Pustaka
Bahasa Indonesia

Jodoh Arumi

49.0K · Tamat
Wahyu Hartikasari
41
Bab
743
View
9.0
Rating

Ringkasan

Miracle of Love#1 Arumi gadis berparas ayu berdiri pada satu titik di mana pengkhianatan, luka, dan kebencian membawanya dalam pusaran kegelapan. Dia enggan menyentuh yang namanya Cinta, menjaga hatinya yang terluka oleh dua orang terdekatnya.Disana. Pria itu menatap Arumi dalam diamnya, memperhatikan dan mendekat dengan menawarkan cinta. Mengejarnya tanpa lelah meski penolakan yang diterima. Bermain dengan cemburu dan berusaha membuat Arumi melihatnya.Ketika segalanya semakin rumit, satu keputusan besar harus diambilnya. Berlari menggapai pria itu dengan cinta di tangannya atau melepasnya dengan hati kembali terluka.

Cinta Pada Pandangan PertamaWanita CantikRomansaMetropolitanBillionaireSweetPernikahanKeluargaDewasaBaper

Part 1

Halooo. Selamat membaca :)

#####

Sinar mentari menyusup di antara kisi-kisi jendela, langit biru berpadu putih membentuk riak-riak awan membingkai pagi cerah. Seperti harapan Arumi untuk hidupnya yang selama ini muram, gelap, dan kosong. Satu setengah tahun berlalu, namun masih sulit menghapus sosok Ibra dalam hati. Berkali-kali ia berusaha menyingkirkan, tetap saja nama Ibra masih menguasai hati dan pikirannya. Pria itu terlalu lama mengisi hari-hari dan mengukir kenangan indah untuk Arumi.

“Rum, bangun! Sudah siang, nanti telat lagi,” teriak Nisa dari luar kamar Arumi. Bibinya itu sekarang menjadi ibu tiri Arumi, setelah tiga bulan lalu ayah Arumi menikahi Nisa.

“Iya, Bulek, sudah bangun kok.” Arumi masih belum terbiasa memanggil Nisa dengan sebutan ibu.

“Ya sudah cepat turun, sarapan sudah siap,” pesan Nisa kemudian pergi meninggalkan kamar Arumi.

“Ya!” Arumi mengambil messenger bag kemudian memakai flatshoes. Arumi tidak terlalu suka memakai higheels, itu membuat ia sedikit kesulitan jika berjalan dan bisa dipastikan kakinya terasa sakit.

Arumi turun menuju ke dapur yang merangkap ruang makan kemudian menaruh tas di kursi sebelah. “Pagi, Yah,” sapanya dengan mencium kedua pipi Sadewo lalu kembali ke kursi.

“Pagi. Gimana kamu kemarin sama Ferdi?” tanya Sadewo sembari menyesap kopi yang disediakan Nisa.

“Nggak gimana-gimana, Yah.”

“Kok gitu?” Sadewo melihat putrinya dengan kerutan di dahi, sedangkan yang ditatap biasa saja.

“Mau Ayah, gimana?” Arumi mendesah pelan. Ia tahu maksud ayahnya yang mengenalkan dirinya dengan anak teman kerja pria itu.

“Ya, kalau Ayah, maunya kamu cepet-cepet nikh. Kalau memang belum siap, pacaran atau tunangan dulu.”

“Arum masih senang sendiri, Yah.”

“Sudah, Mas, jangan dipaksa. Nanti pasti ada waktunya,” sahut Nisa. Sebagai wanita dia bisa mengerti bagaimana perasaan Arumi, karena itu dia tidak setuju dengan rencana Sadewo yang ingin menjodohkan Arumi dengan anak kenalannya.

“Tapi kapan? Ini sudah satu tahun lebih, umur Arum juga sudah banyak,” bantah Sadewo lagi.

“Ya tapi jangan dipaksa begitu, Mas.”

“Nanti Arum pikirkan, Yah.” Arumi meneguk susu cokelat buatan Nisa kemudian berdiri menyambar tas juga kunci motor. “Arum berangkat dulu,” pamitnya mencium tangan kedua orang tuanya.

Nisa mengantar Arumi sampai di depan pagar. “Jangan diambil hati omongan Ayahmu, dia hanya ingin melihatmu bahagia.”

“Iya, Bulek, Arum tahu kok. Arum pergi dulu, ya. Assalamualaikum.” Arumi menghidupkan mesin motor dan melajukan dengan kecepatan sedang.

********

Pukul 7.30 Arumi sampai di parkiran kantor sebuah perusahaan jasa pengiriman barang terkenal di Indonesia. Pagi ini Arumi tampak modis seperti biasanya. Celana bahan pas warna hitam, dengan kemeja lengan pendek sampai siku warna putih. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan wajah dirias tipis.

“Pagi, Mbak,” sapa Edi yang bekerja sebagai OB.

“Pagi, Di. Seperti biasa, ya,” balas Arumi kemudian meneruskan melangkah menapaki tangga ke lantai dua.

“Rum! Bakalan ada karyawan baru loh. Cowok. Kiriman dari kantor pusat,” ujar Meilan, perempuan labil tidak bisa melihat laki-laki bening sedikit, haluannya berubah.

“Terus hubungannya sama aku apa?” tanya Arumi

Meilan menatap sengit pada kawan kerjanya itu. “Ish! Ya, nggak ada. Aku ngasih tahu. Bikes deh, Mpok,” jawab Meilan kesal. “Kali aja naksir, lagian kalau itu karyawan mukanya bening lumayan bikin mata melek nggak ngantuk lagi,” sambung Meilan sebal, sedangkan teman yang lain terkekeh mendengar omongan Meilan.

“Najis!” sahut Arumi.

Perempuan berusia 24 tahun itu mendelik. “Jangan najisnajis, Mpok. Naksir sukurin.”

“Dih! Siapa juga.”

“Ya sudah kalau gitu buat dia buat aku aja. Awas loh nanti sampai naksir,” ancam Meilan.

“Woy! Jaga mata, udah punya cowok juga,” sahut Vera dari meja sebelah.

“Nggak apa-apa lagi, Ve. Angga-nya juga nggak tahu hehe,” kata Meilan cengengesan.

“Dasar cewek jaman now,” sahut Riska.

Meilan tertawa lebar. “Biar aja orang cantik mah sah-sah aja,”

Vera kemudian berdiri dan menoyor kepala Meilan. "Gundulmu (kepalamu)!”

Arumi menggeleng melihat kelakuan dua temannya itu. “Sudah. Sudah. Balik ke meja kalian, sampai bos lihat bisa keluar itu tanduknya!”

Mereka kembali ke meja masing-masing. Sampai waktu makan siang, bos dan karyawan baru itu belum terlihat. Tidak lama Edi masuk dengan kantong kresek di tangan, membawa makanan pesanan mereka.

“Rum! Kakak sepupuku pengen kenalan sama kamu, gimana?” tanya Vera di sela-sela kegiatan mengunyah.

Arumi menatap Vera. “Boleh. Kenalan aja, kan?”

Meilan menatap Arumi dengan tatapan heran. “Emang kalau lebih dari teman, kenapa?” sambar Meilan ikut bertanya.

Arumi meringis. “Belum siap aja, kasihan nanti lakinya.”

Vera, Meilan, dan Riska mengangguk mengerti. “Masih belum move on?” tanya Riska.

Arumi mengedikkan bahu. Ia sendiri bingung dengan diri sendiri. Perasaan itu masih ada, tetapi tidak sebesar dulu. Namun, jika harus menjalin hubungan baru ia belum siap. Melihat wajah Arumi berubah murung, ketiga temannya memeluk tubuh mungil itu untuk memberi kekuatan.

“Wah, ada teletubbies lagi pelukan. Kenapa nggak ngajakngajak?” Serempak keempat perempuan itu menoleh ke sumber suara. Ternyata Arlan–pimpinan kantor cabang— diikuti laki-laki yang mereka tebak karyawan dari pusat. Laki-laki dengan paras tampan, garis wajah tegas namun mempesona, serta netra hitam tajam membuatnya menjadi sosok sempurna.

“Yee. Enak di Bapak, dipeluk cecan-cecan seperti kita,” balas Meilan.

“Ya, nggak apa-apa. Yang enak-enak itu emang dicari,” sahut Arlan enteng membuat mereka melotot ke arahnya, Arlan terkekeh pelan. “Oh, ya! Kita ketiban rezeki nomplok, apalagi buat cecan-cecan di sini,” ungkap Arlan. “Ada karyawan baru dari pusat. Silakan memperkenalkan diri kamu!” perintah Arlan kepada orang baru di belakang dia.

“Saya Eru dan mohon kerja samanya.” Eru memperkenalkan diri singkat. Pandangan lekat miliknya tertuju pada gadis di depan. Mata tajam Eru memindai dengan detail perempuan di dekat meja dan tatapan itu seperti burung elang yang mengincar mangsa.

Arumi merasakan sesuatu yang cukup kuat dari tatapan karyawan baru itu. Entah apa, namun terasa berbeda dan membuat dirinya bergidik.

“Meja kamu di sebelah Arumi,” beritahu Arlan membuat perhatian Eru teralihkan. “Selamat datang dan jangan sungkan bertanya jika ada yang tidak kamu tahu, mereka pasti siap dan sukarela membantu.” Arlan berjalan ke ruangannya tapi berbalik. “Awas sama baju merah, ya. Bisa-bisa kamu di makan hidup-hidup,” tunjuk Arlan ke Meilan.

Meilan mendengkus keras. “Ya, kali, saya Sumanto suka makan orang,” sunggut Meilan. “Orang bening gitu, Pak. Sayang kalau dimakan, mending saya kekepin, Pak,” bantah Meilan. Arlan tertawa keras mendengar celetukan Meilan kemudian masuk ke ruangan. Meilan menjabat tangan Eru erat dan tersenyum genit. “Kenalin, Meilan Anggraini yang cantik jelita, single, 24 tahun, dan suka makan apa aja yang penting enak. Nomor handphone-ku 085780334772, anak dari pasangan Pak

Gunawan dan Bu Risma.”

Pria itu sudah terbiasa menerima godaan dari perempuan- perempuan di sekitarnya, jadi hanya membalas dengan sekadarnya.

Vera mengeplak kepala Meilan. “Kamu kira acara take me out? Edan!” Vera menyingkirkan Meilan dari hadapan Eru. “Anggap aja makhluk halus, nggak lihat dan dengar apa-apa.

Aku Vera, terus yang itu Riska dan Mpok Rum,” lanjut Vera.

“Yeee, Nenek Lampir sirik aja!” balas Meilan tidak terima dikatakan makhluk halus.

“Udah, udah! Balik sana!” perintah Riska melerai Meilan dan Vera.

Eru berjalan ke meja di samping Arumi. Ia memperhatikan semua gerak-gerik wanita itu. Akhirnya! Ia temukan. Kini setelah bertemu, Eru bersumpah apa pun yang terjadi Arumi harus menjadi miliknya. Laki-laki dengan tinggi 180 sentimeter itu tersenyum, namun bukan sekadar senyum, ada makna lain tersirat dalam senyuman itu.

Tbc.