Bab 10 Jandaku10
Ara pun kembali menemui kakaknya.
Menyiram wajah sang kakak dengan segelas air.
"Kakak itu jahat!! Ara benci sama kakak, kenapa kakak tega lakuin itu sama Anin. Dia itu sahabat Ara, kakak.."
"Apa maksud dari kematian suaminya?"
"Suami Anin meninggal karena kecelakaan. Dia kehilangan dua nyawa sekaligus. Suami dan calon bayi yang ada dalam kandungannya. Itu semua tidak berguna untuk kakak. Ara sangat kecewa padamu, bagaimana jika semua itu terjadi pada Ara? Kau renungkan saja. Kau sudah menghancurkan segalanya." Ara pun pergi meninggalkan Barez yang masih terdiam dengan kenyataan.
"A-apa yang sudah kulakukan?" Gumam Barez dengan rasa penuh penyesalan.
***
Anin(POV)
Keesokan hari nya. Semua koper baju telah tertata rapi. Aku menghela napas berat mengingat apa yang terjadi.
Aku tidak ingin tinggal disini lebih lama, hingga seorang pria berpakaian kasual menghampiri ku.
"Pagi, Anin.." sapanya dengan nada yang lembut.
"Sudah siap?" Tanya kembali yang melihat semua pakaian ku sudah tertata rapi di dalam koper.
"Anin ingin segera pulang, kak." Jawab ku yang dibalas nya senyum tipis mirisnya. Tampak ia merasa bersalah setelah semua yang terjadi.
Badan ku sedikit gemetar mengingat apa yang terjadi dan membuat ku bergerak untuk memindahkan koper-koper ke dalam mobil
"Anin takut kak," sahut ku.
Edgar memegang tanganku dengan lembut dan menatapku dengan tatapan yang hangat mengatakan hal yang membuat aku sedikit mengingat masa lalu ku bersama Gavin
'DARRRRR'
Langit yang bergemuruh dan sambaran kilat membuat ku terus menutup mata dan telinga ku dipelukan pria yang ku cintai terlihat ia menenangkan ku dengan tepukan pelan dikepala ku dan terus mengatakan ini semua akan baik baik saja.
"Jangan pergi Gavin. Hiks, Aku takut." ucapku dengan sesekali memejamkan mataku.
"Mana mungkin aku meninggalkan istri secantik dirimu," sahut Gavin sambil terkekeh kecil dan menggoda ku.
Gavin hanya terus menggoda ku hingga aku memuncungkan bibirku dengan kesal, ia hanya tertawa kecil mencubit pipiku dan mencium bibir ku.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, selama ada aku. Semua akan baik baik saja."
"Oke, princess." Ucapnya lagi.
Aku mengangguk kecil dan kembali meringkuk di dalam pelukan hangat Gavin. Aku sangat menyayangi dirinya, sangat menyayangiku melebihi diriku dan dari apapun di dunia.
***
"Anin.." sapa Edgar memecah keheningan yang kubuat, ia menyentuh pelan kepala ku membuat kesan nyaman bersamanya.
"Ingat Gavin?" Tanyanya seakan tahu apa yang kupikirkan, aku mengangguk kecil menunduk kan pandangan ku dan mengatakan untuk ribuan kalinya bahwa aku merindukan nya.
"Jangan sedih terus, kamu berhak bahagia Anin." Ucap Edgar yang sedikit menundukkan pandangan nya agar ia melihat mataku yang sedikit memerah menahan tangis.
Edgar juga tak lupa untuk menyemangati ku, menyuruh agar tetap semangat dan bangkit menjalani hidup.
Aku tersenyum kecil mendengar semua jalan cerita Edgar yang menurutku cukup berat untuk dijalani seorang diri. Setelah kecelakaan yang merenggut kedua orang tua nya, Edgar dirawat oleh ibu nya Barez hingga ia bisa mandiri dan menjalani hidup nya sendiri.
Aku dan Edgar mengalami hal yang sama kehilangan dua orang sekaligus dalam waktu yang sama, ini akan semakin menyakit kan jika aku menangis dihadapan Edgar.
"Anin pasti bisa. Oke?" Ucapnya sambil mengelus kembali kepala ku lagi.
Aku mengambil napas dalam dalam sebelum aku mengatakan bahwa aku juga bisa melewati semua ini, menguatkan diriku sendiri dengan cara ku sendiri.
"Anin hanya takut kembali bertemu - "
"Tidak, kau tidak akan bertemu dengan nya lagi selama ada aku. Jangan mencemaskan hal seperti itu ya. Oke, ayo berangkat." Jawab Edgar dengan spontan nan tegas.
Hari itu, semua rasa cemas dan gelisah ku tumpah pada Edgar membuat hatiku sedikit terasa ringan.
***
Bandara terlihat ramai. Orang-orang berlalu lalang di setiap tempat dengan kesibukan mereka sendiri. Suara speaker terdengar jelas menjelaskan pesawat yang akan lepas landas ataupun akan mendarat. Edgar menyuruhku untuk diam disini selama ia menaruh koper ku di bagasi, ia juga membelikan mu tiket dan beberapa makanan untuk dimakan.
"Semua sudah terkendali, kau hanya tinggal masuk." Ucap Edgar yang masih sibuk membolak-balikan paspor ku dan tiketnya.
"Terimakasih, kak Edgar." Ucapku yang membuat ia sontak menatapku.
Ia mengangguk kecil dan menampakkan senyumannya yang khas.
"Soon, aku akan datang ke tempat mu " ucapnya lagi.
Ia menoleh kanan dan kiri seakan ingin mencuri sesuatu, aku yang bingung ikut melirik bersama Edgar mencari sesuatu yang tidak ku ketahui. Hingga Edgar menekan kepalaku dan mencium pelan kening ku.
"Biar kamu tidak merasa sendirian lagi, dah dah masuk sana," Aku yang kaget hanya mengangguk dan mengikuti instruksinya.
Sembari tertawa kecil ia melambai kan tangan nya kepadaku dan meneriakkan nama ku berulang kali yang membuat aku tersenyum kembali.
***
POV Author
Edgar hanya terdiam sambil mengumpat kasar setelah melihat belakang punggung Anin telah hilang dari pandangan nya. Dengan emosi dia melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kantor barez.
Sementara di kantor barez. Juan menceritakan semua hal yang diketahui selama ia mencari profil nya Anin. Juan memberitahukan bahwa Anin bukan lah orang biasa, melainkan anak Sultan di negara asalnya.
Keluarga nya adalah pemilik perusahaan terkenal Di-jerman. Mendengar hal itu Barez sangat terkejut sekaligus tertekan mengingat hal buruk yang dia lakukan pada Anin.
Barez sempat memarahi Juan kalau profil yang ia berikan hanyalah data palsu, Juan yang mendengar nya balik memarahi Barez. Barez hanya mengetuk-ngetuk pena hitam di meja nya sambil berpikir demikian.
"Sial," Gumam Barez berdecak kesal kepada dirinya sendiri.
*BRAKKK*
Edgar datang dengan menendang pintu. Wajahnya bertekuk marah, terlihat dari tatapan nya langsung kepada barez ia terlihat sangat ingin membunuh barez saat itu.
"Apa-apaan kau?!!" Teriak Barez.
Mata nya memicing mencoba mengintimidasi Edgar.
"Aku resign." Ucap Edgar saat ia melempar sebuah berkas dihadapan Barez.
"Apa? Yang serius saja Ed, kau kenapa?" Tanya Juan sambil melihat isi kertas yang benar bahwa itu kertas pengunduran Edgar dari perusahaan Barez.
Edgar melangkahkan kakinya dengan menahan emosi, napasnya pun naik turun tidak teratur.
"Kau Brengsek! Manusia binatang." Ucap Edgar mengumpat kasar lebih dari Barez.
Mata Barez memicing semakin tajam membuat Juan kebingungan apa yang terjadi di antara kedua teman nya
"Singkirkan tanganmu dari wajahku." Ucap Barez dengan suara tenang nan berat.
Edgar meludah dan mengatakan bahwa ia sangat jijik melihat wajahnya Barez.
"Kau akan menyesal setelah kau tahu segalanya," Jawab Edgar membetulkan dasi dan kemeja nya.
Ia menatap Barez bagaikan ujung pedang yang siap menerjang nya.
Dan meninggalkan Barez dan Juan dalam keadaan yang kacau.
Juan melihat Barez yang terlihat putus asa pertama kalinya. Ia sangat tertekan dengan apa yang dikatakan Edgar kepadanya.
Barez mengaku bahwa ia melakukan hal yang buruk hingga membuat Anin menampar dirinya dengan sangat keras. Juan yang mendengar nya juga tersulut emosi dan memarahi Barez, Barez hanya menerima semua yang dikatakan Juan.
Sampai Juan mengatakan bahwa Barez harus meminta maaf , mempertanggungjawabkan hal tsb dan pergi menyusul Anin ke Jerman. Mendengar hal tersebut Barez menangguk seakan setuju tidak setuju dengan saran nya Juan.
"Aku tahu akan susah mendapat permintaan maaf dari Anin, tapi kau harus berusaha! Dia begini karena ulahmu." Ucap juan.
"Sial, Siapkan Pesawat!" Sahut Barez berdiri tegak dan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia harus melakukan hal ini dengan benar dan memperbaiki keadaan ini.
"Kau menyuruhku?" Sahut Juan.
"Menurut mu?"
Bersambung..
