Bab 9 Jandaku9
Sepulang kantor Edgar pun dengan tergesa pergi menuju rumah Barez. Berniat untuk bertemu dengan Anin. Perasaan tidak enak menghantui hatinya.
Namun, dia benar-benar merasa sangat frustasi saat di tengah jalanzban mobilnya bocor.
"Sial, pakai bocor segala ini ban mobil. Brengsek, aku harus menghubungi montir bengkel lebih dulu. Anin, tolong bersabarlah.."
Dan dia menunggu hingga pergantian ban mobilnya selesai.
Disisi lain, rumah Barez..
Ara sudah pulang ke dalam rumahnya, ia langsung mengunjungi Anin di kamarnya.
Ara menatap janggal saat melihat mata Anin yang membengkak.
"Anin,. Ada apa? Katakan padaku?"
Anin hanya menggeleng kecil.
"Anin, apa aku punya salah? Maafkan aku, krena aku meninggalkan mu seorang diri semalam."
Anin hanya terdiam, tak menjawab ucapan Ara.
Terlalu sesak untuknya menjawab ucapan Ara.
Jika saja dia tidak pergi, mungkin semua ini takkan terjadi.
"Aku pusing Ra, kamu bisa keluar?"
Ara bingung dengan sikap Anin, namun ia tak ingin membuat mood Anin kembali jatuh. Dia pun menuruti permintaannya untuk keluar.
Sesaat setelah Ara keluar, Anin mengunci pintu kamarnya.
Ara merasa aneh dengan sikap Anin, tidak biasanya dia berlaku seperti itu. Apa sesuatu terjadi padanya? Atau ada membuat salah padanya?
Ara juga merasa aneh, karena hari ini Anin tidak pergi ke kantor.
Menjelang malam, Ara hanya berjalan mondar-mandir tak tentu arah. Barez yang melihatnya pun kesal.
"Apa yang kau lakukan sejak tadi?"
"Apa?"
Edgar memicingkan matanya,
"Kak, Anin.. sejak pagi tidak ada keluar kamar dan belum ada makan."
"Oh ya?"
"Iya, kak.."
"Terus?"
"Ya Tuhan, kakak… Ara tidak ingin sampai Anin sakit."
Barez hanya berdecak kesal, tak lama kemudian Edgar pun masuk.
"Kak Edgar?"
"Ra, Anin mama?" tanya Edgar dengan tergesa-gesa.
"Untuk apa kau mencarinya?" Tanya Barez.
"Aku ada urusan penting dengannya."
Barez hanya terdiam,
"Bentar kak, Ara panggilkan Anin dulu."
Barez menganggukkan kepalanya, Ara pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Edgar menatap tajam pada Barez.
Dia curiga telah terjadi sesuatu pada Anin karena ulah Barez.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
Edgar menggidikkan kedua bahunya.
"Kau menyukaiku?"
Edgar hanya menyeringai.
"Cih.."
Saat Ara akan mengetuk pintu kamar Anin, ternyata Anin lebih dulu membuka pintu kamarnya dan menggeret kopernya.
"A-anin, kamu mau kemana?"
Anin tidak menjawab pertanyaan Ara, dia pun pergi dengan menggeret kopernya. Barez melihat Anin.
Barez merasa jika Anin sedang mencarimuka.
"Anin.."
Anin menaikkan pandangan dan menatap wajah Edgar.
"Kak Edgar, bisa minta tolong antar Anin ke bandara?"
"M-maksudnya?"
"Tolong.." ucap Anin dengan nada bergetar menahan tangis.
"Oke, oke.."
Lalu Anin menggeret koper tanpa memperdulikan Ara atau pun Barez.
"Sebenarnya ada apa sih?"
"Ara tidak tahu, kak. Apa dia marah sama Ara?"
Edgar melirik sinis pada Barez.
***
Saat perjalanan menuju bandara, hanya hening menyelimuti mereka berdua.
"Anin.."
"..."
"Anindya.."
"Iya, kak. Ada apa?"
"Kau yang kenapa, Anin?"
"Tidak apa-apa."
"Kau yakin?"
Tanpa menjawab, air mata Anin jatuh tak terbendung lagi. Edgar yang melihat hal itu dengan pelan menepikan mobilnya.
"Kak Edgar.. Anin takut." Ucap Anin dengan suara bergetar.
"Apa yang kamu takuti, hm?"
Anin hanya menangis.
"D-dia jahat kakak hiks...hiks.."
"Sebentar, biar aku pindah dulu kebelakang."
Edgar pun keluar mobil dan masuk kembali duduk disamping Anin.
"Ada apa? Kenapa? Atau ada yang nyakitin kamu?"
Lagi-lagi Anin hanya menangis.
"Anin bukan wanita murahan kakak, tapi dia pandang Anin seperti itu hiks hiks.."
"Siapa Anin? Katakan padaku."
"Hiks hiks.. B-barez."
Edgar terkejut dengan jawaban Anin.
"Astaga.."
Rahang Edgar mengeras, merasa ada yang mulai tidak beres.
"Hiks..Anin, di perk**a sama dia hiks.."
"Bngs**, apa apaan dia!!"
"Hiks.. Anin takut, tolong antar Anin ke bandara kakak, Anin ingin pulang hiks."
"Anin, jangan nangis. Ya Tuhan, maafkan aku. Aku benar-benar bodoh tak bisa menjagamu. Maaf, maafkan aku. Aku janji akan membalasnya, aku akan membalas segala perbuatannya." Edgar memeluk tubuh Anin.
"Dan kondisi ini tidak baik untukmu pulang Anin. Sebaiknya kau tinggal di apartemen ku saja. Aku takkan berbuat jahat, percaya sama aku."
"Besok aku akan antar kau ke bandara. Kau tenanglah, jangan takut padaku."
Anin mengangguk ragu.
Dan Edgar memutar balik mobilnya, ia tak jadi mengantar Anin. Karena kondisi yang tak memungkinkan.
Setelah beberapa saat, mereka telah sampai di apartemen Edgar.
"Anin, kau tidurlah di kamar. Aku akan tidur di sini."
"Tidak, tidak. Aku adalah tamu, biar aku yang tidur di luar."
"Sudah, sudah, nurut saja. Kau tidur di kamar."
"Maaf, Anin terus bikin repot kak Edgar."
"Tidak merepotkan. Kau tidurlah, kau pasti sangat kelelahan."
Anin menganggukkan kepalanya, dan berjalan menuju kamar Edgar. Merebahkan tubuhnya disana.
Edgar mengetuk pintu kamar, dan Anin membukanya.
"Kenapa kak?"
"Aku akan keluar sebentar, kau tunggu saja. Jangan buka pintu jika ada yang mengetuk. Kau mengerti?"
"Anin ngerti, kak."
"Okay, hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Anin kembali mengiyakan.
Kemudian Edgar pergi dari sana.
Anin menatap langit-langit kamar, dia merasa sangat kotor. Dia merasa telah mengkhianati Gavin. Dia telah mengecewakan Gavin dan juga kedua orang tuanya. Bagaimana jika nanti dia hamil?
Anin kembali menangis. Ya Tuhan, berat sekali cobaan ini.
"Kalau aku hamil, aku akan menggugurkan bayi itu. Barez brengsek. Hiks hiks.. brengsek!!!"
***
Sebelum membeli makanan untuk Anin, ternyata Barez mengarahkan mobilnya pergi ke rumah Barez dan selama perjalanan tak henti-henti ia mengumpat pada Barez.
Edgar menuruni mobil dengan tergesa-gesa.
'BRAKKK'
Edgar menendang pintu rumah Barez dengan keras, membuat pintu itu rusak.
Barez dan Ara terkejut saat mendengar suara tendangan pintu.
"Edgar, apa-apa an kau hah?" tanya Barez emosi.
"Kau brengsek Barez!!!" Dengan emosi yang menggebu-gebu, Edgar menarik kerah Barez.
'bughh'
"Kau bajin**n Barez!!"
'bugh'
"Kau tidak pantas hidup!!"
'bugh'
"Kak Edgar, cukup!! Apa yang terjadi, kenapa kak Edgar menghajar kak Barez?"
Edgar menatap tajam Ara. Tatapan yang sangat mengerikan.
"Dia, dia si brengsek yang sudah memperko** Anin. Keparat kau!!!"
Tubuh Ara lemah seketika.
Menatap sang kakak tak percaya.
Air matanya jatuh,
"Ya Tuhan, kakak… Ara tidak menyangka, kalau kakak akan sekejam itu."
"Hahaha, ternyata dia mengadu. Itulah akibatnya, jika dia sok jual mahal."
"Bangs** kau!!"
'bugh'
Sudah tak berdaya pun, dia masih menghina Anin. Laki-laki macam apa dia?
"Kau pengecut, Barez. Aku kecewa denganmu, aku tak ingin memiliki sahabat seperti dirimu!"
"Kau harus sadar!!! Kau adalah penyebab kematian suaminya!!! Dan kau kembali hancurkan hidupnya, sialan kau!!!"
'bugh'
Barez menatap Edgar tak percaya.
"A-apa maksudmu?"
"Kau pikir pakai otakmu!!" Edgar pun pergi dari rumah Barez.
Ara menatap Barez dengan tatapan benci, dengan air mata menetes di pipinya.
"Ara kecewa sama kakak.." Ara pun meninggalkan Barez yang sudah penuh lebam di wajahnya
Bersambung...
