Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Jadi Milikku

“Sema!”

Panggilan keras itu memecah keheningan pagi, menembus lapisan selimut tebal yang masih membungkus tubuh Sema. Ia berada dalam dekapan seseorang—hangat, kokoh, dan terasa begitu menenangkan hingga membuatnya enggan terbangun.

“Sema!”

Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih keras, lebih menuntut. Alis Sema mengernyit, tubuhnya menggeliat kecil. Rasa berat di pinggang dan dada yang terhalang membuat napasnya terasa sempit. Perlahan, matanya terbuka.

Hal pertama yang ia lihat adalah dada telanjang yang bidang dan kekar, kulit hangat yang nyaris membuatnya tersenyum lega.

 Untuk sesaat, pikiran Sema dipenuhi keyakinan manis—ia mengira telah menghabiskan malam bersama suaminya.

Namun ketika kepalanya terangkat dan pandangannya naik ke wajah pria itu, dunia Sema seolah berhenti berputar.

Mata itu… bukan milik Gino.

Jantungnya berdegup keras, darahnya serasa surut seketika. Keterkejutan membekukan tubuhnya.

Tok. Tok.

“Paman!”

Suara Gino terdengar jelas dari balik pintu.

Napas Sema tercekat. Tenggorokannya kering. Kata paman itu menggema keras di kepalanya, menghantam kesadarannya tanpa ampun.

Jadi semalam aku…

“Paman sudah bangun?” suara Gino kembali terdengar, disertai ketukan yang lebih tegas.

Sema refleks hendak bangkit, panik merayap cepat. Namun sebelum ia sempat melarikan diri, sebuah tangan kuat menarik pinggangnya, membuat tubuhnya kembali terhempas ke ranjang.

“Tenang,” suara pria itu rendah namun terkendali. “Bersihkan dirimu dulu di kamar mandi sebelum menemui suamimu.”

Sema hanya mampu menatapnya dengan mata membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Otaknya menolak bekerja, kata-kata tercekat di antara rasa takut dan rasa bersalah yang menyesakkan.

Pria itu bangkit dengan tenang, meraih kaos dan mengenakannya seolah tak terjadi apa-apa. Saat tangannya menyentuh gagang pintu, ia menoleh kembali.

Sema masih duduk terpaku di ranjang, jemarinya mencengkeram selimut yang menutup setengah tubuhnya.

“Kau mau tetap di situ?” ucapnya dingin namun menusuk. “Dan membiarkan suamimu melihat semua tanda merah di tubuhmu?”

Sema terbelalak. Panik seketika menyergap. Ia bangkit tergesa, mencengkeram selimut erat-erat, lalu berlari masuk ke kamar mandi tanpa menoleh lagi.

Di luar, pria itu hanya menyeringai tipis sebelum membuka pintu dan menghadapi Gino—meninggalkan Sema sendirian dengan air dingin, gemetar, dan kenyataan pahit yang tak bisa ia hindari.

Pria itu membuka pintu kamarnya. Dan benar saja, di ambang pintu telah berdiri Gino dengan senyuman manis yang selalu ia kenali.

“Paman sudah bangun?” tanya Gino ringan.

Pria itu hanya mengangguk singkat.

Tanpa ragu, Gino langsung memeluknya erat. “Maaf aku baru pulang tadi pagi. Semalam temanku mengadakan pesta,” katanya santai sebelum akhirnya menguraikan pelukan itu.

Pria itu tetap diam, kedua tangannya terselip di saku celana, ekspresinya tak banyak berubah.

“Oh ya, Mama suruh paman turun untuk sarapan,” lanjut Gino tanpa sedikit pun rasa curiga. Ia pun langsung melenggang pergi menuju lantai bawah.

Begitu pintu kembali tertutup, pria itu berbalik. Pandangannya langsung tertuju pada Sema yang baru saja keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih sedikit lembap, kulitnya tampak bersih dan segar, membuatnya terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.

Pria itu bersandar di pintu, memandangi Sema tanpa berkedip.

Sema tampak canggung, sungkan, sekaligus bingung. Ia melangkah mendekat dengan jemari meremas ujung dress-nya gugup. “Semalam… maaf. Aku mabuk dan membuat kesalahan yang fatal. Aku harap paman—”

Ucapannya terhenti ketika pria itu maju mendekat.

Napas Sema seolah tercekat. Tenggorokannya terasa dicekik, dan matanya sama sekali tak mampu lepas dari paras rupawan di hadapannya.

“Paman?” tanyanya lirih.

Pria itu justru menarik pinggang ramping Sema, membuat tubuh mereka melekat rapat. Sema tersentak dan refleks mendorong dada bidang itu, namun sia-sia.

“Paman, tolong lepaskan. Suamiku bisa melihat kita seperti ini,” ucap Sema gugup, matanya terus menghindari tatapan pria tersebut.

Pria itu hanya melengkungkan senyum tipis. Ia merunduk, mengangkat dagu Sema agar menatapnya. “Kau memanggilku paman pagi ini, setelah semalam menarikku ke atas ranjang. Sekarang kau takut Gino tahu? Setelah kau merayuku dan memintaku membantumu?” suaranya rendah, menusuk. “Atau memang sejak awal kau memanfaatkanku untuk membuatnya cemburu?”

Sema mendorong dada pria itu dengan kasar, berhasil membuat jarak meski hanya sedikit. Ia menarik napas panjang, merapikan rambutnya dengan tangan gemetar.

“Tolong ampuni kesalahanku semalam. Itu murni kesalahanku,” katanya tegas. “Dan di sini, aku yang paling dirugikan. Aku siap menanggung semuanya sendiri, tanpa perlu tanggung jawab darimu.”

Pria itu tersenyum tipis, lalu kembali melangkah mendekat hingga Sema mundur dan tersudut di dinding. “Menurutmu aku tidak dirugikan?” katanya menggoda. “Itu pertama kalinya untukku.”

Sema mengalihkan pandangan, menolak menatap mata pria itu.

Namun pria itu kembali menarik pinggangnya, membuat tubuh mereka melekat sekali lagi. Sema tersentak untuk kedua kalinya.

“Ceraikan Gino,” bisiknya. “Dan jadilah milikku.”

Sema memicingkan mata, jelas menolak. Ia berontak dan mendorong dada bidang itu, namun semua perlawanan terasa sia-sia—pelukan pria itu tetap tak terlepas.

Sema menegakkan dagunya, menatap pria itu dengan dingin.

“Tidak akan,” jawabnya ketus. “Paman bisa mencari wanita lain untuk menjadi milikmu.”

Ucapan itu sama sekali tak membuat pria di hadapannya tersinggung. Justru senyum tipis menyeringai terbit di sudut bibirnya. Ia mendekat, terlalu dekat, hingga jarak di antara mereka nyaris lenyap.

“Tapi benihku sudah terlanjur tertanam pada milikmu,” ucapnya rendah. “Dan aku bukan tipe pria yang bermain dengan banyak wanita seperti suamimu. Aku hanya memiliki satu—terutama jika itu yang pertama bagiku.” Tatapannya menajam. “Dan sepertinya kau memang pantas… bahkan ditakdirkan… untuk menjadi milikku.”

Sema melayangkan tatapan sinis, jelas tak menyukai klaim sepihak itu.

“Sema!”

Suara Gino menggema dari ruangan sebelah, membuat jantung Sema berdegup kencang. Kepanikan langsung menyergapnya. Berbeda dengan pria di hadapannya yang tetap tenang, nyaris menikmati situasi ini.

Sema berusaha melepaskan rengkuhan tangan di pinggangnya, namun cengkeraman itu justru terasa semakin erat. Dalam satu tarikan lembut namun memaksa, pria itu menyeretnya mendekati pintu dan menyandarkan tubuh Sema di sana. Tangannya terangkat, menahan Sema agar tak bergerak, sementara suara Gino masih terdengar samar di balik dinding.

Sema memukuli dada pria itu, berusaha menarik diri, tapi jarak yang terlalu dekat membuatnya kehabisan pilihan. Wajah mereka saling berdekatan, napas bersahutan, dan untuk sesaat mata mereka bertemu—dipenuhi ketegangan yang berbahaya dan tak seimbang.

“Jadi milikku,” bisik pria itu pelan, nyaris tak terdengar, sambil satu tangannya meraih knop pintu. “Aku akan menutup mulut tentang apa yang terjadi semalam.”

Ia mendekat ke daun telinga Sema, suaranya berubah menjadi ancaman halus.

“Atau…” bisiknya lagi, “biarkan Gino melihat kita keluar dari kamar yang sama.”

Sema membeku, dadanya naik turun tak beraturan, sementara genggaman di pinggangnya masih belum juga dilepaskan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel