Bab 4: Dia Adalah Wanita Yang Seharusnya Berada Di Posisimu
Dia adalah wanita yang seharusnya berada di posisimu sekarang jika saja kakekku tidak bertindak sangat gila dengan memilihmu sebagai korbannya. Devan mengucapkan kalimat itu dengan nada suara yang sangat datar namun mengandung tekanan yang mampu menghimpit dada Nara hingga terasa sesak. Lelaki itu kemudian memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela mobil sambil mengepalkan tangannya kuat kuat di atas pangkuan.
Mobil mewah tersebut melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan kapel tua yang menjadi saksi bisu pernikahan rahasia mereka yang sangat dingin. Nara hanya bisa terdiam membeku sambil meremas jemarinya sendiri yang mulai terasa sangat dingin akibat pendingin ruangan yang sangat menusuk kulit. Ia merasa seperti seorang pencuri yang baru saja merampas kebahagiaan orang lain meskipun ia sendiri adalah korban dari situasi ini.
"Apakah kau mencintainya hingga dia berani mengejar kita sampai ke tempat terpencil seperti ini?" tanya Nara dengan suara yang sangat pelan dan gemetar.
Devan tidak segera menjawab pertanyaan tersebut melainkan ia menarik napas panjang yang terdengar sangat berat dan penuh dengan beban pikiran. Ia menoleh ke arah Nara dengan tatapan mata yang sangat tajam seolah-olah ingin menembus langsung ke dalam jantung gadis yang ada di sampingnya. Semburat kemarahan masih terlihat jelas pada garis wajahnya yang tegas dan tampak sangat kaku seperti batu karang.
"Cinta tidak ada hubungannya dengan pernikahan ini karena bagiku semuanya hanyalah tentang kekuasaan dan harta warisan semata," jawab Devan dengan nada yang sangat meremehkan.
Nara merasa hatinya seperti tertusuk duri yang sangat tajam saat mendengar pengakuan yang sangat jujur namun sangat menyakitkan dari bibir suaminya sendiri. Ia menyadari bahwa keberadaannya di rumah Devan nantinya hanyalah sebagai pajangan atau benda mati yang tidak memiliki nilai sama sekali. Air mata yang sempat mengering kini mulai menggenang kembali di pelupuk matanya namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak membiarkannya jatuh.
"Jika demikian kenapa kau harus menahan tangannya saat dia ingin menyerangku tadi?" tanya Nara lagi dengan penuh rasa penasaran yang mendalam.
Lelaki itu tertawa sinis sambil menyandarkan punggungnya pada kursi kulit yang sangat empuk di dalam mobil tersebut. Ia memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan gejolak emosi yang terus menerus menghantam dinding kesabarannya sejak acara pernikahan dimulai. Devan merasa sangat lelah harus berhadapan dengan drama yang diciptakan oleh kakeknya dan juga kehadiran Siska yang sangat tiba tiba.
"Aku hanya tidak ingin ada berita skandal yang muncul di hari pertama pernikahan kita karena itu akan merusak citra perusahaan," tegas Devan tanpa membuka matanya.
Mobil akhirnya memasuki gerbang sebuah rumah besar yang sangat megah dengan penjagaan yang sangat ketat di setiap sudutnya. Nara menatap bangunan yang sangat luas itu dengan perasaan yang bercampur aduk antara kagum dan juga rasa takut yang sangat luar biasa. Ia tahu bahwa mulai detik ini kebebasannya telah dirampas sepenuhnya dan ia harus hidup di bawah aturan ketat milik keluarga Devan.
Mereka berdua turun dari mobil dan langsung disambut oleh barisan pelayan yang menunduk dengan sangat hormat di depan pintu utama. Namun suasana rumah yang seharusnya hangat menyambut pengantin baru itu justru terasa sangat dingin dan mencekam seperti sebuah pemakaman. Tidak ada ucapan selamat atau senyuman tulus yang terlihat dari wajah wajah orang yang berdiri di sepanjang koridor menuju ruang tengah.
"Bawa nona Nara ke kamar tamu di lantai dua dan jangan biarkan dia keluar tanpa izinku!" perintah Devan kepada salah seorang kepala pelayan.
Nara tersentak kaget karena ia menyangka akan menempati kamar yang sama dengan suaminya meskipun mereka tidak saling mencintai. Namun ia justru merasa sedikit lega karena ia belum siap untuk berbagi ruang pribadi dengan lelaki yang terus menerus menghinanya. Ia mengikuti langkah kaki pelayan tua itu menuju tangga besar yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi dan sangat mengkilap.
Saat ia sampai di depan pintu kamar tamu yang sangat mewah tersebut Nara melihat seorang wanita paruh baya sedang berdiri dengan angkuh. Wanita itu mengenakan perhiasan berlian yang sangat mencolok dan menatap Nara dengan pandangan yang sangat tidak bersahabat sejak awal. Ia adalah ibu kandung Devan yang sejak awal memang sangat menentang perjodohan yang dilakukan oleh sang kakek kepada anak tunggalnya.
"Jadi kau adalah gadis yang sudah menghancurkan masa depan anakku dengan rayuan busukmu itu?" tanya wanita itu dengan nada yang sangat pedas.
Nara hanya bisa menundukkan kepalanya dalam dalam tanpa berani membalas perkataan wanita yang kini telah menjadi ibu mertuanya tersebut. Ia merasa seperti sedang diadili oleh seluruh anggota keluarga besar ini tanpa diberikan kesempatan sedikit pun untuk membela dirinya sendiri. Rasa lelah yang sangat hebat mulai menyerang seluruh tubuhnya hingga ia merasa ingin segera menghilang dari tempat yang penuh dengan kebencian ini.
"Aku tidak pernah merayu siapa pun dan aku hanya menjalankan perintah yang tertulis di dalam surat wasiat tersebut," jawab Nara dengan suara yang hampir menghilang.
Ibu Devan melangkah mendekat ke arah Nara lalu membisikkan sesuatu yang sangat mengerikan tepat di telinga gadis malang yang sedang ketakutan itu. Kata kata tersebut seolah-olah menjadi sebuah janji buruk yang akan menghantui setiap malam Nara selama ia tinggal di rumah besar yang menyerupai penjara ini. Nara merasakan sekujur tubuhnya bergetar hebat dan ia hampir saja kehilangan keseimbangan jika tidak berpegangan pada gagang pintu kamar.
"Jangan pernah berharap kau akan keluar dari rumah ini dalam keadaan yang masih bernyawa jika kau berani menyentuh harta milik anakku!"
