
Ringkasan
Lionel, seorang CEO muda yang tampan, kaya, dan berwibawa, tidak pernah menyangka dirinya akan jatuh cinta kepada Cecilia, perempuan sederhana dari desa yang bekerja sebagai sekretaris pribadinya. Dibalik sikap dingin dan kerasnya, Lionel perlahan menemukan ketulusan, kehangatan, dan keberanian dalam diri Cecilia yang membuat hidupnya berubah. Namun, cinta mereka tidak berjalan mulus. Perbedaan latar belakang membuat kedua orang tua Lionel menentang hubungan tersebut. Mereka menganggap Cecilia tidak pantas mendampingi putranya yang berasal dari keluarga terpandang. Belum lagi Meilan, wanita ambisius yang telah dijodohkan dengan Lionel, tidak rela kehilangan pria yang selama ini diinginkannya. Dengan kecemburuan dan kebencian, Meilan mulai melancarkan teror yang mengancam keselamatan Cecilia. Di tengah tekanan keluarga, fitnah, dan bahaya, Lionel harus membuktikan kesungguhannya. Akankah cinta mereka mampu bertahan menghadapi segala ujian, atau justru hancur sebelum mencapai kebahagiaan yang diimpikan?
1. Sekretaris Baru Sang CEO
Kota Jakarta sudah dipenuhi kendaraan yang berlalu-lalang pagi itu. Suara klakson bersahutan di sepanjang jalan, sementara gedung-gedung pencakar langit berdiri megah di antara hiruk-pikuk ibu kota.
Bagi Cecilia, pemandangan itu masih terasa asing. Gadis yang selama ini tinggal di sebuah desa kecil di Jawa Barat tersebut akhirnya menginjakkan kaki di kota metropolitan dengan membawa harapan besar.
Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di Lionel Group, sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang investasi, properti, dan perdagangan internasional. Ia berhasil mendapatkan posisi sebagai sekretaris pribadi CEO setelah melewati serangkaian wawancara dan tes kemampuan yang cukup ketat.
Cecilia masih tidak percaya bahwa dirinya berhasil diterima.
"Ya Tuhan, semoga hari ini semuanya berjalan lancar," gumamnya sambil menatap gedung tinggi yang berdiri megah di hadapannya.
Gedung Lionel Group memiliki puluhan lantai dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari pagi. Di bagian depan, sebuah papan besar bertuliskan LIONEL GROUP terpampang dengan huruf-huruf berwarna perak.
Cecilia menarik napas panjang. Dia mengenakan blus putih sederhana, rok hitam selutut, dan sepatu hak rendah yang baru dibelinya beberapa hari lalu. Rambut hitam panjangnya diikat rapi menjadi ekor kuda. Tas tangan berwarna cokelat muda menggantung di bahunya.
Penampilannya memang tidak semewah perempuan-perempuan yang berlalu-lalang memasuki gedung tersebut. Namun, Cecilia tidak terlalu memikirkannya. Baginya, kesempatan bekerja di perusahaan besar merupakan sesuatu yang harus disyukuri.
Sebelum berangkat dari indekosnya pagi tadi, ibunya sempat menelepon.
"Cecilia, kamu sudah sampai kantor?" tanya sang ibu melalui telepon.
"Belum, Bu. Aku baru saja sampai di depan gedung."
"Bagaimana gedungnya? Besar sekali, ya?"
Cecilia terkekeh.
"Besar sekali, Bu. Cecilia sampai harus mendongak untuk melihat lantai paling atas."
"Jangan lupa berdoa sebelum mulai bekerja. Ingat, Nak, di manapun kamu berada, jangan pernah merendahkan orang lain dan jangan pernah malu dengan asal-usulmu."
Cecilia tersenyum lembut.
"Iya, Bu. Aku akan ingat."
"Jaga kesehatan. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau ada masalah, ceritakan kepada Ibu."
"Baik, Bu. Aku sayang Ibu."
"Ibu juga sayang kamu."
Setelah mengakhiri panggilan, Cecilia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia kemudian melangkah menuju pintu utama gedung.
Namun, begitu memasuki lobi, langkahnya mendadak terhenti.
Lobi Lionel Group jauh lebih megah daripada yang dibayangkannya. Lantai marmer mengkilap membentang luas, lampu gantung modern menghiasi langit-langit tinggi, dan beberapa orang berpakaian formal berjalan dengan langkah cepat.
Di bagian tengah terdapat meja resepsionis yang cukup besar.
Cecilia mendekat dengan sedikit gugup.
"Permisi, Mbak. Saya Cecilia. Hari ini saya mulai bekerja sebagai sekretaris pribadi Pak Lionel."
Resepsionis yang mengenakan blazer hitam tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Ibu Cecilia. Silakan menuju lantai tiga puluh dua. Kantor CEO berada di sana."
Cecilia mengangguk.
"Baik, Mbak. Terima kasih."
"Silakan menggunakan lift di sebelah kanan. Nanti setelah keluar, Anda bisa langsung menuju meja administrasi."
"Baik. Terima kasih banyak."
Cecilia berjalan menuju deretan lift yang tersedia. Dia menekan tombol dan menunggu pintu terbuka.
Beberapa karyawan masuk bersamanya.
Saat berada di dalam lift, Cecilia memperhatikan tombol-tombol lantai yang begitu banyak. Dia kemudian menekan angka tiga puluh dua.
Lift mulai bergerak naik.
Awalnya, semuanya berjalan lancar.
Namun, ketika pintu terbuka di lantai tiga puluh, beberapa karyawan keluar dan Cecilia tanpa sengaja ikut melangkah keluar karena mengira dirinya sudah sampai.
Gadis itu baru menyadari kesalahannya ketika melihat papan bertuliskan LANTAI 30.
"Aduh! Salah lantai!"
Cecilia segera berbalik, tapi pintu lift sudah tertutup. Dia menghela napas panjang.
"Ya ampun, Cecilia. Baru hari pertama sudah membuat masalah."
Gadis itu mencoba mencari lift lain. Sayangnya, lorong di lantai tersebut bercabang dan memiliki beberapa pintu menuju ruangan yang tampak serupa.
Cecilia berjalan sambil membaca papan petunjuk.
"Ruang direktur keuangan, ruang rapat, ruang administrasi."
Cecilia berhenti di depan sebuah pintu kaca.
"Ini bukan lantai tiga puluh dua, kan?"
Gadis itu memeriksa papan penunjuk sekali lagi. Ternyata, dia malah semakin jauh dari area lift.
Cecilia menggigit bibir bawahnya.
"Bagaimana ini? Aku bisa terlambat."
Gadis itu segera mengeluarkan ponselnya untuk melihat waktu.
Pukul 08.07.
Padahal, dia dijadwalkan mulai bekerja pukul 08.00.
"Astaga!"
Cecilia buru-buru kembali menyusuri lorong. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya dia menemukan lift dan menekan tombol menuju lantai tiga puluh dua.
Ketika pintu lift terbuka, Cecilia langsung berlari kecil menuju meja administrasi.
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahun sedang duduk dibalik meja.
"Maaf, apakah ini ruang sekretaris CEO?"
Perempuan itu mengangkat wajah.
"Benar. Anda Cecilia?"
"Iya, saya Cecilia. Maaf, saya sedikit terlambat karena tadi salah lantai."
Perempuan tersebut memandang jam tangannya.
"Pak Lionel tidak suka keterlambatan. Sebaiknya Anda segera masuk dan memperkenalkan diri."
Cecilia mengangguk cepat.
"Baik. Terima kasih."
Perempuan itu kemudian menunjuk sebuah pintu kayu besar di ujung ruangan.
"Itu ruang kerja Pak Lionel."
Cecilia menelan ludah.
Dia sudah mendengar banyak cerita mengenai Lionel. CEO muda tersebut dikenal sangat disiplin, perfeksionis, dan tidak segan menegur karyawan yang melakukan kesalahan.
Beberapa orang bahkan mengatakan bahwa Lionel jarang tersenyum.
Cecilia berusaha menenangkan dirinya.
"Semoga Beliau tidak terlalu marah," bisiknya.
Dia mengetuk pintu sebanyak tiga kali.
Tok. Tok. Tok.
"Masuk!"
Suara berat seorang pria terdengar dari dalam.
Cecilia membuka pintu perlahan. Ruangan itu sangat luas dan elegan. Dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan gedung-gedung Jakarta. Sebuah meja kerja berwarna hitam mengkilap berada di tengah ruangan, sementara rak buku dan lemari dokumen tertata rapi di sisi dinding.
Di balik meja tersebut duduk seorang pria berpenampilan sangat menarik, Lionel.
Pria itu mengenakan kemeja putih dengan jas hitam yang terpasang sempurna. Rambutnya tertata rapi, rahangnya tegas, dan sepasang mata gelapnya tampak tajam ketika memandang layar laptop.
Dia bahkan tidak langsung mengangkat kepala saat Cecilia memasuki ruangan.
"Anda siapa?" tanyanya singkat.
Cecilia segera berdiri tegak.
"Selamat pagi, Pak. Perkenalkan, nama saya Cecilia. Saya sekretaris pribadi baru Bapak."
Lionel akhirnya mengangkat wajah.
Tatapannya langsung tertuju kepada perempuan muda yang berdiri di hadapannya.
Dia memperhatikan penampilan Cecilia dari atas sampai bawah. Blus putih, rok hitam, sepatu sederhana, serta tas cokelat yang tampak tidak terlalu mahal.
"Anda Cecilia yang direkomendasikan bagian personalia?"
"Benar, Pak."
Lionel melirik jam tangannya.
"Jam berapa sekarang?"
Cecilia terdiam sejenak.
"Delapan lewat lima belas menit, Pak."
"Dan jam berapa seharusnya Anda mulai bekerja?"
"Jam delapan tepat."
Lionel menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Lalu mengapa Anda datang terlambat?"
Cecilia menundukkan kepala sedikit.
"Maaf, Pak. Saya tersesat di gedung ini karena salah turun di lantai tiga puluh."
Lionel mengangkat sebelah alis.
"Tersesat?"
"Iya, Pak."
"Anda tidak membaca petunjuk yang diberikan resepsionis?"
"Saya sudah membacanya, Pak. Namun, tadi saya tidak sengaja keluar dari lift sebelum sampai di lantai tujuan."
Lionel menghela napas pendek.
"Menarik sekali."
Cecilia menggigit bibirnya.
"Saya benar-benar minta maaf, Pak. Ini pertama kalinya saya bekerja di gedung sebesar ini. Saya akan berusaha agar kejadian seperti ini tidak terulang."
Lionel menatapnya beberapa saat.
"Di perusahaan ini, saya tidak menerima alasan. Saya membutuhkan orang yang mampu bekerja secara profesional, bukan seseorang yang harus saya tunggu karena tidak bisa menemukan ruangan sendiri."
Wajah Cecilia memerah karena malu.
"Baik, Pak. Saya mengerti."
"Apakah Anda tahu apa tugas seorang sekretaris pribadi CEO?"
"Menyiapkan jadwal, mengelola dokumen, mengatur pertemuan, menyaring komunikasi, serta membantu memastikan seluruh kegiatan Bapak berjalan sesuai rencana."
"Bagus. Setidaknya Anda sudah membaca deskripsi pekerjaan."
Lionel membuka sebuah map yang terletak di sisi mejanya.
"Mulai hari ini, Anda bertanggung jawab atas seluruh jadwal saya. Tidak boleh ada rapat yang terlewat, dokumen yang salah, atau informasi yang terlambat disampaikan."
"Baik, Pak."
"Dan satu lagi."
Cecilia mengangkat wajah.
"Jangan pernah membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan."
Cecilia mengangguk.
"Baik, Pak."
Lionel kemudian menunjuk sebuah meja kerja yang terletak tidak jauh dari ruangannya, dipisahkan oleh dinding kaca.
"Itu meja Anda. Semua dokumen yang perlu saya tanda tangani harus sudah tersedia sebelum pukul sembilan. Pelajari sistem perusahaan dan jangan mengganggu saya dengan pertanyaan yang jawabannya bisa Anda cari sendiri."
Cecilia kembali mengangguk.
"Baik, Pak Lionel."
Dia berbalik hendak keluar. Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara Lionel kembali terdengar.
"Cecilia."
Gadis itu langsung menoleh.
"Ya, Pak?"
"Besok datang tiga puluh menit lebih awal."
Cecilia tertegun.
"Tiga puluh menit lebih awal?"
"Apakah saya perlu mengulanginya?"
"Tidak, Pak. Saya mengerti."
"Silakan bekerja."
Cecilia segera keluar dari ruangan tersebut.
Begitu pintu tertutup, diw menghembuskan napas panjang.
"Ya Tuhan, bos macam apa itu?" gumamnya pelan.
Cecilia berjalan menuju meja kerjanya sambil menggelengkan kepala.
"Tampan memang tampan, tapi dinginnya seperti es di kutub."
Tanpa disadari Cecilia, Lionel yang berada di dalam ruangannya sempat melihat perempuan itu melalui dinding kaca.
Pria itu mengernyitkan dahi.
"Apa yang dia gumamkan?"
Lionel kembali menatap laptopnya, tapi entah mengapa wajah sekretaris barunya terus terbayang.
Bukan karena penampilannya yang sederhana. Melainkan karena keberaniannya mengakui kesalahan tanpa mencari alasan lain.
Sementara itu, Cecilia mulai menyalakan komputer dan memeriksa dokumen yang telah disiapkan bagian personalia. Dia berusaha mengabaikan rasa gugupnya dan fokus pada pekerjaan.
Beberapa menit kemudian, telepon meja berdering.
Cecilia segera mengangkatnya.
"Selamat pagi, ruang sekretaris CEO. Dengan Cecilia."
"Siapkan kopi hitam tanpa gula. Saya ingin sekarang."
Suara Lionel terdengar dari seberang.
"Baik, Pak. Apakah ada permintaan khusus untuk kopinya?"
"Tidak perlu banyak bertanya. Anda seharusnya tahu bagaimana menyiapkan kopi."
Sambungan terputus.
Cecilia memandang gagang telepon dengan mulut sedikit terbuka.
"Bagaimana aku bisa tahu selera kopi Beliau kalau baru pertama kali bertemu?"
Gadis itu menghela napas, kemudian berdiri untuk mencari pantry.
Setelah menemukan mesin kopi, Cecilia mulai menyiapkan minuman sesuai permintaan Lionel. Namun, dia tidak mengetahui jenis biji kopi yang biasa digunakan sang CEO.
Akhirnya, Cecilia memilih kopi hitam yang tersedia dan memastikan tidak menambahkan gula.
Dengan hati-hati, Cecilia membawa secangkir kopi menuju ruang kerja Lionel.
"Permisi, Pak. Kopinya sudah siap."
Lionel tidak mengangkat kepala.
"Letakkan di meja."
Cecilia meletakkan cangkir tersebut di sisi kanan meja kerja.
"Apakah ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?"
"Tidak."
"Baik, Pak. Kalau begitu, saya kembali bekerja."
Cecilia baru melangkah dua langkah ketika Lionel tiba-tiba memanggilnya.
"Cecilia."
Gadis itu kembali berbalik.
"Ya, Pak?"
Lionel mengangkat cangkir dan menyesap sedikit kopi tersebut.
Wajahnya langsung berubah.
"Ini kopi apa?"
Cecilia terkejut.
"Kopi hitam, Pak."
"Saya tahu ini kopi hitam. Maksud saya, jenis kopinya."
"Maaf, Pak. Saya belum mengetahui jenis kopi yang biasa Bapak minum."
Lionel meletakkan cangkirnya.
"Anda bahkan tidak bertanya kepada staf pantry?"
Cecilia terdiam.
"Maaf, Pak. Saya pikir kopi hitam biasa sudah cukup."
Lionel menatapnya tajam.
"Jangan berpikir sok tahu. Kalau Anda tidak tahu sesuatu, cari tahu sebelum mengambil keputusan."
"Baik, Pak. Saya akan menggantinya."
"Sudah terlambat. Saya tidak membutuhkan kopi lagi."
Cecilia menundukkan kepala.
"Maaf, Pak."
Gadis itu keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk.
Hari pertama saja sudah membuatnya ditegur berkali-kali. Namun, Cecilia tidak ingin menyerah hanya karena memiliki atasan yang sulit dihadapi.
Dia teringat pesan ibunya sebelum berangkat ke Jakarta.
“Jangan pernah malu dengan asal-usulmu. Bekerjalah dengan jujur dan lakukan yang terbaik.”
Cecilia menarik napas panjang, lalu kembali duduk di depan komputernya.
"Aku pasti bisa," bisiknya menyemangati diri sendiri.
Dari balik dinding kaca, Lionel sesekali melirik sekretaris barunya yang terlihat serius mempelajari dokumen.
Entah mengapa, dia merasa perempuan itu cukup menarik untuk diperhatikan.
Namun, Lionel segera mengalihkan pandangannya. Baginya, Cecilia hanyalah sekretaris baru yang harus membuktikan kemampuannya.
Lionel belum tahu bahwa gadis sederhana dari desa tersebut suatu hari akan menjadi perempuan yang paling penting dalam hidupnya.
