Bab 3: Gaun Itu Terasa Sangat Dingin Saat Menyentuh Kulitnya
Gaun itu terasa sangat dingin saat menyentuh kulitnya seolah-olah pakaian itu terbuat dari butiran salju yang membeku secara abadi. Nara menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan tatapan yang sangat asing karena ia merasa seperti melihat orang lain yang sedang menyamar. Riasan wajah yang sangat tebal tidak mampu menyembunyikan gurat gurat kesedihan yang terpancar jelas dari kedua bola matanya yang indah.
Pintu rumahnya diketuk dengan sangat keras hingga ia tersentak kaget dan hampir saja menjatuhkan tas kecil yang sedang ia pegang. Dua orang lelaki berbadan besar dengan setelan hitam sudah berdiri di sana untuk menjemputnya menuju ke tempat pelaksanaan janji suci tersebut. Wajah mereka berdua tampak sangat datar tanpa ekspresi sedikit pun seolah-olah mereka adalah mesin yang hanya menjalankan perintah atasan.
"Tuan muda Devan sudah menunggu Anda di dalam mobil dan kami diperintahkan untuk segera membawa Anda pergi sekarang juga," ujar salah satu lelaki itu dengan nada bicara yang kaku.
Nara hanya bisa mengangguk pelan sambil melangkah keluar dari rumah mungilnya dengan hati yang terasa sangat berat sekali. Ia melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam legam sudah terparkir tepat di depan pagar rumahnya yang mulai berkarat. Aroma kemewahan yang sangat menyengat langsung menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya saat pintu mobil tersebut dibukakan untuknya.
Di dalam mobil itu Devan duduk dengan posisi menyandar sambil memejamkan kedua matanya dengan raut wajah yang tampak sangat lelah. Ia sama sekali tidak menoleh atau menyapa Nara saat gadis itu duduk di sampingnya dengan jarak yang cukup jauh. Keheningan di dalam kendaraan tersebut terasa sangat menyiksa hingga detak jarum jam tangan Devan terdengar sangat nyaring.
"Jangan pernah berpikir bahwa pernikahan ini akan menjadi awal dari dongeng indah untuk kehidupanmu yang menyedihkan itu," ucap Devan tanpa membuka matanya sedikit pun.
Nara merasa dadanya sesak seperti dihantam oleh bongkahan batu yang sangat besar setelah mendengar ucapan ketus dari calon suaminya itu. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela untuk melihat deretan pepohonan yang berlari dengan sangat cepat meninggalkan dirinya di belakang. Air mata yang sudah ia bendung sejak tadi pagi kini mulai jatuh satu demi satu membasahi kain gaun pengantinnya yang sangat mahal.
"Aku juga tidak pernah meminta untuk berada di posisi yang sangat sulit ini jika kau ingin tahu yang sebenarnya," balas Nara dengan suara yang sangat lirih.
Devan membuka matanya dengan seketika lalu menatap Nara dengan pandangan yang penuh dengan kobaran api kemarahan yang sangat dahsyat. Ia mencengkeram lengan Nara dengan sangat kuat hingga gadis itu merintih kesakitan karena tenaga lelaki itu sangat tidak sebanding dengannya. Lelaki itu seolah-olah ingin menumpahkan seluruh beban frustrasinya kepada wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Tutup mulutmu dan simpan air mata palsu itu untuk kau tunjukkan di depan para saksi nanti agar mereka merasa iba kepadamu!" bentak Devan dengan nada yang sangat rendah.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah kapel tua yang terletak di pinggiran kota yang sangat sepi dan jauh dari keramaian manusia. Tidak ada pesta mewah atau bunga-bunga indah yang menghiasi jalan masuk menuju ke tempat di mana mereka akan mengikat janji sehidup semati. Hanya ada beberapa orang pengawal dan seorang pendeta tua yang sudah menunggu kedatangan mereka dengan raut wajah yang sangat tenang.
Prosesi pernikahan itu berlangsung dengan sangat cepat dan terasa sangat hambar seolah-olah mereka hanya sedang membacakan naskah drama yang sangat buruk. Devan mengucapkan janji sucinya dengan suara yang sangat datar tanpa ada getaran emosi sedikit pun di dalam setiap kata yang ia ucapkan. Begitu pula dengan Nara yang menjawab dengan suara yang nyaris tidak terdengar karena tenggorokannya terasa sangat kering dan tersumbat.
"Sekarang kalian berdua telah resmi menjadi pasangan suami dan istri di mata hukum dan juga di hadapan tuhan," ujar pendeta itu sambil menutup kitab sucinya.
Tanpa menunggu arahan lebih lanjut Devan langsung membalikkan badannya dan melangkah pergi meninggalkan Nara yang masih berdiri mematung di depan altar. Ia tidak sedikit pun berniat untuk menggandeng tangan istrinya atau memberikan kecupan formalitas di kening sebagaimana pengantin pada umumnya. Bagi Devan acara ini hanyalah sebuah transaksi bisnis yang sangat memuakkan yang harus segera ia selesaikan agar ia bisa kembali bekerja.
Nara berjalan perlahan mengikuti langkah Devan dari belakang sambil mengangkat sedikit ujung gaunnya agar tidak kotor terkena debu jalanan. Namun saat ia hendak masuk kembali ke dalam mobil sebuah mobil lain berwarna perak tiba tiba berhenti dengan sangat mendadak tepat di belakang mereka. Seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat modis keluar dari mobil tersebut sambil berlari kecil ke arah Devan dengan wajah yang sangat panik.
"Devan katakan kepadaku bahwa berita tentang pernikahan rahasia ini adalah sebuah kebohongan besar yang dilakukan oleh musuhmu!" teriak wanita itu dengan suara yang melengking.
Devan menghentikan langkahnya dengan seketika dan tubuhnya tampak sangat kaku saat mendengar suara wanita yang sangat ia kenal tersebut. Ia perlahan lahan membalikkan badannya dan menatap wanita itu dengan sorot mata yang sulit untuk dijelaskan maknanya oleh siapa pun. Nara hanya bisa berdiri diam di samping pintu mobil sambil menatap drama yang sedang terjadi di depan matanya dengan perasaan yang sangat bingung.
"Apa yang kau lakukan di sini Siska dan siapa yang telah memberitahumu tentang keberadaan tempat rahasia ini?" tanya Devan dengan nada yang mulai melunak.
Siska tidak menjawab pertanyaan Devan melainkan matanya langsung tertuju pada Nara yang masih mengenakan gaun pengantin lengkap dengan segala hiasannya. Wanita itu berjalan mendekat ke arah Nara lalu menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang sangat merendahkan. Ia seolah-olah sedang melihat seekor serangga kecil yang sangat menjijikkan yang berani masuk ke dalam wilayah kekuasaannya.
"Jadi wanita kampung inilah yang telah berani mencuri posisiku di sampingmu selama ini?" tanya Siska sambil mengangkat tangannya untuk menampar wajah Nara.
Nara memejamkan matanya dengan sangat rapat karena ia sudah pasrah jika tangan wanita itu benar benar akan mendarat di pipinya yang sudah memerah. Namun rasa sakit yang ia bayangkan tidak kunjung datang hingga ia memberanikan diri untuk membuka matanya kembali secara perlahan lahan. Ia melihat tangan Devan sudah berada di udara untuk menahan pergelangan tangan Siska dengan sangat kuat sehingga wanita itu tidak bisa bergerak sedikit pun.
"Jangan pernah berani menyentuh miliki kakekku sebelum aku benar benar menyelesaikan semua urusan warisan ini dengan tuntas!" ancam Devan dengan suara yang sangat menyeramkan.
Devan kemudian menarik tangan Nara dengan sangat kasar untuk masuk ke dalam mobil lalu memerintahkan sopirnya untuk segera pergi dari tempat tersebut. Siska berteriak histeris sambil memukul-mukul kaca mobil namun kendaraan itu tetap melaju meninggalkan wanita itu sendirian di tengah jalanan yang sangat sepi. Di dalam mobil Devan terlihat sangat gelisah dan terus memukul mukul pahanya sendiri dengan kepalan tangan yang sangat keras.
"Siapa wanita itu sebenarnya dan kenapa dia tampak sangat marah melihat kita berdua menikah?" tanya Nara dengan rasa ingin tahu yang sangat besar.
Lelaki itu menoleh ke arah Nara dengan senyuman yang sangat mengerikan hingga membuat nyali Nara menciut seketika ke dalam dasar hatinya. Ia merasa bahwa ia baru saja membuka sebuah pintu rahasia yang seharusnya tetap terkunci rapat untuk selamanya demi keselamatannya sendiri.
"Dia adalah wanita yang seharusnya berada di posisimu sekarang jika saja kakekku tidak bertindak sangat gila dengan memilihmu sebagai korbannya."
