
Ringkasan
Demi bertahan di keluarga Hamington, Sema berusaha menjebak suaminya sendiri demi memiliki keturunan dengannya menggunakan obat perangsang untuk tidur bersama setelah 1 tahun pernikahan mereka tak kunjung satu ranjang. sialnya Sema sendiri yang terjebak atas obat gila itu, malam itu ia bergulat panas diatas ranjang, melakukan berulang kali dan penuh keyakinan bersorak dalam hati akhirnya ia akan memiliki keturunan dari suaminya. keesokan paginya begitu bangun, bukan Gino—suaminya yang berbaring di sampingnya, yang semalam menghujam habis dirinya melainkan pria tampan dengan tubuh kekar dan rahang seksi. dia adalah Paman Gino, Serkan Hamington.
Malam yang Salah
***
Sema tampak mondar-mandir dengan gelisah di dalam kamar yang temaram. Langkahnya tak pernah benar-benar jauh—hanya berputar dari jendela ke pintu, dari pintu kembali ke meja makan kecil yang sudah ia tata dengan begitu rapi dan romantis. Lilin-lilin menyala tenang, bunga segar tersusun indah, seolah mengejek kegundahan yang terus menggerogoti dadanya. Pandangannya berkali-kali kembali tertambat pada meja itu, pada dua gelas anggur yang menunggu, pada harapan yang ia rajut dengan tangan gemetar.
“Apa pun yang terjadi, malam ini aku harus tidur dengannya. Aku harus segera memiliki anak dengannya,” gumam Sema lirih, lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri daripada siapa pun. Kata-kata itu terasa seperti janji dan doa yang dipaksakan agar terdengar nyata.
Deru mobil yang memasuki garasi akhirnya terdengar. Jantung Sema berdegup lebih kencang. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan pikiran dan hatinya, merapikan ekspresi sebelum menyambut kepulangan Gino. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengambil botol kecil itu dan memasukkan obat perangsang ke dalam masing-masing gelas mereka. Gerakannya cepat, nyaris tergesa, seolah takut ragu akan menghentikannya.
Sema memang sengaja menjebak Gino. Setahun pernikahan mereka berlalu tanpa satu malam pun berbagi ranjang. Setiap malam, Sema terlelap di sofa, sementara Gino tidur nyaman sendirian di kamar. Dan malam ini, ia memilih jalan yang ia yakini satu-satunya—mendapatkan benih Gino demi bertahan di Hamington.
Rasa gugup menyergap. Dengan ragu, Sema meraih gelas anggurnya sendiri, menyesap sedikit. Cairan itu terasa hangat di tenggorokan, dan entah sugesti atau kenyataan, detak jantungnya perlahan melambat. Ia menyesap sekali lagi sebelum meletakkan gelas dan berdiri menunggu di dekat pintu.
Lima menit berlalu. Sepuluh. Tak ada langkah kaki yang mendekat. Kenapa lama sekali?
Sema mengusap leher jenjangnya. Rasa gerah dan panas menjalar tak wajar ke seluruh tubuhnya, membuat napasnya sedikit memburu. Kakinya bergerak gelisah ketika sensasi aneh—kedutan halus yang tak semestinya—menyentuh sarafnya. Penantian itu berubah menjadi ketidaknyamanan yang kian sulit diabaikan.
Tak lagi sanggup menunggu, Sema memilih keluar untuk mencari Gino. Namun begitu melangkah, tubuhnya terasa ringan sekaligus rapuh. Langkahnya sempoyongan. Menyusuri lorong menuju lantai bawah pun menjadi perjuangan; ia berulang kali tersandar di dinding, memegangi kepalanya sambil menggeleng pelan, mencoba mengusir rasa pening yang tiba-tiba datang. Sesekali tangannya terangkat, mengusap leher hingga ke dada, seolah mencari pegangan pada dirinya sendiri—pada sisa kendali yang kian menipis.
Tubuh Sema tiba-tiba terasa melayang, keseimbangannya lenyap seketika. Ia hampir terjatuh ke lantai dingin jika saja sepasang tangan tidak menangkapnya dengan cekatan. Lengan itu kuat, kokoh, menahan tubuhnya yang melemah seolah sudah terbiasa memikul beban.
“Gino… tubuhku panas,” keluh Sema lirih, refleks memeluk tubuh kekar yang terasa begitu nyaman, begitu aman. Kepalanya bersandar di dada bidang itu, sementara napasnya kian tak teratur.
“Gino, bawa aku ke kamar,” pintanya lagi dengan suara serak. Tanpa sadar, Sema mengendusi leher dan jakun orang yang sedang memeganginya, mencari kesejukan yang justru tak pernah ia temukan. Ia sama sekali tak menyadari—atau mungkin tak peduli—siapa sebenarnya sosok yang kini ia peluk.
Pria tampan nan kekar itu tak banyak bicara. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam namun penuh pertimbangan. Ia mengangkat tubuh Sema dengan mudah, lalu melangkah mantap menyusuri lorong. Namun langkahnya berbelok, bukan menuju kamar Sema dan Gino, melainkan menuju kamarnya sendiri.
Begitu pintu tertutup, ia membaringkan Sema perlahan di atas ranjang. Ia hendak berbalik pergi, berniat mengambil air atau memanggil bantuan, tetapi tiba-tiba dasinya ditarik. Tubuhnya tertahan. Bibirnya dikulum lembut—singkat, panas, dan penuh ketidaksadaran.
Pria itu segera menarik diri, dadanya naik turun. Ia menatap Sema yang wajahnya memerah, tubuhnya bergerak gelisah, bibirnya meracau tanpa arah. Gaun yang dikenakan Sema tampak begitu pas di tubuhnya, menegaskan lekuk-lekuk indah yang membuat napas siapa pun terasa lebih berat. Cantik. Terlalu cantik dalam keadaan seperti ini.
“Gino… tubuhku sungguh panas, tolong aku,” lirih Sema lagi.
Pria itu masih diam, hanya mengamati. Ada kekaguman yang tak bisa ia sangkal, ada kegelisahan yang tak bisa ia sembunyikan.
“Sadarkan dirimu lebih dulu,” akhirnya ia membuka suara, berat dan tertahan.
Namun kata-kata itu tak menghentikan Sema. Seketika, kedua tangannya mengalung di leher pria itu, menariknya lebih dekat. Dengan mata berkaca-kaca dan suara penuh luka yang terpendam, Sema berkata,
“Kenapa… kenapa selama satu tahun pernikahan kamu tidak mau tidur seranjang denganku? Kamu kira aku tidak capek tidur di sofa? Tubuhku selalu sakit saat bangun… sebenarnya apa alasanmu menolak kita tidur bersama?”
Keluhan itu meluncur begitu saja, jujur dan telanjang, membuat pria tersebut terdiam. Ia terperangah—bukan oleh tuduhan, melainkan oleh wajah Sema yang kini tampak rapuh, cantik, dan penuh perasaan. Kekaguman justru menguasai dirinya, alih-alih segera menariknya kembali pada kesadaran.
Pria itu mengangkat tangannya, membelai pipi Sema dengan gerakan yang begitu lembut, seolah berlawanan dengan riuhnya gejolak di dalam dadanya. Ibu jarinya menyapu kulit hangat itu perlahan, menelusuri garis rahang yang kini memerah karena demam dan hasrat yang tak terkendali.
“Kau sungguh ingin tidur denganku?” tanyanya rendah, suaranya berat dan tertahan.
Sema mengangguk tanpa ragu. Tatapannya buram, namun tekadnya jelas. “Berikan aku benihmu,” ucapnya lirih namun penuh desakan.
Kata-kata itu membuat pria tersebut menyeringai tipis—senyum yang sarat kemenangan, seolah semesta sendiri tengah berpihak padanya, membuka jalan pada kenikmatan yang tak pernah ia rencanakan namun kini terhampar begitu saja. Ia menunduk sedikit, menatap Sema lekat-lekat.
“Kau yakin tidak akan menyesalinya?”
Sema menggeleng keras. Tanpa memberi ruang bagi keraguan, ia menarik tengkuk belakang pria itu, mendekatkan wajah mereka. Bibirnya kembali melumat, kali ini lebih berani, lebih menuntut. Ada keberanian yang lahir dari keputusasaan, ada kehangatan yang membakar batas-batas nalar. Gerakannya kian agresif, seolah seluruh penantiannya selama setahun tumpah dalam satu tarikan, satu cengkeraman, satu keputusan yang tak ingin ia tarik kembali.
pria itu seketika menarik dirinya, kembali mengamati wajah Sema, sayu dan penuh nafsu.
Pria itu sontak melepas dasi serta jasnya, menarik kemejanya dengan sekali hentakan dan melemparnya ke sembarang arah.
Ia kembali menindih tubuh kecil Sema dan sedikit mengangkat tengkuk belakang Sema demi bisa memperdalam pangutan mereka.
Decapan lidah mereka benar-benar memenuhi ruangan, tangan kekar itu juga kian aktif dalam melucuti pakaian Sema, mencumbu basah di sana sini, meninggalkan tanda disetiap inci tubuh putih bak porselen itu dengan begitu rakus dan hasrat yang tinggi.
Hampir semua pakaian sudah terhempas, hanya bra dan kain segitiga yang masih melekat, untuk terakhir kalinya, pria itu kembali bertanya pada Sema, "Kau yakin ingin melakukannya denganku?" Sema mengangguk sembari bergerak gelisah kedua kakinya, tak tahan dengan rasa panas di sekujur tubuhnya.
"Lantas tidak ada kesempatan untuk kamu menyesal besok pagi, kamu akan menjadi milikku, bukan istri Gino lagi!" bisik pria itu.
