"Iya, Pak."
"Seharusnya tidak perlu. Kamu sudah selesai bekerja."
Cecilia tersenyum.
"Saya pikir dokumennya cukup penting."
Lionel membuka map tersebut dan memeriksa isinya.
"Sudah lengkap?"
"Sudah. Saya periksa dua kali."
Lionel mengangguk.
"Bagus."
Satu kata sederhana.
Namun Meilan memperhatikan sesuatu.
Nada suara Lionel kepada Cecilia berbeda.
Tidak sedingin ketika berbicara kepadanya.
Bahkan ketika melihat Cecilia, sorot mata Lionel tampak lebih lembut.
Meilan menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Jadi kau, Cecilia."
Cecilia menoleh.
"Iya, Bu."
"Sudah lama bekerja untuk Lionel?"
"Belum lama. Baru beberapa hari."
Meilan tersenyum.
"Begitu rupanya."
Cecilia mengangguk sopan.
"Kalau begitu saya permisi. Selamat melanjutkan makan malam."
Cecilia hendak berbalik ketika Lionel memanggilnya.
"Cecilia."
Wanita itu berhenti.
"Ya, Pak?"
"Sudah makan malam?"
Cecilia tampak sedikit terkejut.
"Belum."
Lionel melihat jam tangannya.
"Kenapa?"
"Saya pikir setelah mengantarkan dokumen ini saya bisa langsung pulang."
Lionel mengerutkan kening.
"Kau tadi bekerja sampai malam?"
"Iya."
"Dan belum makan?"
Cecilia tersenyum.
"Saya tidak terlalu lapar."
"Jangan membiasakan diri seperti itu."
Cecilia terdiam.
Meilan mengamati percakapan itu dengan penuh perhatian.
Lionel baru saja menegur seorang sekretaris karena belum makan.
Sesuatu yang tidak pernah pria itu lakukan kepadanya.
"Kau pulang setelah makan," ujar Lionel.
Cecilia menggeleng cepat.
"Tidak perlu, Pak. Saya bisa makan di rumah."
Lionel menatapnya.
"Cecilia."
Nada suaranya membuat Cecilia tahu bahwa dia tidak sedang meminta.
"Baik, Pak."
Lionel mengangguk.
"Pesan sesuatu."
Cecilia tampak semakin canggung.
"Di sini?"
"Iya."
"Tapi ini makan malam bisnis Bapak."
"Aku tahu."
Meilan akhirnya ikut berbicara.
"Kalau begitu, biarkan sekretarismu bergabung. Aku tidak keberatan."
Cecilia langsung menggeleng.
"Tidak, Bu. Saya …"
"Kamu bisa duduk di sana," kata Lionel sambil menunjuk kursi kosong yang cukup jauh dari mereka.
Cecilia menurut.
"Baik."
Seorang pelayan dipanggil dan Cecilia memesan makanan sederhana.
Meilan tidak mengatakan apa-apa lagi. Tapi matanya terus mengamati Lionel.
Selama beberapa menit, pembicaraan kembali pada bisnis. Lionel menjelaskan beberapa perubahan dalam kontrak dan proyeksi keuntungan proyek.
Meilan berusaha kembali fokus..Namun sesekali dia melihat ke arah Cecilia.
Sekretaris itu makan dengan tenang sambil membaca beberapa catatan di ponselnya.
Kemudian Lionel tiba-tiba berkata,
"Jangan bekerja sambil makan."
Cecilia mengangkat wajah.
"Saya hanya memeriksa jadwal besok."
"Jadwal besok bisa diperiksa nanti."
Cecilia mengangguk.
"Baik."
Meilan terdiam.
Semakin lama, semakin jelas baginya. Lionel memperhatikan Cecilia. Bukan sekadar sebagai seorang atasan yang memastikan sekretarisnya bekerja dengan baik.
Ada sesuatu yang lain.
Sesuatu yang belum bisa dijelaskan.
Setelah makan malam selesai, para rekan bisnis lain mulai meninggalkan ruangan.
Tersisa Lionel, Meilan, dan Cecilia.
Meilan berdiri.
"Lionel, bagaimana kalau kita pulang bersama?"
Lionel langsung menjawab,
"Aku membawa mobil sendiri."
"Aku bisa ikut."
"Tidak perlu."
Meilan tersenyum.
"Kita searah."
"Aku masih ada pekerjaan."
Meilan menatapnya.
"Jam segini?"
"Beberapa dokumen harus diperiksa."
Cecilia yang mendengar itu segera berdiri.
"Kalau begitu, saya bisa membantu menyiapkan dokumen yang diperlukan, Pak."
Lionel menatapnya.
"Kau seharusnya pulang."
"Saya tidak keberatan."
"Aku yang keberatan."
Cecilia terdiam.
Meilan memandang mereka berdua.
Ada perasaan tidak nyaman yang mulai muncul di dadanya.
Dia mendekati Lionel.
"Kamu sangat memperhatikan sekretarismu."
Lionel menatapnya.
"Dia bekerja dengan baik."
"Sebegitu pentingnya?"
"Dia sekretarisku."
Meilan tersenyum tipis.
"Semoga hanya itu."
Lionel langsung mengerutkan kening.
"Jangan membuat kesimpulan yang tidak perlu."
"Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."
Lionel tidak menjawab.
Meilan kemudian berjalan keluar dari ruangan.
Sebelum pergi, dia menoleh sekali lagi.
Cecilia sedang memasukkan dokumen ke dalam tas.
Lionel berdiri di dekatnya.nPria itu mengambil tas Cecilia ketika melihat wanita itu kesulitan membawa beberapa map.
"Biar aku saja."
Cecilia tampak terkejut.
"Tidak perlu, Pak. Saya bisa."
"Aku bilang biar aku."
Lionel membawa sebagian dokumen tersebut.
Meilan melihat pemandangan itu dari kejauhan. Tangannya mengepal. Dia tidak pernah melihat Lionel bersikap seperti itu kepada wanita lain.
Bahkan kepadanya.
Selama ini Meilan mengira kedekatan keluarga dan hubungan bisnis akan membuat Lionel akhirnya menerimanya.
Namun malam ini dia merasa ada seseorang yang mungkin menghalangi rencana tersebut. Dan orang itu bukan wanita dari keluarga konglomerat.
Bukan pewaris perusahaan besar. Bukan seseorang dari lingkungan elite.
Melainkan seorang sekretaris sederhana bernama Cecilia.
Di dalam mobil, Lionel duduk di kursi belakang sementara Cecilia berada di sampingnya.
Suasana cukup hening.
Cecilia memandangi lampu kota dari balik jendela.
"Pak."
"Ya?"
"Terima kasih sudah mengizinkan saya makan tadi."
"Kau tidak perlu berterima kasih."
Cecilia tersenyum.
"Tetap saja."
Lionel menatapnya.
"Kau harus lebih memperhatikan kesehatanmu."
Cecilia tertawa.
"Bapak terdengar seperti dokter."
"Aku serius."
"Baik, Pak."
Beberapa detik kemudian, Lionel bertanya,
"Besok kau ada jadwal pagi?"
"Ada. Pukul tujuh tiga puluh."
"Datang pukul delapan saja."
Cecilia langsung menoleh.
"Tapi biasanya saya datang lebih awal."
"Besok kau datang pukul delapan."
"Kenapa?"
"Kau pulang terlambat malam ini."
Cecilia tersenyum.
"Baik."
Lionel kembali menatap ke depan.
Namun tanpa disadarinya, sudut bibirnya sedikit terangkat. Dia tidak mengerti mengapa dirinya begitu memperhatikan Cecilia.
Sementara itu, jauh di belakang mereka, Meilan masih memikirkan kejadian malam ini. Dia belum tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara Lionel dan Cecilia.
Tapi Meilan sadar satu hal. Perhatian Lionel kepada Cecilia bukanlah perhatian biasa.
Meilan merasa kehadiran seorang wanita sederhana itu mungkin akan mengubah hubungan yang selama ini dianggapnya sudah menjadi miliknya.
Malam itu menjadi awal dari sebuah persaingan yang belum diketahui Cecilia. Sementara Lionel sendiri belum menyadari jika perhatian kecilnya kepada sang sekretaris perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
