Bab 5 Desah.. desahan
Setelah Hana duduk di kursi depan barulah Guo Yang masuk ke dalam mobil. Mereka menuju ke rumah.
Setibanya di rumah, Hana langsung turun dari dalam mobil. Dia menunggu Guo Yang membukakan pintu. Hana hanya berdiri dan menunggu di samping. Guo Yang meliriknya sekilas, dari tatapan matanya dia masih ragu dengan sosok gadis di sampingnya. Apakah Hana masih gadis yang sama seperti Hana yang sebelumnya dia kenal.
Guo Yang kembali menatapnya sebelum masuk ke dalam rumah. Membiarkan Hana berjalan lebih dulu, dia hanya mengamatinya.
Dia sama sekali tidak gemetar, tidak menundukkan kepalanya, tidak berjalan dengan kaki tersendat-sendat. Langkahnya cukup cepat dan sangat berbeda dari biasanya.
“Sebenarnya siapa kamu?”
Langkah Hana yang sudah mencapai pintu kamar langsung terhenti. Dia sudah menggenggam gagang pintu untuk membukanya.
Hana menoleh lalu tersenyum tipis.
“Aku? Hana...” jawabnya.
Senyum tipis yang sama sekali belum pernah dia lihat sebelumnya membuat jantung Guo Yang berdetak lebih cepat. Dari tatapan mata Hana menunjukkan kepercayaan diri, keyakinan kuat, dan satu hal yang Guo Yang tidak mengerti. Hana bukan gadis penakut lagi.
[Anda hampir ketahuan]
(Apa maksudmu?)
[Guo Yang terus mencermati Anda, jika Anda diusir dari rumah maka situasinya akan menjadi semakin sulit]
(Apa katamu?)
[Anda harus seratus persen menjadi Hana]
(Sebagai laki-laki dengan karakter kuat terus berpura-pura menjadi wanita lemah sungguh membuatku sangat kesulitan)
[Demi kembali ke dunia nyata, Anda harus berkorban, jika Anda menolak durasinya akan ditambah]
(Du-durasi apa maksudmu?)
[Hukuman...]
Belum selesai mencerna ucapan sistem, pintu kamar terbuka. Guo Yang masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu.
Hana sedang berdiri di depan rak, dia baru saja meletakkan tas sekolahnya di sana. Dia mendengar langkah kaki Guo Yang mendekat.
(Apa yang harus aku lakukan?)
[Pura-pura takut, cobalah untuk gemetar]
(Cuaca tidak terlalu dingin jadi mana mungkin aku gemetaran)
[Anda harus berusaha lebih maksimal]
Hana mencoba menggerakkan tangannya sesuai dengan perintah sistem.
Oke gemetar, mencoba untuk gemetar.
Bukan hanya berpura-pura tapi dia benar-benar gemetar. Sebagai pemegang alur cerita dia harus ditindas habis-habisan di dalam novelnya sendiri.
Guo Yang sudah berdiri tepat di belakang punggungnya, pria itu mendekatkan bibirnya ke sisi lehernya.
“Apa yang kamu lakukan di-di sini?”
Guo Yang menyibak rambut Hana ke samping lalu berbisik di telinganya.
“Aku ingin menghukummu.”
Kedua mata Hana membulat, dia ingin menjauh tapi tangan kekar Guo Yang sudah memegangi sisi pinggang kirinya, menahannya untuk tetap tinggal di sana.
Kali ini dia benar-benar gemetar, bukan pura-pura lagi. Hana ingin menghentikan tangan kanan Guo Yang tapi gagal karena tangan Hana terkunci oleh lengan kiri Guo Yang.
Jemari panjangnya merayap masuk ke dalam roknya. Sensasi ini sangat aneh, dia belum terbiasa dan ini pertama kalinya. Tubuh Hana hampir jatuh bersandar di dadanya. Dia ingin menolak semua ini, tapi anehnya kedua matanya malah terpejam rapat.
Dia tidak bisa bicara dengan sistem lagi, hanya menghayati semua yang terjadi saat ini. Hana masih tidak yakin, tapi dia memiliki semuanya, bagian-bagian milik wanita!
“Akh!”
“Kamu mendesah?” desis Guo Yang di telinganya.
“Ini-ini, di luar kendaliku...” jawabnya lirih dan hampir tidak terdengar. Napas Hana sudah tersengal, dia tidak bisa lagi berdiri. Kedua kakinya terasa kebas dan mati rasa. Hana menyandarkan punggungnya di tubuh Guo Yang.
Guo Yang bertelanjang dada? Pria ini sungguh berniat menggoda... Sial, aku sudah tidak bisa menahan lagi! Sangat gila dan tidak masuk akal.
Selain aroma pria, ditambah dengan sentuhan intens!
Hana tidak meronta lagi karena tidak ada gunanya meronta, semakin dia meronta Guo Yang akan semakin menggila. Hana merasa tubuhnya kaku, urat syarafnya mulai menegang selama beberapa detik.
“Ah!”
“Kamu tidak menolaknya, Hana...”
Guo Yang sudah selesai, dia mengukir senyum lalu menarik tangannya dan menjilatnya jarinya. Hana bisa mendengar suara decapan bibir Guo Yang di sampingnya, dia masih menahan tubuh Hana dalam pelukannya.
Ini sungguh gila...
Napas Hana masih terengah-engah, pakaiannya juga berantakan. Ketika dia memiliki sedikit tenaga, dia mencoba meronta.
“Gu-guo Yang, le-lepaskan aku...” pintanya sambil menoleh ke samping.
Guo Yang tertawa lalu meraih tengkuknya dan mencium bibirnya. Hana melotot karena terkejut. Dia tidak hanya menempelkan bibirnya tapi melumat bibir Hana.
(Apa-apaan? Ke-kenapa sampai memakan bibirku?! Aku tidak menulis mereka berciuman, sistem apa kamu mengkhianatiku?)
[Alur terus berjalan dan naskah sudah diperbaiki sesuai dengan situasi yang terjadi]
Hana memukul dan meronta tapi usahanya sia-sia belaka. Guo Yang membawa langkahnya menuju ke ranjang.
Apa lagi sekarang? Apa pria iblis ini ingin meniduriku? Tidak-tidak bisa! Aku tidak ingin hamil!
Hana sudah panik dia berusaha kabur tapi tubuhnya sudah ditekan di atas ranjang dan ditahan oleh Guo Yang. Guo Yang menggenggam kedua telapak tangan Hana di atas kepala Hana. Tangan satunya kembali beraksi, memilih bagian-bagian inti untuk dimainkan.
(Ke-kenapa tubuh wanita ini begitu lemah, sekarang aku bahkan tidak bisa mengatasi masalah sepele ini)
[Karena Anda sudah bukan penulis naskah lagi melainkan Hana]
(Apa kamu tidak bisa menjeda peristiwa gila ini, atau percepat saja alurnya!)
[Tidak bisa]
(Kenapa?)
[Poin tidak mencukupi]
“Gu-Guo-Yang, hentikan...” pintanya dengan napas terengah-engah.
Guo Yang mencium lehernya, lalu turun ke bawah. Dia membuka kancing kemeja Hana.
“Kamu harus menerima hukuman agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
Hana menaikkan salah satu alisnya, dia bahkan tidak tahu kesalahan yang mana.
(Jika aku meminta maaf apa pria ini akan menyudahinya? Aku sudah tidak tahan, aku hampir meledak lagi!)
[Alur memang dibuat seperti ini, Anda tidak bisa menolak dan Guo Yang bukan tipe orang yang akan menyudahi sesuatu sebelum semuanya tuntas]
Jari kaki Hana berjinjit di atas ranjang, punggungnya melengkung terangkat ke atas.
“Gu... akh!”
“Lebih banyak dari sebelumnya?” desisnya di depan bibir Hana.
Wajah Hana memerah, dia tidak meronta lagi. Sekujur tubuhnya terasa lemas dan tidak bertenaga. Keringatnya keluar dari pori-pori kulitnya dan membuat kemeja putihnya basah.
“Guo Yang... apa salahku?” tanyanya lirih.
Guo Yang melepaskan genggaman tangannya dari kedua tangan Hana lalu mencengkeram rahangnya.
“Masih bertanya apa kesalahanmu?”
“Aku-aku sungguh tidak tahu...”
“Kamu menggoda Calon Pewaris, apa kamu tidak tahu risikonya?”
Hana menggelengkan kepala. “Aku tidak pernah menggoda, sungguh...”
Guo Yang mengendus lehernya. Rasanya aneh dan ganjil.
(Kenapa dia terus mengendus, apa dia seekor kucing?)
[Karakter Guo Yang sama sekali tidak mirip seekor kucing]
(Lalu apa?)
[Serigala]
Dia tidak hanya mengendus tapi menggigit dan menghisap.
Sial! Apa dia sedang membuat tanda di-di leherku? Bibir Guo Yang pindah ke bawah beberapa senti. Lima-tidak, sepuluh senti? Hah?!
Hana melotot. Dia membuat tanda lagi di kulit dadanya. Sisi kiri satu dan kanan satu.
(Sistem gila, apa ini masuk akal?)
[Sangat masuk akal, Guo Yang memang tipe pria yang unik, dia memiliki karakter adil dan sekarang dia mencetak tanda di dua bagian]
(Tapi aku tidak pernah mengira dia akan segila ini...)
“Kamu melamun? Apa yang kamu pikirkan?”
Pertanyaan Guo Yang mengaburkan lamunan Hana.
