Bab 5: Jangan Pernah Berharap Kau Akan Keluar
Jangan pernah berharap kau akan keluar dari rumah ini dalam keadaan yang masih bernyawa jika kau berani menyentuh harta milik anakku! Kalimat ancaman itu terngiang-ngiang di telinga Nara saat ia melihat punggung ibu mertuanya menghilang di balik pintu kayu jati yang sangat besar. Tubuh Nara merosot hingga terduduk di lantai yang dingin sambil menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan yang gemetar hebat.
Kesunyian kamar tamu yang sangat mewah itu terasa sangat mencekik lehernya hingga ia merasa kesulitan untuk sekadar menarik napas panjang. Cahaya lampu gantung kristal yang berpendar indah di langit-langit ruangan seolah-olah sedang menertawakan kemalangan yang baru saja ia alami di hari pernikahannya. Nara menyadari bahwa ia bukan sekadar memasuki sebuah keluarga baru tetapi ia sedang melangkah masuk ke dalam sarang ular yang sangat berbisa.
"Apa yang sedang kau lakukan di atas lantai seperti seorang pengemis yang sedang meminta belas kasihan?" tanya sebuah suara yang sangat berat dari arah pintu.
Nara tersentak kaget lalu segera berdiri sambil menyeka sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya dengan punggung tangan secara terburu-buru. Devan berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang sudah terbuka dua kancing teratasnya dan sebuah gelas berisi cairan bening di tangan kanannya. Tatapan mata lelaki itu tampak sangat tajam dan tidak bersahabat sama sekali saat melihat kondisi istrinya yang sangat berantakan.
"Ibumu baru saja datang dan mengatakan hal-hal yang sangat mengerikan kepadaku di depan pintu ini," ujar Nara dengan suara yang masih sangat serak.
Devan berjalan masuk ke dalam kamar lalu meletakkan gelasnya di atas meja nakas dengan suara dentuman yang cukup keras hingga membuat Nara berjengit. Ia tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau simpati sedikit pun saat mendengar pengaduan dari wanita yang baru saja sah menjadi istrinya tersebut. Bagi Devan sikap ibunya adalah sesuatu yang sudah seharusnya terjadi sebagai konsekuensi dari kehadiran orang asing di rumah mereka.
"Ibuku hanya sedang memperingatkanmu agar kau tahu diri dan tidak bermimpi terlalu tinggi di dalam rumah ini," sahut Devan dengan nada yang sangat dingin.
Lelaki itu melangkah mendekat hingga bayangan tubuhnya yang sangat tegap menutupi tubuh mungil Nara yang tampak semakin menciut karena rasa takut yang mendalam. Nara bisa mencium aroma minuman keras yang sangat menyengat keluar dari napas Devan yang mulai menderu di depan wajahnya secara tidak teratur. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang hingga ia merasa organ itu bisa melompat keluar dari rongga dadanya kapan saja.
"Apakah kau benar-benar berencana untuk membunuhku jika aku melanggar aturan yang kalian buat secara sepihak ini?" tanya Nara dengan keberanian yang tersisa di ujung lidahnya.
Devan tertawa sinis sambil mencengkeram kedua bahu Nara dengan sangat kuat hingga gadis itu mengerang kesakitan karena tekanan jemarinya yang sangat bertenaga. Ia menatap lekat-lekat ke dalam bola mata Nara yang berkaca-kaca seolah-olah sedang mencari sebuah kejujuran di balik gurat kesedihan yang terpampang nyata. Lelaki itu sepertinya sedang menikmati ketakutan yang dialami oleh Nara sebagai bentuk pelampiasan rasa frustrasinya yang belum kunjung reda.
"Kematian adalah hal yang terlalu mudah bagi pengkhianat seperti dirimu jadi aku lebih suka melihatmu membusuk di dalam penjara emas ini," desis Devan dengan senyuman yang sangat mengerikan.
Ia kemudian melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Nara terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk di pinggiran tempat tidur yang sangat empuk. Devan berbalik dan melangkah menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan taman belakang rumah yang sangat luas namun tampak sangat gelap gulita. Langit malam seolah-olah ikut berduka atas pernikahan yang tidak dilandasi oleh rasa cinta sedikit pun ini.
Nara hanya bisa terdiam membeku sambil mengusap-usap bahunya yang terasa sangat panas dan berdenyut akibat ulah kasar suaminya tadi. Ia tidak pernah menyangka bahwa lelaki yang dahulu selalu dipuji oleh kakeknya bisa berubah menjadi sosok monster yang sangat kejam dalam sekejap mata. Keinginannya untuk melarikan diri semakin kuat namun ia tahu bahwa setiap sudut rumah ini dijaga oleh orang-orang suruhan Devan yang sangat setia.
"Mulai besok kau harus ikut denganku ke kantor dan bekerja sebagai asisten pribadiku agar aku bisa mengawasimu setiap saat," perintah Devan tanpa menoleh sedikit pun.
Keputusan yang sangat mendadak itu membuat Nara terbelalak kaget karena ia sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai dengan dunia korporat. Ia hanya seorang desainer pakaian yang lebih terbiasa memegang gunting dan kain daripada berkutat dengan angka-angka atau dokumen perusahaan yang sangat rumit. Nara merasa bahwa Devan sengaja melakukan hal ini untuk terus menyiksa dan merendahkan martabatnya di depan banyak orang.
"Aku tidak tahu apa-apa tentang urusan perusahaan dan aku hanya akan menjadi beban bagimu jika aku bekerja di sana," tolak Nara dengan nada yang sedikit tegas.
Devan membalikkan badannya dengan sangat cepat dan menatap Nara dengan pandangan yang sangat menusuk seolah-olah ingin melubangi kepala gadis itu saat itu juga. Ia melangkah perlahan-lahan mendekati tempat tidur dengan raut wajah yang kembali mengeras seperti batu karang yang dihantam oleh ombak besar. Setiap langkah kaki Devan di atas lantai kayu terdengar seperti dentuman lonceng kematian yang sangat menakutkan bagi pendengaran Nara.
"Aku tidak sedang meminta pendapatmu melainkan aku sedang memberikan perintah yang harus kau patuhi tanpa ada bantahan sedikit pun!" bentak Devan hingga suaranya menggelegar di seluruh penjuru ruangan.
Nara hanya bisa mengangguk pelan dengan kepala yang tertunduk dalam-dalam karena ia tahu bahwa melawan Devan saat ini adalah sebuah tindakan yang sangat sia-sia. Ia harus belajar untuk mengikuti arus permainan yang diciptakan oleh suaminya agar ia bisa bertahan hidup hingga hari ke tiga ratus enam puluh lima tiba. Namun tepat saat Devan hendak melangkah keluar dari kamar ia menghentikan langkahnya secara tiba-tiba di depan sebuah lemari besar.
Lelaki itu menarik paksa sebuah laci yang terkunci lalu mengeluarkan sebuah foto lama yang sudah tampak sangat usang dan sedikit robek di bagian pinggirnya. Ia menatap foto tersebut dengan sorot mata yang penuh dengan kebencian sekaligus kerinduan yang sangat mendalam yang sulit untuk dijelaskan secara logika. Devan kemudian melemparkan foto itu tepat ke arah Nara hingga kertas tersebut jatuh di pangkuan gadis yang sedang kebingungan itu.
"Lihatlah wajah wanita di dalam foto itu dan sadarilah bahwa kaulah alasan kenapa dia harus menghilang dari hidupku selamanya!"
