Hampir
Sema berusaha mengabaikan Serkan yang tengah duduk di meja wastafel menuang sampanye. Ia mengumpulkan piring-piring kotor dan meletakkannya satu per satu ke dalam wastafel, sengaja menyibukkan diri agar pikirannya tak kembali pada kejadian semalam. Saat ia hendak meninggalkan dapur, suara Serkan membuat langkahnya terhenti.
“Jejak di lehermu bersih sekali. Tak ada tanda apa pun yang tertinggal,” ujar Serkan tenang setelah menyesap winenya. “Sepertinya kamu sangat pandai menutupi setiap permainan yang sudah selesai kamu lakukan.”
Tangan Sema mengepal kuat. Dadanya bergejolak, amarah dan panik bercampur menjadi satu, meski wajahnya tetap ia paksa terlihat tenang. Ia ingin membalas ucapan itu, namun Mada keburu datang, meletakkan sisa makanan ke dalam laci kaca. Serkan melirik dengan isyarat halus, meminta Mada pergi. Gadis itu tampak mengerti dan segera meninggalkan dapur.
Begitu tinggal berdua, Sema mendekat dengan langkah tertahan. “Tolong jaga sikap, Paman,” katanya rendah namun tegas. “Sudahi membicarakan semalam. Kalau sampai terdengar orang lain, kita semua akan dihukum. Aturan di rumah ini sangat ketat.”
Serkan tersenyum tipis, lalu meletakkan gelasnya di atas meja. Ia melangkah mendekat, menarik pinggang Sema dan menyandarkannya ke meja wastafel.
“Paman, minggir,” desis Sema panik sambil mendorong dada Serkan. Usahanya sia-sia; tubuhnya yang kecil tak memberi pengaruh apa pun. Serkan mengungkungnya dengan kedua tangan, wajah mereka teramat dekat.
“Sayangnya, ingatanku sangat bagus,” ujar Serkan pelan, nyaris berbisik. “Semalam terus berputar di kepalaku. Bahkan saat sarapan pun aku masih mengingatnya.”
Mata Sema mendelik. Dengan refleks, ia menutup mulut Serkan dan menoleh cepat ke sekeliling, memastikan dapur benar-benar sepi. “Paman, tolong jaga sikap dan ucapanmu,” pintanya lirih. “Lupakan kejadian semalam. Jangan pernah mengungkitnya lagi. Aku tidak akan menuntut apa pun darimu. Aku akan menanggung semuanya sendiri—termasuk risikonya.”
Serkan mengamati wajah Sema dengan saksama, kedua mata itu membuatnya semakin terikat. Ia memajukan wajahnya hingga Sema spontan menutup mulutnya lebih rapat. Serkan menyeringai, lalu berbicara tepat di depan tangan Sema.
“Sayangnya, aku akan bertanggung jawab penuh atas hidupmu,” ucapnya mantap. “Bahkan jika harus terang-terangan merebutmu dari tangan keponakanku sendiri. Aku tak rela siapa pun mengambil peran itu.”
Ucapan itu membuat jantung Sema berdegup tak karuan. Ia menelan ludah, menyesali nasib buruk yang menjeratnya. Ia sadar kini, Serkan bukan sosok yang mudah dilawan, ditegasi, apalagi diusir begitu saja.
Tiba-tiba sebuah suara membuat suasana membeku.
“Kalian sedang apa?”
Pertanyaan itu membuat Sema refleks mendorong dada bidang Serkan hingga tubuh pria itu sedikit mundur. Wajahnya pucat seketika saat matanya bertemu dengan Wenda yang berdiri di ambang dapur. Jantung Sema berdegup kencang, sementara Serkan tampak jelas kesal—kedatangan Wenda benar-benar mengganggu momen yang baginya nyaris tak tertahankan.
Dengan cepat Sema menarik napas, memaksa dirinya tetap tenang. Ia melangkah mendekati ibu mertuanya itu dan berkata dengan nada wajar, seolah tak ada apa pun yang terjadi.
“Paman hanya menanyakan sampanye yang Mama beli. Katanya beliau sangat menyukainya dan ingin tahu jenis-jenis yang disimpan di lemari. Mungkin Mama bisa menjelaskannya. Aku sama sekali tidak paham soal sampanye.”
Alasan itu terlontar begitu rapi, tanpa celah. Wenda tak menunjukkan kecurigaan sedikit pun. Ia hanya mengangguk-angguk pelan. Sementara itu, tatapan Serkan tak sekali pun beralih dari punggung Sema. Bagi Serkan, lekuk tubuh kecil itu tampak sempurna—begitu memikat hingga pikirannya dipenuhi bayangan yang membuatnya nyaris kehilangan kendali.
Sema kemudian berpamitan dengan sopan, mengatakan ingin keluar menemui temannya, lalu meninggalkan dapur dengan langkah cepat.
Serkan ikut berbalik, berniat menyusul ke mana Sema pergi. Namun langkahnya terhenti ketika Wenda menghadang di depannya. Perempuan itu mendekat tanpa ragu, tangannya meraba dada Serkan dengan senyum penuh percaya diri.
“Sudah lama sekali kita tak bertemu,” ucap Wenda lembut. “Tubuhmu semakin bagus, parasmu juga… sungguh sempurna. Bagaimana kehidupanmu di Las Vegas? Membosankan, ya? Atau kamu merindukanku?”
Tangannya terus menggerayangi dada Serkan, tanpa malu-malu. Serkan menunduk menatapnya dengan sorot mata tajam namun datar.
“Dulu memang membosankan,” jawabnya singkat. “Terlalu banyak pekerjaan. Rupanya di sini lebih menyenangkan… karena ada sesuatu yang menarik.”
Wenda tersenyum puas, mengira ucapan itu tertuju padanya, padahal pikiran Serkan sama sekali bukan pada perempuan di hadapannya.
“Lalu sekarang?” tanya Wenda semakin berani. “Apa kamu ingin tidur denganku?”
Sejak menikah dengan Laes, Wenda justru semakin terobsesi pada Serkan. Ia membenci kenyataan bahwa mereka baru dipertemukan setelah statusnya terikat. Waktu adalah satu-satunya hal yang ia salahkan.
Serkan menyeringai tipis, sinis.
“Aku lebih menyukai perempuan yang menolakku,” katanya dingin, “daripada mereka yang melemparkan diri sesuka hati.”
Tanpa menunggu jawaban, Serkan melenggang pergi meninggalkan dapur.
Wenda mengepalkan tangannya kuat-kuat. Wajahnya mengeras oleh rasa kesal dan amarah—ucapan Serkan barusan jelas bukan pujian, melainkan sindiran yang menampar harga dirinya.
•••
Sema bersama kedua sahabatnya kian akhirnya tiba di sebuah club malam tempat salah satu teman mereka merayakan pesta. Lampu-lampu neon berkelip, antrean tamu tampak berderet di depan pintu masuk, sementara dentuman musik sudah terdengar bahkan sebelum mereka melangkah masuk.
“Belle, ayo pulang saja. Bagaimana kalau Gino tahu kita bawa Sema ke sini?” bisik Esca cemas, jemarinya masih menggenggam tangan Sema seolah takut melepasnya.
Sema menoleh, raut wajahnya justru tampak tenang. “Tenang saja. Aku sudah izin sama Gino,” katanya pelan namun yakin. “Asal tidak pulang terlalu malam.”
Ucapan itu membuat Esca dan Belle sama-sama menghela napas lega. Belle pun berjalan paling depan, memimpin langkah mereka. Dialah yang memegang kartu undangan dan paling tahu persis di mana pesta itu dirayakan. Setelah melewati pintu utama, mereka langsung disambut ruangan luas penuh cahaya temaram dan suara musik yang menggelegar.
Begitu masuk, Sema langsung merasa tak nyaman. Dentuman bass membuat dadanya berdebar, kepalanya sedikit pening oleh kebisingan dan keramaian orang-orang yang menari tanpa peduli sekitar. Ia melangkah pelan, mencoba menyesuaikan diri.
“Belle, tunggu,” panggil Sema sambil menyentuh lengan sahabatnya.
Belle menoleh. “Kenapa?”
“Aku mau ke kamar mandi. Di mana, ya?” tanya Sema.
Belle menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan lorong-lorong di sekitar mereka. “Esca, kamu antar Sema ke lorong kanan. Lurus saja sampai ada petunjuk toilet wanita.”
Esca mengangguk dan segera mengantar Sema. Mereka baru berjalan beberapa langkah ketika ponsel Esca bergetar. Ia berhenti, menatap layar.
“Sema, sebentar. Mamaku menelepon,” katanya. “Kamu nggak apa-apa pergi sendiri? Kamu kan sudah tahu arahnya.”
Sema mengangguk kecil. “Nggak apa-apa.”
Esca pun menepi, meninggalkannya. Sema melanjutkan langkah sesuai arahan Belle. Namun semakin jauh ia berjalan, lorong itu terasa semakin sepi. Tidak ada tanda bertuliskan toilet wanita seperti yang ia harapkan. Yang ada hanya deretan pintu-pintu tertutup, saling berhadapan, dengan cahaya redup yang membuat suasana terasa asing.
Sema berhenti, ragu. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia memilih pintu paling ujung dan perlahan memutarnya, berharap bisa bertanya pada siapa pun yang ada di dalam.
Namun begitu pintu itu terbuka, langkah Sema langsung terhenti.
Di hadapannya berdiri sosok yang sama sekali tak seharusnya tahu bahwa dirinya ada di tempat itu malam ini.
Serkan!
Lagi!
