Bab 2 Bulan Madu
Hana pikir ketika dia bangun pagi ini situasinya akan jauh lebih baik dari hari kemarin. Tapi sayangnya harapannya itu sia-sia belaka. Ketika dia bangun pagi, pertama-tama dia melihat secarik surat di meja makan.
Dan sepertinya surat itu ditulis oleh dua orang, dari tulisannya yang mirip seperti ceker ayam dan ceker angsa itu bisa ditebak bahwa tulisan tersebut merupakan gabungan dari Ayah tirinya – Guofeng dan Ibunya – Miaoyu.
Hana dengan tangan gemetar mengambil kertas tersebut, mendekatkan ke wajahnya. Sudah dilihatnya begitu lama tapi dia masih tidak memahami apa isi surat tersebut.
Di kursi, seseorang dengan tatapan dingin sedang duduk dengan tenang. Melipat kedua tangannya, mencermati penampilan Hana dari ujung kepala hingga jari kaki.
“Heh?” Panggilan Guoyang terdengar seperti ledakan petir di pagi buta hampir membuatnya mimisan dan muntah darah.
“A-aku sedang membaca su-surat ini, ta-tapi aku tidak bisa mengerti apa isinya?”
Hana masih terus menyembunyikan wajahnya di balik kertas surat. Tangannya yang gemetar sama sekali tidak bisa disembunyikan. Hana menelan ludahnya sendiri, sekali, dua kali, untuk mengusir perasaan terlalu tertekan yang dia sendiri tidak yakin seberapa banyak dia tertekan. Namun, rambutnya yang rontok di atas bantal pagi ini sudah jelas menunjukkan dia sangat depresi berat. Genap satu minggu tinggal di bawah satu atap yang sama dengan Guoyang mungkin kepalanya sudah botak.
Ini adalah neraka yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya!
Guoyang berdiri lalu merebut kertas tersebut, melihat ekspresi ketakutan di wajah Hana dia merasa sangat puas.
“Apa kamu masih bisa membaca surat yang kamu letakkan satu inci di depan kedua matamu, hah?”
Guoyang menjauhkannya sedikit dan dia melihat Hana menundukkan wajahnya. Dia tahu Hana memang tidak ingin membaca isi dalam suratnya. Dari judul di atasnya sudah jelas, dua kata itu ditulis dengan huruf kapital ‘BULAN MADU’ mereka pergi diam-diam dan tanpa berpamitan. Dan mereka tidak ingin Hana ikut.
“Aku tidak bertanya apa kamu bisa memahami isinya, tapi kamu memiliki tugas pagi ini! Apa kamu lupa, di rumah ini kamu adalah pelayanku?” tanyanya sambil membungkuk menatap kedua matanya.
Hana menangis, tapi anehnya dia tidak mengeluarkan air mata setetes pun. Hanya ekspresi wajahnya yang terlihat jelek seperti nenek-nenek.
“Aku ingin ikut mereka, tapi kamu lihat sendiri mereka meninggalkanku di sini? Ibuku pasti dia tidak sengaja meninggalkanku. Kenapa dia meninggalkanku? Apa mereka ingin membuat anak secepat ini? Untuk usia Ibu... dia masih muda, dan mungkin-” kalimat awal yang dia katakan terdengar jelas, tapi akhir kata-kata Hana tenggelam dalam keraguannya sendiri.
“Oh, apa isi dalam surat ini sungguh bukan disengaja? Apa kamu ingin aku membacakannya?”
Hana menggeleng cepat.
“Tidak perlu! Katakan saja apa yang harus aku lakukan pagi ini.”
“Siapkan bajuku, lalu ikut pergi bersamaku ke sekolah!”
Hana menganggukkan kepalanya. Dia berjalan pergi ke kamar Guo Yang. Dia tidak tahu baju apa yang akan dipakainya. Tapi dia melihat jadwal di dinding, jadi dia memutuskan untuk memilih baju seragam yang dipakai Guoyang pada hari itu.
Di lantai dua. Kamar Guo Yang.
Tidak lama kemudian Guoyang masuk ke dalam. Dia melihat baju seragam yang akan dia kenakan hari ini sudah diletakkan di gantungan, sepatunya sudah disemir licin. Meja kerja dan bukunya yang berantakan sudah dirapikan. Selimut di kasur sudah disingkirkan dan diganti dengan yang baru.
“Dia serius mengerjakan tugasnya? Padahal aku hanya ingin dia segera angkat kaki dari rumah ini.”
Karena sibuk dengan pekerjaan sebagai pelayan, Hana tidak sempat sarapan. Tenaganya sudah terkuras habis pagi ini, dan tersisa lima persen untuk pergi ke sekolah. Kedua kakinya lemas, wajahnya putih pucat seperti mayat. Lingkar hitam menghias di bawah kedua matanya, karena waswas dia berjaga sepanjang malam untuk tidak tidur.
Dia berangkat ke sekolah bersama Guo Yang. Pria itu mengizinkannya menumpang di kursi belakang.
Mereka masuk ke dalam sekolah bersama, semua orang menatap ke arah mereka berdua.
“Hei, kamu cari sendiri kelasmu, aku tidak bisa mengantarkanmu ke kelas.”
Hana mengangguk patuh dan pergi.
“Lain kali aku tidak akan menjawabnya! Namaku bukan hei, hei, namaku Hana! Hanaaa!”
Dia bertanya pada beberapa murid di koridor untuk mencari kantor guru. Hana harus mengambil beberapa keperluannya di sana.
Di koridor menuju ke arah ruang guru, dia secara tidak sengaja bertemu dengan Yehan – calon pewaris negara dan pria paling tampan nomor dua setelah Guoyang.
“Oh, murid baru?” tegur Yehan ketika bersimpangan dengan Hana.
Hana menoleh dan melihat Guoyang berdiri di belakang Yehan. Tubuh Guoyang lebih tinggi sepuluh senti dari Yehan, dan Hana bisa melihat sinar matanya yang tidak bersahabat. Menuduhnya tanpa alasan. Aneka cacian dan makian yang hanya bisa Hana baca sendiri dari sinar mata Guo Yang.
Perayu, penggoda pria, tukang cari muka, aku akan mencekikmu sampai mati kalau kita sudah di rumah nanti!
Hana menelan ludahnya sendiri, mengabaikan sapaan Yehan. Dia berjalan mundur secara otomatis, sisi tubuhnya menempel di dinding koridor samping. Tidak berani menatap sinar mata Guoyang, yang kini dipenuhi dengan aura mistis sama persis seperti iblis dari dalam neraka.
Saking gugupnya, Hana kehilangan keseimbangan. Dia terpeleset dan hampir jatuh ke belakang.
Yehan terkejut melihat reaksi Hana, respons refleks dia segera mengulurkan tangan kanannya untuk menggenggam lengan kanannya. Hana menggelengkan kepalanya sambil menatap jemari tangan Yehan seperti melihat sebuah benda kotor yang bisa menularkan virus paling langka sedunia.
Situasinya sangat tidak terkendali. Ini adalah kegilaan nyata dalam dunianya sendiri.
Dan hasilnya, Hana jatuh di lantai tanpa pertolongan. Hana meringis merasakan nyeri, menatap sikunya yang berdarah.
“Siapa namamu?”
Hana menatap ke arah suara. Yehan – pria itu mengulurkan tangan kanannya sambil membungkuk tepat di depannya.
Hana tidak ingin menerima uluran tangannya, dia malah beringsut menjauh, menempelkan punggungnya ke dinding dan merayap dengan punggungnya yang menempel menuju ke ruang guru. Dia menatap Yehan seperti virus langka sedunia yang tidak bisa disembuhkan jika sampai bersentuhan kulit dengannya. Lebih tepatnya virus langka tersebut tercipta sejak Guoyang menatapnya dengan mata iblisnya.
“Mustahil? Apa yang salah denganku?”
Yehan menatap telapak tangannya sendiri yang tidak berdosa. Ini pertama kalinya dia ditolak, bahkan dilihat seperti barang kotor menjijikkan oleh Hana. Yehan ingin mengejarnya ke dalam tapi Guoyang segera mengingatkan.
“Yang-mulia, kelas seni akan segera dimulai.”
Langkah kaki Yehan terhenti, dia langsung memutar badan dan menuju ke ruang seni.
Guoyang melirik ke dalam ruang guru sebelum mengikuti Yehan, kebetulan Hana juga sedang menatap ke arahnya. Berharap kapan iblis Gu akan pergi dari koridor depan ruang guru. Dari sinar matanya itu Hana bisa mendengar suaranya yang meringkik dari retakan dinding dasar alam neraka.
Tunggu aku di rumah, tidak lama lagi kamu akan mati!
