Bab 5
Gila! Apa maksud Eru mengaku sebagai pacarnya, dasar cowok edan! Gila! Sarap!! Ingin rasanya mencakar-cakar itu muka. Aarrghh! Kalo begini ayah pasti akan bertanya 'kapan nikah' terusmenerus, padahal Arumi tidak ada niatan untuk menikah, jangankan menikah mempunyai niat dekat sama laki-laki saja tidak.
Eru sialan!! Gila!! Untuk apa memberi harapan palsu pada Ayah dan buleknya. Arumi membuang nafas keras. Kemarin saat melihat kegembiraan di raut wajah ayahnya membuat Arumi berpikir ulang. Tegakah dia mengatakan yang sebenarnya dan menghancurkan harapan ayahnya.? Tapi di sisi lain, dia sedang tidak ingin menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Ini namanya makan buah simalakama. Jika dia mengatakan yang sebenarnya ayahnya pasti kecewa. Tetapi jujur saja dia belum siap. Duh!! Kenapa jadi ribet, sih! “Jalan meleng aja itu pintu bukan kasur, sakit kalau dicium.” Arumi mengusap bahunya yang ditepuk cukup keras oleh Vera.
Sialan nih anak dikira nggak sakit apa.
“Ck! Sakit tahu.” Arumi jalan di belakang Vera.
Vera memutar bola matanya. “Lah, mending aku gablok daripada kamu nabrak pintu. Kan, nggak lucu udah cantikcantik nabrak, malu dong.” Vera jalan di depan Arumi. “Lagian kenapa, sih? Ada masalah? Ngelamun aja.”
“Tahu, deh, pusing aku.”
Mereka melangkah ke lantai dua, berpisah di meja masing-masing. Di meja pun sudah tersedia teh manis hangat, gorden sudah dibuka, lantai bersih setelah disapu dan dipel. Jendela-jendela juga dibuka membuat udara segar menerobos masuk.
Perempuan itu melihat jam di dinding. “Tumben yang lain belum datang?” Arumi mulai menyalakan komputer di depannya lalu menyesap tehnya sambil menunggu komputer menyala sempurna.
“Riska sama Pak Arlan ke kantor pusat Surabaya, Meilan nggak tahu tuh ke mana, biasanya udah teriak-teriak aja.” Vera mengangkat bahu.
“Ver! Kamu masih ngarepin Pak Arlan?” tanya Arumi mendekat seraya menarik kursi kosong di sebelahnya.
Vera terlihat menghela napas. “Pengen stop aja, nggak ada respon. Pak Arlan nggak mungkin nggak tahu kalau aku suka dia. Tapi dia cuek aja, tuh, makan hati dan bego-nya kenapa hatiku nggak bisa diajak kompromi.” Raut wajah Vera berubah sendu. “Aku berpikir ingin nyerah. Terlalu lama aku ngejar dia. Ada saatnya aku lelah.” Vera menghela napas pelan. Arumi menggenggam tangan Vera memberi kekuatan.
“Yang semangat, dong. Vera temanku tuh pantang nyerah, ya, meskipun dia nyebelin.”
Vera melotot garang pada Arumi. “Niat ngasih semangat apa ngehina aku, sih,” gerutu Vera. “Aku nyerah bukan karena apa, aku nggak mungkin ngarepin dia terus yang nggak pernah lihat aku. Mending nyerah sebelum aku terlalu cinta dia. Mending sama orang yang cinta aku, senggaknya dia nggak bakalan sakiti. Aku juga pengin dicintai juga kali, Rum. Ibarat aku sakit, tapi nggak sembuh-sembuh dan minum obat terus, adakalanya aku bosen kan minum obatobatan terus.”
Arumi mengerti dan mengangguk. Rumit juga. “Cinta kok gini banget, ya, Ver.” Arumi menangkup wajahnya dengan dua tangannya di atas meja Vera. “Sekalinya cinta eh ditikung saudara sendiri, mana iming-imingnya selangkangan lagi.”
“Wajar kalau tergoda, Rum, namanya juga laki-laki normal. Tapi saudaramu gila juga, ya, udah tahu Ibra pacarmu masih juga diembat kayak nggak ada cowok lain aja,” sungut Vera. “Aku lihat sampai sekarang kamu betah sendiri, mau sampai kapan ratapi nasib gini? Nggak kasihan sama orang tuamu? Mereka pasti pengin lihat kamu nikah.” Vera menatap iba sahabatnya itu.
“Nggak tahu.” Arumi mengangkat bahu. “Malas, Ver, urusan sama laki-laki. Takut kecewa lagi dan aku belum siap.”
“Tapi Rum–”
Sesi curhat Vera dan Arumi berhenti melihat Meilan dan Eru datang bersama. Arumi kembali duduk ke kursinya, memberi tatapan tidak bersahabat pada Eru.
“Selamat pagi.” Meilan menyapa dengan senyum semringah mood-nya sedang bagus.
“Wuihh. Ada apa, nih? Senang bener, Mei.” Vera yang duduk di sebelahnya langsung menyahut begitu Meilan duduk.
Wajah Meilan tampak berseri. “Ya, dong! Kan, dapet suntikan semangat dari ayang embeb.” Meilan yang masih senyum-senyum langsung menyalakan komputer, sedangkan Eru, dia menatap Arumi tanpa berkedip.
“Kedip woyy! Ntar copot tuh mata. Nggak bakal kabur juga Arumi,” ledek Meilan. Tangannya mengambil pulpen kemudian dia lemparkan ke Eru.
Eru tertawa gurih seperti snack taro dan belum siap menghindar. Alhasil pulpen itu mengenainya. “Aduh. Sialan kamu, Mei.”
Arumi tidak menanggapi celetukan Meilan, mood-nya langsung jelek melihat wajah orang di sampingnya. Lebih baik ia cepat menyelesaikan tugas-tugasnya dengan begitu ia bisa pulang lebih awal.
“Omg omg. Nih laki udah baik, tajir pula. Deket udah aku tarik ke KUA, deh,” seru Mei menginterupsi konsentrasi Arumi dari tugasnya.
“Sapa, sih, Mei?”
“Nih! Si Akang Mahameru, tapi sayang nggak pernah ada fotonya bikin kepo aja.”
“Jelek kali muka dia makanya nggak berani nampang,” sahut Arumi.
“Kalau ngomong jangan asal njeplak, aja, Mpok, kan belum tahu gimana orangnya,” balas Eru.
“Biarin, mulut-mulut aku. Ya, suka-suka aku lah,” jawab Arumi ketus.
Eru semakin gencar menggoda Arumi. “Ck, itu mulut beneran pedes, Mpok. Minta dicium itu bibir biar nggak judes-judes.”
Arumi mendelik sengit pada Eru karena ucapannya. “Belum dicium, aku hajar kamu.” Arumi memberi peringatan pada laki-laki itu dengan mengangkat kepalan tangan ke arah Eru lalu kembali melihat layar komputer di depannya.
Eru terkekeh geli. “Wuih, gahar juga kamu. Aku heran sama kamu. Kan, belum tahu tampangnya, bisa gitu ngatain dia jelek. Pasti ada alasannya kenapa dia nggak mau mempublikasikan fotonya tapi bukan berarti dia jelek,” protes Eru. “Misal, nih, ya, misal kalau Si Maha-maha itu ganteng, kamu mau?” tanya Eru. Ekspresi jahil di wajah pria itu telah berganti serius.
Arumi memutar kursinya menghadap Eru. “Nggak ada pertanyaan yang bermutu? Mikir dong, mana mau orang macam dia mau sama rakyat jelata. Impossible!”
“Kan, gue bilang 'kalau', Rum. Kamu tinggal bilang, mau apa nggak gitu aja, kok, repot. Dasar cewek, bisa jawab mudah dibuat susah,” gerutu Eru.
“Duh! Udah, deh! Kamu diam, aja, nggak usah banyak bacot. Aku lagi males ladeni kamu. Sumpah, ya! Empet aku lihat kamu, bawaannya pengin nyakar muka-mu.”
“Mending kamu cium aku, Rum, daripada cakar muka tampanku. Lebih nikmat dan bikin ketagihan,” goda Eru. Alisnya naik turun dengan senyum jahil.
“Amit-amit jabang bayi, jangan sampai.” Tangan Arumi menggetok mejanya tiga kali.
Eru terkekeh melihatnya ekspresi Arumi yang seakan jijik kepadanya. “Awas, Mpok, sekarang amit-amit besok lagi-lagi loh.”
“Nggak bakalan!” Arumi mengepal tangan geram. Ingin rasanya gebuki itu cowok, biar rasa dia.
Meilan buru-buru menyela Arumi dan Eru. Sinyal-sinyal perang sudah terdeteksi. “Ini berangkatin umroh orang nggak mampu.”
“Dih, banyak kali, Mei. Nggak cuma dia, aja.” Kali ini Vera ikut buka suara.
Meilan tak terima dengan omongan Vera. “Tapi ini banyak loh orangnya, Ver. Kalo cuma satu dua orang sih biasa, tapi ini dua puluh orang. Udah berapa fulus itu yang keluar.” Meilan memutar kursinya menghadap Vera.
Arumi mulai bosan mendengar Meilan memuji terus orang tidak jelas itu. “Segitu nggak bakalan bikin Si Maha-maha itu bangkrut, Mei. Marger beberapa swalayan aja sanggup apalagi berangkatin umroh nggak ada apanya,” gumam Arumi.
“Ada gitu ya, orang nggak perlu susah-susah nyari uang. Tinggal duduk doang uang ngalir sendiri. Kita kapan ya, Mei?” Vera menopang dagu dengan kedua tangannya berkhayal mempunyai uang tanpa bekerja.
“Mana ada, Ver, kalau ngayal yang bener aja. Yang piara tuyul aja masih kerja. Kecuali kamu jadi mami-mami noh baru ongkang-ongkang kaki duit ngalir,” sahut Arumi lalu kembali fokus dengan pekerjaannya .
“Duh! Beneran aku kepo nih sama cowok ini, misterius gitu, nggak ada yang tau tampang dia.” Meilan benar-benar penasaran karena secara diam-diam ia mencari informasi tentang pengusaha itu.
“Udah sih nggak penting juga ngurusi tuh orang, mana sok misterius lagi kayak dia orang penting aja,” sela Arumi.
Eru hanya diam mendengar obrolan mereka bertiga, tidak berniat menimpali. Hanya saja dia heran, kenapa Arumi antipati terhadap laki-laki. Ditilik dari obrolannya dengan Sadewo—ayah Arumi—perempuan itu pernah mengalami kekecewaan dengan laki-laki. Karenanya, beliau senang akhirnya Arumi mempunyai pacar setelah satu setengah tahun sendiri. Sadewo sempat takut Arumi lebih memilih kesendiriannya, sebab itu Sadewo minta mereka segera tunangan atau nikah daripada lama-lama pacaran. Eru sendiri merasa bersalah terhadap orang tua Arumi karena berbohong. Eru membuang napas keras. Apa yang sudah dia lakukan salah, bisa dibayangkan kecewanya mereka sampai tahu yang sebenarnya.
#######
Tepat pukul lima sore Arumi membereskan mejanya dan bersiap pulang, tapi dia tidak langsung pulang karena mampir ke supermarket lebih dulu untuk mencari barangbarang pesanan buleknya ah bukan tapi ibunya. Arumi memutuskan untuk memanggil Nisa dengan sebutan 'ibu'. Arumi sangat bersyukur Nisa menjadi ibunya walaupun ibu tiri. Jangan membayangkan ibu tiri seperti di televisi yang kejam. Nisa itu baik, telaten mengurus ayahnya, dan perhatian ke Arumi juga ke saudara-saudaranya.
Nisa juga yang mendukung, membantunya bangkit, dan menjadi tempat keluh kesah. Nisa sudah seperti sahabat baginya. Terkadang Tuhan itu adil, mengambil orang yang begitu dia cintai lalu mengganti dengan orang yang sayang padanya.
Setelah barang yang dicarinya lengkap, Arumi antre di depan meja kasir. Cukup banyak yang antre padahal kasirnya tidak cuma satu. Setelah tiga puluh menit mengantre akhirnya Arumi bisa bernapas lega, dia ingin segera pulang.
"Ante!"
Tbc.
