Part 2
Selamat Membaca (。・//ε//・。)
####
Satu setengah tahun lalu.
Terlihat kesibukan di rumah besar nan mewah di kawasan kompleks perumahan elite. Tenda terpasang di halaman rumah tidak lupa kursi dan meja dihias dengan cantik. Di depan kediaman keluarga Hardinata, mobil-mobil berjejer rapi. Tidak sedikit terlihat orang-orang hilir mudik di sana untuk menyambut upacara pernikahan salah satu cucunya secara besar dan mewah.
Dengan antusias seluruh keluarga menyiapkan perhelatan tersebut. Pelaminan dihias dengan indah. Rumah besar itu terlihat apik berhiaskan bunga-bunga dan janur kuning.
Di dalam sebuah ruangan rumah Hardinata terlihat Arumi menghela napas. Besok laki-laki yang dia cinta akan mengikrarkan janji suci di hadapan penghulu, keluarga dan sang pencipta. Bahagia? Harus! Bukankah ini yang dia mau.
“Nduk! Sudah malam istirahat dulu.” Suara berat di belakang membuat Arumi berbalik lalu menampilkan senyum cantiknya.
“Iya, Yah. Sebentar lagi Arum istirahat. Ayah nginap di sini?” Arumi menghampiri Sadewo lalu mengajak duduk di kursi yang terletak di sudut ruangan.
“Ya,” jawab ayahnya. “Yo wes ndang ngaso kono, sesuk luwih kesel (ya sudah cepat istirahat besok lebih capek).” Arumi langsung berdiri, memeluk Sadewo berharap mendapat kekuatan untuk menjalani hari barunya.
Mata Arumi berkaca-kaca sampai akhirnya butiran bening itu keluar. Sadewo mengusap lembut punggung rapuh putrinya. Dia mengerti apa yang dirasakan gadis kecilnya. Tangis Arumi semakin kuat, berharap dapat mengurangi sesak di dada. Dia tahu ini sudah menjadi keputusannya dan harus siap, bagaimanapun dia tak bisa menariknya kembali.
“Ayo bersiap! Rombongan pengantin pria sudah datang!” titah Wijaya sesepuh keluarga Hardinata.
Segera semua sanak saudara dan kerabat bersiap di tempatnya masing-masing. Setelah rombongan tiba acara prosesi ijab qobul pun segera dimulai.
“Saudara Ibrahim bin Abdul Wahab. Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya bernama Mayara Indah Pratiwi dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang senilai lima belas juta rupiah dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Mayara Indah Pratiwi binti Herman Putra Hardinata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” ucap Ibra dengan lantang dan satu tarikan napas.
“Sah?”
“Sah!” jawab para saksi bersamaan
“Alhamdulillah.”
Tampak kelegaan di wajah pengantin pria yang baru saja selesai melafazkan ijab qobul dengan benar, begitupula para saksi. Pak penghulu memberikan instruksi agar mempelai perempuan turun untuk melanjutkan tahap berikutnya.
Setelah tahap berdoa untuk kedua pengantin, penandatanganan buku nikah kemudian dilanjutkan dengan proses sungkeman kedua mempelai kepada orangtua dan sesepuh keluarga.
Keduanya diiring duduk di pelaminan. Ucapan selamat dan doa terbaik tidak berhenti mengalir untuk mempelai. Acara pun berlanjut dengan foto-foto dan menyantap hidangan yang disajikan.
“Kamu bahagia, Nduk?”
“Bahagia, Bulek,” jawabnya dengan senyum. Nisa memeluk Arumi dengan erat, bahkan ikut menitikkan airmata. Usapan lembut di bahu kedua perempuan itu membuat mereka mengurai pelukan.
Arumi menoleh kemudian memeluk ayahnya.
“Kamu kuat dan harus kuat. Mungkin ini yang terbaik. Ikhlaskan, semua sudah jalannya.” Sadewo berusaha menguatkan putrinya. “Benar yang dibilang Ayahmu. Awalnya mungkin susah tapi seiring dengan berjalannya waktu In Syaa Allah kamu bisa, Sayang.”
Arumi mengangguk lalu mengucap syukur dalam hati. Dirinya masih bisa berdiri tegak karena dukungan Sadewo dan Nisa. Mereka lah yang menemani saat dia terpuruk seperti saat ini dan kedua saudaranya yang jauh.
“Wes ojok nangis neh, mengko ayune ilang (sudah jangan nangis lagi nanti cantiknya hilang),” ucap Sadewo. Arumi menyeka airmatanya sambil tersenyum.
“Sekarang masuk dan beri selamat sama mereka. Setelah itu kalau mau pulang nggak apa-apa. Nanti biar Bulek yang bilang ke Mbah
Kakungmu.”
Arumi mengangguk patuh. “Iya, Bulek. Ayah nanti pulang bareng apa gimana?”
“Biar Ayahmu diantar Abi, nggak usah khawatir,” jawab Nisa
Sesudah memastikan make-up di wajah dan kebaya yang dipakainya sempurna, Arumi berjalan masuk dengan senyum yang terus berkembang di bibir. “Selamat, ya, Mas. Sudah jadi suami kamu. Aku harap jangan membuat istrimu sedih. Semoga bahagia,” pesan Arumi dengan tenang disertai senyum yang tidak lepas dari wajah. “Selamat, ya, Dek! Sudah jadi istri. Dijaga baik-baik nama suamimu dan jaga ini ponakan aku.” Lalu Arumi turun dari pelaminan dan pergi dari hadapan mereka berdua.
Pertahanan Arumi jebol, airmata turun di kedua sudut mata. Dadanya nyeri dan perih merasakan sakit yang tak dapat dia sembuhkan dengan obat-obatan.
Sapaan dan panggilan kerabat tidak ia hiraukan. Dia terus berlari keluar menuju mobil. Sampai dalam mobil, dia langsung menjalankan mobilnya keluar dari rumah kakeknya. Airmata terus mengalir membuat penglihatan Arumi buram, karena itu dia memutuskan berhenti di taman tidak jauh dari kompleks perumahan kakeknya.
*****
“Ya Tuhan! Apa yang sudah aku perbuat sampai Engkau memberikan hukuman ini. Mampukah aku bertahan dan mengikhlaskan dia? Kuatkah aku?” Tangis Arumi menjadi. Mengeluarkan semua rasa sakit di hati yang mungkin akan bertahan lama di jiwanya, tanpa tahu apakah dirinya mampu menyembuhkan luka itu.
Dunianya seketika hancur ketika buleknya–Mirna—datang ke rumah meminta agar dirinya putus dengan Ibra. Awalnya Arumi bingung tapi setelah mendengar cerita dari sepupunya, baru dia paham. Maya hamil dan ayah dari anak itu adalah Ibra. Laki-laki yang mengisi hari-harinya selama dua tahun.
“Tuhan tidak akan memberi ujian melebihi kemampuan umatnya. Tuhan juga sudah menyiapkan kebahagiaan di balik kesedihan.
Mungkin sakit awalnya tapi Tuhan juga sediakan penawarnya.”
Arumi menoleh pada pemilik suara. Sejak kapan laki-laki ini di sebelahnya?
Laki-laki itu tersenyum memamerkan barisan gigi putih. “Saya bisa pinjamkan bahu untuk tempat Mbak nangis. Gratis, tidak bayar,” kata laki-laki itu. “Tenang saja saya bukan orang jahat, Mbak tidak usah takut. Kenalkan saya Eru, kependekan dari Mahameru.”
Eru mengulurkan tangan. Mau tidak mau Arumi menyambut uluran tangan itu lalu mengerutkan kening mendengar nama pria di sebelahnya. Unik.
“Mbak jelek kalau nangis. Mbak itu cocoknya tersenyum, cantiknya berlipat-lipat,” tambah pria itu. “Saya kasih tahu, ya, Mbak. Kesalahan bukan pada Mbak kalau tidak berjodoh dan bukan salah jodohnya juga. Ini semua sudah garis, jalan, dan takdir Mbak. Siapa tahu Tuhan sudah menyiapkan laki-laki terbaik untuk Mbak,” cerocos Eru. “Saya misalnya. Mungkin saja kita berjodoh.” Alis Eru naik turun diikuti senyum jahil. Arumi bergeming. “Mbak ngomong dong, jangan bikin saya takut, Mbak. Mbak manusia, kan? Bukan hantu, kan? Nanti saya dikira orang gila lagi ngomong sendiri.”
“Bisa diam tidak! Datang-datang nyeroccos tidak keruan, kenal juga tidak!” bentak Arumi.
“Eh busyet! Mbak cantik judes juga ternyata. Tapi nggak apa-apa sih mending begitu jadi saya tahu kalau Mbak manusia, hehehe.”
“Dasar wong edan!!” Arumi berdiri meninggalkan taman setelah memaki laki-laki itu.
Tanpa Arumi sadari, gelang emas pemberian Sadewo jatuh tepat di dekat sepatu milik Eru. Eru yang baru mengetahui lalu mengambilnya dan segera mengejar Arumi, tetapi sayang mobil Arumi sudah pergi meninggalkan taman.
“Arumi.” Eru bergumam sendiri.
Tbc.
