Part 3
Mari kita baca (〃゚3゚〃)
#####
Sudah satu bulan ini Eru bekerja di kantor Arlan, dia cukup nyaman dengan suasana kerja di tempat barunya. Orangorangnya ramah, tidak ada namanya senior junior,dan berbaur bersama. Atas rekomendasi Arlan, Eru tidak perlu bersusah payah mencari tempat tinggal. Jarak tempat kos dengan kantor hanya membutuh waktu tiga puluh menit. Letaknya juga strategis dekat dengan minimarket, tempattempat makan, pasar juga mall. Harga sewa memang sedikit lebih mahal dibanding tempat kos lain, tetapi sebanding dengan fasilitas dan lingkungan yang nyaman.
Eru merebahkan tubuh di kasur empuk. Mata itu lurus memerhatikan langit-langit kamar kos-nya yang berukuran sedang. Pikirannya melayang pada kenangan beberapa tahun silam. Saat dia masih baru meniti karier sebagai trainee, kekasihnya pergi meninggalkan dia dan lebih memilih pria yang baru dikenal hanya karena pria tersebut memiliki harta dan pekerjaan mapan.
Sejak itu Eru bersumpah tidak ingin mengenal cinta. Baginya cinta itu omong kosong, hanya bisa menyakiti. Tapi semenjak pertemuannya dengan Arumi satu setengah tahun lalu, hatinya kembali berdesir. Ada keinginan untuk memiliki, melindungi, memberi rasa aman dan merengkuh wanita itu ke pelukan. Arumi boleh saja lupa, tetapi tidak dengan Eru. Bagaimana bisa dia melupakan perempuan itu, jika bayangan Arumi terus menari dalam pikiran. Setiap saat muncul dalam benaknya, mendominasi mimpi-mimpinya, dan itu sungguh sangat menyiksa.
*****
Sial! Gara-gara menonton drama Korea sampai jam satu pagi, Arumi jadi terlambat bangun. Dengan tergesa-gesa Arumi turun, menghampiri Sadewo dan Nisa yang sudah duduk anteng di meja makan.
“Pagi, Yah, Bulek.” Arumi mencium sekilas Sadewo dan Nisa.
“Pagi. Duduk dulu, Rum,” pinta Nisa melihat Arumi tetap berdiri lalu mengambil susu dan roti.
Perempuan itu menggeleng. “Arum sudah telat, Bulek.” Arumi menyambar tas dan kunci motor bergegas keluar rumah dengan roti masih menempel cantik di mulut. “Arum berangkat. Assalamualaikum,” pamitnya, tanpa banyak kata Arumi melesat meninggalkan rumahnya.
“Hati-hati, Rum! Jangan ngebut!” teriak Nisa. Entah didengar atau tidak menilik kecepatan laju motor Arum. Lalu Nisa menutup pagar depan dan masuk menemani suaminya sarapan.
“Wes budal to (udah berangkat)?” tanya Sadewo begitu Nisa duduk di sebelahnya.
“Uwes Mas. Mariki langsung nok kedai (sudah mas, abis ini langsung ke kedai)?”
“Awanan titik (siangan dikit).” Sadewo kemudian menatap istrinya. “Nis! Kamu ndak pengen punya anak?”
Nisa bukannya tidak ingin. Jauh dalam lubuk hati, ia ingin memiliki anak, tetapi ia sadar usianya sudah tidak pantas jika harus memiliki bayi. Dari pernikahan sebelumnya Nisa tidak mempunyai anak. Bukan Nisa yang memiliki masalah, namun suaminya dan Nisa pasrah. Bukankah tujuan menikah tidak hanya untuk memiliki keturunan saja, melainkan menerima segala kurang lebihnya pasangan.
“Nggak, Mas, cukup kayak gini aja. Lagian aku nggak mau nanti anak-anak cemburu sama adiknya.” Nisa lebih memilih merawat anak-anak Sadewo dan cucu-cucunya. Menyayangi mereka daripada memiliki anak sendiri. Bagi Nisa itu sudah cukup. Ia tidak ingin ada kecemburuan, lagipula ia cukup bersyukur mereka menerimanya dengan tangan terbuka. Memperlakukan dirinya seperti bundanya sendiri.
Setelah memarkir motor di tempat biasa, Arumi berlari ke lantai dua dan semoga saja bosnya itu belum datang. Sapaan pegawai lain hanya ia jawab anggukan kepala singkat. Sampai di lantai dua, Arumi langsung ke mejanya. Teman-temannya memerhatikan penampilan Arumi yang sedikit berantakan, sementara Arumi sendiri menetralkan napas yang terengah-engah.
“Tumben telat,” celetuk Meilan.
Arumi meringis. “Hehehe, semalem lihat drama Korea sampai pagi,” jawab Arumi. “Pak Arlan?”
“Belum datang, selamat kamu kali ini,” sahut Riska dari mejanya.
Selang beberapa menit, Arlan dan Eru datang bersamaan. Pantas saja berani telat ternyata bersama Pak Bos. “Pagi semua!” sapa Pak Arlan kemudian masuk ke ruangannya.
“Siang kali, Pak,” sahut Meila. “Hai ganteng,” sapa Meilan dengan senyum termanis yang dia punya saat Eru duduk di kursinya. Eru membalas sapaan Meilan dengan senyum.
Eru melirik Arumi yang serius dengan komputer di depannya. Mengamati dengan lekat penampilan gadis itu. Rambut hitam Panjang itu dibiarkan terurai, hanya bagian poni ia jepit. Bulu mata lentik dan tebal menambah kecantikan mata Arumi. Dan, bibir mungil itu begitu menggoda.
Perhatiannya beralih pada jari manis Arumi yang kosong. Selama satu bulan dia di sini, belum pernah melihat Arumi diantar jemput laki-laki. Hal itu membuat semangat Eru untuk mengejar Arumi tumbuh. Andai kata sudah punya pacar sekalipun Eru tidak peduli. Prinsipnya sebelum janur kuning melengkung, kesempatan masih terbuka.
“Gila!! Nih orang makan apa, sih? Umur baru 29 udah jadi pengusaha sukses. Gue mau lah jadi istri dia.” Pekikan Meilan memecah keheningan.
Vera yang penasaran menghampiri Meilan. “Apaan, sih?”
“Ini loh, masih muda tapi udah masuk jajaran orang terkaya di Indonesia,” ujar Meilan masih tetap menatap layar komputer. Vera sudah di samping Meilan, akhirnya ikut membaca berita itu. “Tapi kenapa cuma nih orang yang nggak ada fotonya. Kira-kira wajahnya gimana, ya? penasaran aku,” kata Meilan lagi.
“Emang di situ nggak ada fotonya?” Riska ikut menyahuti.
Meilan melirik Riska malas. “Kalau ada aku nggak bakal penasaran, Riskaaa. Gimana, sih! Kamu perlu Aqua deh kayaknya,” ucap Meilan dengan gemas.
Meilan berdecak membaca artikel yang menyebutkan bisnis lelaki misterius itu tidak hanya satu. “Gila bisnisnya di manamana, ck ck.”
Vera pun ikut takjub. “Duh makin kaya itu Mei.”
“Sengaja kali biar pada kepo, biar jadi sensasi,” tukas Arumi.
“Loh, bukannya emang gitu, ya. Kalian para wanita lebih tertarik sama yang misterius gitu?” timpal Eru.
Arumi melirik Eru malas. “Dih, aku nggak, ya. Malas banget kepoin orang nggak jelas, nggak kenal juga. Lagian laki-laki kayak gitu biasanya banyak tingkah, mentang-mentang dia berduit,” bantah Arumi.
Eru memutar kursinya menghadap Arumi. “Kok gitu? Kenapa sih kamu kayak nggak suka banget sama laki-laki, punya pengalaman buruk?”
“Nggak juga, tapi emang benar kan laki-laki macam mereka banyak tingkah dan seenaknya sendiri sama perempuan. Buat mereka cewek itu kayak tisu, habis pakai langsung buang.” Arumi menoleh sekilas ke arah Eru.
“Kamu nggak bisa dong menyamaratakan gitu, nggak semua cowok kayak itu. Mungkin emang ada, tapi bukan berarti semua sama Rum,” bantah Eru. Entah apa yang mendorongnya untuk meladeni Arumi.
“Kenapa? Nggak terima sama omonganku?” Sebelah alis Arumi terangkat ke atas. “Oh, ya, aku lupa! Jelas nggak terima secara mereka satu spesies sama kamu!” ujar Arumi ketus.
“Jelas! Karena teorimu ngawur,” debatnya. “Gini deh, aku balik. Seumpama aku nge-judge semua cewek matre, kamu mau?”
Arumi diam. Bagaimanapun dia juga tidak mau dicap sebagai cewek matre. “Ya nggak lah, mana mau aku.”
“See, nggak mau 'kan? Aku juga gitu. Jadi cabut omonganmu. Nggak semua cowok itu berengsek. Banyak juga cowok setia dan nggak aneh-aneh.”
“Dih siapa kamu? Terserah aku dong. Kamu mau ngomong apa juga, aku nggak peduli. Buatku cowok itu sama.
Berengsek!” Arumi menekan dengan jelas maksudnya. “Suka mainin perasaan perempuan. Sekarang bilang cinta besok udah jalan sama yang lain. Nggak bisa lihat cewek buka paha dikit, otak udah nafsu aja,” ujar Arumi sembari menatap tajam Eru.
Eru tak menyerah membantah Arumi. “Tergantung imannya dong. Kalau itu laki imannya jongkok jelas dia tergoda.”
“Iman? Kamu nggak lagi mabuk kan ngomongin iman. Mana ada cowok dibukain paha nolak. Kucing aja dikasih ikan asin langsung sikat apalagi cowok, bulshit banget,” desis Arumi tajam. “Emang kamu nggak ngier lihat cewek buka selangkangan di depanmu? Nggak nafsu lihatnya? Nggak sesak gitu celanamu? Otakmu masih waras?! Masih bisa mikir? Nggak, 'kan?!” cecar Arumi sengit.
Eru tidak membalas ucapan Arumi. Ia tahu kalau sampai dia mendebat terus, bisa dipastikan akan panjang. Lebih baik Eru mengalah membiarkan Arumi dengan kesimpulannya.
“See! Nggak bisa jawab, 'kan? Emang dasar laki-laki itu berengsek! Nggak ada yang bisa dipercaya,” lanjut Arumi mencibir Eru.
“Eh eh, knapa kalian jadi berdebat, bawa-bawa selangkangan lagi,” sela Meilan. Kenapa Arumi sama Eru jadi terlibat perdebatan, padahal mereka tadi sedang membicarakan pengusaha muda yang sukses.
“Mpok, tumben marah-marah gitu, lagi dapet? Perasaan baru kemarin bareng aku,” timpal Vera yang sudah kembali ke mejanya.
“Apaan sih, Ver, nggak ada hubungannya kali sama dapet.”
“Ya kali aja, Mpok, lagi mode on sensi,” olok Vera.
“Dih, aku nggak sensi, ya. Aku ngomong bener, kok.”
“Bisa judes juga, ya. Muka aja kalem tapi mulut pedes kayak cabe,” sahut Eru menimpali.
“Kenapa? Baru tahu? Masih nggak terima sama omonganku? Lagian ini mulut juga mulutku, kenapa kamu yang repot. Aneh banget.”
“Daripada buat ngomel gitu mending buat cium aku, Mpok, lebih berfaedah. Lebih asyik dapat pahala lagi,” tukas Eru lagi.
Arumi melempar kotak tisu di depannya, untungnya tidak mengenai kepala laki-laki itu. “Ngarep! Najis banget.”
“Awas, Mpok. Jangan benci-benci banget nanti cinta loh.”
Arumi membuat ekspresi wajahnya seperti orang kaget dengan mulut menganga dan menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Ngimpi!”
Tbc.
