Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Penyesuaian tokoh utama wanita

Di dalam kelas Hana tidak bisa berkonsentrasi. Guru sudah dua kali menegurnya dan ini ke tiga kalinya.

“Hana, apa kamu mendengarkanku?”

Hana baru tersadar dari rasa kantuknya. “Eh, iya?”

Suara riuh tawa seluruh kelas kembali terdengar.

“Anak baru, apa kamu tidur barusan? Hahaha!”

“Apakah dia sungguh tertidur di dalam kelas?”

“Apa dia meremehkan sekolah unggulan kita?”

“Di seluruh Kota pusat hanya sekolah kita yang mendapatkan peringkat nomor satu!”

Hana menelan ludahnya sendiri, dia tidak mengerti kenapa teman sekelasnya tersebut malah memuji-muji gedung tinggi tua tersebut seperti tempat penyucian jiwa para kaum bangsawan.

“Pergilah ke toilet, cuci wajahmu lalu kembali ke kelas!” perintah guru.

Hana segera berdiri dari kursinya. Dia berjalan pergi keluar dari dalam kelas lalu masuk ke dalam toilet yang terletak di sudut koridor. Dia tidak memperhatikan sekitar, dia berdiri di depan wastafel, menatap wajahnya yang berantakan karena mengantuk. Hana menyalakan keran lalu mulai mencuci wajahnya.

Di belakang punggungnya, seseorang masuk ke dalam dan mengunci pintu. Hana masih mencuci wajahnya, dan ketika menyadari orang tersebut berdiri tepat di belakang punggungnya, Hana mulai gemetar. Auranya yang kuat membuatnya panik tanpa alasan.

Guoyang mengaitkan satu lengannya di perut Hana lalu membungkuk dan berbisik di telinganya, “Kenapa malah di sini?”

Tubuh Hana gemetar tanpa alasan. Setiap Guoyang mendekat atau menyentuhnya, dia selalu merasa nyawanya tidak akan bertahan lama di tubuhnya.

“Gu-gu-guru memintaku pergi...”

“Apa kamu diusir dari dalam kelas?” pertanyaannya sama sekali tidak mirip pertanyaan yang butuh jawaban. Guoyang meraba pahanya lagi dan menyentuh bagian itu. Satu tangannya yang lain pindah ke dadanya.

Hana meronta sekuat tenaga, tapi sepertinya Guoyang malah semakin terpancing untuk memainkannya.

“Gu-Guoyang, apa-apa kamu tidak memiliki pekerjaan lain? Ke-kenapa kamu selalu menindasku...” suara Hana tertelan suara napasnya yang mulai tersengal.

Hana menutup mulutnya sendiri, kedua sudut matanya mulai berair. Dia menatap bayangan dirinya di cermin depan wastafel. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri. Kedua lututnya gemetar dan dia hampir meledak.

“Kenapa basah sekali?” desis Guoyang sambil mengukir senyum mengejek di bibirnya. Senyum di bibir tipisnya sangat mirip seperti malaikat kematian yang akan mencabut nyawanya detik itu juga.

Hana tidak bisa bertahan lebih lama, tubuhnya sudah gemetar sejak tadi. Dalam waktu sekejap punggung Hana menegang di luar kendali, seluruh syarafnya terasa kaku dan ngilu.

Pria gila, pria sialan! Aku pasti akan membunuhmu!

Guoyang tersenyum melihat kemarahan di kedua mata Hana. Dia melepaskan tubuh Hana lalu mengambil tisu untuk menyeka tangannya.

“Kamu ingin memakiku? Katakan, aku ingin mendengarnya.”

Hana menundukkan kepalanya dalam-dalam, dia menggeleng.

Guoyang meraih lehernya lalu mencekiknya. Tubuh Hana ditekan sampai menempel ke dinding. Dia merasa benar-benar akan mati hari ini.

Apa-apaan ini? Ke-kenapa pria gila ini malah ingin membunuhku? Apalah aku tidak memiliki kesempatan untuk hidup?

[Sistem gila aktif! Sistem mulai bicara, pintu masuk terbuka!]

[Nyawa tokoh tokoh utama wanita tinggal lima persen... Tiga persen... Dua... Satu... Minus satu]

Penulis naskah menatap layar komputer dengan kening mengerut, bingung. Sinar menyilaukan membuat penulis tidak bisa melihat apa-apa. Ketika membuka mata, penulis sudah hampir kehilangan napasnya.

[Nyawa tokoh utama wanita telah normal kembali]

Hana menatap Guoyang di depannya. Tubuh Hana diguncangkan berulang kali olehnya.

“Apa kamu berpura-pura pingsan? Berhenti berpura-pura! Apa kamu pikir aku tidak tahu kamu sedang bersandiwara?”

(Aku yang menciptakan naskah ini, apa kamu gila? Kenapa malah memasukkanku ke dalam naskahku sendiri? Me-menjadi Hana? Apa kamu pikir aku wanita?)

[Semua terjadi secara otomatis, karya berada di level tinggi. Tokoh utama wanita mendekati kematian. Anda masuk ke dalam naskah menggantikan tokoh utama wanita]

(Kapan aku bisa keluar dari naskah?)

[Setelah ada perkembangan lebih lanjut, dan setelah ini tokoh utama pria akan mengalami kecelakaan. Dia kehilangan ingatan, jadi Anda harus membuat tokoh utama pria untuk mengingat Hana kembali. Hanya setelah dia mengingat Hana maka Anda bisa keluar dari dalam naskah. Sistem memberikan waktu satu bulan, lebih dari itu Anda tidak akan bisa keluar dari dalam naskah]

(Mengembalikan ingatan seseorang hanya dalam waktu satu bulan? Kamu berencana mengurungku sampai mati di sini!)

[...]

(Kamu tidak menjawabku? Sistem sialan!)

[Karena tidak ada jawaban untuk pertanyaan Anda, harap tanyakan kembali pertanyaan yang lebih logis]

Hana mengepalkan tangannya, kedua bahunya masih terombang-ambing dan diguncang seperti seekor ayam.

(Rasanya masih sangat aneh, aku dengan tubuh wanita? Sia-sia saja melatih ototku selama bertahun-tahun jika akhirnya tinggal di dalam tubuh wanita lemah dan tidak berdaya ini)

“Guoyang, lepaskan bahuku.”

Guoyang menatap Hana dengan tatapan mata tidak percaya.

“Apa? Kamu memerintahku?”

“Kamu akan kehilangan pelayanmu jika terus mengguncangkan tubuhku seperti ini.”

Hana? Sejak kapan gadis penakut ini bisa bicara selancar ini.

Guoyang masih tidak mengerti apa yang sudah terjadi. Dia melepaskan bahu Hana.

Hana terbatuk-batuk lalu menyalakan keran wastafel. Dia membasuh wajahnya kembali juga mengambil tisu untuk membersihkan bagian sisi dalam kakinya.

Guoyang tampak terkejut. “Apa kamu sudah tidak takut lagi?”

Penulis tiba-tiba memiliki ide. (Aku yang menulis naskah ini bagaimana kalau kecelakaannya dibatalkan saja! Jadi aku tidak perlu repot-repot membuat tokoh utama pria untuk mendapatkan ingatannya kembali)

[Sistem menolak]

[Karya sudah diterbitkan tidak bisa diralat!]

(Aku bahkan belum menulis bab itu, kenapa kamu bilang sudah terbit? Konyol sekali!)

[Karena penulis terus memaki sistem, untuk sementara sistem dimatikan. Anda hanya bisa menyalakannya kembali dengan cara menekan tombol secara manual!]

(....)

Oke, tetap berkonsentrasi, aku sekarang adalah Hana si bodoh dan si penakut. Tapi bagian tersulitnya aku tidak suka karakter lemah seperti dia.

“Oi? Apa kamu tidak menganggapku di sini?”

Hana menoleh menatap ke arah Guoyang, dia enggan bicara dengannya. Memilih pergi keluar dan mengabaikan keberadaannya.

“Dia mengabaikanku? Gadis lemah dan penakut itu.... hahaha!”

Ketika bel istirahat berbunyi.

Perutku lapar sekali, sepertinya aku harus pergi ke kantin untuk mengisi tenaga.

Hana berdiri dari kursi lalu pergi menuju ke kantin. Dia mengambil nampan lalu mengantre. Duduk santai menikmati makanannya. Tidak peduli dengan kebisingan sekitar, tidak peduli dengan tatapan mata Guoyang di seberang meja. Tidak peduli dengan Yehan yang sejak tadi duduk tepat di sampingnya!

[Sistem menyala otomatis! Peringatan!]

[Penulis yang menggantikan tokoh utama wanita tidak bisa mendalami peran sebagai Hana, Anda harus didenda! Malam ini Guoyang akan mengganggu sepanjang malam]

(Apa kamu memiliki dendam padaku? Kenapa kamu selalu tertarik untuk membuat tokoh utama lemah dan penakut? Harus diperjelas aku laki-laki)

[Sistem menolak kenyataan, Anda harus menyesuaikan diri, hukuman malam ini lebih berat]

(Aku tidak bisa mendalami peran sebagai wanita, biarkan aku keluar dan mulai aktifkan ulang sistem kembali)

[Sistem tidak menerima perintah dari tokoh utama wanita]

[Sudah ditakdirkan harap Anda bisa bekerja sama, lagi pula Anda sekarang tidak memiliki perangkat sebagai seorang pria. Anda murni telah berubah menjadi wanita]

(...)

Yehan meletakkan lauk di atas nampan makan Hana.

“Makanlah yang banyak, tubuhmu lemas dan mukamu tampak sangat pucat.”

Hana mengerutkan kening. Tidak ada yang dia katakan tentang itu.

Di seberang meja Guoyang menatap Hana dengan mata iblisnya, senyum penuh penindasan terlihat sangat jelas.

Apa sebenarnya yang terjadi saat ini merupakan efek samping dari perhatian calon pewaris negara yang memicu angka kematian tokoh utama wanita naik ke level di atas rata-rata?

(Bagaimana jika aku mati?)

[Tokoh utama wanita dalam naskah ini dipastikan menderita sampai ke akar-akarnya tapi tidak ada catatan mati, Anda akan tetap hidup sampai naskah tamat]

(Setelah tamat? Apa aku bisa pulang ke duniaku?)

[Selesaikan dulu semua misi, poin banyak akan mempercepat Anda untuk kembali]

Hana mengerutkan kening sambil meremas sendok dalam genggaman tangannya.

“Apa kamu tidak suka dengan lauknya?”

Yehan menatapnya sambil tersenyum kaku karena ekspresi Hana.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel