Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2: Langkah Kaki Devan Yang Sangat Berat

​Suara langkah kaki Devan yang sangat berat meninggalkan gema yang sangat panjang di koridor gedung tua itu. Lelaki itu terus berjalan lurus tanpa memedulikan tatapan penuh tanya dari para karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya di depan pintu lift. Ia masuk ke dalam kotak logam itu lalu meninju dinding lift dengan sangat keras hingga telapak tangannya terasa sangat perih dan berdenyut kencang.

​Kemarahan yang meluap-luap membuat dada Devan terasa seperti terbakar oleh api yang sangat panas dan sulit untuk dipadamkan. Ia merasa dikhianati oleh mendiang kakeknya sendiri yang selama ini ia anggap sebagai sosok paling bijaksana di dalam hidupnya. Kenapa kakek harus melibatkan wanita rendahan seperti Nara ke dalam pusaran kekuasaan keluarga mereka yang sangat terpandang itu.

​Lift berhenti di lantai dasar dengan denting yang cukup nyaring mengusik keheningan yang menyelimuti perasaan Devan saat ini. Ia melangkah keluar menuju mobil mewah miliknya yang sudah menunggu tepat di depan lobi dengan pintu yang sudah terbuka lebar. Sang sopir pribadi hanya bisa menundukkan kepala dalam dalam karena ia sangat hafal dengan aura mematikan yang terpancar dari tubuh tuannya.

​"Bawa aku ke bar sekarang juga dan jangan pernah berani bertanya apa pun kepadaku!" perintah Devan dengan suara yang parau.

​Mobil itu melaju membelah jalanan kota yang masih basah sisa hujan tadi sore dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sementara itu di dalam ruang kerja kakek yang sudah sepi Nara masih terduduk diam di atas kursi sambil menatap lantai dengan tatapan yang kosong. Gadis itu merasa dunianya seakan baru saja runtuh berkeping keping menjadi butiran debu yang sangat halus.

​Nara tidak menyangka bahwa kebaikan hati mendiang kakek Devan selama ini ternyata memiliki harga yang harus ia bayar dengan sangat mahal. Ia sangat ingat bagaimana kakek itu selalu tersenyum lembut kepadanya setiap kali ia datang membawakan bekal makanan sederhana ke kantor ini. Kini senyuman itu berubah menjadi sebuah belenggu yang akan mengikat lehernya selama satu tahun penuh ke depan.

​"Nona sebaiknya Anda segera pulang dan beristirahat karena wajah Anda tampak sangat pucat sekali," tegur sang pengacara dengan nada yang sedikit iba.

​Nara hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan satu patah kata pun dari bibirnya yang tampak mulai membiru karena kedinginan. Ia berdiri dengan kaki yang terasa sangat lemas dan gemetar seolah-olah sendi-sendinya sudah tidak mampu lagi menopang berat badannya. Gadis itu berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang sangat hancur dan tidak menentu arah tujuannya.

​Ia sampai di rumah kontrakannya yang sangat sempit dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur tanpa sempat mengganti pakaiannya. Air mata kembali mengalir membasahi bantal saat ia membayangkan wajah Devan yang tadi menatapnya dengan penuh rasa kebencian yang sangat mendalam. Ia tahu bahwa mulai besok kehidupannya tidak akan pernah sama lagi seperti hari hari yang sudah ia lalui.

​Ponsel milik Nara tiba tiba bergetar di atas meja kecil yang berada tepat di samping tempat tidurnya secara terus menerus. Ia meraih benda tersebut dengan malas lalu melihat sebuah nomor yang tidak dikenal sedang mencoba menghubungi dirinya secara berulang-ulang. Dengan perasaan yang sedikit ragu ia kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya untuk menerima panggilan suara tersebut.

​"Apakah ini benar dengan Nara calon istri dari tuan muda Devan yang sangat terhormat?" tanya sebuah suara lelaki di seberang sana.

​Nara mengerutkan keningnya karena ia merasa tidak mengenal suara lelaki yang terdengar sangat menyeramkan dan penuh dengan nada sindiran itu. Jantungnya mulai berdegup dengan sangat kencang karena ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi di balik semua ini.

​"Siapa Anda sebenarnya dan dari mana Anda mendapatkan nomor telepon pribadi milik saya?" tanya Nara dengan nada yang penuh dengan kecurigaan.

​Lelaki di seberang telepon itu hanya tertawa kecil yang terdengar sangat dingin hingga membuat bulu kuduk Nara berdiri dengan seketika. Ia seolah-olah sedang bermain main dengan mangsanya sebelum ia benar benar melakukan serangan yang sangat mematikan di kemudian hari.

​"Katakan pada Devan bahwa permainan yang sebenarnya baru saja dimulai dan aku akan segera datang untuk menagih hutangnya," ancam lelaki itu sebelum mematikan sambungan telepon.

​Nara terdiam membeku dengan tangan yang masih memegang ponsel erat erat sementara napasnya mulai tersengal-sengal karena rasa takut. Ia tidak tahu rahasia gelap apa lagi yang sedang disembunyikan oleh keluarga Devan hingga ada orang yang ingin melakukan balas dendam secara terang-terangan. Kegelapan malam seolah-olah mulai menelan sisa-sisa keberanian yang masih tersisa di dalam lubuk hati gadis malang itu.

​Ia tidak bisa memejamkan matanya sedikit pun hingga sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamarnya yang sudah kusam. Dengan langkah yang sangat berat Nara mulai mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hari pernikahan yang paling tidak ia inginkan sepanjang sejarah hidupnya.

​Ia mengenakan gaun putih sederhana yang sudah disiapkan oleh utusan keluarga Devan tepat di depan pintu rumahnya sejak subuh tadi. Gaun itu terasa sangat dingin saat menyentuh kulitnya seolah-olah pakaian itu terbuat dari butiran salju yang membeku secara abadi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel