
Ringkasan
Aku benar-benar jatuh cinta pada wanita yang telah aku hancurkan hidupnya. - Barez
Bab 1 Jandaku1
Pagi ini, Anin mencoba untuk bersikap biasa saja. Dia berjalan menuruni anak tangga, menghampiri kedua orang tuanya di meja makan.
Anin menyapa mereka dengan hangat.
"Pagi, ma, pa.." sapanya mengecup kedua pipi mereka dan mereka membalasnya dengan senyuman.
"Anin, kamu yakin, kalau kamu sudah baik-baik saja?" tanya El pada putri semata wayangnya.
Anin tersenyum tipis.
"Bohong kalau Anin bilang baik-baik saja, pa. Anin harus yakin, semua harus baik-baik saja. Anin tidak mau hanya berlarut dalam kesedihan."
Sima tersenyum mendengar ucapan putrinya.
"Baguslah, sayang. Kamu harus semangat, kamu yang sabar ya..", ujar Sima mengusap lembut tangan Anin.
Anin tersenyum.
"Anin sangat berterima kasih sama papa dan mama, terima kasih kalian sudah berada disisi Anin selama ini. Terima kasih telah mendukung Anin untuk memulai hidup baru."
"Kami hanya ingin yang terbaik untuk kamu, sayang. Beritahu kami jika kau membutuhkan sesuatu." Jawab El pada putrinya lagi.
"Iya, papa."
"Kamu harus terus kabari kami berdua ya, sayang.." sambung Sima.
"Iya. Mama sama papa tidak perlu khawatir. Aku akan terus menghubungi kalian."
"Jadi kamu mau kerja dimana?"
Anin menghela napas sejenak,
"Anin akan berangkat ke jerman, ma. Mau kerja di perusahaan kakak teman Anin."
"Teman kamu? Teman yang mana sayang?"
"Ara itu loh, ma. Teman kuliah aku dulu."
"Oh, iya, iya, mama ingat."
Anin tersenyum menanggapi ucapan mamanya.
"Kenapa kamu tidak bekerja di kantor papa saja?"
Anin menggeleng kecil.
"Anin ingin keluar dari kesedihan ini, Anin ingin memulai hidup baru, pa. Maafkan, Anin."
El menghela napas sejenak.
"Baiklah, papa dukung apapun keputusan kamu. Asal kamu bahagia."
"Benar sekali, pa. Mama setuju, mama ingin anak kita bahagia."
Anin pun tersenyum.
"Ya sudah, ayo sarapan. Nanti keburu dingin makanannya."
Dan mereka pun memakan sarapan dengan tenang, hanya dentingan piring dan sendok yang ada.
Setelah sang papa pamit pergi, kini giliran Anin meminta izin pada sang mama untuk pergi.
"Mama, Anin ke rumah bunda ya? Anin akan pamit ke bunda dan ayah. Karena mereka masih orang tua Anin kan?"
Sima tersenyum lembut.
"Iya, sayang. Mereka tetap orang tua kamu, kau pergilah."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Anin diantar supir kan?"
"Mama tahu sendiri, Anin sudah takut untuk membawa mobil sendiri."
"Iya, sayang. Kamu harus tetap hati-hati."
Lalu Anin menganggukkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan rumahnya.
"Pak sopir, antar Anin ke rumah bunda ya?"
"Baik, non. Ayo saya antar.."
Lalu mereka pun pergi dari halaman rumah.
Selama perjalanan menuju ke rumah mendiang Gavin, Anin menatap luar jendela.
Ada perasaan sesak di dada.
"Ya Tuhan, Gavin.. apa aku bisa melewati semua ini. Aku benar-benar sangat merindukanmu, Gavin.." tak terasa air mata Anin menetes.
Pak sopir melihat dari kaca spion.
"Sabar ya, non.. non pasti bisa melewati semua ini. Non akan bahagia, non harus banyak bersyukur, banyak orang-orang yang sayang sama non. Saya salut sama non, karena non begitu kuat menjalaninya."
Anin menghapus air matanya, lalu tersenyum tipis.
"Terima kasih, pak. Saya juga merasa sangat beruntung karena saya memiliki keluarga dan orang-orang yang sayang sama saya. Karena itulah saya ingin bertahan."
Lalu pak sopir tersenyum.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di halaman parkir rumah mewah milik mendiang Gavin.
"Pak, tunggu ya.. Anin mau masuk kedalam."
"Beres, non."
Lalu Anin menghela napas sejenak sebelum mengetik pintu rumah itu.
Belum sempat mengetuk, pintu rumah sudah terbuka.
"Anin.." sapa bunda.
"Bunda.." Anin memeluk tubuh wanita seumuran dengan mamanya.
"Kamu kesini sama siapa? Kok tidak memberi kabar dulu?"
"Iya, ma.. Anin kesini sama pak sopir."
"Oh, ya sudah.. ayo masuk." Anin pun masuk dengan lengan yang di gaet bunda Gavin."
"Anin, kamu sudah makan, nak?"
"Sudah, bunda."
"Ehm…"
Lalu keadaan menjadi hening, dan canggung.
"Emm, bunda… sebenarnya Anin kesini, mau meminta ijin sama bunda dan ayah."
"Untuk apa, sayang?"
"Anin akan pergi ke Jerman, Anin akan kerja disana, Bun."
Bunda Gavin terdiam sejenak, menatap Anin dengan sulit untuk di artikan.
Lalu bunda Gavin menghela napas panjang.
"Bunda, tidak masalah asal itu bisa buat kamu bahagia, Anin."
Anin tersenyum tipis.
"Terimakasih, bunda. Bunda, Anin boleh masuk ke kamar Gavin?"
"Tentu, sayang. Itu kan masih kamar kamu." Jawab bunda dengan membelai lembut rambut menantunya itu.
"Iya, Bun. Anin ke atas dulu ya?"
Lalu di angguki oleh bunda Gavin.
Anin tersenyum, lalu melangkahkan kakinya naik menuju kamar Gavin.
Anin menghela napas sejenak, sebelum masuk kedalam kamar Gavin. Lebih tepatnya kamar mereka.
Anin membuka knop pintu, dan dia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk.
Ia duduk di tepi ranjang. Masih tetap sama.
"Gavin… masih tercium bau khas akan dirimu disini."
Lalu Anin berdiri, berjalan mendekati foto Gavin. Anin mengambil nya..
"Gavin.. kenapa kamu pergi ninggalin aku sendiri? Kamu lupa sama janji kamu? Kamu mau hidup seribu tahun lagi sama aku."
Air mata Anin jatuh menetes….
Flashback…
"Anin, kamu jangan tinggalin aku ya?"
"Ih, Gavin.. mana mungkin aku ninggalin kamu, kecuali kamu yang pergi ninggalin aku." Jawab Anin dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang Gavin.
"Tidak, aku akan selalu hidup bersamamu walau seribu tahun lagi, kau segalanya, Anin."
Anin tersenyum lalu mengecup lembut kening Gavin.
***
Air mata Anin mengalir deras.
"Ya, Tuhan kenapa sakit banget hidup tanpa kamu, Gavin hiks..hiks.."
Di balik pintu kamar, bunda Gavin memperhatikannya.
"Gavin, kamu lihat, betapa dia sangat mencintai kamu. Dia tersiksa tanpamu, begitu juga bunda." Gumam bunda Gavin.
Air matanya pun ikut menetes. Betapa tragis kisah cinta anak dan menantunya.
Lalu Anin membuka pintu kamar, dengan cepat bunda Gavin menghapus air matanya.
"Bunda.." Anin segera memeluk tubuh bunda Gavin.
"Anin, kamu harus kuat, kamu harus hidup bahagia." Ujar bunda Gavin dengan membelai lembut rambut Anin.
"Bunda juga jangan sedih terus, bunda harus bisa ikhlasin dia."
"Kita sama-sama harus bertahan, sayang."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Bunda, Anin pamit dulu. Anin nitip salam buat ayah, maafin Anin belum bisa jadi menantu yang baik buat kalian."
"Kau yang terbaik, Anin. Kau jaga diri disana, dan berhati-hatilah, sayang."
Anin menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, bunda. Anin pulang, doain Anin ya bunda."
"Tentu, saja sayang. Bunda selalu mendoakan mu..",
Lalu Anin melangkahkan kakinya keluar, meninggalkan rumah orang tua Gavin.
"Gavin, ijinkan aku untuk melangkahkan kaki menuju kebahagiaan. Iringi aku di setiap langkahku, aku benar-benar mencintaimu, sangat mencintaimu."
Lagi-lagi, air matanya jatuh. Sangat sakit di tinggalkan oleh orang yang kita sayang.
Bersambung….
