Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 Aku sedang berusaha

Hana hanya menaikkan salah satu alisnya, dia melirik ke arah Yehan sejenak. Kali ini tatapan matanya tidak seperti tadi. Dia mencoba mengukir senyum dengan terpaksa.

Yehan juga membalas senyumnya. Keduanya terlihat sama-sama canggung.

Dalam pandangan Guoyang dua orang di seberang mejanya tersebut terlihat seperti pasangan romantis yang harus dia musnahkan apa pun yang terjadi. Sinar matanya nyalang menatap ke arah Hana.

Dasar penjilat, penggoda, licik, penuh tipu daya!

(Aku bisa melihatnya dengan jelas, dari sinar matanya pria gila ini sedang memakiku habis-habisan!)

[Anda yang menciptakan karakter ini, ini adalah jerih payah Anda!]

(Tutup mulutmu)

[Saya tidak punya mulut]

(Apakah ada kemungkinan perubahan karakter yang signifikan? Bagaimana kalau aku mengubah Guoyang menjadi pria baik dan perhatian? Setidaknya dia tidak akan menyiksa tokoh utama wanita)

[Sejak karya ini dibuat Anda tidak menyebutkan perubahan karakter]

(Jadi apa aku tidak bisa mengubahnya?)

[Lebih baik dalami saja karakter Hana, Anda bisa mengubah keadaan setidaknya membuat tokoh utama pria luluh]

(Jadi, maksudmu aku harus merayu pria iblis ini?)

[Tidak perlu merayu, Guoyang bukan tipe laki-laki yang mudah dirayu]

(Jadi katakan apa yang harus aku lakukan setelah kami pulang nanti?)

[Hukuman]

(Apa kamu gila?)

[Sejak awal plot utama sudah ditegaskan, tentang kebencian tokoh utama pria kepada tokoh utama wanita]

(Sangat menjijikkan)

[Anda sendiri yang membuat alurnya, berhenti memaki sistem]

Hana menarik napas sejenak, dia meremas garpu dalam genggaman tangannya. Tidak ada nafsu makan.

Ketika melihat ekspresi Guoyang, dia hampir tersedak ketika pria itu menyipitkan matanya untuk memperjelas tuduhan tidak masuk akal barusan.

Selanjutnya, Yehan mengambilkan lauk yang lain lalu meletakkannya di nampan Hana.

"Coba yang ini, kamu mungkin akan menyukainya."

"Anda terlalu memerhatikanku, jangan biarkan orang lain salah paham, oke?"

"Oh, tentang itu, bisakah kita bicara serius?"

"Ten-tentang itu? Apa maksudmu?" tanyanya heran.

"Ehm! Ehm!" Guoyang terbatuk.

Batuknya disengaja untuk mengalihkan perhatian Hana dari Yehan. Tapi sayangnya tidak berhasil!

"Sebelumnya kamu menghindariku, boleh aku tahu di mana kesalahanku?"

Hana menaikkan salah satu alisnya, kini dia mengerti.

Baiklah, aku akan mencoba memahami karakter Hana. Tapi bagaimana caraku menjadi wanita? Selama ini aku tidak pernah...

"Kesalahan?"

"Ya?" Angguk Yehan.

"Sebenarnya kamu tidak punya kesalahan apa pun."

"Apa kamu ingin memberontak!? Panggil Yang-mulia dengan sopan!" potong Guoyang.

(Tu-tunggu, aku agak lupa, jadi ini calon pewaris? Yang pernah aku sebutkan dalam plot?)

[Benar]

(Jadi ini pria yang membuatku tergila-gila?)

[Benar]

(Apakah dia menyukaiku?)

[Sedikit penasaran, belum suka, masih jauh, Anda harus mengejar lagi]

Hana menelan ludahnya.

"Yang-mulia, Anda sama sekali tidak salah. Tapi, akulah yang merasa tidak pantas," jawabnya dengan kepala menunduk.

Apakah begini sudah benar? Beginikan sikap wanita yang lemah dan selalu tertindas?

Yehan tersenyum, dia menyentuh punggung telapak tangan Hana.

"Jangan khawatir, aku tidak pernah membeda-bedakan kasta."

Guoyang dan Hana melotot bersama. Keduanya sama-sama terkejut. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan.

(Aku rasa syaraf di dalam otak Yehan ada yang putus, kenapa dia lebih mirip seperti pria murahan dibandingkan sosok calon pewaris yang seharusnya memiliki karakter bijaksana?)

[Ini baru permulaan! Anda harus lebih memahaminya]

(Aku tidak paham lagi, ini sama sekali berbeda dengan karakter tokoh yang aku tulis)

Guoyang menaikkan salah satu sudut bibirnya.

Hanya pura-pura merendah! Sungguh rayuan yang sangat licik, gadis murahan ini sepertinya harus lebih banyak dihukum agar dia paham! Kalau kamu masih tidak menarik tanganmu malam nanti akan aku potong tangan kotormu itu!

Hana melirik ke arah Guoyang, pria itu menyembunyikan senyum di sudut bibirnya. Senyum penuh aura pembunuh.

Hana ingin menarik tangannya tapi genggaman Yehan lebih erat dari sebelumnya. Kulit kepala Hana terasa merinding, menurutnya ini bukan lagi penyimpangan biasa.

(Apakah ini wajar? Sebagai laki-laki aku tidak memahami perasaan ini)

[Anda sekarang adalah tokoh utama wanita, harap selalu diingat]

Oke, berusaha bersikap netral, dan alami...

"Oh, ini-ini kenapa Anda memegang tanganku?" tanyanya gugup sambil menarik lepas tangannya dari genggaman Yehan. Lagi-lagi Yehan meraih tangannya dan menatap kedua mata Hana dengan serius.

"Aku ingin tahu siapa namamu? Di mana rumahmu?"

Hana menoleh ke arah Guoyang, kali ini bukan lagi amarah yang dia lihat di matanya tapi dendam kesumat dan kebencian yang meningkat di atas rata-rata.

"Aku-aku tidak bisa mengatakannya sekarang," Hana semakin gugup.

[Bagus, memang seperti ini. Harap diingat, karakter Hana: wanita penakut, lemah, tidak berdaya, pasrah, seksi, jujur, polos, sederhana, minusnya sangat mudah terpancing gairah]

(Apa kamu gila? Aku-aku laki-laki! Seksi? Bergairah? Coret saja bagian itu!)

[Ini di luar wewenang saya]

Yehan menatap kedua mata Hana sejak tadi, dia terus menunggu jawaban darinya.

[Perkembangan hubungan dua tokoh sudah meningkat sebanyak lima persen. Anda bisa meningkatkannya lagi untuk mendapatkan poin]

"Apa kamu mendengarku? Katakan saja siapa namamu?" tanya Yehan lagi.

Hana mengangguk kecil. "Namaku, Hana."

"Nama yang sangat cantik." Pujinya dengan sungguh-sungguh.

Hana memalingkan wajahnya ke samping, dia ingin sekali muntah mendengar pujian ini.

Guoyang sudah tidak sabar. "Yang-mulia, Anda harus segera kembali ke kelas."

Hana merasa sedikit tertolong, dia segera melepaskan genggaman tangan Yehan dari tangannya.

"Hana..."

Yehan tampak tidak ingin berpisah dengannya.

"Aku-aku kembali ke kelas dulu!" pamit Hana sambil berdiri dari kursinya. Dia sudah pergi meninggalkan kantin.

"Yang-mulia, mari..." Guoyang mempersilakan Yehan untuk berdiri dari kursinya.

Setelah jam pelajaran selesai...

Guoyang mengantarkan Yehan ke luar sekolah, setelah Yehan masuk ke dalam mobil jemputan dia baru pergi mencari Hana.

Guoyang menyusuri koridor dan menemukannya di dalam toilet. Gadis itu sedang mencuci wajahnya seperti saat jam istirahat tadi.

Kali ini Guoyang tidak masuk ke dalam, tapi menunggunya di pintu.

Setelah selesai Hana segera keluar dari dalam toilet. Melihat Guoyang dia langsung menegurnya.

"Kamu menungguku?"

Ini reaksi yang terlalu berbeda dari biasanya. Hana sebelumnya bahkan tidak berani menatap kedua matanya. Tapi kali ini gadis itu menatap kedua matanya dan bertanya.

Guoyang menatapnya dengan curiga, dia mencengkeram dagunya lalu mendorongnya masuk ke dalam toilet dengan langkahnya.

"Apakah kamu sungguh... Hana?"

(Kenapa dia bertanya seperti ini? Apa aku ketahuan?)

[Anda harus mendalami karakter Hana kembali: lemah, tidak berdaya, polos, sederhana, penurut, penakut, seksi, dan bergairah]

(Dasar sistem sialan)

"Gu-Guoyang, kamu mau apa? Apa kamu ingin menciumku?"

[Pertanyaan terlalu absurd]

"Hahaha! Menciummu? Dasar menjijikkan!" Guoyang mencampakkannya lalu keluar mendahuluinya.

Hana tertegun di tempatnya berdiri.

Tunggu, aku yakin melihat wajahnya bersemu merah. Apa aku salah lihat? Di balik makian dan kata-katanya yang kasar jangan-jangan pria itu sengaja menyembunyikannya? Sesuatu yang lebih lembut dan hangat.

"Apa kamu akan semalaman tinggal di sini?" tegurnya.

Hana segera menyusul lalu berjalan tepat di sampingnya. Langkah kaki Guoyang terlalu lebar dan cepat sementara kaki Hana terlalu kecil dan tidak bertenaga.

"Gu-Guoyang, tunggu aku!" serunya sambil berlari.

Kali ini Guoyang membukakan pintu mobil samping kemudi.

"Masuklah!" perintahnya.

"Oh, bukankah aku harus duduk di kursi belakang?" tanyanya heran.

"Aku bukan sopir pribadimu!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel