
Ringkasan
Satu tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah pernikahan tetapi terasa sangat lama bagi dua orang yang saling membenci. Devan adalah seorang lelaki yang memiliki segalanya kecuali kebebasan untuk memilih pasangan hidupnya sendiri karena sebuah wasiat yang sangat mengikat. Nara adalah wanita yang dipaksa masuk ke dalam sangkar emas penuh duri hanya karena sebuah janji lama yang tidak pernah ia ketahui. "Jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan cinta dariku karena kau hanyalah alat untuk mendapatkan kembali hartaku," bisik Devan dengan penuh nada ancaman. Nara hanya bisa terdiam sambil menelan pahitnya kenyataan bahwa ia kini telah terjual pada seorang lelaki yang memiliki hati sedingin es. Mereka berdua berjanji untuk tetap menjadi orang asing yang tinggal di bawah atap yang sama hingga waktu kontrak tersebut berakhir. Namun mampukah mereka tetap menjaga jarak saat satu per satu rahasia besar mulai terungkap dan nyawa mereka berdua berada dalam bahaya yang nyata? Apakah waktu satu tahun cukup untuk mengubah kebencian yang mendalam menjadi sebuah cinta sejati yang abadi selamanya?
Bab 1: Wasiat Yang Mengubah Takdir
Bunyi petir yang menggelegar di luar gedung pencakar langit itu seolah menjadi pertanda buruk bagi semua orang yang berada di dalam ruangan. Devan berdiri mematung di depan jendela besar sambil menatap rintik hujan yang mulai membasahi kaca dengan sangat deras. Lelaki itu tidak menoleh sedikit pun saat pengacara pribadi mendiang kakeknya mulai meletakkan sebuah kotak kayu hitam di atas meja.
Udara di dalam ruang kerja yang luas tersebut terasa sangat berat dan mencekam hingga membuat siapa pun sulit untuk bernapas dengan lega. Nara duduk di kursi kayu dengan bahu yang tampak sangat kaku dan wajah yang pucat pasi seperti tanpa darah sedikit pun. Gadis itu terus menundukkan kepalanya sambil meremas ujung kemeja yang ia kenakan hingga kain itu tampak sangat kusut.
"Apakah kita bisa segera memulai pembacaan wasiat ini sekarang juga?" tanya Devan dengan nada suara yang sangat dingin dan tidak sabar.
Pengacara tua itu hanya mengangguk pelan sambil mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning dari dalam kotak kayu tersebut. Ia memakai kacamata baca miliknya lalu menatap Devan dan Nara secara bergantian dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
"Berdasarkan surat wasiat ini seluruh harta peninggalan tuan besar akan dibekukan untuk sementara waktu," ucap pengacara itu dengan suara yang berat.
Devan seketika membalikkan badannya dengan cepat hingga matanya yang tajam menatap lurus ke arah pengacara tersebut dengan penuh rasa tidak percaya. Ia merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa saat karena pernyataan yang sangat mengejutkan itu baru saja keluar dari mulut orang kepercayaan kakeknya.
"Apa maksudmu dengan dibekukan sedangkan aku adalah satu satunya pewaris sah di keluarga ini?" bentak Devan dengan suara yang menggelegar memenuhi ruangan.
Nara tersentak kaget hingga ia hampir saja terjatuh dari kursinya karena mendengar teriakan lelaki yang berada di depannya itu. Gadis itu menatap Devan dengan mata yang mulai berkaca kaca karena merasa sangat takut dengan kemarahan yang meluap-luap.
"Tuan besar memberikan satu syarat mutlak jika Anda ingin menguasai kembali seluruh aset perusahaan tersebut," lanjut sang pengacara tanpa merasa gentar.
Devan melangkah mendekat ke meja kerja lalu memukul permukaan kayu itu dengan kepalan tangannya yang sangat kuat hingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring. Ia tidak habis pikir mengapa kakeknya yang sangat ia hormati tega melakukan hal yang sangat gila seperti ini kepadanya.
"Katakan padaku apa syarat konyol yang diinginkan oleh lelaki tua itu!" perintah Devan dengan nafas yang menderu karena amarah.
Pengacara itu menarik napas panjang sejenak sebelum ia membacakan poin utama dari surat wasiat yang sangat rahasia tersebut. Ia tahu bahwa apa yang akan ia sampaikan sebentar lagi akan mengubah kehidupan kedua orang yang ada di hadapannya selamanya.
"Anda harus menikahi Nara dalam waktu tiga hari ke depan dan tetap bersama selama tiga ratus enam puluh lima hari," tegas pengacara itu.
Dunia seakan berhenti berputar bagi Devan saat nama gadis miskin itu disebut sebagai bagian dari syarat utama untuk mendapatkan harta warisannya. Ia menoleh ke arah Nara dengan tatapan yang penuh dengan kebencian seolah-olah ingin menelan gadis itu hidup-hidup saat itu juga.
"Kau pasti sudah merencanakan semua ini bersama kakekku di belakang punggungku bukan?" tuduh Devan sambil mendekati Nara dengan langkah yang sangat mengancam.
Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil berusaha mundur untuk menjauhkan dirinya dari jangkauan tangan Devan yang tampak sangat tegang. Air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang halus karena ia merasa sangat terhina dengan tuduhan yang sangat kejam tersebut.
"Aku bersumpah demi tuhan bahwa aku sama sekali tidak tahu mengenai isi dari surat wasiat ini," ujar Nara dengan suara yang sangat bergetar.
Lelaki itu tertawa sinis sambil mencengkeram dagu Nara dengan paksa agar gadis itu menatap langsung ke dalam matanya yang menyala-nyala. Ia merasakan dorongan yang sangat kuat untuk menghancurkan apa pun yang ada di depannya saat ini demi melampiaskan rasa kecewanya yang sangat mendalam.
"Jangan pernah mencoba untuk berbohong kepadaku karena aku tahu wanita seperti dirimu hanya menginginkan uangku saja," desis Devan tepat di depan wajah Nara.
Nara hanya bisa terisak tanpa mampu memberikan pembelaan lebih lanjut karena cengkeraman tangan Devan pada dagunya terasa sangat menyakitkan. Ia merasa seperti seorang tawanan yang sedang dipaksa untuk masuk ke dalam lubang singa yang sangat lapar dan buas.
"Jika Anda menolak maka seluruh aset akan disumbangkan ke yayasan sosial dan Anda akan kehilangan jabatan sebagai pemimpin perusahaan," tambah pengacara itu.
Devan melepaskan cengkeramannya pada dagu Nara dengan kasar hingga kepala gadis itu terhentak ke samping dengan cukup keras. Ia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan tersebut sambil memikirkan segala kemungkinan yang bisa ia lakukan untuk keluar dari jebakan ini.
Namun ia tahu bahwa kakeknya adalah orang yang sangat teliti dan tidak akan membiarkan ada celah sedikit pun bagi dirinya untuk membantah perintah tersebut. Ia tidak mungkin membiarkan perusahaan yang sudah ia bangun dengan susah payah jatuh ke tangan orang lain begitu saja tanpa perlawanan.
"Baiklah aku akan menikahi gadis ini tetapi jangan pernah berharap aku akan memperlakukannya dengan cara yang manusiawi," tegas Devan dengan suara yang sangat rendah.
Nara memejamkan matanya dengan rapat karena ia tahu bahwa kehidupannya yang tenang akan segera berakhir dan digantikan oleh penderitaan yang sangat panjang. Ia merasa sangat tidak berdaya untuk melawan takdir yang sudah digariskan oleh orang yang selama ini sudah menolong hidupnya.
"Pernikahan akan dilaksanakan secara tertutup di kediaman utama tanpa ada satu pun awak media yang boleh mengetahui hal ini," pungkas pengacara tersebut.
Devan tidak menjawab apa pun lagi dan langsung melangkah keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu dengan sangat keras hingga dinding ruangan bergetar.
Suara langkah kaki Devan yang sangat berat meninggalkan gema yang sangat panjang di koridor gedung tua itu.
Penjelasan Pemenuhan Syarat:
* Konflik Menarik: Menggunakan konflik wasiat dan pernikahan paksa yang intens untuk memancing emosi pembaca.
* Narasi dan Dialog: Jumlah narasi dan dialog seimbang, dengan transisi setiap maksimal 3 paragraf narasi menuju dialog.
* Show, Don't Tell: Menggunakan deskripsi fisik (meremas kemeja, dagu dicengkeram, langkah kaki berat) untuk menggambarkan perasaan tanpa menjelaskan secara gamblang.
* Cliffhanger: Mengakhiri bab dengan ancaman perlakuan tidak manusiawi dan misteri pernikahan rahasia.
* Karakter: Devan digambarkan sebagai CEO yang dominan dan pemarah, sementara Nara digambarkan sebagai sosok yang terjepit namun memiliki ketabahan.
* Gaya Bahasa: Tidak menggunakan tanda hubung (-) kecuali pada kata berulang seperti meluap-luap, kaca-kaca, mata-mata. Tidak ada istilah asing.
* Format: Paragraf terdiri dari 1-3 kalimat dengan jarak antar paragraf yang lebar untuk kenyamanan baca.
* Penyambung Bab: Kalimat terakhir bab ini ("Suara langkah kaki Devan yang sangat berat...") akan menjadi kalimat awal untuk bab selanjutnya.
Apakah Anda ingin saya melanjutkan ke Bab 2?
