Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8 Jandaku8

Sesaat setelah selesai makan.. Anin dan Barez terdiam sejenak.

"Anin, apa kau ingin memulai?"

Anin menghela napas sejenak.

Lalu mengangguk kecil.

"Anin harap, kakak jangan terlalu terkejut dengan kenyataan."

Edgar menautkan kedua alisnya.

"Kak Edgar, sebenarnya, Anin sudah menikah."

Raut wajah Edgar terkejut dan ada sedikit rasa kecewa.

"Anin ia a widow.."

Mata Edgar terbelalak lebar. Apa katanya? Dia seorang janda?

"Tuhan mengambil kebahagiaan Anin, mengambil suami Anin dan juga calon bayi Anin.." mata Anin kembali berkaca-kaca.

Edgar benar-benar merasa sesak mendengar ucapan Anin.

"Anin kehilangan mereka saat kecelakaan, Anin kehilangan Gavin dan Anin kehilangan calon bayi Anin, kakak.."

"Anin hampir gila kakak, dan Anin hiks.. Anin tidak sanggup, hiks sakit, dada Anin sakit..hiks hiks.."

Edgar yang tidak tega, duduknya pun berpindah di samping Anin. Memeluk Anin, mengusap lembut punggung Anin.

"Ssst, jangan di teruskan lagi, hm.. maafkan aku, Anin."

"Anin kesini bukan mencari kerja, tapi Anin mencari ketenangan. Anin ingin memulai semuanya kembali. Tapi ini terlalu sulit, sangat sulit." Anin menghapus air matanya kembali.

"Anin kesini merahasiakan identitas asli."

"Maksudnya?"

"Aku Anindya Hasra.."

Lagi-lagi Edgar dibuat terkejut oleh pengakuan Anin. Anin adalah anak dari pengusaha terbesar di Jerman.

"Jadi kau pemilik hotel Hasra juga?"

Anin menganggukkan kepalanya. Membenarkan ucapan Edgar.

Edgar benar-benar terkejut dengan pengakuan Anin.

*Astaga, jadi dia…" batin Edgar dengan memandang Anin penuh dengan rasa bersalah.

Tak lama kemudian Edgar mengantar Anin pulang.

Saati didepan rumah Barez.

"Terimakasih, kak Edgar. Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik untuk Anin."

"Sama-sama, kau boleh menceritakan apapun padaku."

"Ya sudah, Anin masuk ya kak.."

"Anin, kau harus tetap semangat. Jangan lupa hubungi aku jika terjadi sesuatu."

"Oh ya, kak.. tolong jaga rahasia ya?"

"Siap, kau tidak perlu khawatir. Sekarang masuklah."

Anin menganggukkan kepalanya dan berjalan melangkah masuk kedalam rumah Barez.

Dalam hati, Anin berdoa semoga rumah itu kosong.

Anin merasa aman, karena rumah itu tampak sepi. Anin pun melanjutkan ke dalam kamar, langsung membersihkan diri.

Setelah selesai, Anin pun berniat untuk mengambil air minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Sesaat setelah meneguk air minum, seseorang membekap mulut Anin dari belakang.

"Hmmpptt.." Anin mencoba untuk memberontak, namun tenaganya kalah.

Anin menolehkan kepalanya sedikit, dan terkejut saat melihat Barez sedang menyeringai licik.

Air mata Anin jatuh membasahi pipinya. Ia sangat ketakutan.

"Gavin, aku takut.." batin Anin.

"Ini akibatnya kalau kau berani menampar wajahku. Dan kau sudah sok jual mahal di hadapanku. Ini adalah pembalasanku, sayang." Ujar Barez.

Barez menarik paksa tubuh Anin masuk kedalam kamarnya, Anin terus memberontak namun ia tetap kalah oleh tenaga Barez.

Barez melempar kasar tubuhnya keranjang.

Anin menangis sejadi-jadinya,

"A-ampun, kak..hiks Anin minta maaf.."

"Itu semua tidak berlaku untuk, wanita sialan!!!"

'deg'

Anin semakin ketakutan saat Barez mengambil dasi, lalu mengikat kedua tangan Anin ke atas bahu ranjang.

"Hiks.. Anin, minta maaf kak. Anin mohon, hiks hiks.."

"Tidak ada ampun, sayang. Marilah kita bersenang-senang."

"K-kak, mau ngapain hiks.. jangan, Anin mohon, j-jangan hiks.."

"Kamu sudah lama tidak merasakan hal ini, bukan hm?"

Bisik sensual Barez di telinga Anin.

Barez menindih tubuh Anin.

Anin mencoba berontak namun tidak bisa karena kedua tangannya terikat ke atas.

"TOLONG.." teriak Anin.

"Ssst.. tidak ada yang dengar, sayang. Kau nikmati saja, hm?"

"Ya Tuhan, hiks.. aku mohon,. Jangan kak."

Tida ada ampun, Barez mulai mencium kasar bibir Anin, menggigit bibirnya dengan kasar. Dan membuat sedikit luka, Barez tak peduli dengan hal itu. Ia menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Anin. Melilitkan lidahnya di lidah Anin. Sedangkan Anin, dia semakin menangis.

Barez merobek kasar baju yang Anin kenakan.

Dia menatap buas pada dua belah dada Anin yang terlihat montok dan mulus.

"Astaga, ini benar-benar indah, sayang.."

Lalu Edgar kembali mencium bibir Anin, ciuman semakin turun, ke leher bahkan ke dadanya.

Anin terus berteriak dan memohon, hingga ia kehabisan tenaga. Hingga Barez berhasil memperko**nya.

Di sisi lain, Edgar pun melihat jaket Anin di dalam mobilnya.

"Ini jaket Anin, di antar sekarang atau besok saja?"

***

Jerman..

"Pa, perasaan mama kok tidak tenang ya? Kepikiran dengan putri kita."

"Tenang, ma. Putri kita pasti baik-baik saja. Kita doakan saja yang terbaik, ma."

Sima mengangguk kecil walaupun di hatinya masih sangat khawatir terhadap putrinya.

"Minggu depan Dion akan kesana. Sekalian papa suruh dia untuk menjenguk Anin."

Sima mengangguk kecil.

"Tenang ya, Tuhan punya rencana indah untuk Anin."

***

Saat pagi pun tiba..

Barez membuka matanya, menatap samping. Sudah tidak ada Anin disana.

"Sudah pergi.." Barez menyeringai licik.

"Anin, mulai sekarang dan selamanya, kau akan bergantung padaku."

Di dalam kamar Anin, Anin tengah berdiri di bawah kucuran air.

Menangis sejadi-jadinya, memukuli dadanya sendiri.

"Sakit, hiks.. bukan badan ini saja yang sakit, hiks… tapi semuanya. Ya Tuhan, kenapa hiks.. cobaan apa lagi ini?"

"Ya Tuhan, perlakuan seperti ini jauh lebih sakti dibanding ditinggalkan oleh Gavin. Arghhh.."

"Gavin, hiks kenapa kamu pergi? Ya Tuhan, kenapa kau begitu kejam Padaku. Hiks.."

"Dan lagi, perkataannya sangat jahat hiks.. aku tidak seburuk itu. Aku dengan Gavin sudah menikah sejak dulu, bukan menikah karena hamil duluan hiks.."

"Dan dia mengira aku di ceraikan oleh Gavin, ya Tuhan.. hukuman apa lagi ini hiks.."

"Mama, Anin mau pulang hiks..hiks.."

Saat di kantor, Edgar merasa aneh karena Anin tak ada disana. Dan dia memutuskan untuk menemui Barez di ruangannya.

"Rez, kau melihat Anin?"

"Anin? Aku tidak tahu."

"Benarkah?"

"Mungkin di ruangannya.."

"Tidak ada,"

"Atau di kantin?"

Edgar menatap tajam Barez.

"Wow..ada apa dengan tatapanmu?"

"Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu?"

Barez hanya menanggapi dengan senyuman.

"Atau Anin sakit?"

"Itu tidak penting untukku, Edgar."

Edgar berdecak kesal mendengar tanggapan dari Barez.

Lalu Edgar pergi dari ruang kerja Barez.

Lalu masuklah Anggi dan hal itu membuat Barez terkejut.

"Sayang.."

"Hei, untuk apa kau datang kesini?"

"Apa aku tidak boleh datang?"

"Sebaiknya kau harus meminta ijin lebih dulu padaku. Apa kau mengerti?"

Anggi menganggukkan kepalanya.

"Iya, maaf. Aku hanya merindukanmu, semalam kau tak datang."

"Aku sangat sibuk."

"Benarkah?"

"Hm.."

Dibalik pintu ruang kerja Barez, Edgar mendengarnya.

"Kau berbohong, Barez. Sial..! Perasaanku mulai tak enak." Gumam Edgar.

"Aku harus menemui Anin, semoga saja dia tidak apa-apa. Ya Tuhan, perasaanku benar-benar tidak enak."

Edgar mencoba menghubungi ponsel Anin, namun tidak bisa tersambung. Ponsel Anin mungkin mati.

Bersambung..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel