Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Bos Yang Dingin Dan Menyebalkan

Pagi kedua Cecilia bekerja di Lionel Group dimulai jauh lebih awal daripada hari sebelumnya.

Pukul tujuh kurang seperempat, Cecilia sudah berdiri di depan gedung pencakar langit tempatnya bekerja. Dia sengaja datang lebih awal karena masih teringat pesan Lionel kemarin.

“Datang tiga puluh menit lebih awal.”

Cecilia tidak ingin kembali mendapat teguran hanya karena terlambat.

Dia menarik napas panjang sebelum memasuki gedung.

"Baiklah, Cecilia. Hari ini tidak boleh ada kesalahan," gumamnya kepada diri sendiri.

Begitu tiba di lantai tiga puluh dua, Cecilia langsung menuju meja kerjanya. Ia menyalakan komputer dan mulai memeriksa jadwal Lionel yang sudah dikirimkan bagian administrasi.

Matanya langsung membesar.

"Astaga ..."

Dalam satu hari, Lionel memiliki enam jadwal rapat.

Pukul delapan tiga puluh dengan tim keuangan.

Pukul sepuluh dengan calon investor.

Pukul sebelas tiga puluh makan siang bersama direktur perusahaan mitra.

Pukul satu siang rapat internal.

Pukul tiga sore pertemuan dengan tim proyek properti.

Dan pukul lima sore pertemuan dengan salah satu klien dari Singapura melalui konferensi video.

Cecilia mengusap dahinya.

"Bagaimana mungkin satu orang bisa punya jadwal sebanyak ini?"

Belum sempat dia memeriksa dokumen lainnya, telepon di mejanya berdering.

Cecilia segera mengangkatnya.

"Selamat pagi, ruang sekretaris CEO. Cecilia berbicara."

"Siapkan dokumen kontrak kerja sama dengan Armand Property."

Suara Lionel terdengar dari seberang.

"Baik, Pak."

"Dan saya ingin laporan keuangan kuartal terakhir berada di meja saya sebelum rapat pukul delapan tiga puluh."

Cecilia melirik jam.

Pukul tujuh lewat lima puluh.

Dia terdiam.

"Pak, maaf. Untuk laporan keuangan ..."

"Kenapa?"

"Saya belum menerima dokumennya dari bagian keuangan."

"Kalau begitu, hubungi mereka."

"Baik, Pak."

Sambungan telepon berakhir.

Cecilia menghembuskan napas.

"Bos yang satu ini benar-benar tidak memberi kesempatan untuk bernapas."

Dia segera menghubungi bagian keuangan.

"Selamat pagi. Saya Cecilia, sekretaris Pak Lionel. Saya membutuhkan laporan keuangan kuartal terakhir untuk rapat pagi ini."

"Tapi laporan itu belum selesai ditandatangani direktur keuangan," jawab seorang staf.

"Apakah bisa saya mendapatkan versi terakhirnya terlebih dahulu?"

"Sebenarnya ..."

"Tolong. Ini permintaan langsung dari Pak Lionel."

Staf tersebut terdengar gugup.

"Baik, saya kirimkan lima menit lagi."

"Terima kasih."

Cecilia segera menutup telepon dan beralih ke dokumen kontrak.

Dia membaca halaman demi halaman dengan teliti.

Ada beberapa bagian yang harus diberi tanda untuk Lionel. Cecilia membuat catatan kecil pada halaman yang membutuhkan tanda tangan dan memastikan seluruh lampiran tersedia.

Tidak lama kemudian, sebuah surel masuk.

Laporan keuangan yang dimintanya telah diterima. Cecilia segera mencetaknya.

Namun, ketika baru selesai mencetak, pintu ruang CEO terbuka.

Lionel keluar dengan wajah serius.

"Dokumennya mana?"

Cecilia langsung berdiri.

"Sudah, Pak. Ini laporan keuangan dan dokumen kontrak yang Bapak minta."

Lionel mengambil dokumen tersebut. Dia membuka laporan keuangan dan memeriksanya sekilas.

"Kenapa bagian ini belum diberi penanda?"

Cecilia melihat halaman yang ditunjuk Lionel.

"Bagian mana, Pak?"

"Halaman tiga puluh dua."

Cecilia mendekat.

Lionel menunjuk sebuah angka pada laporan.

"Ini angka yang harus saya perhatikan sebelum rapat. Kalau saya harus mencarinya sendiri, untuk apa saya memiliki sekretaris?"

Cecilia terdiam.

"Maaf, Pak. Saya akan memperbaikinya."

"Jangan hanya memperbaiki. Pelajari."

"Baik, Pak."

Lionel menyerahkan dokumen itu kembali.

"Saya beri waktu lima menit."

"Lima menit?"

Lionel menatapnya.

"Apakah terlalu lama?"

Cecilia menggeleng cepat.

"Tidak, Pak."

"Bagus."

Lionel kembali masuk ke ruangannya.

Cecilia segera duduk dan membuka dokumen tersebut. Dia menandai bagian penting, membuat catatan singkat, lalu mencetak ulang halaman yang diperlukan.

Lima menit kemudian, gadis itu mengetuk pintu.

"Masuk."

Cecilia menyerahkan dokumen.

"Sudah saya perbaiki, Pak."

Lionel memeriksanya.

Kali ini dia tidak mengatakan apa-apa.

"Baik."

Hanya satu kata.

Namun, bagi Cecilia, itu sudah cukup. Dia kembali ke mejanya.

Belum sempat duduk dengan nyaman, telepon kembali berdering.

"Ya, Pak?"

"Cecilia, saya ingin jadwal rapat dengan investor dimajukan tiga puluh menit."

Cecilia langsung membuka kalender.

"Baik, Pak. Tapi pukul sembilan tiga puluh masih ada rapat dengan tim legal."

"Batalkan."

"Baik."

"Dan pindahkan rapat tim legal ke pukul empat."

Cecilia terdiam.

"Pukul empat ada pertemuan dengan tim proyek properti, Pak."

"Kalau begitu pindahkan ke besok."

"Besok pukul sepuluh Bapak ada ..."

"Cecilia."

"Ya, Pak?"

"Anda sekretaris saya atau pengingat jadwal saya?"

Cecilia menahan napas.

"Sekretaris, Pak."

"Kalau begitu, atur semuanya."

"Baik."

Sambungan kembali terputus.

Cecilia menatap kalender digitalnya.

"Kalau begini terus, aku bisa botak sebelum akhir bulan."

Seorang staf yang kebetulan lewat menahan tawa.

Cecilia menoleh.

"Kenapa?"

"Maaf, Bu Cecilia. Saya cuma ..."

"Pak Lionel memang selalu seperti itu?"

Staf tersebut mengangguk hati-hati.

"Beliau terkenal perfeksionis."

"Perfeksionis?"

"Kalau dokumen salah satu angka saja, bisa dikembalikan."

Cecilia menghela napas.

"Pantas."

"Semangat, Bu."

"Terima kasih. Saya sepertinya memang membutuhkannya."

Sepanjang pagi, Cecilia benar-benar dibuat kewalahan. Dia harus menghubungi berbagai departemen, mengatur ulang jadwal, menyiapkan dokumen kontrak, menghubungi klien, memesan ruang rapat, sekaligus memastikan semua kebutuhan Lionel tersedia.

Pukul sepuluh kurang lima, seorang staf dari bagian legal datang dengan membawa dokumen.

"Bu Cecilia, Pak Lionel meminta kontrak revisi."

Cecilia mengambilnya.

"Terima kasih."

Dia membuka dokumen tersebut.

Namun, ada satu halaman yang belum ditandatangani.

"Sebentar. Ini belum lengkap."

Staf itu terlihat panik.

"Benarkah?"

"Iya. Halaman ini belum ada paraf."

"Kalau begitu saya kembali ke bagian legal."

"Tidak perlu. Saya akan menghubungi mereka."

Cecilia segera menelepon bagian legal.

Tidak lama kemudian, dokumen lengkap dikirim kembali.

Dia memeriksa semuanya dua kali sebelum menyerahkannya kepada Lionel.

Ketika memasuki ruang CEO, Lionel sedang berbicara melalui telepon.

Cecilia menunggu di dekat pintu.

Beberapa menit kemudian, Lionel mengakhiri panggilan.

"Dokumen kontraknya?"

Cecilia menyerahkannya.

"Sudah saya periksa, Pak. Semua halaman lengkap."

Lionel membukanya.

Dia membaca beberapa bagian dengan cepat.

Kemudian berhenti.

"Cecilia."

"Ya, Pak?"

"Kenapa Anda memberi tanda di bagian ini?"

"Karena ada klausul mengenai penalti yang menurut saya perlu Bapak perhatikan sebelum menandatangani."

Lionel menatapnya.

"Anda membaca kontrak ini?"

"Ya, Pak."

"Semuanya?"

"Ya."

"Anda mengerti isinya?"

Cecilia mengangguk.

"Sebagian besar."

Lionel kembali membaca bagian yang diberi tanda.

"Kenapa menurut Anda klausul ini perlu diperhatikan?"

Cecilia menjelaskan dengan hati-hati.

"Karena jika pihak mitra terlambat memenuhi kewajibannya, perusahaan kita bisa menanggung biaya tambahan. Saya pikir sebaiknya bagian itu dinegosiasikan kembali."

Lionel diam.

Cecilia mulai merasa gugup.

"Apakah saya salah, Pak?"

"Tidak."

Cecilia terkejut.

Lionel menutup dokumen.

"Pendapat Anda benar."

Cecilia tersenyum.

"Terima kasih, Pak."

"Jangan senang dulu."

Senyumnya langsung menghilang.

Lionel melanjutkan, "Mulai sekarang, semua kontrak yang masuk ke meja saya harus Anda baca terlebih dahulu."

"Baik, Pak."

"Kalau menemukan sesuatu yang mencurigakan, beri tanda."

"Baik."

Lionel kembali bekerja.

Cecilia berbalik hendak keluar.

"Cecilia."

Dia kembali menoleh.

"Ya, Pak?"

"Kerja bagus."

Cecilia terdiam.

Itu pertama kalinya Lionel memujinya.

"Terima kasih, Pak."

Cecilia keluar dengan perasaan sedikit lebih ringan.

Namun, pekerjaan belum selesai.

Pukul dua belas siang, Lionel meminta Cecilia menyiapkan materi presentasi tambahan untuk rapat sore.

"Pak, materi presentasi sudah selesai."

"Tambahkan proyeksi tiga tahun."

"Baik."

"Dan data perkembangan proyek di Jakarta Selatan."

"Baik."

"Juga perbandingan dengan proyek kompetitor."

Cecilia mencatat semuanya.

"Ada lagi, Pak?"

Lionel berpikir sebentar.

"Ya."

Cecilia menunggu.

"Jangan salah."

Cecilia hampir menghela napas.

"Baik, Pak."

Dia kembali bekerja. Waktu berjalan begitu cepat.

Pukul empat sore, seluruh pekerjaan yang diberikan Lionel telah selesai. Cecilia memeriksa setiap dokumen berkali-kali. Diw memastikan angka, tanggal, nama perusahaan, dan jadwal rapat tidak ada yang keliru.

Ketika jam menunjukkan pukul lima, Lionel keluar dari ruangannya.

"Materi presentasinya, mana?"

Cecilia menyerahkannya.

"Sudah saya siapkan."

Lionel membolak-balik beberapa halaman.

Dia memeriksa grafik.

Kemudian memeriksa dokumen pendukung.

Satu menit. Dua menit.

Cecilia berdiri diam.

Akhirnya Lionel mengangkat kepala.

"Anda menyelesaikan semuanya?"

"Ya, Pak."

"Termasuk perubahan jadwal?"

"Sudah."

"Rapat legal dipindahkan ke pukul empat besok."

"Benar."

"Investor sudah dikonfirmasi?"

"Sudah."

"Klien Singapura?"

"Sudah saya kirimkan tautan konferensinya."

Lionel terdiam. Dia kembali melihat tumpukan dokumen di tangannya.

Kemarin Lionel mengira Cecilia hanya seorang gadis sederhana yang belum terbiasa dengan lingkungan perusahaan besar.

Hari ini, sang CEO mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Cecilia memang masih perlu belajar. Namun, gadis itu tidak mudah menyerah.

Bahkan setelah berkali-kali ditegur, Cecilia tidak menunjukkan sikap malas ataupun marah. Ia justru berusaha memperbaiki kesalahannya.

"Anda belum pulang?" tanya Lionel.

Cecilia melihat jam.

"Pekerjaan saya sudah selesai, Pak. Saya tinggal memastikan semuanya benar."

Lionel mengangguk.

"Bagus."

Cecilia memberanikan diri bertanya.

"Pak, boleh saya mengatakan sesuatu?"

"Katakan."

"Apakah Bapak selalu memberikan pekerjaan sebanyak ini kepada sekretaris baru?"

Lionel menatapnya.

"Kenapa?"

"Saya hanya penasaran."

"Ini ujian."

Cecilia membulatkan mata.

"Ujian?"

"Ya."

"Jadi semua pekerjaan tadi memang sengaja diberikan untuk menguji saya?"

Lionel mengangguk.

"Saya ingin tahu apakah Anda mampu bekerja di bawah tekanan."

Cecilia menarik napas panjang.

"Kalau begitu, apakah saya lulus?"

Lionel menatapnya beberapa detik.

Kemudian berkata dengan nada datar,

"Belum."

Wajah Cecilia langsung cemberut.

"Belum?"

"Anda masih sering bertanya."

Cecilia menahan kesal.

"Tapi saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan Bapak."

"Benar."

"Dan tidak ada yang terlambat."

"Benar."

"Jadi kenapa belum lulus?"

Sudut bibir Lionel bergerak sedikit.

Hampir seperti senyum.

"Karena saya baru mengenal Anda dua hari."

Cecilia terdiam.

Lionel mengambil jasnya.

"Besok saya akan memberikan tugas yang lebih sulit."

Cecilia membelalakkan mata.

"Lebih sulit lagi?"

"Ya."

Lionel berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, dia berhenti dan menoleh.

"Dan Cecilia."

"Ya, Pak?"

"Datanglah besok seperti hari ini. Jangan terlambat."

Cecilia tersenyum.

"Baik, Pak Lionel."

Lionel mengangguk lalu pergi.

Cecilia memperhatikannya sampai pria itu menghilang di balik pintu lift. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke kursi.

"Bos dingin dan menyebalkan."

Namun, setelah mengingat pujian Lionel tadi, senyum manis muncul di wajahnya.

"Setidaknya dia ternyata bisa memuji juga."

Di dalam lift, Lionel berdiri sendirian sambil memikirkan sekretaris barunya. Cecilia bukan perempuan yang mudah menyerah. Dia memiliki ketelitian, keberanian, dan kemauan belajar.

Lionel tidak menyangka bahwa seorang gadis yang datang dari desa dengan pakaian sederhana mampu bertahan menghadapi tekanan pekerjaannya.

Lionel sepertinya mulai merasa penasaran pada seseorang. Dan tanpa disadarinya, rasa penasaran itu perlahan menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel