Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sentuhan di Bawah Meja

Pria itu sengaja mendiamkan Sema yang tak kunjung bersuara. Dalam hening yang menekan itu, ia justru semakin mendekat, tangannya turun ke bawah dan meremas lembut paha yang terbalut dress satin licin membuat Sema kaku dan napasnya tercekat. Reaksi spontan Sema yang terkejut membuat pria itu menyeringai tipis, seolah puas melihat kegugupan yang tak mampu ia sembunyikan.

“Masih sama,” bisiknya rendah, nadanya penuh makna. “Seperti tadi malam.”

Lalu, tanpa memberi Sema kesempatan membalas, pria itu meraih knop pintu. Ia membukanya dan melangkah keluar dengan ekspresi santai, seolah tak terjadi apa-apa, memanggil Gino untuk turun ke bawah. Kesempatan itu akhirnya memberi Sema ruang untuk bernapas dan keluar dari kamar tersebut tanpa menarik perhatian.

Begitu pintu tertutup, Sema mengusap dadanya yang terasa sesak. Ia memukuli kepalanya sendiri pelan, merutuki kebodohannya dan segala keputusan ceroboh yang telah menyeretnya ke situasi ini. Dengan tangan gemetar, ia membuka perlahan pintu kamar pria yang seharusnya ia panggil paman—sebuah sebutan yang kini terasa ironis dan menyakitkan.

Sema bergegas masuk ke kamarnya sendiri. Ia mengganti pakaian, menata rambutnya, dan sibuk menutupi jejak kegugupan yang masih melekat di wajah serta sikapnya. Ia menarik napas panjang berkali-kali, berusaha mengembalikan ketenangan sebelum turun ke bawah.

Sementara itu, lantai bawah sudah ramai oleh keluarga Hamington.

“Serkan, kemarilah,” panggil Hamington.

Pria yang tengah dirangkul bahunya oleh Gino itu segera melangkah menghampiri ayahnya. Hamington duduk di ujung meja makan, di sampingnya Laes—anak sulungnya—bersama sang istri dan putri kedua mereka. Elif, adik Gino, juga duduk tak jauh dari sana.

Serkan mengambil tempat duduk berhadapan dengan kakaknya, tepat di sisi kiri ayahnya.

“Bagaimana perjalananmu? Pasti melelahkan,” tanya Hamington.

Serkan hanya tertawa ringan. Ia menuangkan minuman ke gelasnya, memilih sesuatu yang berbeda dari kopi atau teh yang dinikmati anggota keluarga lain—dua tahun di Las Vegas memang meninggalkan kebiasaan yang tak lagi sama.

“Bagaimana keadaan Papa? Masih kuat? Masih bisa mengalahkanku bermain catur?” godanya.

Hamington tertawa renyah. “Sangat kuat. Bahkan rasanya aku masih bisa memukulimu hingga babak belur,” balasnya bercanda.

Tawa pun pecah di meja makan.

Pandangan Hamington lalu beralih pada satu kursi yang masih kosong. “Di mana cucu menantuku?” tanyanya.

Gino mendesah kesal. “Entah ke mana Sema. Dua kali aku naik turun mencarinya,” gumamnya geram.

“Oh… jadi namanya Sema,” gumam Serkan dalam hati, sembari perlahan menggoyangkan gelasnya.

“Mada,” panggil Hamington pada kepala pelayan.

“Ya, Tuan Besar,” jawab Mada sigap.

“Tolong panggilkan Sema untuk turun sarapan.”

“Kakek, aku di sini.”

Suara itu membuat semua kepala menoleh bersamaan. Sema berdiri di sana, berusaha tersenyum setenang mungkin, meski jantungnya masih berdetak tak beraturan. Apalagi kala netranya bertemu dengan mata Serkan.

Sema segera melangkah dan duduk di kursi paling ujung meja makan—namun nasib seolah tak berpihak padanya. Kursi itu justru diapit oleh Gino di satu sisi dan Serkan di sisi lainnya.

Serkan menggeser rahangnya pelan, lidahnya bermain di balik gigi saat pandangannya jatuh pada Sema. Pagi itu, penampilannya membuatnya terperangah. Gaun yang dikenakan Sema sederhana, namun justru menonjolkan lekuk tubuhnya dengan sempurna.

Rupanya semalam aku tak benar-benar melihat dengan jelas… tubuh ini memang sempurna, gumam Serkan dalam hati.

Di bawah meja, tangannya bergerak perlahan. Dengan dalih merapikan posisi duduk, ia menarik kursi Sema sedikit lebih dekat ke arahnya.

Sema tersentak. Ia meremas tangan Serkan, memberi isyarat agar pria itu berhenti. Namun bukannya melepaskan, genggaman itu justru dibalas lebih erat. Jantung Sema berdegup semakin cepat, kegugupannya kian sulit disembunyikan.

“Sema,” suara Hamington memecah ketegangan. “Kamu sudah tahu, kan, kalau ini pamanmu? Namanya Serkan. Dia tinggal di Las Vegas dua tahun terakhir untuk mengurus perusahaan keluarga. Baru sekarang kembali, jadi wajar kalau kalian belum pernah bertemu.”

Sema mengangguk dengan senyum tipis, berusaha terlihat tenang sembari kembali menarik tangannya di bawah meja. Serkan tampak santai, seolah tak terjadi apa-apa, menikmati kepanikan kecil yang terlihat jelas di wajah Sema.

“Dari mana saja kamu?” omel Gino kesal. “Dua kali aku naik turun hanya untuk memanggilmu.”

“Maaf,” jawab Sema tenang. “Tadi aku membersihkan ruang baca dan ruang penyimpanan buku kakek di bawah tanah.”

Kebohongan itu membuat sudut bibir Serkan terangkat tipis, nyaris tak terlihat.

Hamington tersenyum senang. “Sudah setahun kamu menikah dengan Gino dan menjadi bagian dari keluarga Hamington, tapi kebiasaan rajinmu sulit hilang. Kamu masih saja membersihkan ruang baca di bawah tanah. Padahal selama Wenda menjadi bagian keluarga ini dan menjadi istri Laes, belum pernah aku mendapati dia turun ke sana.” Ia menghela napas pelan. “Andai istriku masih hidup, betapa bahagianya dia melihat cucu menantu secantik dan sebaik kamu, Sema.”

“Terima kasih, Kek,” jawab Sema lembut.

Pujian itu membuat Serkan semakin terpikat. Sementara di sisi lain meja, Wenda menahan senyum kaku. Dadanya terasa panas oleh rasa kesal dan iri, namun ia tetap memasang sikap ramah demi mempertahankan citra baik di hadapan ayah mertuanya.

“Ayo makan, nanti keburu dingin,” ujar Wenda cepat, lalu mengambilkan nasi untuk Laes.

“Sini piringmu,” katanya pada Serkan setelah itu.

Namun Serkan sama sekali tak menggubris. Ia hanya diam, menunggu. Pandangannya justru tertuju pada Sema yang sedang mengambilkan nasi untuk Hamington, lalu untuk suaminya.

Dengan santai, Serkan menyodorkan piring kosongnya ke arah Sema.

Sema tampak canggung, namun tetap mengambil piring itu dan menyendokkan nasi untuknya. Saat piring itu kembali ke tangan Serkan, pria itu sengaja menyentuh jemari Sema sedikit lebih lama dari seharusnya.

Sema langsung menarik tangannya dan bergegas duduk, bahkan menggeser kursinya lebih dekat ke arah Gino.

Adegan kecil itu tak luput dari pandangan Wenda. Rahangnya mengeras, matanya menyipit tajam.

Perempuan ini sungguh berani, gerutunya dalam hati. Berpenampilan seperti itu tepat saat Serkan kembali. Apa dia sengaja?

Elif pun tak kalah kesal. Sejak tadi, pamannya sama sekali tak menatap atau menyapanya. Pandangan Serkan hanya tertuju pada satu orang—Sema.

Selang beberapa waktu setelah selesai makan, beberapa dari mereka langsung pergi melakukan aktivitas masingmasing.

Hamington bersama Laes kian langsung berangkat ke Perusahaan untuk mengesahkan beberapa berkas yang harus ditandatangani hari ini juga untuk kerja sama dengan klien luar negeri.

sedangkan Wenda tengah membantu Elif bersiap untuk acara fashion shownya.

Gino? Dia sudah pergi sejak tadi tanpa menghabiskan sarapannya. Entah telepon siapa yang membuatnya buru-buru pergi.

Sema lalu membersihkan piring kotor bekas mereka sarapan untuk dibawa ke dapur. Mada sudah melarang namun Sema memang senang membantu. Terlihat dia yang begitu cekatan dalam membersihkan segala sesuatu.

Begitu ia membawa piring kotor itu ke dapur, langkahnya sesaat langsung terhenti saat melihat siapa yang berada di sana.

Serkan!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel