Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Hari minggu waktu bagi Arumi bermalas-malasan. Bangun siang, maraton melihat drama Korea, dan tidur lagi. Enak sekali jika dibayangkan, tetapi sayang minggu ini Arumi terpaksa bangun lebih awal karena ayahnya meminta dia datang ke kedai. Jika dipikir-pikir lama juga Arumi tidak ke kedai. Dia sibuk di kantor, apalagi kalau akhir bulan membuat pusing.

Pukul 7.30 Arumi sudah rapi dengan blouse merah hati polos lengan pendek, celana jeans navy selutut dipadu sepatu sneakers abu-abu bergaris pink. Wajahnya dibubuhi bedak dan lipstik tipis, tidak lupa tas selempangnya. Perfecto! Arumi terlihat seperti anak kuliahan.

Waktu Arumi turun, Ayah dan buleknya tidak ada. Pasti mereka berjalan-jalan di taman kompleks. Di atas meja makan sudah ada nasi goreng dan susu cokelat. Sebenarnya Arumi malas harus makan sendiri, tetapi dia tak mau mengecewakan Nisa. Jadi, mau tidak mau ia memakannya.

Setelah mencuci gelas dan piring, Arumi langsung mengeluarkan mobil dari garasi kemudian melajukan meninggalkan rumah. Mobil suv merah ini ia dapat dari Ayah dan kakaknya sebagai hadiah ulang tahunnya dan jarang dia gunakan jika tidak ada hal yang penting, terlebih jalanan kota Malang yang semakin hari bertambah tingkat kemacetannya.

Parkiran kedai milik Sadewo penuh, terpaksa Arumi memarkirkan mobilnya di tanah kosong sebelah kedai. Dengan santai Arumi berjalan masuk dan beberapa pegawai ayahnya menyapa Arumi.

Kedai ini menyediakan masakan Jawa rumahan dengan konsep prasmanan. Tempat duduk berupa lesehan jadi lebih leluasa. Dindingnya dipasangi jendela-jendela lebar agar angin dari pohon rindang di samping kiri-kanan kedai bisa masuk.

“Loh, Mbak Arum kapan datangnya?” tanya Mia heran, karena ia tidak melihat Arumi datang.

“Barusan, kok. Aku lihat kamu lagi sibuk ngisi masakan jadi aku gantiin kamu di kasir,” terangnya. “Kok tumben sampai kamu ikutan ngisi?”

“Biasa Mbak kalau hari minggu gini rame. Mbak Arum sih nggak pernah ke sini,” terang Mia. Arumi cuma nyengir kecil, kemudian dia berdiri dari kursi kebesaran Mia dan menyerahkan pada perempuan itu.

“Nitip tas, Mi. Aku mau ke dapur dulu,” ucap Arumi dijawab anggukan kepala oleh Mia.

Arumi ke dapur. Terlihat Doni dan Pak Burhan sibuk memasak. Untuk karyawan lain mengelap piring, gelas, dan sendok garpu. “Wah, sibuk kayaknya.” Arumi menginterupsi kegiatan di dapur. Serentak mereka menoleh ke arahnya.

“Eh, Mbak Arum. Lama nggak ke sini. Ke mana aja, Mbak?” sapa Pak Burhan, juru masak yang sudah lama bekerja di sini.

“Hehe. Lagi sibuk di kantor, Pak. Ada yang bisa Arum bantu?” tawarnya mendekat ke meja makanan yang akan disajikan.

“Itu Mbak kalau ndak repot ngisi makanan di depan,” sambung Pak Burhan.

Arumi mengangguk lalu mendorong troli ke depan. Mengisi makanan yang hampir habis. Setelah selesai, Arumi kembali mendorong troli ke dapur. Tanpa disengaja roda troli terantuk batu kecil. Alhasil, jalannya sedikit goyang dan menabrak orang di samping hingga sisa kuah dalam baskom tumpah mengenai baju.

“Aduh! Maaf, Pak, saya tidak sengaja.” Arumi membungkuk seraya meminta maaf.

“Nggak apa-apa. Lain kali kalau kerja hati-hati, Mbak.” Arumi seperti mengenal suara ini, ia pun mendongak memastikan. “Kamu?!”

“Wow, nggak sangka ketemu cewek judes di sini,” ucap Eru sumringah. Ini benar-benar kejutan bertemu Arumi.

Arumi berdecak kesal. “Rugi aku minta maaf sama kamu.” Arumi pergi meninggalkan Eru, sementara itu Eru mengekor di belakangnya.

“Rugi kamu bilang?! Harusnya aku yang rugi, Mpok. Udah ngotori baju dan nggak mau minta maaf lagi. Mpok ganti rugi bajuku. Ini baju mahal!”

“Emang berapa? Palingan juga tiga ratus ribu,” cibir Arumi. Arumi mengembalikan troli di pojokan dekat rak.

“Ck! Yakin mampu ganti bajuku kalau tahu harganya?” tanya Eru dengan wajah menantang. “Ini aku beli dari tempatnya sono, New York.”

“Sombong! Palingan juga beli di Roma,” sahut Arumi ketus. Lalu ia duduk di kursi dekat meja untuk mengelap alat-alat makan.

Eru menarik kursi kosong di belakangnya dan meletakkan di sebelah kanan Arumi, “Roma apaan?”

“Rombengan malam.”

“Wah, penghinaan ini, Mpok. Ini baju aku beli asli dari tokonya.” Eru masih meyakinkan Arumi kalau dia tidak bohong.

“Ck! Nggak percaya aku.”

“Eh, dibilanginin nggak percaya. Pokoknya nggak mau tahu, harus ganti ini baju,” otot Eru. Enak saja dibilang beli di rombengan malam, sorry dia bukan pencinta BaBe alias barang bekas.

“Aku laundry aja.”

“Nggak! Ganti bajunya.”

Sialan ini laki ngotot. “Sayang uangku. Tinggal laundry beres.”

“Nggak! Pokoknya harus ganti. Kalau nggak, aku datangi rumahmu minta ganti ayahmu.”

“Ck, sialan! Iya kuganti. Apes bener ketemu kamu di sini,” sunggut Arumi.

“Harusnya kamu bersyukur ketemu cowok ganteng kayak aku,” sahut Eru. Arumi memasang ekspresi ingin muntah. “Siap-siap aja tabunganmu habis,” kata Eru penuh kemenangan, tetapi mana mungkin dia benar-benar meminta ganti rugi pada Arumi. Dia hanya menggoda saja. Kemudian kening laki-laki itu mengkerut. “Eh, ngapain di sini? kerja?” Eru menatap penampilan Arumi dari atas ke bawah dan balik lagi. Sneakers mahal, jeans ber-merk melekat pas di kaki, dan blus dari brand ternama, jelas tidak cocok untuk ukuran seorang pegawai rumah makan.

“Lah, serah aku dong. Kamu sendiri ngapain di sini?” Bukannya menjawab Arumi malah balik bertanya.

“Nyuci piring. Ya, makan lah!” ucap Eru jengkel. “Kamu belum jawab.”

“Oohh.” Arumi kembali mengalihkan perhatian pada alatalat makan di depannya. Laki-laki itu menatap lekat dan membuat Arumi risih. Ia berupaya berpura-pura tidak tahu tapi akhirnya tidak tahan juga. “Ngapain masih di sini? Sono pergi makhluk gaib, jangan bikin rusuh di tempat orang,” usir Arumi yang tidak digubris Eru. Laki-laki itu malah menghampiri Pak Burhan yang serius dengan masakan.

“Wah! Baunya bikin lapar Pak.” Eru membuat Pak Burhan langsung menoleh sedikit kaget ada orang asing di dapur. “Saya temannya Arumi.” Eru memperkenalkan dirinya dan Pak Burhan mengangguk paham.

Arumi berdiri lalu menarik paksa tangan Eru agar keluar dari dapur. “Udah deh, pergi sono. Jangan ngerecoki orang kerja.”

Sebenarnya Eru masih ingin menggoda Arumi, tetapi ia menurut juga. “Pelit amat sih, Mpok! Aku kan nggak ngapangapain,” sungut Eru lalu mengambil piring dan memilih menu yang disajikan di meja panjang.

Selesai makan, Eru berjalan ke kasir. Mia menyerahkan struk pembayaran. Matanya memperhatikan Arumi yang sibuk dengan ponsel pintarnya. Laki-laki itu mengulurkan uang dan menerima kembalian dari Mia. “Mbak, boleh tanya? Itu siapa sih?” tunjuknya.

Mia menoleh mengikuti arah yang dimaksud Eru. “Ohh, Mbak Arum? Anaknya yang punya kedai ini Mas,” terang Mia.

“Kok nggak pernah kelihatan kalau saya ke sini?”

“Emang jarang ke sini Mas. Saya aja kaget tumben ke sini pagi-pagi. Habis dapat pencerahan dari mana kok mau kemari, biasanya susah bener.” Mia menjawab pertanyaan Eru.

“Dari pawangnya kali. Judes, ya, Mbak?”

“Nggak kok Mas, baik malah,” bantah Mia dan memang Mia tidak bohong.

Eru tak percaya sebab jika kepadanya Arumi itu layaknya musuh. “Kok sama saya judes, ya, Mbak. Kalau ngomong suka pedes kayak cabai sekilo,” beritahu Eru dengan raut wajah sedih.

“Jin ifrit pergi kamu! Jangan ngerecoki orang. Hus, hus, hus!” usir Arum.

“Dikata aku ayam, Mpok! Main usir aja, lagian serah aku lah.”

“Pergi! Kalau nggak, aku timpuk, nih.” Arum mengangkat sapu yang diambilnya kemudian diarahkan pada Eru. Jelas saja Eru mundur. Siapa yang mau mendapat ciuman mesra dari sapu. Sakit coy!

“Aku ini pembeli dan pembeli itu raja. Semau aku, dong.”

“Bodo! Aku nggak perlu pembeli kayak kamu. Nggak usah beli di sini, sumpek lihat mukamu,” tunjuknya.

Di tengah perdebatan Eru dan Arumi, Sadewo dan Nisa datang. Dahi orang tua Arumi mengerut melihat apa yang ada di depannya. Arumi jelas kelihatan kesal, tetapi lelaki di depannya malah cengengesan.

“Ada apa ini?” tanya Sadewo bergantian menoleh ke Arumi dan Eru.

“Eh, nggak ada apa-apa, Yah.” Arumi menghampiri ayahnya lalu mencium tangan kanan Sadewo dan Nisa.

“Terus itu kenapa kok bawa-bawa sapu? Buat apa? Terus dia siapa?” tunjuk Nisa ke arah Eru.

“Ini Bulek mau nyapu hehe,” jawab Arumi. “Laki-laki ini?

"Nggak tahu, Bulek.”

Eru melotot dengar jawaban Arumi. Amnesia, nih, cewek. Ide jahil melintas di otak Eru, seru kayaknya. “Saya Eru, Om. Pacarnya Arumi.” Eru menjabat tangan Sadewo dan Nisa. Arumi tentu saja mendelik kaget pada Eru. Pacar dari mana coba, rasanya Arumi ingin gampar itu mulut, seenak udelnya kalo ngomong, gumam Arumi dalam hati.

“Oh! Pantes Arum nggak mau dikenalin sama anak-anak teman, Om. Udah ada pacar to.” Sadewo terkekeh.

“Lah bener to, Mas, kalau udah waktunya pasti Arum dapat jodoh juga,” sahut Nisa di samping Sadewo yang memeluk Arumi.

“Udah lama di sini? Ayo, duduk di dalam kita ngobrol dulu,” ajak Sadewo merangkul pundak Eru.

Mereka jalan beriringan ke ruang pribadi Sadewo. Arumi cuma bisa menghela nafas kasar mengikuti di belakang Sadewo dan Eru. Nisa sendiri berbelok ke dapur membuat minuman untuk mereka. Senyum tampak di bibir Nisa. Akhirnya ada laki-laki yang bisa memecahkan kebekuan hati Arumi. Nisa tahu jika Arumi membentengi dirinya dari cinta.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel