Pustaka
Bahasa Indonesia

Jenderal Mesum dan Adik Tiri Yang Dia Benci

18.0K · Ongoing
Jackie Boyz
16
Bab
81
View
9.0
Rating

Ringkasan

21++ Ini adalah dunia sistem, di mana seorang penulis membuat karyanya. Sejak karya ini rilis dan naik ke puncak, fantasinya mulai semakin gila dan jauh dari ekspektasi kehidupan nyata. *** Tokoh pria tampan sedunia dengan karakter mesumnya yang unik! Hana hampir mati karena kegilaan Guo Yang mencapai batas rata-rata, hampir seribu persen gila akut. Tepat saat tokoh utama wanita meregang nyawa, si penulis masuk ke dalam naskah dan menggantikannya sebagai tokoh utama wanita. Misi Utamanya (Membuat Guo Yang kembali mengingat siapa 'Hana' dengan batas waktu tidak lebih dari lima bulan, lebih dari itu penulis akan terkurung seumur hidup bersama tokoh utama pria mesum tingkat di atas rata-rata!) Saat masuk ke dalam cerita, dia mendapati lehernya dicekik dan nyawanya sudah sekarat!

Novel MemuaskanRomansaFantasiWanita CantikDewasaCinta PaksaPengembara WaktuSupernaturalTsundere

Bab 1 Adik Tiri

“Guoyang, Ayah pulang!”

Guoyang membuka pintu, dia berdiri di tengah ambang pintu kediaman. Pria dengan penampilan kasual. Memiliki sepasang mata phoenik, alis tebal, rahang kuat, hidung mancung, rambut hitam, tubuh proporsional. Tinggi dan tampan.

Matanya menyipit menatap dua wanita yang berdiri tepat di belakang punggung ayahnya. Dari tatapan matanya mengisyaratkan dua wanita itu tidak boleh melangkah satu jengkal pun ke dalam rumah.

Guofeng menoleh ke arah wanita yang baru dinikahinya kemarin.

“Ah, kenalkan ini, Miaoyu, dan itu putrinya Hana...”

Tidak ada reaksi, Guoyang malah melipat tangannya dan tidak memberikan jalan sedikit pun.

Guofeng tidak mungkin membiarkan istrinya tinggal di luar rumah, dia segera melangkah masuk dan mendorong tubuh Guoyang ke samping.

“Kalian silakan masuk, anggap saja rumah sendiri, ayo masuk ke dalam!”

Miaoyu ragu-ragu masuk ke dalam, tapi Hana tertahan di luar pintu.

Guoyang menatapnya dengan senyum aneh di bibirnya. “Ayah, aku akan mengajak adik kecil melihat-lihat!” teriaknya pada Guofeng. Guoyang menarik tangan Hana pergi ke samping rumah tanpa memberikan kesempatan pada Hana untuk menolak.

“Ya-ya, sana, ajaklah dia jalan-jalan, belikan juga camilan!”

Miaoyu terlihat cemas. Wanita itu terus menatap ke arah pintu. Guofeng sepertinya tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya.

“Jangan cemas, ayo duduklah, mereka adalah saudara. Guoyang memang tampak tidak bersahabat tapi dia sebenarnya anak yang baik.”

Miaoyu meremas jemarinya sendiri. Tatapan matanya tidak pernah beralih dari pintu ruangan utama yang kini sudah menutup sejak beberapa saat yang lalu.

Anak baik? Dia adalah pria dewasa, dari sinar matanya menunjukkan seolah menemukan mangsa ketika menatap putriku.

***

Di sisi lain, Guoyang menahan tubuh Hana di dinding samping rumah.

“Oh, kamu datang sebagai adikku? Asal kamu tahu saja aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai adik!”

Hana tidak mengatakan apa pun, dia hanya menatap Guoyang dengan wajah ketakutan.

“Saat kedua orang tua tidak ada di rumah, kamu adalah pelayan di rumah ini, mengerti? Dan kamu harus memanggilku Tuan!”

Hana menganggukkan kepalanya.

“Iya.”

Tidak lama setelah itu mereka berdua masuk ke dalam rumah.

Miaoyu sudah menyiapkan hidangan di meja makan.

“Ayo makan bersama!” seru Guofeng pada mereka berdua.

Miaoyu sudah menyiapkan piring. Semua lauk dan sayur sudah dihidangkan di meja makan.

Guoyang duduk tepat di samping Hana. Sejak tadi pria itu terus menatap Hana dengan tatapan penuh ancaman.

“Hana, Ayah sudah mendaftarkanmu di sekolah, mulai besok kamu sudah bisa mulai belajar. Kamu bilang sangat suka dengan jurusan keuangan, ayah sudah memilihnya untukmu!”

Guoyang mengerutkan keningnya lalu tertawa terbahak-bahak.

“Keuangan? Hahahaha!”

Dia teringat semua penghuni kelas jurusan itu, tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki penampilan menarik. Mereka memiliki kulit wajah berminyak dan berjerawat. Rata-rata memakai kacamata tebal.

“Apa kelas keuangan adalah kelas yang aneh?” tanya Miaoyu pada Guoyang.

Bukannya menjawab Guoyang kembali meledakkan tawanya. “Hahahaha!”

Hana menatap Guoyang , pria itu terus menertawakannya.

“Ayah, aku ingin pindah jurusan. Aku sebenarnya lebih suka dengan jurusan seni...” ujarnya ragu-ragu.

Tawa Guoyang lenyap seketika. Dia menatap Hana dengan tatapan mata serius, bibirnya masih menyembunyikan senyum.

“Apa kamu yakin ingin pergi ke kelas seni?” tanyanya.

“Ya, tentu!”

“Kelas unggulan yang hanya dimasuki oleh beberapa orang. Tidak semua orang bisa masuk jurusan seni. Para pelajar unggulan mengambil kelas seni sebagai jadwal tambahan. Kelas utama tetap pelajaran akademik pada umumnya.”

Hana tidak tahu masalah ini. “Lalu, bagaimana dengan jurusan keuangan? Apa itu termasuk kelas tambahan yang kamu sebutkan?”

Guoyang mengangguk, “Kelas keuangan bisa diambil pada hari Senin atau Rabu. Kelas seni akan diadakan setiap hari Jum’at. Para siswa dan siswi unggulan bergabung bersama. Sisanya untuk mata pelajaran akademik.”

Guofeng tertawa. “Aku bilang putraku sangat memahami kelas-kelas di sana.”

“Dia masih sekolah? Apa dia murid di sana?” tanya Miaoyu .

“Dia sudah lulus, putraku adalah jenderal negara, dia dulu sekolah di sana. Dia masih di sana sampai saat ini karena harus menjaga Calon Pewaris.”

Guoyang mendekat lalu berbisik di telinga Hana. Dia tidak hanya mendekatkan wajahnya tapi dia juga menyentuh paha sisi dalam Hana di balik roknya.

“Selamat datang di duniaku, cobalah untuk beradaptasi lama-lama kamu akan terbiasa!”

Hana menelan ludahnya sendiri. Tangan Hana meremas sendok. Dia tidak bisa makan lagi karena merasa sangat tertekan.

Ayah dan ibunya sudah menikmati makanan mereka tanpa memerhatikannya.

Dia juga di sana? Apa artinya di sekolah aku juga akan bertemu dengan pria ini setiap hari?

Hana melotot ketika jemari Guoyang tiba-tiba merayap sampai di lokasi yang tidak boleh dijamah oleh lawan jenis atau makhluk astral mana pun. Hana menatap Guoyang , dan pria itu menarik tangannya keluar dari dalam sana. Dia menunjukkan jari tengahnya di depan Hana lalu menjilatnya.

Pria gila! Iblis gila! Guoyang, aku pasti akan membunuhmu!

Melihat wajah Hana merah padam, Guoyang kembali menyunggingkan senyum tipis di sudut bibirnya. Seolah kartu kemenangan ada di tangannya.

“Ekspresimu sepertinya kamu sudah menyerah sebelum pergi ke medan perang?” cibirnya lirih.

Usai makan malam, Hana segera masuk ke dalam kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang sambil menahan amarah di hatinya.

Tidak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka. Guoyang masuk ke dalam lalu menutup pintu dan menguncinya.

“Ba-bagaimana mungkin? Aku sudah mengunci pintunya tadi! Aku yakin sudah menguncinya!”

Pria itu meletakkan setumpuk buku di meja belajar lalu pergi menghampirinya.

Wajah Hana memucat, dia beringsut bangun tapi terlambat karena Guoyang menarik lengannya dan membuat Hana rebah di atas ranjang. Tubuhnya dikurung di antara kedua lengan Guoyang.

“Apa yang kamu lakukan?”

Guoyang mendekatkan bibirnya lalu berbisik di telinga Hana, “Apa posisi ini masih belum jelas?” tanyanya balik dengan senyum licik di sudut bibirnya. “Saat Ibumu pergi sebaiknya kamu ikut pergi bersama mereka, besok mereka akan ke luar kota. Lebih cepat pergi lebih baik.”

Guoyang menyentuh kembali bagian yang tadi dia sentuh saat mereka berada di meja makan.

Hana terkejut, dia langsung menahan lengan Guoyang menggunakan kedua telapak tangannya.

“Posisi macam apa ini? Aku bahkan belum pernah berpacaran, apa pria gila ini akan menodai kesucianku dengan jari gilanya? Dewa peri dari kayangan tolong selamatkan aku!” pintanya.

“Apa kamu pikir peri dari kayangan akan mengabulkan keinginanmu? Kamu mau bertaruh denganku, siapa yang akan menang?”

Guoyang menatap ke bagian bawah, mustahil untuk berhenti bermain, jarinya malah ditekan semakin dalam hingga tubuh Hana bergetar.

“Pria gila, apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku...” lutut Hana gemetar, napasnya tersengal.

Wajah Hana memerah, dia menggelengkan kepalanya, jari kakinya berjinjit di lantai kamar dan tubuhnya mengejang.

“Akh!”

“Secepat itu?” desis Guoyang di telinga Hana.

“Dasar sinting keparat...”

Tubuh Hana menggelepar di atas ranjang.